Betapa kini Melina sangat gembira, abangnya kini telah kembali dengan selamat. Dipeluknya Madri erat-erat. Ya, sejak kejadian huru-hara di desanya, Melina dan ibunya telah kehilangan Madri. Salah seorang keluarga yang menjadi tulang punggung. Madri seorang pemuda yang bekerja di perusahaan kecil di desanya. Ternyata bukan Madri saja hilang, beberapa orang pemuda banyak yang lenyap. Konon para penjahat yang datang ke desa tersebut hanya mengincar para pemuda, untuk dijadikan uji coba bagi penjahat tersebut. Namun semua menjadi aman tatkala ada seorang superhero datang mengusir penjahat-penjahat tersebut. Tak ada yang tahu siapa superhero bernama Exprie itu. Dia adalah Madri, makanya kejadian tersebut seakan-akan dia menghilang.    

         “Abang.. oh.. Abang, ke mana aja sih perginya, selama ini tiada berita?” Suara Melina dalam keharuan dan bahagia, mendapatkan abangnya dalam keadaan sehat. Madri dengan tersenyum membalas pelukan adiknya yang manis itu. “Tenang Melina, yang penting Abang udah pulang, tak kekurangan sesuatu apa pun.”

        “Madri.. “ Ibu Sarmi muncul dari dalam dan memeluk anaknya yang selama ini hilang.        “Kau ke mana aja selama ini? Dalam keadaan resah dan genting di suatu kampung, kau malah menghilang.”

    “Maafkan aku, Ibu. Aku pergi sebenarnya ikut membantu diam-diam mengusir penjahat, bersama pembela yang lain. Nah, sekarang sudah aman terkendali, makanya aku bisa pulang.” Madri memeluk ibunya dengan sayang sambil menerangkan tentang kebenarannya. Meskipun jati diri sebagai seorang jagoan bernama Exprie tetap dirahasiakan. Ibu Sarmi yang belum sepenuhnya mengerti tentang anaknya membantu lewat apa dan bersama siapa, hanya mengangguk saja.

       “Ayo Madri, kebetulan Ibu dan Melina sudah selesai masak. Yuk kita makan bersama-sama.” Ajak Ibu Sarmi dengan gembira.

     “Iya Bang, yuk makan bareng.” Melina ikut gembira dan segera menyiapkan makan siang di atas meja makan. Tak lama mereka pun makan bersama.

Berita kepulangan Madri terdengar oleh kawan-kawannya, mereka datang bergantian untuk menanyakan kabar ke mana saja selama ini saat ada huru-hara di kampungnya. Diceritakan pula oleh mereka tentang seorang jagoan yang mirip superman bernama Exprie.

            “Exprie itulah yang telah membebaskan kita dari huru-hara tersebut.”

            “Iya, aku tau, kan diem-diem aku ikut membantu Exprie dari belakang.” Kata Madri berkelakar. Teman-temannya pun tertawa.

        “Bisa aja kau.. Paling langsung lari terbirit-birit ngelihat penjahat yang rombongan itu.” Ejek salah satu temannya sambil tertawa terbahak.

     “Iya.. iya deh.” Madri mengiyakan, ia jadi ingat bagaimana ia sebagai Exprie menghancurkan penjahat-penjahat itu. Tapi apa boleh buat, ia harus merahasiakan jati dirinya. Dan pada hari lain, kawan karibnya yang bernama Boni datang padanya.

        “Hai, Boni, kok baru ke sini?” Tanya Madri, karena saat teman-teman yang lain datang, Boni tidak ada bersama mereka. Yang ditanya tertawa agak tersipu, “Sorry, Di.. gua waktu itu takut banget, jadi ngumpet.”

          “Ha ha ha.. sama ama gua.” Madri turut tertawa. Tidak lama kemudian Melina datang membawakan dua gelas minuman teh dan sepiring makanan ringan.

               “Silakan dimakan kuenya, Bon.” Melina menyilakan tamunya.

          “Makasih Melina.” Boni memperhatikan wajah Melina yang cantik. “Kau makin cantik aja, Mel,” Pujinya.

       “Huu.. pasti mau ngerayu.” Kata Melina, berlalu disertai dengan tawanya yang tertinggal. Boni tertawa saja, matanya mengikuti ke mana Melina melangkah.

        “Huss, mata jangan melotot begitu... lo nggak ngehargain gua ya abangnya.” Gertak Madri sambil tangannya mengusap mata Boni. Seketika Boni terhentak dan tersipu, “Eh sorry.. iya.. iya sorry, abis adik lo makin cakep aja.”

             “Cakep sih cakep, tapi awas ya.”

             “Oke.. Aman deh.” Boni mengacungkan dua jari, piss.

            “Sip deh.., gimana ceritanya saat gerombolan penjahat menyerang desa kita? Lari ke mana lo?” Tanya Mardi mengalihkan pembicaraan, membuat Boni agak berlega hati. Dengan sigap iya menjawab pertanyaan Mardi. “Saat itu gua ketakutan setengah mati.”

         “Iya.. Terus?”

        Waktu makhluk-makhluk itu menuju lapangan kampung kita, langsung gua melarikan diri.” Dengan semangat Boni bercerita tentang pengalamannya. “Gua langsung lari, dan bersembunyi di kali Pesanggrahan. Dari sana kudengar kabar Exprie datang dan menghalau mereka.”

            “Exprie? Apakah lo sempat melihat sosok Exprie?” Tanya Mardy serius.

       “Nggak, terus terang gua takut banget, jadi nggak berani nongol untuk melihat kejadian itu.” Kata Boni terus terang. Dan Ia menyangka tentu Mardi akan bersikap seperti dirinya juga.

       “Sayang banget kalo gitu.” Mardi berdehem, “Kalo gua sempet ngeliat Exprie, wah gagahnya luar biasa.”

      “Masa?” Boni terbeliak, ia tidak menyangka jika temannya sempat melihat sosok Exprie. “Jadi emang elo nggak lari?” Tanyanya Heran.

       “Ya, gua lari ke utara, tapi saat itu aku melihat kedatangan Exprie yang gagah. Dia turun dari langit, dengan jubah ala superman. Sambil berteriak dengan ramah kepada orang-orang yang lari ketakutan, “Jangan takut saudara-saudara. Berdoalah, penjahat-penjahat itu akan kuusir.” Pada kenyataan Mardi lah yang berubah menjadi Exprie dan datang kepada penduduk, dan menenangkan mereka. Yang akhirnya desa itu dapat bebas dari kurungan penjahat. Para penduduk berlega hati. Mereka mengelu-elukan Exprie, namun saat itu pula Exprie menghilang entah ke mana. Tak ada yang tahu ke mana perginya Exprie ketika desa telah aman. Dan mereka tidak ada yang tahu bahwa Exprie telah kembali pada wujudnya semula sebagai Mardi, penduduk biasa yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa.

       Waktu berlalu, Boni pamit pulang. Hatinya berkecamuk antara percaya dan tidak jika sahabatnya Mardi pernah berjumpa dengan Exprie. Dan ia sangat menyesal mengapa saat itu ia tidak berani keluar dari persembunyiannya. Bagaimana mau keluar, ia sendiri sudah terkencing-kencing di celana. Tentu saja dia kan malu jika diketahui orang lain, jika muncul dengan celana yang basah dan bau pesing. Biarlah dia sendiri yang tahu tentang ketakutannya. Mardi sahabatnya tidak boleh tahu. Kalau tahu maka akan malu dia, dan tentu saja tidak ada tempat untuk berdekat dengan Melina yang sebenarnya ia naksir.

 

                                                                             ***