"Zgeer !" Suara itu terdengar nyaring memekakkan telinga. Pekat rasanya mendengar suara petir yang keras itu, di tengah hujan deras begini, langit hitam, lidah-lidah api terus menjilat-jilat langit dengan suasana riuh mengerikan. Suasana itu membuat ciut nyali orang- orang yang berada di bawahnya, apalagi saat ini anak-anak siswa sekolah sudah harus pulang. Jelas tampak berjajar siswa-siswi di teras sekolah tingkat atas, SMA Negeri Cibung Bulan , menunggu hujan agar segera berhenti. Sesekali diantara mereka menutup telinganya saat petir itu mengelegar kembali.

"Hu, brengsek!" Salah seorang siswa mengerutu, memaki. Matanya menerawang, mengumpat hujan yang turun. Teman-temannya yang bergabung dalam kelompoknya, mengiyakan. Sedangkan pada kelompok yang lain bersikap biasa saja, meskipun memang mereka sudah menunggu hujan selama setengah jam lebih.

"Bagaimana kita bisa pulang kalau hujan terus-menerus begini."

"Iya, ditambah dengan 'geledek'nya yang mengerikan." Mereka berbicara saling menyahut satu sama lain.

"Tar .. ZZGEER!" Seketika siswa-siswa yang saling menggerutu itu menjadi terdiam, mendengar suara petir yang memekakkan telinga. Tak jauh dari mereka tampak sekelompok siswi-siswi menutupi telinganya.

"Eh, mendingan kita kumpul dekat cewek-cewek itu, yok." Salah seorang punya inisiatif. Dan tanpa ia duga teman-temannya menggeleng. "Ogah akh, berat resikonya kalau dalam keadaan begini. Salah-salah, geledek itu jadi cemburu lalu menyerang kita. Kan bisa berabe." Suasana menjadi riuh dengan gelak tawa, mendengar kata-kata yang punya gaya lelucon. Keriuhan itu mengundang perhatian kelompok anak-anak yang lain.

"Lihat, tuh. Cowok-cowok itu enggak mikir apa, ketawa seenaknya di tengah-tengah hujan bergeledek begini." Terdengar perkataan dari kelompok cewek. Yang lain manggut-manggut, dan salah seorang yang bernama Santi menimpali, "Iya yah. Belum tahu aja kalau geledek itu marah, bisa kena sambar nanti."

"Betul juga, San." Siska di sampingnya tiba-tiba tertawa, tangannya menutupi mulutnya. Yang lainnya senyum-senyum.

"Lho kenapa Sis, kamu kok tertawa?" Santi melotot. "Habisnya omonganmu lucu, sih. Masa iya geledek bisa juga marah." Ujar Siska menahan tawanya. Tetapi teman-temannya yang lain malah tertawa lepas.

"Lho.. lho.. Ranti, Tuti, dan juga Nunu, kalian kok ikut -ikutan tertawa?" Santi tambah melotot, sebal. "Apanya yang lucu sih? Eh tahu enggak, bisa-bisa hujan yang gede begini enggak 'bakalan' berhenti. Ih." Santi merajuk, menambah geli perasaan teman-temannya.

"Eh, malah ngeledek, udah kompak yah?"

"Santi ..Santi .., hujan itu enggak ada yang 'gede'. Bisa gawat, tuh. Nanti yang ketiban 'mokat' dong." Kata Tuti memegang perutnya, menahan tawa yang memuncak.

"Hujan itu bukannya gede, San. Tetapi hujan itu, BA ..NYAK." Siska menirukan gaya guru TK. Ge-er, suasana menjadi riuh mengalahkan kelompok cowok-cowok di sana.

"Rame juga. Ajak-ajak dong ketawanya." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki, sudah berdiri di antara mereka. Dan seketika mereka terdiam, demi dilihatnya siapa laki-laki yang ikut nimbrung. Laki-laki itu adalah Heru, cowok yang terkenal pendiam di kelas dua A. Semua cewek sudah tahu watak Heru yang demikian itu, apalagi kelompok cewek yang dihampirinya itu. Mereka rata-rata kurang suka dengan sikap Heru yang pendiam itu, soalnya kelihatannya jelas terlihat angkuh dan tak mau bersahabat.

"Lho kok diam semua." Heru tahu gelagat, dia memang menyadari bahwa cewek-cewek di sekolah tidak begitu suka kepadanya. Tetapi Heru yakin di antara mereka ada salah satu yang tidak turut membenci dia, yaitu Siska. Ya Siska. Heru ingat beberapa hari ini Siska sering menyapanya, saat mereka berpapasan di tempat yang sepi. Siska baginya, berbeda dengan cewek yang lain. Kalau cewek-cewek yang lain tetap menganggapnya, dia itu cowok yang angkuh. Cowok yang tidak pantas diajak bicara. Buat apa? Heru kalau mau bicara jika hanya ada keperluan saja, tanpa ada keperluan jangan harap dapat mendengar suaranya. Hu,cowok sombong! Begitulah cewek-cewek kalau mencibirnya. Mereka tidak suka dengan cowok type pendiam, yang lebih mereka sukai adalah cowok-cowok yang banyak omong. Yang kayak begitu supel, katanya. Disamping ba nyak humor dan pandai 'merayu'.

Sebenarnya sih, Heru bukan cowok yang angkuh seperti yang diguncingkan cewek-cewek di sekolahnya. Terbukti kalau ada orang yang mengajak bicara, dia selalu mau menyahut, cuma memang dia punya kekurangan dalam bicara. Dia sering kelihatan gugup jika bahan yang dibicarakan sudah habis, sedikit pun ia tidak bisa mencari tema lain. Makanya setelah itu diam saja, atau dia segera meninggalkan arena pembicaraan. Permisi lalu pergi. Tetapi kesimpulan para cewek lain, Heru dianggapnya cowok yang angkuh. Tentu saja lama-kelamaan Heru merasa rendah diri kalau berhadapan dengan cewek, makanya dia lebih banyak menghindar.

Rupanya sikap Heru yang demikian itu menjadi perhatian khusus buat cewek yang bernama Siska. Secara diam-diam ia banyak memperhatikan Heru, tanpa diketahui teman-temannya. Untuk tidak mencurigakan teman-temannya Siska turut serta membenci Heru, kalau teman-temannya mulai bergunjing tentang Heru. Lain halnya dalam keadaan yang sepi, Siska dengan ramah menyapa Heru penuh perasaan. Dan secara diam-diam Heru pun merasa demikian, ada sesuatu yang lain yang dimiliki oleh Siska.

Setiap hari jantung Heru selalu berdegup jika melihat sosok Siska. Ia mau dekati serba salah. Heru khawatir, kalau-kalau cewek yang lain mengejeknya, disamping dia sendiri memang belum ada keberanian untuk itu. Padahal pernah sewaktu-waktu ia punya kesempatan untuk itu , dia pernah pergi ke sekolah berbarengan. Siska yang lebih dahulu menyapa Heru, yang agaknya mau mempercepat langkah.

"Heru. Tungguin dong." Terdengar waktu itu Siska menyuruhnya menunggu,"Mau kemana sih, cepet-cepet. Baru aja jam setengah tujuh. Masih lama tuh masuknya." Heru tersentak, dadanya berdebar keras.

Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia memperlambat langkahnya.

"Heru, PR kemarin sudah dikerjakan belum?" Tanpa canggung-canggung Siska berjalan di sisinya. Heru terperangah, ia terkejut mendengar pertanyaan Siska. Masalahnya ia sama sekali belum menyelesaikan PR-nya yang kemarin. Padahal PR yang diberikan guru matematika kemarin tidak begitu susah. Malam tadi ia cuma malas, karena pikirannya selalu dihantui bayangan Siska yang kini sudah ada di sampingnya . Kini malah ia tidak berdaya menghadapi Siska yang sesungguhnya.

"Sudah?"

 Oh ..eh ..belum Sis." Sahutnya tergagap. Gugup.

"Sama kalau begitu. Aku juga belum, susah ya." Kata Siska disisipi senyumnya yang menawan.

"Oh iya .. ya ya." Heru mengangguk, mengiyakan saja. Padahal hatinya bilang lain. Gampang kok. Rupanya waktu itu Siska pandai membawa suasana, dengan lancarnya ia bicara apa saja. Dengan maksud Heru mau tertawa saat itu, dan ia berhasil. Heru memang banyak tertawa. Maka sejak kejadian itu, Heru mulai menyadari, bahwa sikapnya selama ini memang tidak baik. Dia harus mengubah sikap, dengan berusaha menjadi cowok yang berani. Dia harus bisa mencari kata-kata untuk berbicara. Dengan pikiran semangat seperti itu, akhirnya disaat hujan turun Heru memberanikan diri mendekati Siska. Kebetulan Siska sedang kumpul dengan kawan-kawannya, tentu saja sikapnya lain. Ia bersikap seperti kawan-kawannya, ketus terhadap Heru.

"Lho kok diam semua." Mengucapkan kata-kata seperti itu sebenarnya diiringi debaran jantung yang tak menentu. Heru yang mengetahui gelagat tidak baik dari kawan-kawan Siska berusaha menekan perasaannya. Aku harus berani! Begitu kata hatinya.

"Apa pedulimu, kami diam itu bukan urusanmu." Santi menyahut dengan ketus. Teman-teman yang lain menimpali, begitu juga Siska. Meskipun sebenarnya dalam hati Siska sangat bertolak belakang. Dia cuma menunjukkan rasa solidernya terhadap kawan-kawannya. Sementara hujan semakin deras saja, diiringi petir yang tak mau berhenti menggelegar di udara.

"Jeglaar!" Suara petir terdengar keras. Siska, Santi, dan yang lain-lain, tanpa dikomando sudah menutup telinga terlebih dahulu, ketika kilat di langit membahana. Sedangkan Heru tak perduli, ia dengan segenap keberanian menatap mereka.

"He, apa lihat-lihat. Baru kenal ya?!" Tuti sadar kalau Heru memperhatikannya. Yang lain bersikap sama saja.

"A - Aku cuma mau tanya." Suara Heru tercekat.

"Mau tanya?" Giliran Nunu mencibir, "kau pikir kami ini gudang pertanyaan."

"Atau mau tanya, jalan mana yang terdekat menuju ke 'WC'." Ranti menyambung ketus. Dan yang lain seketika ketawa ketus.

"Ya, apa maunya sih, dia tanya-tanya ke kita." Mendidih darah Heru mendengar kata-kata yang ini, sebab milik suara itu, Siska. Ia terperangah, ternyata Siska sama saja dengan yang lain. Ingin rasanya ia berteriak sekuat-kuatnya tetapi tidak mampu.

"Yok, kawan-kawan, kita pindah aja ke tempat yang lain. Buat apa kita ladeni cowok angkuh di dini." Ujar Santi sambil beranjak .

"Yok!" Serentak yang lain mengikuti. Mereka meninggalkan Heru yang terpaku, dan semakin tidak mengerti. Kenapa cewek-cewek itu tidak mau berubah sikap, kenapa kehadirannya selalu menjadi bahan permusuhan. Siska, samakah kau dengan yang lain ? Tidak! Batinnya menjerit. Dan suara petir pun menggelegar kembali, keras. Kali ini Heru tersentak kaget, tanpa sadar ia berteriak menyebut nama Siska.

"Sisksa!" Jantung Siska berdebar seketika, wajahnya merah. Kawan-kawannya terkejut, kurang percaya.

"Lho, dia panggil nama kamu, Sis." Tuti memandang Siska dengan penuh tanda tanya. Santi, Ranti, Nunu, dan yang lain juga memandangi Siska. Yang dipandang menjadi serba salah, wajahnya yang berubah tampak jelas sekali. Tapi ia mencoba meludah dan berkata," Eh enak aja dia menyebut-nyebut namaku." Gerutunya, kemudian disambung dalam hati, ma'afkan aku, Heru. Aku cuma bersandiwara.

"Siska, kau ada hubungan ama dia?" Tanya Santi menyelidik.

"Akh enggak." Siska menggeleng.

"Kok, dia bisa teriak 'nyebut' namamu?" Tuti merasa penasaran. "Kulihat kau tidak begitu marah. Atau barangkali terselubung?"

"Akui aja deh ,Sis."

"Enggak! Pokoknya enggak!" Siska tetap mati-matian mendustai perasaannya. Hatinya berdetak keras, ada rasa kebimbangan. Akui atau jangan? Akh, aku belum mampu sekarang.

"Hei, lihat tuh!" Terdengar Santi berteriak."Dia menuju ke sini. Gawat." Matanya melihat Siska, sekaligus menyelidik. Bagaimana perubahan roman wajah Siska, dan ternyata nampak jelas, Siska pucat. Dia bingung harus bagaimana.

" Biarin deh. Aku mau lihat, bagaimana sebenarnya sikap Siska kepada si angkuh itu." Ujar Tuti tersenyum sinis. Dan tak lama Heru sudah berdiri di antara mereka. Dengan kompak cewek-cewek itu diam tak bersuara, selain mendesis-desis penuh kebencian. Heru tidak mau perduli, ia mendekati Siska. "Siska." Ia menyebut nama Siska pelan, batinnya tidak percaya kalau Siska punya sikap yang sama dengan kawan-kawannya. Saat itu wajah Siska langsung merah.

"Siska, kau tidak sama, kan dengan mereka?" Siska diam saja mendengar kata-kata Heru. Siska memandang lurus ke depan, memandang hujan yang belum mau berhenti. Hatinya 'dag-dig-dug', tersembunyi. Sementara Tuti, Santi, Nunu, Ranti, dan yang lain memasang wajah tak bersahabat, membisu. Ada sedikit perasaan geli melihatnya masing masing melihat tingkah Siska yang tidak biasanya.

"Baiklah, Siska. Jika kau memang demikian, aku akan lari menembus badai ini." Heru tanpa menyadarinya berkata begitu tanpa tersendat sama sekali. Rupanya ia sudah nekad. "Siska, aku akan berlari dan berlari. Aku akan songsong petir yang mengelegar dengan caraku!" Heru melompat, menembus hujan lebat. Siska tercekat hatinya, kawan-kawannya bengong sejenak tetapi kemudian tertawa. Sementara kelompok cowok-cowok yang tak begitu jauh dari mereka seperti tak perduli, Cowok-cowok itu sedang sibuk dengan permainannya.

"Zeglaar!"

"Tak kusangka Heru bisa ngomong juga yah." Kata Santi di tengah tawanya. Dan segera disambut kawan-kawannya yang lain. Sedang Siska diam saja. Ia tiba-tiba saja merasa khawatir dengan keadaan Heru di tengah-tengah hujan yang penuh dengan gelegarnya halilintar .

"Tut, lihat tuh tampang Siska, agaknya ia menyesali dengan sikapnya 'barusan'." Ujar Ranti .

"O ya?" Setelah itu terdengar gemuruh mengerikan di udara disertai nyala kilat yang terang. Cewek-cewek itu kembali menutup telinganya, soalnya kilat itu pertanda akan ada suara petir yang menggelegar. Siska tampak ngeri, tetapi ia tidak menutupi telinganya. Dan “Zeglaar!" Suara petir kali ini lebih keras dari sebelumnya, dan membuat ciut nyali orang-orang di bawahnya. Apalagi suara petir itu diiringi suara jerit manusia, "Aaaakh...!" Jeritan manusia itu begitu nyaring dan jelas , membuat terkejut orang-orang yang mendengarnya.

"Heru!" Siska terpekik menyebut nama Heru, wajahnya seketika pucat. Rupanya kawan-kawannya pun mendengar jeritan itu. Mereka sama memekik menyebut nama Heru. "Heru ! Oh Tuhan, Heru disambar geledek!" Santi pucat, yang lain sama saja. Sementara terlihat kelompok cowok-cowok yang sibuk dengan permainannya terkejut.

"Apa?! Jeritan itu, Heru?!" Dengan reflek beberapa orang cowok menghambur, menembus lebatnya hujan. Mereka berlari, memburu suara jeritan yang terdengar tadi. Hati mereka cemas. Suasana sekolah menjadi riuh dengan jeritan tak menentu, nama Heru terdengar disebut-sebut. Siska langsung pingsan melihat suasana yang mengerikan itu, oh Tuhan, Heru ... Heru ...

"Umar! Umar!" Ranti dan kawan-kawannya panik menghadapi Siska yang pingsan. Umar yang hendak berlari menembus hujan, mengurung kan niatnya. Segera ia melompat ke kelompok cewek-cewek itu. Beberapa anak laki-laki tampak mengikuti Umar.

Siska tak tahu pasti berapa lama ia tak sadarkan diri, yang pasti ketika ia sadar sudah ada di rumahnya. Tampak olehnya wajah ibunya menangis. Ibunya tampak sedih sekali menatap Siska, sesekali dirabanya kening Siska dengan penuh kasih sayang.

"Siska, kau sadar, Nak?" Terdengar suara Ibu lemah.

"Ibu, apa yang telah terjadi dengan Siska?" Siska balik bertanya, dipandanginya wajah ibu yang tampak duka.

"Kau pingsan, Nak. Ibu dan bapakmu kuatir sekali, kau pingsan begitu lama. Tapi syukurlah." Ibu tersenyum, meskipun ada linangan air mata di sudut matanya. Diusapnya wajah Siska dengan lembut. "Kini kau telah sadar, ibu gembira sekali." Siska membalas senyum Ibu kemudian  bangkit, merangkul tubuh tua ibunya. Dalam pelukan ibu, Siska menangis, ia ingat Heru. Ya Heru, apakah yang telah terjadi terhadap dirinya? Akh, Siska tak bisa membayangkan hal yang terjadi. Ia ingat suara gelegar petir yang dibarengi pekikan Heru. Oh, Tuhan , tewaskah dia? Alangkah tragisnya nasibmu, Heru. Kau mengalami kematian yang tragis karena ulahku. Siska menangis lebih keras dalam pelukan sang ibu. Dan ibunya membiarkan saja Siska menumpahkan perasaan lewat tangis.

"Ibu .. Siska bersalah, ya Siska berdosa, bu.." Ratapnya pilu. Ibu dengan penuh pengertian membelai-belai rambut putrinya. Ia sudah tahu apa yang telah terjadi terhadap putrinya, tadi kawan-kawan Siska sempat menceritakannya.

"Sudahlah, Nak. Ibu mengerti perasaanmu." Ujar Ibu lembut. Tak jauh darinya sang suami duduk terpaku, ia diam seribu bahasa. Hanya tatapan matanya yang bicara. Keduanya sadar, bahwa putrinya sedang jatuh cinta.

Menjelang malam hari suasana sudah tampak sepi, di dalam kamar tampak Siska gelisah. Rupanya malam itu ia tidak bisa tidur. Ia selalu dihantui perasaan bersalah. "Heru, ma'afkan Siska." Dari sudut-sudut matanya tampak basah. "Siska waktu itu tidak bermaksud menyakitimu. Oh Heru, aku .. aku menyesal." Ia terus bicara dalam hatinya, dengan tak lepas menyebut selalu nama Heru. Dan tanpa terasa ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat seperempat Siska tertidur. Ia terkejut ketika bangun hari sudah siang, matahari sudah agak tinggi.  Oh, aku kesiangan." Katanya dalam batin.

"Siska, bagaimana keadaanmu?" Terdengar suara Ibu berta nya. Siska menggeliat, dan menyahut, "saya baik-baik saja, bu."

"Syukurlah kalau begitu. O ya, tadi teman-temanmu ke sini, katanya, sih mau kasih tahu tentang Heru. Ya, mereka cuma sebentar, kemudian langsung berangkat sekolah. Mereka tahu, kau masih tidur. katanya enggak mau ganggu." Ibu duduk di sisi Siska. Dan Siska tampak terbeliak. "Heru, bu? Mereka mau kasih tahu tentang Heru?"

"Betul. Kenapa kamu, Sis?" Ibu heran melihat raut wajah Siska.

"Kalau begitu aku harus ke sana, Bu. Aku harus ke rumah Heru segera." Siska bangkit seketika, lalu merapihkan rambutnya di depan cermin. "Aku harus menemui Ibunya Heru, aku ingin minta ma'af. Dan sekalian ingin tahu dimana Heru dikuburkan."

"Kau bicara apa, Siska?" Sang Ibu terperanjat memperhatikan putrinya yang bersikap aneh itu, lain dari biasanya. Siska tak menjawab pertanyaan ibunya, malah ia bergegas keluar rumah. Si Ibu mengikuti dari belakang. "Kau mau ke mana?" Siska menoleh sebentar kepada ibunya, "Aku mau ke rumah Heru." Kemudian berlari meninggalkannya. Si Ibu makin terperanjat.

"Siska, tunggu!" Ibu memanggil namanya, tetapi Siska terus berlari dan berlari. Perasaannya yang bersalah membawa dia harus segera menemukan keluarga Heru. Ia ingin menebus semua kesalahannya. Di perjalanan tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, sepertinya ada suara yang amat dikenal memanggilnya, yang jelas bukan suara ibunya. Suara ini jelas vokal laki-laki. Dan hampir copot jantungnya, demi melihat siapa orang yang memanggilnya.

"Heru, kaukah itu?" Siska seakan tak percaya melihat Heru berdiri tidak jauh darinya. Heru tersenyum menatap Siska, dan menghampirinya.

"Betul, Siska. Aku Heru, orang yang mendapat julukan 'cowok yang angkuh'." Kata Heru, ditatapnya mata Siska yang bening dan mengundang banyak pertanyaan. Heru cuma mengenakan kaos oblong berwarna biru, dan celana white jeans, ia tidak mengenakan pakaian se ragam sekolah. Seperti halnya Siska, ia tidak masuk sekolah hari ini.

"Siska, kenapakah dengan kau?" Heru heran, "Agaknya kau seperti tidak percaya, bahwa yang berdiri d ihadapanmu ini Heru. Ya aku benar-benar Heru." Ia meyakinkan dirinya.

"Beb-bu-bukankah kau sudah mem-mm-mati?" Duga Siska tergagap. Heru terkejut, tetapi kemudian ia tertawa. Ia ingat cerita kawan-kawannya, katanya banyak yang menyangka bahwa ia kena sambar petir.

"Siapa bilang, Sis? Kau lihat ini, Heru masih hidup, Heru masih sehat dan dilindungi Tuhan Semesta Alam." Katanya pasti. Siska terkesiap, ada perasaan haru bercampur bahagia. Kemudian segera dipeluknya Heru. Seketika Heru gelagapan, tak tahu harus bagaimana. Lututnya gemetar, sebab baru kali ini ia dipeluk wanita.

"Ma'afkan aku Heru. Ceritakanlah, apa yang telah terjadi ke marin denganmu?"

"Kemarin ketika aku pulang." Heru mulai cerita setelah Siska melepaskan pelukannya."Tak jauh dariku ada pohon kelapa yang kena sambar petir. Suara sambaran itu terasa dekat sekali, sehingga aku merasa dirikulah yang kena. Aku berteriak dan menjerit sekuatnya, sampai buku-buku punyaku terlempar. Tetapi waktu itu aku tak perduli, aku terus berlari dan pulang. Aku bersyukur, ternyata aku tidak apa-apa. Dan tak lama aku sampai, muncul Andri, Bule, Roni, dan teman-teman yang lain dengan basah kuyup kehujanan. Rupanya mereka sengaja mengejarku, mereka kuatir akan apa yang terjadi padaku. Sekaligus mereka membawa buku-buku punyaku yang tercecer di jalan."

"Siska, aku tak menyangka, ternyata kawan-kawan begitu baik kepadaku. Oh, mulai dari sekarang aku harus mengubah sikapku yang selalu diam ini. "

"O ya? Lalu bagaimana dengan Santi, Ranti, Tuti, Nunu, dan teman-temanku yang lain, adakah mereka datang ke rumahmu?" Tanya Siska penuh haru.

"Ada. Malah mereka semua datang pagi-pagi sekali ke rumahku. Mereka minta ma'af padaku, padahal akulah yang salah."

"Tidak Heru, kau tidak salah." Siska menatap Heru lekat-lekat.

"Kau mau mema'afkan aku, kan?" Suaranya haru biru. Heru menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak Siska, tak ada yang perlu dima'afkan, toh. Kau tak punya salah apa-apa. Justru sekarang ini aku akan datang ke rumahmu, kudengar kau sakit. Hm, aku ya yang minta ma'af." Heru mengemukakan maksudnya.

"Tidak. Kau pun tidak punya salah apa-apa, kok." Tampak kini wajah Siska berseri-seri. Hatinya benar-benar bahagia, dan ia yakin bahwa, ia sudah jatuh cinta kepada pemuda ini. Siska yakin sekali .

"Kalau begitu kita sama." Kata Heru tertawa gembira. Siska mengangguk, dan turut tertawa gembira. Mereka kemudian berlari dengan bergandengan tangan. Hati mereka berbunga-bunga, dan mereka pun teringat suara petir yang mengelegar, sebuah suara yang menguakkan kisah tersembunyi. Lalu cinta mereka pun seakan-akan turut menggelegar.

"Zeglaar ...!"

HENKIR ALAM di SAWANGAN - BOGOR.