Namanya Jono, hari ini dia duduk sendiri di rumahnya. Keluarganya telah pergi keluar rumah dengan kesibukan masing-masing. Bapaknya sowan ke rumah teman sejawatnya, ibunya pergi arisan, dan adik-adiknya pergi ke sekolah. Jono benar-benar merasa sendirian di rumahnya – home alone.

    Untuk mengisi waktu agar tidak bete di hatinya, ia membaca lembaran koran yang telah usang. Berita apa saja ia baca, dari berita kriminal sampai berita politik. Setelah bosan membaca ada yang ia lupakan. Apa itu? Ngopi? Ya ia belum bikin kopi. Maka dengan segera ia pergi ke belakang. Tak lama kemudian ia telah Kembali lagi dengan secangkir kopi panas. Sebelum menghirup kopi, ia beranjak menuju lemari buffet yang di atasnya ada sebuah tape recorder. Sebuah benda elektronik kesayangannya. Dipilihnya kaset kesukaannnya. Jreng! Sebuah lagu mengalun dengan indah milik penyanyi ternama, Bob Tutupoly – Symponi Yang Indah.

     Saat ia menikmati lagu dengan secangkir kopi terdengar pintu diketuk dari luar. “Tok tok tok.” Dengan cepat Jono mengecilkan volume lagu.

      “Siapa?” Tanya Jono merasa terganggu.

     “Aku.. Parto.” Terdengar sahutan dari balik pintu. Jono mengernyitkan alisnya, ia sama sekali tak mengenal nama itu. Namun sebagai seorang yang punya etika ketimuran, ia tetap membukakan pintu. Tampak seorang setengah tua, seumuran bapaknya tersenyum padanya.

     “Mari Pak..” Walaupun merasa terganggu Jono tetap bersikap ramah, menyalaminya dan menyilakan tamunya duduk.

   “Terima kasih.” Tamu itu terbungkuk-bungkuk masuk ke dalam. Dan duduk setelah dipersilakan duduk. Sementara tamunya duduk, Jono mendekati tape recorder dan mematikan play lagunya. Mata tamu itu menguntit perbuatan Jono. Saat Jono duduk mata tamu itu tetap melihat ke arah tape recorder.

    “Maaf, Pak.. kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?” Tanya Jono membuyarkan Parto yang sedang nanap melihat tape recorder. Seketika dalam hati Jono mulai curiga. Kenapa tamu Bernama Parto ini nyalang melihat tape recorder kesayangannya. Ada apa ini? Begitu batin Jono.

    “Iya Dik, aku memang ada perlu. Aku adalah Parto teman Bapakmu. Aku datang ke sini ingin…” Parto agak ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya. Seketika kecurigaan Jono mulai memuncak, sepertinya orang ini ingin mengincar tape recorder miliknya. Pasti orang ini bemaksud menipunya. Ia jadi teringat peristiwa yang lalu terjadi pada tetangganya. Radio raib dengan berbagai dalih. Hanya peristiwa lalu dilakukan oleh seorang Perempuan. Jangan-jangan yang ini rekannya atau bisa jadi suaminya? Batin Jono berkecamuk.

     “Ingin apa?” Jono menegaskan dengan wajah penuh curiga.

     “Begini, Dik. Hm, kamu yang Bernama Jono kan?”

        “Iya betul”

        “Aku tadi bertemu dengan Bapak Dirman, Bapakmu. Aku ke sini atas perintahnya untuk mengambil tape recorder itu. Aku sudah membayarnya.” Kata Parto dengan pasti.

   “Degh!” Hati Jono seketika berdetak. Ternyata dugaannya tidak salah. Orang ini ingin menipu dengan dalih membeli tape recorder itu. Mana mungkin? Radio tape itu kan sudah milikku, masa Bapak menjualnya? Tidak mungkin. Ini pasti akal-akalan penipu ini.

   “Hm, sebentar Pak.” Jono pura-pura mengangguk. Lalu berdiri, “Pak Parto ngopi dulu ya, jangan terburu-buru.”

     “Jangan.. Dik Jono.. aku..” Parto merasa tak enak hati, ia menolak.

      “Kalau begitu tunggu, saya ngambil kardus pengemas tape itu, supaya nyaman membawanya.” Kata Jono mencari alasan.

     “Baiklah.. kalau demikian.” Parto mau tidak mau mengangguk.

   Dengan cepat Jono pergi ke belakang rumah, lewat pintu belakang ia menuju ke rumah tetangga. Ada ia jumpai anak kecil yang sedang bermain, kebetulan kedua anak itu tidak sekolah karena masuk sekolah siang.

   “Budi.” Ia memanggil salah satu anak diantaranya.

   “Ya, Kak Jono.. ada apa?” Tanya Budi heran.

    “Ajak temanmu itu mengawasi rumah Kak Jono dari depan. Ada orang jahat di rumah Kakak. Lihat aja dari jauh. Jika orang itu keluar membawa radio tape, teriak maling ya.” Jono menerangkan kepada Budi. Sejenak kemudian Budi dan temannya terlongong.

    “Jangan kuatir pokoknya kalian berdua akan dapat upah buat jajan.”

       “Oke.” Budi dan kawannya tersenyum, lalu segera mengikuti perintahnya. Ketika kedua anak itu menjauh, ayah Budi keluar rumah.

      “Hai Jono, ada apa tadi? Kulihat kau serius bicara sama Budi?” Tanya Taif, ayah Budi.

     “Sst.. jangan keras-keras Pak Taif. Di Rumah saya ada seorang penipu dengan modus sudah membayar radio saya. Dia pasti penipu seperti ibu-ibu tempo lalu.” Jono menerangkan dengan suara dipelankan.

       “Apa? Penipu?” Mata Pak Taif terbelalak ia ingat di rumah kakaknya pernah terjadi penipuan dengan modus bermacam-macam akibatnya jam dinding dan mesin tik raib.

    “Betul, Pak Taif.. kali ini tak boleh dibiarkan.” Ucap Jono dengan semangat. Jono kemudian dengan singkat menceritakan kronologis dan modus penipu itu.

     “Hm, kalau laki-laki, tentu ini suaminya atau barangkali rekannya?” Kata Pak Taif setelah mendengar cerita Jono.

    “Ya.. kalau pun bukan, setidaknya ini penipu dengan modus yang sama. Menginginkan benda berharga di rumah untuk dimiliki.” Jono merasa yakin.

     “Pokoknya aku dendam dengan orang jahat seperti itu..” Pak Taif tampak geregetan.    “Cepat kau kumpulkan tetangga lain sebelum penipu itu kabur.”

     “Jangan kuatir Pak Taif, Budi dan temannya lagi ngawasin rumah saya. Jika penipu itu kabur pasti anak-anak itu sudah terdengar berteriak.”

        “Bagus.” Pak Taif merasa senang.

     Tak lama kemudian Jono sudah berhasil mengumpulkan lima orang tua yang kebetulan sedang berada di rumah.

      “Nah, sekarang kita sudah kumpul, ayo kita bereskan sekarang juga. Kita bikin efek jera. Agar tak ada lagi penipu di desa kita.” Ujar Pak Taif dengan semangat.

     “Ayo!” Serempak mereka menyahut dengan semangat membaja. Lalu dengan cepat mereka melangkah ke rumah Budi dengan melalui halaman depan rumah. Di sana Jono menjumpai Budi dan temannya yang masih sembunyi di balik pohon, mengawasi rumahnya.

       “Bagaimana Budi?” Tanya Jono.

       “Orang itu belum keluar Kak.” Sahut Budi.

  “Bagus kalau begitu.” Jono tersenyum senang. “Nah Bapak-Bapak, ayo kita bertindak.”

   Sementara di dalam rumah Parto masih duduk dengan gelisah. Ia merasa tak nyaman menunggu Jono yang mengambil bungkus radio sangat lama. Kemana dulu gerangan anak itu? Kok lama banget ya? Padahal aku ingin buru-buru. Begitu di dalam batinnya. Sebentar ia menoleh ke kiri, sebentar ke kanan. Kadang bersandar, kadang duduk dengan tegak. Pokoknya gelisah. Matanya menerawang ke alat eletronik di atas buffet. Bahkan kopi di atas meja menjadi perhatiannya pula.

    Pada saat demikian tiba-tiba pintu depan terbuka, mata Parto terbeliak saat melihat beberapa orang tua masuk dengan wajah yang murka.

    “Jahanam, penipu!” Teriak Pak Taif, yang langsung mendekati Parto yang belum sempat bicara langsung dihantam pada wajahnya.

     “Aduuh.” Teriak Parto kesakitan saat bogem mentah mampir di wajahnya. Menyusul orang tua lain yang ikut ambil bagian. Bahkan tinju Jono membuat Parto jatuh tersungkur ke sudut ruangan.

      “Apa salahku?!” Teriak Parto ketakutan dan sakit.

    “Pukul terus jangan diberi ampun!” Perintah Pak Taif dengan geram.

    “Ya.. hajar!” Sahut yang lain.

   “Huh! Dikira aku gampang kau tipu?! Nih.” Jono menghantam kuat rahang Parto yang masih posisi terduduk ingin bangkit. Menyusul tendangan Pak Taif yang membuat mulutnya berdarah karena giginya tanggal. Dan ditambah dengan bogem lain yang membuat matanya bengkak serta hidungnya mengucurkan darah.

    “Ampun..ampuun..!” Parto berteriak minta ampun dalam kesakitannya. Ia merintih dan sangat memilukan.

   “Tak ada ampun bagimu!” Pak Taif ingin menyerang kembali namun diurungkan saat mendengar suara orang yang baru saja datang. “Tahan! Ada apa ini?!” Serentak mereka yang berada di ruangan itu berbalik melihat ke arah pintu. Tampak orang tua Jono, Pak Dirman yang merasa heran melihat keributan di rumahnya.

      “Kebetulan Pak.” Jono gembira melihat kedatangan bapaknya, “ini ada penipu yang ingin mengambil tape recorder kita.” Tangannya menunjuk Pak Karto yang sedang terkapar dan merintih kesakitan dengan wajah yang bonyok.

   “Benar Pak Dirman. Kami langsung mengambil tindakan cepat.” Kata Pak Taif dengan semangat tinggi, dan ingin agar pak Dirman bangga. Namun Pak Dirman tak bereaksi, sepertinya di wajahnya tampak was-was. Lalu perlahan ia mendekati Parto yang terkapar. Diperhatikannya wajah yang sudah bonyok itu. Seketika ia ternganga tak percaya.

     “Parto, Oh Tuhan.. kenapa jadi begini?” Pak Dirman bangkit menatap anaknya dan para tetangganya. “Jono, orang ini adalah Parto teman Bapakmu. Dia memang ke sini aku perintahkan untuk mengambil tape recorder. Dan dia sudah membayarnya.”

     Jono terkesiap, begitu pula Pak Taif dan para tetangga yang lain. Mata mereka terbelalak saling memandang. Kemudian semua mata mengarah kepada Jono.

 

 

***

 

Henkir, 1 Juni 1984