Pagi-pagi sekali Dirman sudah bangun. Terlebih dahulu dikerjakannya sembahyang Shubuh setelah itu baru masak air. Ketika air sudah mendidih, Dirman menuangnya ke dalam termos. Setelah segalanya rapi baru kakaknya bangun. Kakaknya tersenyum melihat dia membuat kopi — itu juga tinggal sisa-sisa kopi. Gulanya pun tinggal endap-endapan dalam kaleng.
"Kak... ma'af yah — bila kopi ini tidak manis." Kata-nya. Kakaknya cuma menganggukkan kepala, ia masuk ke kamar mandi. Sebabis mandi baru Tantra menghirup kopinya. Pahit? Ternyata memang pahit. Tapi itu tak digubrisnya. Ia meminumnya terus dengan perasaan nikmat. Sampai air kopi itu tuntas.
Dirman tersenyum melihat keasyikan kakaknya minum kopi buatannya. Ia sudah berpakaian rapi — pakaian sekolah tentunya.
"Kak — Dirman berangkat yah." Katanya.
"Tunggu dulu Man." Kata Tantra, "di sekolah — atau pulang sekolah tentu kau akan merasa sangat lapar. Ini kakak ada 50 Rupiah."
"Tidak usah kak!" Tolak Dirman, "nanti kakak bagaimana?"
"Jangan kuatir — kakak masih punya."
"Terima kasih kak, tapi tentu saja uang ini a-kan kupakai sepulang sekolah!" Katanya. Berge-gas dia melangkah keluar. Tantra menghembus-kan nafas menatap kepergian adiknya ke sekolah.
Lalu ia beranjak dari kursinya pergi ke kamarnya. Di dalam kamar ia merenung sejenak — dan tak lama ia sudah keluar dari rumahnya. Niatnya tetap mencari pekerjaan dengan bekal ijazah SMA - nya. Seperti biasa bila ia hendak mencari pekerjaan — selalu saja melewati gang pak Haji. Lagi-lagi bila melewati rumah pak Haji, seperti biasa Pak Haji duduk dikursi malas, di serambi. Dan tentu pula Tantra menyapa.
Keluar dari gang pak Haji, dia berdiri sejenak di sana. Menengok jalan yang ke barat dan yang ke timur. Kemarin-kemarin dia selalu ke barat. Di sana berhari-hari tidak berhasil, kini dia berniat untuk menuju arah timur — siapa tahu?
Kini dilangkahkan kakinya menuju ke timur. Entah apa yang bakal ditemuinya di sana. Seperti dialami di barat dia sering bertemu kawan-kawannya yang pengangguran — tapi ada pula satu atau dua orang yang berusaha dengan menjual es misalnya. Selain itu dia tentunya sering datang ke perusahaan-perusahaan — sayang semua tak ada lowongan. Betapa sempitnya areal pekerjaan bagi Tantra — sehingga ijazah yang dipegang-nya itu seakan-akan cuma kertas belaka yang sudah penuh corat-coret, yang sudah tidak berguna lagi. Dan menurut orang banyak — kertas itu mesti diremas lalu dicampakkan di tong sampah. Tapi tidak! Tantra tidak mungkin meremas kertas itu, siapa tahu kertas itu berguna nanti. Dan tentu saja!
Angin berhembus mengantar langkah kaki Tantra. Ia bertekad kali ini harus mendapat pekerjaan — Apa saja, yang penting uang. Pokoknya pekerjaan yang baik.
Sudah siang hari dia belum juga menemukan apa-apa. Sampai perutnya menyapa — minta diisi. Maka atas desakan perut dia menuju warung di sana, di pinggir jalan.
"Nasi sepiring pak!" katanya memesan. Di sisinya seseorang makan dengan lahapnya. Tapi Tantra tidak memperhatikan orang di sisinya itu — Yang penting ia menanti nasi pesanannya. Dan setelah nasi sudah ada di hadapannya segera dia menyantapnya; dengan lauk goreng tempe. Dalam sekejap nasi di piring sudah bertransmigrasi ke perutnya.
Tantra merogoh sakunya hendak membayar, saat itu tiba-tiba air mukanya berubah. Dia teringat bahwa sebenarnya tidak membawa uang seperak pun. Ada uang, tetapi uang tadi sudah diberikan kepada adiknya. Tanpa diketahui orang di sisinya memperhatikan.
"Ada apa bung? Ada sesuatu dicari — atau anda merasa kehilangan sesuatu?" Orang di sisinya langsung berkata dengan tanya. Tantra menatap orang di sisinya sejenak lalu mengangguk. "Yah kurasa aku kehilangan uang."
Mendengar itu — orang itu tertawa kecil, jenggotnya terayun-ayun. "Anda jangan kuatir, aku bersedia membayarnya."
"Sebelumnya kuucapkan terima kasih bung." Kata Tantra. Orang itu tertawa — lalu mengajak salaman, "Perkenalkan namaku Ed." Tantra pun menyebut namanya.
"Tantra, kulihat dari raut wajahmu — kayaknya kamu dalam keadaan kesulitan." Kata Ed menebak. Tantra pun agak terkejut mendengar tebakannya itu.
"Memang benar, sekarang ini aku sedang berjalan-jalan mencari pekerjaan."
"Hee — sudah kuduga. Tentu kau sebenarnya benar-benar tidak punya uang — jadi bukan hilang maksudku."
"Be-benar... memang aku tidak punya uang." Kata Tantra. Wajahnya menunjukkan keberanian. Hebat orang ini bisa menebak keadaannya.
"Jangan heran Tantra." Kata Ed yang tahu arti mimik wajah Tantra. "Nah — kalau kau mau terlepas dalam kesulitan, ikut saja aku. Nanti kau akan mendapat pekerjaan."
"Benarkah kata-katamu?"
"Aku tak mau bohong — percayalah." Kata Ed tertawa-tawa. Tantra percaya — karena Ed memang ke-lihatan sangat ramah. Orangny riang selalu tertawa. Pokoknya kesan Tantra, orang itu baik.
Sesudah membayar, Ed menyuruh Tantra mengikutinya. Mereka berjalan beriring menyusur ditepi jalan. Dalam 200 meter mereka membelok memasuki gang. Gang itu nampak angker sekali, di sisinya berderet semak-semak belukar yang tumbuh liar dan tinggi.
"Tempat ini memang liar Tantra, atau setidak-tidaknya menampakkan keseraman. Memang begitulah, karena jalan ini hanya aku dan sobat-sobatku yang melewatinya." Kata Ed ketika melihat wajah Tantra menunjukkan keheranan.
"Tapi... apakah jalan ini menuju perkampungan? Dan kalau memang ke perkampungan kenapa tidak ada yang lewat sini selain kamu dan kawan-kawanmu?" Tanya Tantra. Ed tersenyum lebar, tanpa menjawab.
Tiba-tiba angin berhembus dahsyat, cuaca yang tadinya terang cepat berubah menjadigelap. Mungkin karena hari sudah sore. Tengkuk Tantra seketika bergidik, apalagi tempat di sekitarnya sunyi, hanya jalan setapak yang sepertinya jarang dilalui.
“Gang apa ini gerangan? Kok seperti jalan setapak yang bersemak belukar?” Bisiknya dalam hati. Lalu timbul niatnya ingin bicara kepada Ed yang berjalan bersamanya. Tapi di mana Ed, mengapa tiba-tiba dia menghilang? Rasa takutnya membuncah. Dan tiba-tiba langit berderang, seperti memberi tahu bahwa dia ternyata berada di sekitar pemakaman.
“Hah?” Tantra menguatkan hati. Kemudaian ia menyalakan korek api yang dibawanya. Dan terlihat olehnya di gerombolan Semak-semak di sisik kuburan, ada sesuatu terselip di sana. Dengan memberanikan diri ia menghampirinya. “Karung? Dan yang lebih penasaran yang ia lihat adalah benda yang berbentuk kartu, terlihat di sobekan karung. Dengan memberanikan diri di pungutnya kartu tersebut, dan terbaca olehnya sebagai KTP. Di san. tertera dengan nama Ed Patiraga.
Tantra terkejut bukan kepalang, dia langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa membuang KTP tadi. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Ia harus melaporkan hasil penemuannya. Entah dia berlari ke sembarang arah, karena ia sudah takt ahu jalan. Dan anehnya tanpa ada petunjuk dia sudah berada di depan kantor polisi. Segera ia melapor di sana.
“Hm, KTP Ed Patiraga, mahasiswa yang hilang setahun yang lalu. Seorang mahasiswa yang kritis. Di mana kau menemukannya?” Dengan gambling Tantra menceritakan kronologinya.
Esoknya ramai berita koran tentang mayat yang sudah membusuk di pemakaman yang sudah jarang dijamah, karena sudah ditutup oleh patok-patok para pengembang. Ed Patiraga seorang mahasiswa pemberani telah ditemukan, akibat di bunuh karena ingin mengungkap pengembang yang tak bertanggung jawab.
(Bagaimana kisah selanjutnya, klik warna hijau di bawah ini)

Diskusi
0 Komentar