
LIDAH BERJULUR DUA
Karya Novel: Henkir Alam
Media Sosial Penulis
Sinopsis
Alkisah di Negeri Angan hiduplah seorang pemuda bernama Madriansyah. Ia mempunyai seorang adik perempuan cantik bernama Melina. Saat itu kejahatan negeri itu melanda, banyak manusia yang resah dan takut. Karena kejahatan dan kejahatan tak bisa diatasi oleh pemerintahan setempat. Tampil Madri sebagi pembasmi kejahatan, tapi bukan sebagai Madri, melainkan sebagai sosok superhero yang mumpuni yang Bernama Exprie. Kehebatan Madri tidak didapatkan dengan mudah. Itu akibat goa misterius yang hadir di desa Angan, orang-orang menyebutnya Goa Mungil. Atas kegigihan Madri ia berhasil melewati aral melintang saat masuk ke Goa Mungil. Jadilah ia bertemu Roh Suci bernama Kho Chu. Atas keberaniannya ia mendapat hadiah sebuah tali biasa, disebut tali kalung. Saat tali kalung itu bertengger di lehernya maka ia menjelma menjadi Exprie. Saat desa Angan tentram tidak terjadi apa-apa, tiba-tiba terjadi kehebohan. Banyak gadis-gadis desa yang raib diculik. Masyarakat menjadi resah. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa gadis-gadis bisa menghilang. Ternyata itu ulah makhluk jahat dari planet lain, yang mempunyai julukan Lidah Berjulur Dua. Jagoan kita, Exprie tak tinggal diam. Ia bertindak untuk membebaskan gadis-gadis yang disekap oleh makhluk mengerikan itu. Untuk lebih jelasnya, yuk kita ikuti ceritanya.
Ringkasan
Ruang besar di dalam rumah antik bergema karena pantulan dari suara tawa yang mengakak.
"Hua ha ha. kau hebat sekali Lidah berjulur dua, Hu.a ha ha ha, kerjamu memang baik.. benda berharga yang kuimpikan sudah berada di tanganku.” Gembira sekali hati prof Quiz, ditimang-timangnya koper yang berisi barang berharga itu. Lalu ditepuknya bahu Lidah berjulur dua, “Sekarang kau terima hadiahku kembali - Dara perawan."
Lidah berjulur dua menyeringai "Cuma satu Prof? "Tanya Lidah Berjulur Dua.
"Ya, cuma satu - toh menghemat, nah nanti kalau semuanya sudah habis satu-persatu, akan kucarikan lagi. Nah, selamat menikmati.” Prop Quiz tersenyum.
Lidah berjulur dua melangkah masuk ke kamar yang terdapat dara perawan-dara perawan, segera dikuncinya pintu. Dilihatnya perawan-perawan itu meronta-ronta dan menjeri-jerit. Melina berdo'a dalam hatinya, "Oh Tuhan lindungilah saya, dari keganasan mahkluk buas itu." Air matanya menitik, tangan yang terikat sudah nampak membiru. Terdengar suara dengus napas Lidah berjulur dua di sebelah sana, dan erangan gadis yang menahan derita menyakitkan, disusul dengan pekikan tertahan yang kemudian sepi. Sedangkan di kamarnya, prof. Quiz tersenyum berseri Menyimpan koper besar berisikan benda berharga di lemarinya. "Sekarang lah saatnya." Katanya dalam hati, so pasti. Yang kemudian menyalin pakaiannya. Kali ini memakai dasi. “Sekarang aku pergi ke kantor polisi."
Diskusi
0 Komentar