Hari ini aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Dadun. Dan hal itu sudah aku sampaikan kepada Pak Ading. Mulanya dia keberatan, namun ketika aku mengatakan dengan beberapa alasan Pak Ading setuju juga.

           “Lihar.. Kenapa pindah?” Belu menghampiriku ketika aku sedang berkemas-kemas.

         “Nggak apa-apa, Bel….” Kutepuk-tepuk bahu Belu, “Sebenarnya aku senang di sini, tapi Dadun, Emak, dan Bapaknya berharap aku tinggal di sana. Lagi aku kan masih tetap akan sering ke sini.”

       “Lih, padahal aku baru beli kaset baru.” Belu memperlihatkan kaset Rhoma Irama baru judulnya Piano, Aransemen ulang. “Kaset ini aku beli di Pasar Anyar Bogor.”

       “Iya, bagus, Bel…” Aku memegang sebentar kaset itu. “Simpan aja, nanti kalau ingin dengar, aku datang ke sini.”

Belu hanya manggut-manggut, ada rasa kecewa terlihat  di  wajahnya.  Dan  kulihat pula beberapa adik-adiknya     memandangiku. Lalu kuhampiri mereka, kubelai-belai rambutnya, dan kuberikan uang sekadar untuk jajannya.

       Orang tua Dadun memang sangat suka terhadapku, makanya dia memohon aku untuk tinggal di rumahnya, menemani Dadun. Yang menurut mereka, Dadun sudah tidak karuan hidupnya semenjak bercerai dengan istrinya. Bekerja malas, dan sholat pun malas. Tetapi semenjak dia bekerja di tempatku, dan berkawan denganku, Dadun menjadi rajin, dan selalu mengerjakan sholat lima waktu.

      Dan yang kedua, uang perusahaan sementara kupercayakan kepada Dadun untuk menyimpannya, ini untuk menghindari Pak Ajat, jika sewaktu-waktu datang dan meminta uang. Ternyata Pak Ajat malah tidak pernah datang. Namun pada saat gajian buat para pekerja, aku harus menemui Pak Ajat, karena sebagian uang pembayaran ada padanya.

        “Assalamualaikum.” Aku mengucapkan salam. “Waalaikumsalam.” Sahut Pak Ajat dari dalam.

Kemudian ia muncul di hadapanku dengan sumringah. “Lihar… oh… silakan masuk.” Ia menyambutku dengan ramah. Aku masuk dan duduk. Dalam hati aku harus memberanikan diri untuk menagih hutang.

        “Lihar.. maaf ya, aku nggak pernah hadir ke perusahaan, maklum lagi sibuk..” Katanya berbasa-basi. Secangkir teh manis disuguhkan kepadaku, lewat istrinya yang membawakannya.       “Apa kabar, Lihar? Mau ngasih bonus ya?” Mendengar perkataannya itu, aku merasa darahku mendidih, tapi aku menguatkan hati untuk dapat menahan diri. “Pak Ajat..” Aku menarik nafas dalam-dalam. “Justru aku datang ke sini ingin memberi tahu Pak Ajat, bahwa sekarang waktunya gajian para pekerja.”

        “Lantas? Aku…..” Pak Ajat dengan ringan akan berbicara sesuatu, namun segera kucegah.       “Tunggu dulu, Pak Ajat.. aku belum selesai ngomong!” Kataku agak menekan. “Aku minta hutang Pak Ajat dibayar hari ini juga, buat gaji pekerja.”

      “Apa Lih? Hutang?” Mata Pak Ajat terbelalak, “Kapan aku punya hutang, Lihar?” Seakan-akan Pak Ajat dengan kesombongannya hendak menghardikku. Namun justru hal itu membangkitkan kemarahanku, “Lho.. yang pertama kali aku di sini, terus di rumah Pak Ading, terus di Warung Kiara..!” Nada suaraku mulai naik. Pak Ajat menggeleng- gelengkan kepala, “Kamu itu nggak ngerti, Lih… itu uang hak punyaku! Perusahaan ini ada kan karena aku!” Wajah Pak Ajat merah padam, sepertinya kemarahan akan meledak.

     “Menurutku itu hutang, karena waktu minta dengan kata pinjam… itu berarti hutang!” Aku mulai naik darah, tak dapat lagi menahan emosi.

       “Kamu masih kecil, Lihar! Kamu nggak ngerti apa-apa!” Pak Ajat mulai emosi.

     “Apa?! Kamu anggap aku anak kecil?! Buka matamu, Pak Ajat!” Aku bangkit dari kursiku dengan emosi melebihi Pak Ajat. Aku sudah tidak perduli lagi, jika Pak Ajat mengajak berkelahi pasti aku akan meladeninya. “Lihatlah!” Aku menunjuk wajahnya dengan berani, “Aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang bukan!” Nada bicaraku semakin keras. “Pokoknya urusan hutang harus dikembalikan sekarang! Kalau memang itu hak Pak Ajat, silakan bicara nanti sama Pak Yatna. Minta sana haknya, jangan sama aku!” Dan dengan berani aku membentaknya dengan sikap berdiri menantang. Melihat sikapku yang tak dia duga itu, membuat Pak Ajat menjadi ciut nyalinya. Apalagi tatkala aku dengan kemarahan yang sangat menghampirinya. Wajah Pak Ajat yang tadinya sempat kulihat garang berubah menjadi pucat. Sepertinya hampir ia tidak percaya, menyaksikan aku bisa marah kepadanya, dan apalagi sikapku yang bagai hendak menyerang. Mungkin dalam hatinya ia merasa heran. Ke mana keampuhan air putih yang pernah diberikan Kyai Surya di Warung Kiara tempo hari?

        “Tenang.. Lihar.. Tenang…” Pak Ajat mulai melunakkan  suaranya. “Duduklah dulu.” Melihat perubahan wajah Pak Ajat, emosiku sedikit reda. “Baiklah, tapi jangan sekali lagi menyebutku anak kecil.” Aku duduk kembali.

        “Iya.. Lihar.” Pak Ajat mengangguk.

        “Bayar hutangnya sekarang.” Kataku kembali dengan tegas.

       “Iya Lih.. tenang dulu… minum dulu.” Sepertinya ia mulai berubah menjadi ramah kembali, tetapi kulihat tangannya agak gemetar. Dan sebetulnya aku juga mengalami demikian, maka untuk menenangkan diri kuminum air teh manis itu.

       “Baiklah, Lihar… Berapa hutangku?” Tanya Pak Ajat berusaha setenang mungkin.

     “65.000 perak.” Jawabku singkat. Lalu pak Ajat berdiri, dan masuk ke dalam. Tak lama ia kembali lagi. “Lihar, maaf.. uang aku sekarang cuma ada 45.000 perak.” Kupandangi uang itu. Aku belum mau menyambutnya. “Percayalah, Lihar… nanti kubayar semua.”

      “Kapan?” tanyaku ketus.

    “Secepatnya…” Mendengar itu, aku segera menerima uang tersebut. Kemudian langsung berdiri. “Baiklah, Pak Ajat, kuterima uang ini.. Tapi kutunggu sisanya.” Pak Ajat mengangguk, aku permisi.      

      “Asalamualaikum.” Aku mengucapkan salam dan berlalu. Dan ia menjawab salamku.

Ketika kuceritakan hal itu kepada Dadun, ia tertawa, “Bener, Lih.. menghadapi orang seperti dia, kita harus berani dan tegas.” Aku pun tertawa, “Ha ha ha.. sebenarnya aku takut juga Mang Dadun, maklum lagi nekad dan marah, eh, kulihat dia takut… ya udah, jadi berani deh.”

       “Ha ha ha… mungkin dia kaget, Lih… air putih yang dikasih itu nggak mempan.”

      “Ya … ya… bisa jadi, Mang.” Aku menjadi tersenyum geli, “Yang penting uang pembayaran pekerja udah beres. Dan minggu besok jika Pak Yatna datang nggak akan ada masalah lagi.” Dan betul ketika pada hari minggu Pak Yatna datang, permasalahan tidak ada lagi. Pak Yatna puas melihat buku anggarannya. Namun ada satu hal yang membuat aku heran, ketika Pak Yatna mengajakku bicara.

     “Lihar.. aku mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Ajat?” Mendengar pertanyaan itu aku terkejut. Rupanya terlebih dulu, Pak Ajat sudah menemui Pak Yatna.

    “Maksud Pak Yatna, tentang hutang-hutang Pak Ajat?” Aku langsung menyambut pertanyaannya dengan jawaban yang               sudah kuduga; tentang hutang.

         “Hutang?” Pak Yatna malah tampak keheranan.

         “Iya,” Aku mengangguk, “Pak Ajat meminjam uang.”

       “Tapi… dia bilang kamu menagih uang yang sudah jadi haknya.” Kata Pak Yatna seperti tidak mengerti.

       “Begini, Pak Yatna, dulu kan Bapak sendiri bilang, urusan Pak Ajat, itu urusan Bapak. Jadi aku menganggapnya uang yang dia pinjam itu bukan hak dia.” Aku menerangkan.

        “Oh, iya.. iya, Bapak mengerti sekarang.” Terlihat ia menarik nafas panjang. “Padahal dia itu sudah menerima uang dariku, kok masih minta sama kamu. Waduuh… Bapak juga tadi kurang mengerti cerita dia, yang katanya kamu mengambil uang hak dia.”

       “Lucu sekali, Pak Ajat itu.” Aku menjadi geli, dan tertawa. “Padahal uang yang aku tagih tidak ia bayar semua.”

         “Sekarang begini aja, Lih. Biarlah persoalan ini Bapak selesaikan sendiri dengan Pak Ajat. Jadi untuk berikutnya, apabila dia minta atau apa pun bentuknya itu, jangan kau kasih.”

         “Iya, Pak… Aku juga udah niat begitu.” Jawabku.

      “Bagus! Pokoknya, anggaplah Pak Ajat sudah di luar perusahaan ini.” Kata Pak Yatna dengan pasti. “Jadi dia sudah tidak lagi berada di sini.”

         “Terus bagaimana   dengan   kekurangan   hutangnya, Pak?” Tanyaku.

        “Biarlah, jangan kamu tagih lagi.” Kata Pak Yatna sambil mengangkat tangannya. Pak Yatna berharap agar aku tidak berurusan lagi dengan Pak Ajat. Maka dari itu, hari ini pula Pak Yatna ke rumah dia. Tentunya hal-hal Pak Ajat yang berurusan denganku akan dibereskan. Dan pada waktu yang sama, aku iseng-iseng berjalan melihat-lihat penggalian yang kini sepi. Pada hari minggu memang para pekerja libur. Namun pada penggalian lokasi yang kedua, kulihat ada tiga anak perempuan bermain-main di sana. Sepertinya anak-anak penduduk asli di sini.

        “Hai, Dik, sedang apa kalian?” Kusapa mereka, lantas membuatnya terkejut dan berlari sambil tertawa. Salah satu anak perempuan yang paling besar masih kudengar menyahut dengan bahasa Sunda. “Arulin, Mang…!” Tak lama mereka menghilang. Setelah itu aku segera berjalan ke atas menuju jalan kampung Batukarut, meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba di jalan itu kulihat ada seorang gadis lewat bersama dengan seorang anak perempuan. Gadis itu cantik sekali, kulitnya putih bersih. Ia berjalan dengan berselendangkan kain, sementara rok yang dipakainya hanya sebatas lutut. Sedangkan perempuan kecil yang di sampingnya memakai rok seragam sekolah SD. Aku melihat gadis itu tersenyum, tetapi wajahnya menunduk. Mau tidak mau aku pun turut tersenyum. Mungkinkah gadis itu tahu, kalau aku membalas senyumannya itu? Gadis itu pun semakin jauh dari pandanganku. Setelah itu aku pun segera berlalu dari sana, menuju ke rumah Pak Ading. Sebab tadi Pak Yatna berpesan kepadaku, agar aku menunggu di sana. Katanya masih ada lagi yang akan dibicarakan kepadaku.

      Selepas Zhuhur, aku dan Pak Yatna sudah terlibat pembicaraan di rumah Pak Ading. Sementara di sudut yang berbeda, Pak Ading sedang ngobrol dengan menantunya, suami dari anak perempuannya. Rupanya mereka tidak mau mengganggu percakapan kami.

       “Syukurlah, kalau persoalan Pak Ajat sudah beres.” Aku berkata dengan perasaan lega, setelah Pak Yatna bilang bahwa urusanku dengan Pak Ajat sudah beres.

     “O ya, Lihar… mulai senin besok Pak Yunus tidak bekerja lagi di sini.” Pak Yatna mengalihkan pembicaraan yang lain.

        “Kenapa dengan Pak Yunus, Pak?” Tanyaku dengan perasaan heran. Bukankah kemarin dia bilang betah kerja di sini?

       “Dia berhenti, resign, katanya dia ada pekerjaan lain yang nggak bisa ditinggalkan.” Pak Yatna menawarkan rokoknya, aku mengambil sebatang. Lalu Pak Yatna menyulut api untuk rokokku. “Berarti mobil Datsun tidak ada sopirnya, Pak?” Aku berkata seperti itu menyimpulkan sendiri.

         “Iya..” Pak Yatna mengangguk. “Tapi… besok Pak Nana, adik dari Pak Sunadi akan datang ke sini, dia siap membantu.”

                  “Ooh, dia   akan   menggantikan   Pak   Yunus,   Pak?” Tanyaku.

        “Bukan! Dia datang dengan membawa mobil sendiri. Jadi nanti perhitungan pembayarannya berbeda.” Asap mengepul dari mulut Pak Yatna, membumbung tinggi ke langit-langit beranda. Lalu pak Yatna menatap aku lekat- lekat. “Lihar… hm.. barangkali kamu bisa mencari sopir yang tinggal di sini. Karena kalau aku mencari orang Sawangan lagi, nanti nasibnya sama seperti Pak Yunus.” Kata Pak Yatna, menurutnya Pak Yunus yang bekerja di sini  setiap hari harus pulang pergi dari Cipetir ke Sawangan. Sementara mobil Datsunnya ditinggal di sini, dia PP dengan menggunakan kendaraan umum. Bisa dibayangkan, betapa lelahnya dia. Kurasa resignnya Pak Yunus, bukan karena ada pekerjaan lain, tetapi terlalu lelah akibat setiap hari pulang- pergi. Maka dari itu Pak Yatna berharap ada orang yang tinggal di sekitar sini yang dapat menggantikan pekerjaan Pak Yunus.

       “Baiklah, Pak Yatna…” Aku menyanggupi, “Nanti akan kutanyakan teman-teman yang berada di sini.”

           “Bagus… kalau bisa besok senin sudah dapat, Lih.” Kata Pak Yatna dengan gembira.

          “Insya Allah, Pak.” Aku berjanji untuk mendapatkan gantinya Pak Yunus. Maka pada sore hari aku dan Dadun pergi ke Cibogo. Dengan meminjam motor Honda GL milik saudaranya, kami tiba di Cibogo, tepatnya ke rumah Pak Mamat, kenalan Dadun. Di sana kami disambut oleh istri Pak Mamat. “Silakan masuk, Mang Dadun… mangga ka leubeut!” Ceu Marni, istri Pak Mamat menyilakan kami dengan memakai bahasa Indonesia campur Sunda. Kami masuk dan duduk. Tak lama kemudian Pak Mamat muncul.

        “Hai, Dadun… apa kabar?” Pak Mamat menyapa, dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tak ada logat sunda pada nada bicaranya.

                “Kenalkan, Lih…” Dadun mengenalkan aku pada Pak Mamat.

                “Lihar.” Aku menyebutkan namaku sendiri.

             “Mamat.” Pak Mamat menyebut namanya dengan ramah. “Hm, kiranya ada perlu apa ya?” Tanyanya selanjutnya.

             “Begini, Pak… si Lih perlu supir untuk perusahaannya.” Jawab Dadun sambil menunjuk kepadaku. Merasa ditunjuk aku langsung mengangguk. “Iya betul, supir kami, sudah resign.”

             “Hm… penggalian teras yang di Batukarut itu ya?” Tebak Pak Mamat.

             “Betul, Pak Mamat.” Sahutku.

             “Hiya, aku emang sudah dengar, kabarnya yang mengendalikan perusahaan itu Pak Ajat ya, hm.. dengan hm… orang Bogor?” Belum sempat Pak Mamat meneruskan omongannya, aku memotong, “Pak Yatna, orang Sawangan, sedangkan Pak Ajat cuma perantara. Sementara dia memang pernah ikut terlibat dalam perusahaan, tapi sekarang sudah nggak.” Kataku menerangkan.

           “Bener, Pak Mamat, sekarang perusahaannya sudah dipercayakan kepada Lih…” Dadun melanjutkan, “Bukan begitu, Lih?”

           “Iya… iya betul!” Sahutku.

         “Ooh, begitu.” Pak Mamat manggut-manggut, “Lih, hm… kebetulan saudaraku ada yang nganggur.” Lalu ia berteriak memanggil, menengok ke belakang, “Marni!” Tak lama istri Pak Mamat muncul dengan membawa minuman, ”Iya, Kang Mamat.”

       “Marni, coba cari Joni, tadi kulihat dia pergi ke rumah Pak Sarwadi.” Katanya kepada istrinya. Dan setelah meletakkan minuman di meja, Marni langsung berjalan ke luar.

        “Dadun.. kamu sudah kenal kan sama Joni?” Tanya Pak Mamat kepada Dadun. Ditanya demikian Dadun tampak berfikir, “Joni, Joni yang mana ya?”

       “Itu yang suka nyopirin mobil Pak Ajat, kalau lagi diperlukan.” Kata Pak Mamat menerangkan.

              “Oh, Om Johan ya?” Dadun langsung menebak. “Iya, betul.” Pak Mamat Mengangguk.

              “Lho, bukankah dia bekerja dengan Pak Ajat?”

             “Kerja apanya? Kan tadi aku sudah bilang, dia dipakai jika Pak Ajat perlu aja.” Kata Pak Mamat meyakinkan Dadun, “Adapun Johan itu ya Joni, karena aku biasa memanggilnya demikian.”

         “Om Joni…” Aku cuma ikut manggut-manggut. Tak lama kemudian orang yang dibicarakan muncul. Dia masuk dengan perawakannya yang gemuk, gendut, dan besar. Rupa dan khas wajahnya berciri Menado, dan berhidung mancung.

      “Hallo Dadun… Hallo Lih…” Dia langsung menyapa kami dan mengajak bersalaman. Rupanya dia masih ingat kepada kami pada saat bersama-sama pergi ke Warung Kiara dulu. “Ada kabar apa, nih?” Tanyanya dengan santai.

              “Baik!” Aku dan Dadun serempak menyahut.

           “Oh, rupanya Lihar sudah kenal ya sama Joni?” Aku mengangguk mendengar ucapan Pak Mamat, lalu dia berkata kepada Om Joni, “Begini Joni… Si Lih ini lagi mencari supir, buat narik teras… mau nggak?” Pak Mamat langsung berbicara pada pokoknya kepada Om Joni.

        “Oh, mobil bak terbuka yang Datsun ya?” Ketika Om Joni menebak demikian, kami mengangguk mengiyakan. Kemudian Om Joni berkata lagi, “Bukankah sudah ada pak Yunus?”

              “Pak Yunus sudah berhenti, Om Joni.” Kataku memberi keterangan.

              “Ooh… kalau begitu aku siap.” Om Joni langsung setuju untuk menjadi sopir.

              “Terima kasih, Om…” Aku sangat gembira, “Kira-kira kapan Om Joni siap kerja?”

              “Terserah Lihar, aku siap aja.” Kata Om Joni dengan gembira.

              “Gimana kalau besok?” aku menawarkan padanya.

              “Siap!” Sahut Om Joni tersenyum.

       Dan keesokan harinya, Om Joni sudah mulai bekerja. Tepat berbarengan dengan kedatangan Pak Nana yang membawa mobil bak terbuka pula, Cevrolet model lama, berwarna merah metalik. Mobil itu kata Pak Nana, milik kakaknya, Pak Haji Sunadi, orang Sawangan. Warna mobil Pak Nana memang berbeda dengan mobil Datsun milik Pak Yatna, yang berwarna biru pucat. Maka dengan adanya dua buah mobil itu, penarikan barang menjadi lebih cepat. Dengan begitu pekerja penggali pun kami tambah, kali ini ditambah dua orang lagi Pak Mitra dan Pak Dulah, orang asli Batukarut. Ternyata walaupun pekerja sudah ditambah dua orang, kebutuhan teras yang harus diangkut tidak dapat dikejar, akibatnya kedua mobil pengangkut lebih banyak stand by menunggu. Akhirnya aku berbicara dengan Dadun, tentang perlunya menambah tenaga kerja kembali.

           “Iya bener, Lih harus nambah orang lagi.” Kata Dadun setuju.

           “Lihar..” Pak Ading datang menghampiriku. “Kemarin teman Belu datang, dia minta kerja di sini, bisa nggak?” Aku memperhatikan Pak Ading dengan saksama, “O ya? Hm, tentunya asli orang sini?” Tebakku.

       “Bukan, Lih… Dia itu orang Cianjur, dia tadinya bekerja sebagai tukang cetak batako. Namun saat ini pabriknya sedang istirahat sementara, maka dari itu sebelum dia bekerja di pabrik batako lagi, boleh kan dia bekerja menggali di sini?” Mendengar keterangan itu aku berfikir sebentar. “Namanya siapa, Pak Ading?” Tanyaku.

         “Jaka.” Sahut Pak ading menyebutkan nama.

       “Dia teman akrab Belu?” Tanyaku menegaskan, karena belakangan aku baru tahu siapa Belu sesungguhnya. Dan mengapa Belu selalu memegang uang banyak. Rupanya Belu bekerja dengan bermain curang. Belu dipercaya Pak H. Karta mengawasi penarikan teras batako. Setiap hari Belu mengawasi dan mengiringi mobil batako milik Pak H. Karta untuk menarik teras dari gunung. Kebetulan Belu sudah menguasai beberapa perusahaan penggalian, maka dengan mudah ia mendapatkan langganan. Setiap hari Belu sanggup menyediakan teras 12 rit untuk pabrik milik Pak H. Karta. Sebetulnya 11 rit, tetapi Belu mengkorupsinya setiap hari sebanyak satu rit, yang uangnya masuk kantong pribadi. Sebetulnya aku kurang percaya dengan kabar tersebut, tetapi cerita itu keluar dari mulut Belu sendiri waktu aku sering ke rumahnya. Oleh karena itu aku khawatir dengan Jaka, kawan akrab Belu. Siapa tahu orang itu suka berbuat curang juga? Tapi aku harus berfikir kembali, bahwa aku tidak boleh sudzon. Berfikir ke sana aku jadi mau menerima Jaka.

       “Abdi teu pati apal, Li, Jaka itu teman akrab atau teman biasanya Belu.” Pak Ading menjawab pertanyaanku dengan bercampur bahasa Sunda.

            “Nggak apa-apa, Pak Ading, besok Mang Jaka suruh aja ke sini.” Kataku.

Pada hari berikutnya pekerja kami menjadi lebih banyak, dari lima orang menjadi delapan orang. Pembagian penggalian kubagi dua. Penggalian di lokasi satu dan penggalian di lokasi kedua. Untuk teras di lokasi satu, gundukan teras yang sudah terkumpul langsung bisa dijangkau oleh mobil, sedangkan untuk teras di lokasi kedua tidak terjangkau mobil. Dengan begitu teras di lokasi kedua harus dipikul dan dipindahkan ke pinggir jalan. Hal itu dilakukan oleh Jaka, Pak Mitra, dan Pak Dulah. Perhitungan gajinya pun berbeda dengan penggali yang di lokasi satu.

Dan ketika menjelang sore hari, saat aku mengawasi penggali di lokasi kedua, tampak tiga anak perempuan kecil menghampiriku. Ketiga anak kecil itu memang sering kujumpai, yang biasanya jika kusapa mereka akan segera berlari meninggalkan aku. Tetapi kali ini aku merasa heran. Kok mereka nggak lari? Malah sebaliknya mereka menghampiriku?

           “Mang, ada yang kirim salam.” Kata seorang anak perempuan yang lebih besar.

           “Salam?” Aku agak terkejut, “Salam dari siapa, De?” Tanyaku.

           “Salam dari Teh Yeti.” Kata anak perempuan itu ceria, teman-temannya nyengir.

         “Teh Yeti? Yang mana orangnya?” Tanyaku sambil mengernyitkan alis, karena aku sama sekali belum pernah kenal dengan wanita yang bernama Yeti di sini.

          “Itu Mang, yang sering lewat, anu osok disapa ku Amang.” Mendengar keterangan itu, aku mencoba mengingat akan peristiwa itu. Dan aku langsung terbayang pada seorang wanita cantik berselendangkan kain. “Oh.. iya- iya…Abang ingat… dia namanya Yeti?” Mereka mengangguk, dan aku melanjutkan kalimatku, “Panggil Abang aja ya, jangan Amang… Nama Abang, Bang Lihar.”

         “Iya mang.. eh Bang Liar…” Kata anak perempuan itu diiringi teman-temannya.

         “Kamu namanya siapa?” Tanyaku kepada anak perempuan yang paling besar.

      “Nama abdi Ati.” Anak perempuan yang paling besar itu menyebutkan namanya. Dan ia kemudian menunjuk dua orang temannya yang lebih kecil. “Ini Mena, yang itu Tinah.” Kata Ati menyebutkan nama teman-temannya. Yang disebutkan namanya hanya masing-masing tertawa kecil. Mereka berdua seperti malu-malu.

      “Ati, kalau begitu sampaikan kembali salam Abang buat Teh Yeti yah…” Kataku. Mereka mengangguk dan langsung berlari sambil tertawa-tawa.

     Setelah mereka jauh, terbayanglah wajah Yeti yang cantik di pelupuk mataku, dan senyumnya yang manis, semanis es cream. Memang beberapa hari ini aku sering melihat Yeti lewat di depanku. Penampilannya selalu berbeda. Kalau dia memakai baju bebas, dia akan terlihat seperti gadis yang sudah besar dan matang. Apalagi kalau dia berselendangkan kain, aduh manis sekali. Tetapi kalau dia lewat dengan memakai seragam sekolah, dia nampak kanak- kanak sekali. Yang membuatnya aku tidak lupa tentu saja senyum manisnya itu. Walau matanya tidak tertuju padaku, tetapi aku yakin senyum itu buatku. Kadang- kadang aku menyapanya, kadang-kadang tidak. Karena sebelumnya Yeti kuanggap biasa saja, seorang gadis kecil yang biasa lewat, seperti gadis-gadis lain. Kenapa kubilang kecil? Karena seragam yang dikenakannya adalah seragam SMP. Jadi gadis itu kutaksir berumur 15 atau 16 tahun. Maka dari itu sedikit pun aku tidak pernah memikirkannya.

      Namun kali ini setelah aku mendapatkan salam dari gadis itu, mendadak aku jadi mengingatnya. Aku jadi ingat senyum manisnya yang khas, wajah cantiknya, gerak- geriknya, dan langkah-langkahnya. Kini Yeti, gadis Batukarut itu melekat dalam benakku.

 

                                                                               ***