Pabila Azan Subuh terdengar, maka Bu Sarmi segera bangun menuju kamar mandi lalu berwudhu. Bu Sarmi menunaikan sholat Subuh dengan khusyu. Puji syukur ia panjatkan kepada Allah atas pulangnya Madri dengan selamat. Diakhiri dengan sujud syukur yang mendalam.

      Manakala ia selesai, Bu Sarmi segera mengetuk kamar Melina, agar bangun. "Lina... Lina... ayo bangun!" Suara Bu Sarmi. "Sudah Subuh, nih. Waktunya untuk sembahyang." Tapi tidak terdengar jawaban sama sekali. Jangankan jawabannya, desahan napasnya pun tak terdengar.

     "Lina... ayo bangun!" Bu Sarmi mencoba sekali lagi. Madri yang mendengar suara ibunya segera bangun. Lalu mendekati ibunya.

     "Bu, mungkin Lina masih ngantuk, bu." Rupanya Madri tahu kalau ibunya sedang membangunkan adiknya. "Biarlah entar juga dia bangun sendiri."

       "Madri, hatiku merasa cemas, biasanya Lina setiap bangun selalu sebelum Subuh. Kok sekarang Ibu bangunkan tidak menyahut,. Hhh, Ibu punya firasat yang tak baik, Ibu khawatir dengan keadaan Lina!" Kata Ibu Sarmi, hatinya benar-benar dak dik duk. Mendengarkan uraian ibunya, Madri terperanjat. Firasat seorang ibu biasanya ada benarnya. Maka segera Madri mengetuk pintu kamar adiknya, dan memanggilnya. “Lina.. Melina!” Tetap tak ada jawaban dari dalam. “Lina, buka pintu!” Tetap tak ada jawaban, kemudian ditengoknya wajah ibunya. "Bu... ku dobrak pintu ini ya?"

Bu Sarmi mengangguk.

      "Brak!" Terdengar derak pintu, Madri segera masuk. Dilihatnya ranjang tempat tidur Melina kosong. Setelah itu ditengoknya ke arah jendela. Dan jendela itu telah terbuka dengan paksa — sisinya rusak.

          "Bu! Melina... Bu!" Teriak Madri tertahan.

     "Ha... Melina... Ooh Lina..." Bu Sarmi membelalakkan mata ke arah ranjang dan jendela. Ia tak kuat berdiri dan jatuh terduduk. Madri segera memburunya, menangkap tubuh ibunya agar tidak jatuh. "Bu, kenapa kamu?!" Madri memeluk ibunya.

        " Madri, tentu... tentu... Lina diculik..." Bu Sarmi hampir pingsan.

       "Melina diculik?" Gumam Madri dalam hati, wajahnya menjadi cemas..

Melina memang betul diculik. Kejadiannya seperempat jam sebelum Bu Sarmi bangun. Manusia penculik itu berbentuk aneh. Malam-malam, ia mencongkel jendela tanpa bersuara. Setelah terbuka Melina terbangun kaget. Melina berteriak, tapi entah makhluk itu mempunyai ilmu apa, sehingga teriakan Melina tidak mengeluarkan suara sama sekali.

Makhluk itu berhasil menculik dan terus membawa tubuh Melina keluar. Di perjalanan makhluk aneh itu bertemu dengan temannya yang serupa. Temannya itu juga membawa seorang gadis.

      Mereka berlari di kegelapan subuh. Di persimpangan jalan pun mereka berpapasan dengan temannya juga. Dua orang — tubuh dan pakaiannya pun serupa. Mereka jadi ber-empat.

       "Bagaimana kawan?" Tanya yang membawa Melina.

       "Beres," sahut yang lain, "Kamu sendiri, bagaimana?"

    "Tentu saja... beres." Kemudian mereka ber-empat berlari kembali. Masing-masing membawa bawaan — yaitu seorang gadis yang masih perawan.

Dekat pohon besar, mereka menerobos semak belukar yang angker. Mereka dengan mudah berjalan di semak belukar itu. Bagi orang biasa tidak mungkin bisa melewatinya. Semak belukar itu panjangnya kira-kira 250 m. Kini ke-empat makhluk itu telah keluar dari semak yang dilalui. Dari kini di depan-nya terhampar rumah berbentuk aneh, mirip candi-candi dan sanggat indah. Pekarangan rumah itu sangat eksotis. Dindingnya pun terbuat dari batu, tebalnya setengah meter.

      Mereka segera masuk ke dalam rumah aneh itu. Di ruang tengah, si pembawa Melina menekan tombol. Pintu bergeser ke atas dibarengi suaranya dari dalam.

      “Ya, masuk!” Suara itu begitu berat. Ke-empat makhluk itu mendekati suara berat itu.

    “Bagus he he he… kalian memang hebat.” Suara berat itu keluar dari mulut seseorang setengah tua, berkacamata putih. Orang itu duduk di kursi santai.

     “Sekarang bawa penghasilan kalian ke kamar khusus. Lidah berjulur dua, telah menanti. Ayo kerjakan, cepat!” Tangannya menunjuk ke arah pintu sebuah kamar.

       “Baik Prof.” Keempatnya menghormat, setelah itu segera memasuki kamar khusus yang ditunjuk.

      Di dalam, mereka mengikat gadis bawaannya di setiap ranjang. Kebetulan atau memang sudah disiapkan, di dalam kamar itu berjejer empat buah ranjang. Melina diikat pada ranjang yang terletak di sebelah pojok.

Selesai, keempat makhluk aneh itu mengerjakan perintahnya, segera mereka menghambur keluar.

                                                                             ***