Sudah cukup lama Adangit menjalin cinta dengan seorang perempuan bernama Rarangul. Kalau diingat-ingat kembali, perjalanan cintanya sudah dimulai sejak kakeknya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Pada zaman dimana polisi banyak yang dibunuh lantaran apa dan oleh siapa. Adangit tidak tahu pasti, yang ia tahu hanya rasa cinta yang semakin dalam kepada Rarangul. Cinta yang tak bisa pudar meski ada benturan dari sana-sini. Perjalanan cintanya memang tidak mulus, karena pihak keluarga Rarangul tidak setuju. Menurut ayahnya hubungan cinta mereka harus dihentikan, karena putrinya yang berdarah biru itu tidak pantas bersanding dengan lelaki dari kaum jelata. Tidak mungkin seorang berdarah ningrat disatukan dengan anak rakyat jelata yang miskin, salah-salah keturunannya kelak akan berdampak buruk pada kedudukannya sebagai orang terhormat, begitu pikir Raden Sodra Dinata.
Suatu hari Rarangul dipanggil untuk menghadap kepadanya.
“Anakku Rarangul, mulai sekarang ayah peringatkan kau untuk memutuskan hubungan dengan Adangit, anak kaum jelata itu. Ingat kau anakku yang berdarah biru!” Kata Raden Sodra Dinata dengan wibawa, tapi kewibawaannya tidak mempengaruhi Rarangul untuk berbicara. “Saya boleh bicara, Ayah?” Katanya lirih.
“He, apa Ayah tidak salah dengar, kau berani menyela perkataan Ayah?!” Raden Sodra agak terkejut mendengar putrinya berani memotong pembicaraannya.
“Saya hanya ingin menyampaikan apa yang ada dalam benak saya.”
“Apa?!” Raden Sodra berang, lalu tangannya melayang dengan keras mendarat di pipi anaknya. Rarangul terjatuh menerima tamparan itu, namun ia segera bangkit ke posisi semula. Tak ada keluhan mengaduh, matanya malah nanap menatap ayahnya. Tidak seperti biasanya jika menerima kekerasan dari ayahnya ia selalu menunduk, dan jika terjatuh tidak harus cepat bangun.
“Sekarang saya boleh bicara, Ayah?” Lagi-lagi kata-kata itu membuat beringas Raden Sodra. Tak diduga putrinya sudah berubah, ini tentu gara-gara Adangit anak celaka itu. Tadinya ia berharap anaknya menjerit-jerit dan mohon ampun, tapi kenyataannya lain. Anak ini harus dihajar habis-habisan, pikirnya. Tapi setelah hal itu terjadi, meskipun wajahnya berdarah Rarangul tetap bangkit dan berkata sama seperti sebelumnya.
Akhirnya Raden Sodra menyerah, dengan kemurkaan yang semakin memuncak ia tanyakan apa yang diinginkannya.
“Saya ingin menjadi istri Adangit.” Kata Rarangul dengan tenang. Hal itu membuat kemarahan ayahnya memuncak dan tangannya melayang menghancurkan meja yang berada di dekatnya. Rarangul tetap tenang, tak bergeser sedikit pun meski kena serpihan-serpihan meja.
“Pergi! Masuk ke kamarmu, anak tak tahu diri!” Raden Sodra membentak keras. Rarangul yang hatinya berdebar keras menuruti perintah ayahnya. Ada terbersit kemenangan di wajahnya. Kini di kamar ia menubruk bantal guling dengan perasaan bergejolak cinta. “Kang Adangit… tak ada yang bisa memisahkan kita, Kang.”
Di ruang depan sang ayah merenung, ia tidak habis pikir tentang putrinya yang berubah total itu. Aku harus mengembalikan kondisi putriku seperti semula, pikirnya. Lalu ia memanggil bawahannya.
“Kalian tahu kenapa kupanggil menghadap?” Raden Sodra mengemukakan pertanyaan yang bodoh kepada dua orang bawahannya. Tentu saja Somali dan Midane sebagai orang bawahan hanya mengangguk-angguk walau tidak mengerti.
“Dengar baik-baik!” Raden Sodra menatap kedua bawahannya dengan mata yang berapi-api. “Besok kalian harus membawa kepala Adangit kepadaku!”
“Adangit? Anak jelata yang kurus itu? Kenapa harus kepalanya?” Tergagap Somali berkata menanggapi perintah tuannya. “Apakah ada persoalan yang buruk terhadap anak malang itu?”
“Yah! Buruk sekali, bahkan lebih buruk lagi!” Matanya yang nanar menjelajahi kedua wajah bawahannya. “Anak itu telah menanamkan ideologi cinta terhadap putriku. Akibatnya Rarangul telah berani menjadi pemberontak di rumah ini. Tentu saja hal itu akan membahayakan kesejahteraan keluarga dan rakyat yang lain, maka dari itu sebelum semakin parah keadaannya, Adangit harus dieksekusi mati. Kepalanya harus dipisahkan dari badannya dan dibawa ke sini, dengan demikian tak ada lagi keresahan yang melanda kampung kita. Paham?!”
“Paham!” Sahut Somali dan Midane dengan kompak.
“Berangkat!” Dengan serentak kedua bawahan Raden Sodra meninggalkan tempat itu. Mereka siap menjalankan tugas dari tuannya.
Sementara itu Adangit sedang asyik menikmati secangkir kopi di rumahnya, ia duduk sendiri sambil membaca Koran. Kebiasaan membaca koran memang selalu ditekuninya sebelum ia berangkat ke sawah, katanya agar tidak ketinggalan zaman. Seperangkat alat cangkul dan yang lainnya tergeletak tak jauh darinya. Ia tersenyum sambil menghirup kopi kentalnya, dalam pikirannya menerawang jauh kepada Rarangul, seorang gadis cantik yang dicintainya. Pada waktu itu mereka berlari-lari kecil di pematang sawah.
“Rarangul, kaulah rembulan di hatiku…” Bisik Adangit saat berada di gubuk reot yang terdapat di tengah-tengah sawah. Terlihat kemesraan di wajah mereka. Mereka berbaring berdua di dalam gubuk yang lembab dan kotor itu, di sana-sini terdapat sarang laba-laba. Tapi keindahan cinta mereka membuat gubuk itu menjadi bersih dan hangat. Kelembaban udara dalam gubuk itu membuat kedua sejoli yang dimabuk asmara itu terlena. Beberapa bagian tubuhnya bereaksi dengan gejolak asmara yang melambung. Keduanya mencurahkan perasaannya dan tidak memperdulikan di mana mereka berada. Baginya di gubuk atau di istana sama saja. Sebab sebuah kenikmatan tidak dapat diukur dengan kemewahan.
Rarangul merasakan kehangatan yang memuncak, namun belum sampai ia mendaki lebih tinggi lagi, ia dikejutkan dengan sikap Adangit. Konsentrasi Rarangul pun buyar. Dilihatnya Adangit yang bangkit sambil membetulkan kancing celananya yang hampir putus. Dari mulutnya terdengar kata-kata istigfar yang diucapkan dengan suara gemetar. Seluruh tubuhnya pun basah oleh keringat. Rarangul yang kecewa segera membenahi pakaiannya yang hampir tanggal. Pusat kebudayaannya yang tadi emosi mulai reda, ia menekan perasaan kecewanya dengan memandangi Adangit. Ada rasa tidak puas terbersit di wajahnya.
“Akang Adangit, kenapa berhenti?” Tanyanya.
“Aku tak mau jatuh, Rarangul.”
“Kita saling suka.” Harap Rarangul.
“Betul, kita saling suka, tetapi kita jangan membuat dosa.”
“Tak ada siapa-siapa, Kang.”
“Tuhan ada, Rara.”
“Di mana?”
“Di sini.” Adangit menunjuk urat lehernya.
“Lalu jalan keluarnya bagaimana, Kang?” Tanya Rarangul menggeliat, seperti ada sesuatu perasaan yang tak dapat ditahannya.
“Kita harus menikah dulu, baru kita meneruskan keindahan tadi.” Kata Adangit, seraya tangannya membelai lembut rambut Rarangul dengan kasih sayang. Diperhatikannya peluh Rarangul yang membasahi tubuhnya, aromanya menguap sampai ke dasar birahi yang paling dalam.
Rarangul berdiri dengan senyum, kali ini ia sadar dan membenarkan sikap Adangit. Ada rasa bangga yang menyelubungi hatinya, ia bangga kepada kekasihnya. Ia bahagia mendengar ucapan kekasihnya. Seperti halnya perempuan-perempuan yang lain, yang selalu bahagia jika mendengar kekasihnya akan menikahinya. Apalagi Adangit sangat menghormati wanita, cintanya pun suci, cinta yang tidak diembeli dengan nafsu semata-mata.
“Kang.” Rarangul memegang tangan kekasihnya erat-erat. “Jika demikian aku akan setia menunggu akang untuk datang melamarku.”
“Akang janji, Rara. Akang janji akan datang melamar Rara.” Ucap Adangit dengan kata-kata yang pasti. Saat itu pula lamunan Adangit buyar, karena ada suara orang datang dengan memberi salam.
Adangit menyambut tamu yang datang, yang tidak lain adalah dua orang suruhan Raden Sodra. Penampilan kedua orang itu agak aneh, meskipun tampaknya ramah tetapi dibalik itu ada sesuatu yang disembunyikan. Yang lebih terperanjat lagi kedua orang itu membawa senjata lengkap, yaitu sebilah golok, pedang, dan kapak bermata dua.
“Ada kabar apakah sehingga Bapak-bapak berkenan hadir ke gubuk saya?” Adangit mencoba tenang, seperti biasa jika ada tamu ia harus menyambutnya dengan ramah.
“Kami datang mewakili tuan Raden Sodra.” Sahut Somali dengan keramahan yang dibuat-buat.
“Oh, utusan Bapak Raden Sodra, ayah Rarangul.” Kata Adangit gembira.
“Betul.” Somali dan Midane mengangguk, keduanya tertawa kecil.
“Ketahuilah Bapak-bapak, saya berjanji tak lama lagi akan datang ke rumah ayah Rarangul.” Kesimpulan Adangit kedatangan kedua orang tadi tentu ada hubungannya dengan lamunannya tadi. “Jadi Bapak-bapak jangan kuatir.”
“Ha ha ha … “ Tiba-tiba Somali dan Midane tertawa terbahak-bahak. Adangit heran, apa yang mereka tertawakan, padahal tak ada sesuatu yang lucu? Meskipun demikian Adangit turut tertawa agar tamunya tidak kecewa.
“Adangit!” Somali menghentikan tawanya, “Kau tidak diperkenankan menunda-nunda waktu lagi. Sekarang juga kau harus ikut kami.”
“Ya! Kau harus ke sana sekarang!” Midane menimpali.
“Tapi .. “ Adangit bingung, “Saya belum mempersiapkan apa-apa.” Yang dimaksudkan Adangit adalah ia belum mempunyai persiapan untuk menikah dengan Rarangul sekarang.
“Apa?!” Somali dan Midane berubah menjadi galak, “Kau tidak perlu menyiapkan apa-apa!”
“Bagaimana mungkin?” Adangit gugup, “Setahu saya, Bapak Raden orangnya sangat kasar terhadapku, tapi kenapa tiba-tiba saja beliau ingin buru-buru? Padahal beliau benci terhadap orang miskin seperti saya. Beliau kaya, punya uang banyak, punya derajat tinggi, dan berdarah biru. Saya tidak percaya jika harus ke sana tanpa membawa apa-apa. Oh betapa malunya saya, tentu saya akan mendapat hinaan…ah tidak! Saya tidak mau!” Kata-kata Adangit berubah menjadi keras akibat dibentak-bentak.
“Kau memang tidak perlu membawa apa-apa!” Somali mencabut goloknya. Adangit terkejut bukan kepalang, “Oh apa yang akan kalian lakukan terhadapku?!”
“Kepalamu akan kami bawa ke hadapan tuan Raden.” Midane menjelaskan maksudnya, sebilah pedangnya diayun-ayunkan di depan hidung Adangit.
“Kepalaku? Kenapa harus kepalaku?”
“Ya, sebab tubuhmu yang kurus itu tidak pantas kami bawa ke hadapan junjungan kami. Ayo, serahkan kepalamu sekarang juga!”
“Tidak, tidak mungkin! Saya tidak mau menyerahkan kepalaku. Oh, bagaimana mungkin Rarangul bisa berbahagia kalau cuma kepalaku saja yang ke sana?” Adangit bergerak mundur.
“Anak bodoh! Justru kepalamu itu yang dapat membahagiakan Rarangul.” Bentak Somali, seraya memainkan goloknya kesana-kemari.
“Tidak!” Sambil melangkah mundur Adangit meraba seluruh tubuhnya, serasa sekujur tubuhnya gemetar. “Apa maksud Bapak-bapak? Adakah kepala dapat membahagiakan Rarangul? Oh, kepala yang manakah itu?”
“Dasar dungu! Tentu saja kepalamu bagian atas!” Dengan tidak sabar Somali melayangkan goloknya ke leher Adangit. Adangit menjerit, ada rasa sakit di bagian lehernya.
“Midane, sekarang giliranmu menyempurnakan pekerjaan ini!”
“Siap!” Seketika Midane melayangkan pedangnya. Kepala Adangit pun terpisah dari tubuhnya. Terdengar gedebum jatuhnya tubuh Adangit menyusul kepalanya. Somali dan Midane tertawa puas menyaksikan pekerjaannya beres, kemudian mereka membungkus kepala Adangit dengan kain. Sebelum Somali dan Midane merapatkan bungkusan itu, mereka sempat menyaksikan mimik wajah Adangit yang gembira, dan bibirnya tersenyum. Mereka terkejut, bukankah ekpresi sebelumnya adalah wajah kesakitan.
Somali dan Adangit saling berpandangan, lalu dengan cepat merapatkan bungkusan itu. Ada perasaan aneh menjalar dalam tubuhnya. Kenapa wajah Adangit segembira itu? Ada apa gerangan? Sebetulnya tidak ada apa-apa, hanya Adangit saja yang saat itu sedang merasa gembira. Kegembiraannya itu dirasakan karena tubuhnya sangat ringan sekali, dan pada bagian lehernya tak ada rasa sakit yang ada rasa kesejukan, yang membuat Adangit merasa nyaman luar biasa.
Mungkinkah ini akibat kepalaku sudah tidak ada? Pikir Adangit. Kemudian ia meraba bagian kepalanya, dan ternyata masih ada, bahkan seluruh tubuhnya masih lengkap. Seketika Adangit terperanjat, lalu kepala siapa yang berada dalam bungkusan itu? Adangit tidak mengerti. Dan berpaling melihat tubuh tanpa kepala tergeletak di tanah. Tak ada darah di lehernya, yang terlihat adalah bunga-bunga beraneka warna di sekitar tubuh itu.
Adangit terpaku dan berpikir keras, sehingga ia tidak menyadari kepergian Somali dan Midane yang membawa bungkusan berisi kepala. Setelah lama ia sadar bahwa kedua orang itu sudah tidak berada lagi dalam rumahnya. “Hei, ke mana Bapak-bapak tadi?” Adangit melongok keluar, kedua orang itu memang sudah tak terlihat dari pandangan. Adangit menyusul mereka, namun baru beberapa langkah ia sudah berada di belakang Somali dan Midane yang berjalan sangat cepat.
”Bapak-bapak tunggu… saya ingin bertanya!” Adangit menghadang mereka dengan merentangkan kedua tangannya. Namun yang dihadang tidak bereaksi apa-apa. Somali dan Midane terus berjalan, menabrak tubuh Adangit begitu saja. Dan Adangit sangat terkejut sekali, karena ia merasa tak ada benturan apapun. Bahkan seolah-olah orang-orang itu berjalan menembus dirinya. “Oh, apa yang terjadi dengan diriku?” Sejuta pertanyaan bergayut di dadanya, “Mengapa mereka tidak merasakan atas kehadiranku.”
“Midane…” Suara Somali didengar Adangit, “Ternyata mudah sekali ya membunuh anak miskin itu. Mungkin anak itu dasarnya bodoh, tidak takut akan kematiannya.”
“Ya, saat kita membabat lehernya dia pasrah begitu saja. Ia tidak melawan sedikit pun.” Midane menyahut atas komentar temannya. Adangit terperanjat mendengar perkataan mereka.
“Masya Allah.” Adangit menyebut nama Tuhannya, Ia baru menyadari atas keberadaannya. “Kalau begitu aku sudah mati.” Diperhatikannya tubuhnya sendiri yang memang sudah lain dari sebelumnya. Kini ia melihat dirinya sendiri dalam keadaan telanjang, disamping itu ia juga dapat melihat seluruh organ dalam tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Aku telah mati, aku mati karena dibunuh orang-orang itu. Lalu untuk apa kepalaku dibawa-bawa mereka? Untuk bapak Raden atau untuk Rarangul, kekasihku?”
Berpikir tentang Rarangul lantas ia pergi menuju ke rumah yang ada dalam pikirannya. Setibanya di sana ia mendapatkan Raden Sodra sedang tertawa terbahak-bahak, memuji hasil pekerjaan anak buahnya. Di atas meja tergolek seonggok kepala manusia yang digenangi darah. Darah? Bukan darah, Adangit hanya melihat bunga-bunga menyelubungi kepala yang bibirnya tersenyum itu. Raden Sodra agak kaget melihat senyum itu, namun akhirnya ia tidak perduli, karena ia yakin bahwa kepala itu sudah mati.
Di tengah-tengah kegembiraan tiga orang itu tiba-tiba muncul Rarangul . Bila mana dilihatnya seonggok kepala tergeletak di atas meja, Rarangul menjerit histeris dan berlari kembali ke kamarnya. Suasana sepi sejenak, kemudian terdengar jeritan tertahan dari kamar Rarangul lalu terdengar suara benda jatuh. Setelah itu suasana kembali sunyi mencekam, Raden Sodra menatap aneh kepada anak buahnya. Yang ditatap menundukkan kepalanya, firasat buruk mengahantui benak masing-masing.
“Astaga!” Terdengar suara Raden Sodra, dilihatnya ada darah mengalir dari kamar putrinya. Somali dan Midane menjadi pucat wajahnya. Dan Adangit yang sudah berada dalam kamar Rarangul tidak dapat berbuat apa-apa, karena sebelumnya ia sudah berusaha mencegah agar Rarangul tidak bunuh diri. Tetapi usahanya sia-sia, karena ia tidak dapat menyentuh tubuh Rarangul, dan suaranya pun tak dapat didengar. Kini ia hanya menyaksikan tubuh Rarangul dengan sebilah gunting di tubuh kekasihnya.
“Rara…” Adangit menghampiri tubuh Rarangul, ia mencoba menyentuh tubuh yang terkapar itu, tetapi tidak bisa. Adangit dengan perasaan tak menentu menerawang ke sekeliling ruangan itu. Lalu didapati sesosok tubuh telanjang yang berdiri dan menatap kepadanya.
“Kamu bunuh diri, Rara?” Tanya Adangit ketika ia tahu bahwa tubuh telanjang itu adalah Rarangul.
“Itulah bukti kesetiaan, Kang.” Rarangul menyahut.
“Rarangul.” Adangit hampir tidak percaya mendengar suara Rarangul, itu berarti keberadaan kekasihnya sama dengan dirinya yang telah mati.
“Akang Adangit.” Suara Rarangul lirih.
“Kenapa harus dengan bunuh diri, Rara?” Dengan perasaan berkecamuk Adangit memprotes perbuatan kekasihnya.
“Aku menyaksikan Akang mati, maka aku pun harus mati demi mempertahankan kesetiaan.” Jawaban Rarangul mengandung kesedihan yang dalam, tiba-tiba tubuhnya dibaluti kabut hitam yang berdebu dan kotor. Adangit terperanjat melihatnya.
“Rara… tubuhmu menjadi buruk Rara…”
“Ya, jalan yang aku tempuh salah, kang. Seharusnya aku menunggu dulu ajalku. Seandainya aku dibunuh tanpa kemauanku, tentu tubuhku akan indah seperti tubuhmu.” Ucapan itu terucap tanpa terpikir oleh Rarangul sendiri. Ia pun bingung, kenapa ia mengucapkan kata-kata itu.
“Aku tak tahu.” Adangit pun bingung.
“Aku juga, Kang.”
“Rara, perasaanku seakan-akan tak punya cinta lagi. Kini rasa cintaku hanya satu yaitu kepada Tuhanku. Rasa cinta kepada manusia lenyap, Rara.”
“Aku juga, Kang. Aku tak tahu lagi rasa cinta, oh aku tak merasakan apa-apa. Aku tidak mengerti cinta.” Rarangul menangis dengan penyesalan. “Tolonglah aku, Kang Adangit. Aku kini dibelenggu oleh setan-setan yang datang dari neraka. Tolonglah Kang, aku tak berdaya.” Rarangul menangis menyayat.
“Rara.” Adangit menatap kekasihnya, ia tak dapat berbuat apa-apa. “Aku tak sanggup Rara. Lihatlah, tubuhku kini sudah diselimuti kabut putih bersama para malaikat dari sorga. Oh, apa yang harus kuperbuat?”
“Sentuhlah tanganku ini, Kang. Agar aku dapat merasakan kenyamanan yang kau rasakan.” Mendengar permintaan kekasihnya Adangit hanya dapat menatapnya. Lalu perlahan-lahan tubuh Rarangul menjauh dan hilang dari pandangan, hanya suaranya yang memelas masih terdengar.
“Rarangul.” Adangit hanya dapat menyebut nama kekasihnya sekali lagi setelah itu tak ada rasa apa pun. Ia sepertinya tenang, dan saat ia melihat Raden Sodra dan keluarga menangisi jasad kekasihnya, ia pun tak merasakan apa-apa lagi. Perlahan-lahan tubuhnya melayang melewati Somali dan Midane Yang mengeloso di tanah. Setelah itu pandangan Adangit terhalang kabut putih, dan tak ada lagi yang dapat dilihat selain pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya.
SELESAI

Diskusi
0 Komentar