HARI YANG KERE

Bagian 01

Hari Sabtu. Tanggal sudah sangat tua, tetapi gajian belum juga tiba. Aku sengaja tidak pulang dulu ke rumah. Untuk menghilangkan stres, aku berjalan-jalan di sekitar Sawangan. Aku mengunjungi teman-temanku di Parung Bingung, Sawangan Utara, dan sahabat-sahabat lama.

Aku mampir ke rumah Lay. Namun, kata istrinya yang sedang mencuci pakaian, “Lay lagi pergi ke luar, Bang. Nyari makanan burung.”

Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam sekadar melemaskan otot-otot yang kaku dan duduk di atas karpet. Istri Lay yang sedang sibuk segera menyuguhkan teh hangat. Tadinya ia menawarkan kopi, tetapi aku meminta teh tawar saja.

Aku menyeruput teh itu perlahan, kemudian berkata kepada istri Lay bahwa aku ingin melanjutkan perjalanan ke rumah Suma Wijaya, yang biasa dipanggil Cinang.

“Ntar dulu, Bang. Sebentar lagi dia juga pulang,” kata istri Lay.

Ternyata dugaannya benar. Tak lama kemudian Lay pulang dengan senyumnya yang khas.

“Eh, ada Bang Henk? Main, Bang?” sapanya.

“Iya. Ke mana aja sih? BBM-nya nggak dibuka, ya?”

“Saya tinggal, Bang.”

“Oh...” kataku sambil kembali meminum teh yang disediakan istrinya.

Namun tiba-tiba Lay merebut gelasku dan memarahi istrinya.

“Gimana sih? Bang Henk nggak disediain air!”

Kulihat istrinya terkejut. Aku segera merebut kembali gelas itu.

“Ini, Lay. Teh ini memang buat Abang,” kataku.

Lay tersipu malu.

“Oh, kirain air bekas anak saya, Bang,” katanya sambil nyengir.

Istri Lay tampak cemberut mendengar ucapan suaminya.


Bagian 02

Hari itu aku bertamu cukup lama di rumah Lay. Ia bercerita ngalor-ngidul tentang burung peliharaannya. Rupanya tadi dia keluar hanya untuk membeli makanan burung.

“Lay, kita ke rumah Cinang aja, yuk,” ajakku ketika obrolan tentang burung mulai jeda.

“Ntar dulu, Bang. Baru juga nyampe,” sanggah Lay.

“Abang tadi udah janji di BBM mau ke rumah Cinang Suma Wijaya. Kita ngobrol di sana aja, yuk.”

“Saya kan mau kerja, Bang.”

“Ya udah, gini aja.”

Aku bangkit dari duduk.

“Abang ke rumah Cinang dulu. Nanti Abang sama Cinang ke pos Lay di Rivaria.”

Aku berjalan menghampiri motorku yang terparkir di luar.

“Ntar dulu, Bang. Bini saya lagi keluar beli makanan,” kata Lay memohon.

Aku jadi bingung. Aku sudah terlanjur berdiri di luar rumah. Kalau masuk lagi rasanya canggung, sementara Cinang pasti sudah menunggu.

“Gini aja, Lay. Itu makanan biarin buat anak-anak lo aja. Abang sekarang ke rumah Cinang dulu,” kataku.

Kulihat wajah Lay tampak kecewa.

“Tenang, Lay. Abang udah senang kok. Dapat senyum dari lo aja udah cukup.”

“Iya dah, Bang,” jawab Lay sambil tersenyum.

“Pokoknya nanti Abang sama Cinang ke pos Rivaria, ya.”

“Iya, Bang.”

Sesampainya di rumah Cinang, aku disambut dengan hangat. Cinang mempersilahkanku masuk, sementara istrinya ikut keluar menyambut.

Namun aku hanya sebentar di sana. Setelah minum satu-dua teguk, aku langsung mengajak Cinang ke pos tempat Lay berjaga.

Di pos Rivaria aku terkejut. Ternyata burung yang tadi diceritakan Lay ikut dibawa juga.

“Waduh, burungnya diajak juga, Lay?” tanyaku.

“Iya, Bang. Di rumah nggak ada yang ngempanin,” jawabnya santai.

Cinang tertawa.

“Bang, si Lay sama burung mah nggak bisa dipisahin. Sama tuh kayak Pupung Mursadi. Kalau mereka udah ngomongin burung, bisa lupa salat.”

Kami semua tertawa mendengarnya.


Bagian 03

Dengan kecepatan sedang aku akhirnya tiba di rumah setelah cukup lama bercengkerama di Pos 1 Rivaria, tempat Lay berjaga.

Seperti biasa, begitu aku sampai rumah, kedua anakku yang masih kecil, Ihwali dan Resgia, langsung menubrukku.

“Mana oleh-olehnya, Pa?” tanya mereka penuh semangat.

Hatiku langsung trenyuh.

Bagaimana tidak? Kantongku benar-benar kosong karena perusahaan tempatku bekerja belum juga memberikan gaji bulan ini, padahal tanggal sudah sangat tua.

Aku menarik napas panjang.

Kubujuk anak-anakku dengan lembut.

“Sekarang Papa belum gajian. Nanti kalau Papa udah gajian, pasti dibawain makanan yang enak-enak.”

Rupanya mereka mengerti.

Istriku datang menghampiri dengan sabar sambil membawakan minum. Ia berkata kepada anak-anak bahwa Papa masih lelah.

Kemudian aku makan seadanya.

Hanya irisan singkong goreng dan sayur pakis yang dipetik dari gunung. Meski sederhana, aku makan dengan sangat lahap.

Menjelang sore, kudengar kabar dari seorang teman bahwa anak Engkus sedang dirawat di klinik karena DBD. Aku pun berjanji lewat BBM akan datang menjenguk.

Masalahnya, uang di kantong sudah benar-benar habis. Untuk beli bensin saja aku kesulitan, apalagi membeli beras.

Agar tidak mengecewakan sahabatku di Sawangan, aku berusaha meminjam uang ke sana-sini. Setelah terkumpul sedikit, aku berjanji akan datang tepat pukul sepuluh pagi di rumah Pupung Mursadi di Pasar Kemiri, Sawangan.

Keesokan harinya, hari Minggu, aku sudah bersiap berangkat. Tiba-tiba anak perempuanku, Resgia, memohon ingin ikut.

Aku tidak tega menolaknya.

Akhirnya aku mengajaknya.

Aku tiba di Sawangan tepat pukul sepuluh seperti yang sudah kujanjikan, meskipun istri Pupung mengatakan acaranya baru mulai setengah sebelas.

Namun bagiku, janji tetaplah janji.

Aku tidak suka datang terlambat seperti kebiasaan banyak orang di negeri ini.

Tak lama kemudian muncul Suma Wijaya. Setelah itu Linda Memey datang bersama anaknya. Setengah jam kemudian barulah Hasni Darmawati tiba.

Tak lama berselang, Hasni meminta saweran untuk menjenguk Engkus.

Dengan uang pas-pasan, aku tetap memberikan sebagian kepadanya.

Namun beberapa saat kemudian, Hasni mengembalikan uang yang kuberikan.

“Pegang aja dulu. Uangnya udah cukup,” katanya.

Entahlah.

Aku sendiri tidak mengerti apakah ia bisa membaca keadaan pikiranku atau memang hanya kebetulan.

Yang jelas, aku menerima kembali uang itu.

Dan ternyata memang ada gunanya.

Saat hendak berangkat ke klinik, tiba-tiba ban belakang motorku bocor.

Dengan sigap Suma membantuku membawa motor ke tukang tambal ban. Aku tetap membawa motorku sendiri karena Resgia tidak mau ikut dengan orang lain.

Rupanya ban motorku tertusuk kawat silinder panjang hingga lubangnya menembus cukup parah.

Tukang tambal ban berkata ban itu sudah tidak aman untuk ditambal.

Akhirnya aku membeli ban dalam baru.

Dan uang yang tadi dikembalikan Hasni itulah yang akhirnya dipakai.

Sepulang dari klinik, waktu sudah menunjukkan lewat pukul satu siang.

Di perjalanan, Resgia berkata pelan.

“Lapar, Pa.”

Saat itu juga aku sadar ternyata perutku sendiri juga lapar.

Aku berhenti sejenak dan membuka dompet.

Ah... masih cukup kalau hanya makan di warteg dengan sayur dan tempe goreng.

Namun ternyata anakku malah meminta telur asin dan ikan tongkol.

Aku tersenyum tipis.

Ah, benar-benar hari yang kere buatku bulan ini.

 

 

Tamat