Aku adalah pemuda kampung yang tidak beda dengan pemuda kampung yang lain. Sebagai pemuda kampung, aku kerapkali bekerja membantu bapak di sawah, tanpa sedikit pun mengenal gengsi. Sebab aku seringkali mendengar, katanya kalau menjelang akil baligh bekerja di sawah itu sangat memalukan. Tapi, mungkin itu hanya pendapat sebagian orang, yang pada dasarnya mereka pemalas. Atau barangkali mereka sudah kena gaul kota.

           Yang pasti aku merasa tidak enak hati melihat orang tuaku bekerja di sawah sendirian, sementara anaknya enak-enakan di rumah. Di samping itu aku sadar, kehidupan di kampung memang harus rajin bertanam. Dari mana kami makan kalau bukan dari penghasilan di sawah.

         Siang di sawah, dan malam di musolah sudah biasa bagiku. Seperti halnya teman-temanku, tidurku juga di musolah. Katanya kalau tetap tidur di rumah, masih menyusu sama ibu.

          Atas pengajian setiap malam, akhirnya aku menjadi pintar. Pada tahun berikutnya aku sudah bisa mengajar kepada anak-anak yang lain, itupun atas saran ustad, guru yang mengajar aku ngaji. Lalu aku menjadi taat, salat lima waktu tak pernah kutinggalkan. Kalau aku meninggalkan salat sama saja bohong, buat apa ilmu-ilmu agama itu aku dapatkan? Apalagi murid-muridku memanggilku dengan memakai embel-embel ustad.

         Sebagai orang yang taat beragama, tentunya ada gaya khas yang digunakan untuk menarik perhatian gadis-gadis. Walau bagaimana pun sebagai manusia aku perlu untuk itu. Kalau teman-teman mencari perhatian lawan jenis dengan fasilitas orang tuanya, atau mengajaknya ke tempat hiburan. Tetapi aku lain, aku menarik lawan jenisku justru dengan modal kepintaranku dalam beragama.

         Aku berhasil memikat seorang gadis bernama Wati, katanya dia suka padaku, karena aku alim. Dan pemuda alim itu sulit dicaridi zaman sekarang ini, begitu menurutnya.

         Menjelang malam minggu, aku tidak mau ketinggalan dengan kawan-kawanku yang lain. Aku datang apel ke rumah Wati. Harap maklum, aku apel ke rumah Wati bukan malam Jum’at, soalnya malam Jum’at khusus baca Yasin.

         Di depan pintu Wati menyambutku dengan ramah. Senyumnya yang menawan membuat jantungku berdebar. Untuk menambah ringannya debaran jantungku aku cukup istigfar, dan debaran jantungku lumayan, malah bertambah keras. Kok bisa ya? Aku jadi teringat pada teman-temanku yang sudah lebih dulu pacaran. Katanya pacaran itu bisa bikin jantung berdebar. Ternyata betul, aku tidak bisa menahan debaran jantungku itu, meskipun istigfar berulang-ulang.

        Ada apa Bang Ifal?” Tanya Wati, ketika melihatku diam saja di pojok kursi.

        “Nggak apa-apa kok.” Sahutku seadanya menahan perasaan yang tidak bisa kumengerti.. Kemudian wati duduk di kursi seberang. “Bang Ifal terima kasih, masih mau berkunjung ke rumah Wati yang jelek ini.” Kata Wati membuka suasana agar tidak kaku.

       “Jangan begitu, Wati. Rumahku kan lebih jelek.” Sahutku, sambil berusaha mengubah suasana kaku menjadi segar.

       “Bang Ifal kok ngomong begitu.” Wati tersenyum, “Sekarang begini aja deh, rumah kita memang sama-sama jelek.”

        Pada akhirnya suasana kaku pun dapat kami atasi, maklumlah aku baru mengalami kejadian seperti ini. Ini apel pertamaku. Wati pun bilang, bahwa hari ini ia diapelin yang pertama.

        “Masa?” Kataku, ketika Wati bilang begitu. “Kata teman-teman, dulu banyak laki-laki yang datang ke sini.”

        “Abang percaya?” Ditanya begitu, aku tidak reaksi. Wati melanjutkan, “Kalau dulu memang banyak yang datang ke sini, tetapi bukan untukku. Melainkan abangku, Azis. Sebab mereka itu memang teman-temannya. Aku nggak pernah tau urusan mereka...”

       “Sampai sekarang masih….?”

        “Nggak! Bang Azis sekarang sudah bekerja di Jakarta.”

        “Oh, gitu…” Dalam hati aku merasa lega, lalu kulihat jam dinding, “Sudah jam setengah Sembilan, kamu sudah salat Isya?”

        “Belum, Bang. Lagi waktu Isya kan panjang.” Wati memandangku, “Nggak apa-apa kan?”

        “Memang nggak apa-apa, tapi apa salahnya jika yang wajib itu jangan ditunda. Soalnya nanti kalau aku sudah pulang, kamu lupa dan malah ketiduran.” Seketika wajah Wati memerah, lalu dengan malu-malu ia berdiri. “Iya deh Bang, aku mau salat dulu.” Wati bergegas ke belakang. Aku tersenyum bangga memiliki kekasih seperti Wati, dia memang tipe gadis penurut.

        Agaknya percintaan dengan model dakwah agama memang sangat menyenangkan, dengan begitu pola pacaran kami tidak diselingi dengan perbuatan maksiat. Namun godaan memang selalu ada, seperti pendapat teman-temanku misalnya.

         “Fal, aku rasa cara kamu berpacaran sangat aneh. Masa setiap detik rayuanmu selalu diselingi dengan petuah agama. Apakah hal itu nggak bertentangan dengan suasananya?” Begitulah komentar Dedi.

         “Aku tau, Fal. Kau memang mendapat nilai lebih dalam bidang agama, sehingga kau disebut ustad oleh anak-anak. Tetapi nggak seharusnya caramu berpacaran seperti itu.” Sambut Jaka.

         “Akh, gimana ya, kalau menurutku hal itu wajar-wajar aja. Bukankah setiap orang berpacaran sangat bervariasi? Nah begitu pula dengan kami.” Kataku membela diri.

         “Eh, Fal, variasi sih variasi, tapi bukan itu yang dinamakan variasi. Tahu nggak? Bahwa selama ini tanpa kau sadari, kau telah menyiksa hati perempuan.” Kata wandul, yang langsung diiyakan oleh teman-teman yang lain.

        “Lho, maksud kalian apa?” Tanyaku bingung.

        “Ha ha ha…” Tiba-tiba mereka tertawa, malah Dedi menepuk-nepuk punggungku. “Dasar otakmu sudah mirip otak kyai, he, … diam-diam wati itu butuh begini, tau!” Dengan isyarat Dedi mengadukan jari-jemarinya satu sama-lain. “Dia butuh kemesraan, bukan bicara agama melulu.”

      “Lihat aku,” Jaka menyambung, “Pacarku si Rokayah udah kena sun, ujung-ujungnya dia nagih terus.”

       “Tapi Jaka, Wati bukan perempuan yang suka  begitu.”

       “Ifal, semua wanita punya perasaan yang sama, contohnya aku sendiri,” Dedi menepuk dadanya sendiri, “Kau tau kan? Amsyiah, pacarku nggak ketulungan alimnya. Dan waktu aku sun ternyata pasrah saja. Walaupun pada mulanya ia menolak.” Jaka dan wandul mengangguk-anggukkan kepala. “Lalu sekarang Amsyiah minta terus kan?”

       “Ya, begitulah.” Kata Dedi bangga.

       Aku jadi tak habis pikir, apakah memang demikian gaya orang bercinta? Sungguh aku tak mengerti, bukankah gaya seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang kota? Kenapa sampai merambah ke kampung-kampung? Akh, sepertinya aku tidak begitu saja percaya cerita mereka tentang Amsyiah dan Rokayah, yang katanya pasrah saja ketika di sun. Setahuku Amsyiah adalah seorang wanita yang alim, bapaknya adalah tokoh masyarakat dan bergelar haji. Mana mungkin? Tapi kenapa cerita mereka begitu meyakinkan?

             Untuk menghilangkan rasa penasaran, saat malam Minggu datang, aku tidak langsung ke rumah Wati. Melainkan aku memutar jalan menuju rumah Amsyiah. Di sana dengan bersembunyi  aku mengintip  Dedi yang malam itu sedang apel. Ternyata cara berpacaran yang mereka lakukan sama saja dengan caraku. Mereka cuma duduk berdampingan, bercengkerama, dan tertawa.

             Menurutku Dedi memang berlebihan, sampai jauh larut dan kakiku kesemutan, tetap saja tak ada sesuatu yang dilakukan seperti versi ceritanya. Namun saat aku diam-diam ingin meninggalkan tempat itu, kulihat dedi berdiri diikuti Amsyiah menuju samping rumah. Saat itu juga dadaku berdesir, di samping rumah yang agak gelap Dedi memang melakukan sesuatu yang pernah diceritakan.

           Aku menjadi menggigil  melihat adegan itu, dan dengan segera meninggalkan tempat itu. Astagfirllah Al’azhim, aku mengucapkan istigfar. Ini adalah kampung, tetapi kenapa gaya hidup kota yang merasuk dalam kampung ini? Itukah yang disebut variasi? Tidak! Kurasa aku maupun Wati tidak mau melakukan perbuatan itu. Biarlah hubungan kami selalu dalam tuntunan yang suci, tidak dikotori oleh hal-hal yang berbau maksiat. Biarlah system dakwah pacaran kami jalan terus.

          Pada malam yang lain suasana di kampungku ramai, bulan bersinar dengan cerahnya. Keramaian ini muncul karena malam itu berbarengan dengan adanya pesta perkawinan. Berbondong-bondong orang kampung mendatangi tempat itu, ada yang ke undangan, ada yang ingin menonton hiburan, dan ada pula yang sekedar hadir untuk mencari jajanan.

         Malam itu teman-temanku datang ke undangan dengan masing-masing pasangannya. Begitu pula denganku, Watiku yang manis kubawa  serta ke undangan. Aku merasa bangga sekali berjalan berdampingan dengannya, karena menurutku Wati lebih cantik dibanding dengan gadis-gadis yang lain.

       Setelah dari undangan, kami tidak melihat hiburan tetapi  langsung pulang. Ini kulakukan untuk menjaga image di mata orang tua wati, agar hubungan kami tetap baik. Kebetulan Dedi dan Amsyiah jalan berbarengan dengan kami. Jadi aku mengikuti adat kampung, perempuan berdua jalan di depan, dan aku dengan Dedi berjalan di belakang.

      “Nah dalam keadaan begini kita memang patut mengikuti kata-kata orang tua.” Kata Dedi, “Dengan begitu orang tua kita tidak tau apa yang kita lakukan di belakang, pokoknya kita dianggap calon menantu yang baik dan alim” Dan aku hanya tersenyum saja mendengar komentar Dedi. Habis mau dibilang apa lagi, sebab ketika mereka tiba lebih dulu, langsung mengajak Amsyiah ke samping rumah. Dan yang jelas aku sudah tahu, apa yang dilakukan mereka di sana. Kini Wati berjalan di depanku sendiri, dan aku tetap di belakangnya..Lalu dengan tak kusengaja kuperhatikan tubuh wati dari belakang, kala itu ia memakai jilbab dengan variasi kebaya. Cara berjalannya nampak indah sekali, dadaku seketika berdebar, darahku cepat naik. Ada gejolak yang berbeda kurasakan malam itu, apalagi sinar bulan membias perjalanan kami.

      “Wati, pelan-pelan dong jalannya, abang pegel nih.” Kataku dengan menahan gejolak yang tidak kumengerti.

     “Akh, nanti kemalaman…” Sahut Wati polos. “Nanti nggak baik di mata tetangga, apa lagi di tempat sepi ini kita cuma berdua.” Namun entah kuperhatikan atau tidak kata-kata Wati, yang jelas aku sudah memegang tangannya dengan erat, dan seketika dia terkejut dengan tindakanku yang agak lain.

       “Bang, ada apa?”

       “Wati.” Suaraku terdengar lirih dan bergetar. Wati menatapku dengan polos, “Apa yang Abang inginkan?” Tanyanya. Melihat sikap yang polos itu, aku segera melepaskan tangannya.
       “Nggak…! Nggak ada apa-apa.” Suaraku jadi gugup. “Ayo kita jalan lagi.”  Wati  mengangguk  dan tersenyum, sedikit pun ia tidak marah dengan sikapku tadi. Hatiku jadi bertanya-tanya, apakah Watiku mengerti tentang apa yang akan kulakukan terhadapnya? Atau apakah betul ia mengharapkan seperti itu? Akh, mungkin ini hanya perasaanku. Walau bagaimanapun aku harus menjaga citraku. Tetapi kenapa dadaku semakin bergemuruh?

 

(Apa yang terjadi selanjutnya?)

  • Ingin lanjut silakan klik beri dukungan  warna hijau, dan teliti di dalamnya. Terima kasih.