
KEMELUT API DI BATUKARUT
Karya Novel: Henkir Alam
Sinopsis
Lihar mendapat tugas maha berat di desa terpencil yang Bernama Batukarut. Dan pekerjaan itu diterimanya dengan senang hati. Namun saat ia terjun di dalamnya ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan. Godaan, tantangan, rintangan, dan cobaan menerpanya untuk menggagalkan tugas pekerjaannya. Walau bagaimana pun ia tak mau mundur, apalagi ia telah menemukan cinta seorang gadis di desa tersebut. Dia tetap bersemangat untuk bekerja. Namun tetap saja ancaman menerpanya, gara-gara ada dua orang gadis berkelahi dengan alasan Lihar telah mendua. Lihar tak mengerti, ia ingin lari menjauh dari semua itu. Namun ada beberapa gadis lain yang ternyata sebelumnya sudah menguntitnya. Lihar bertambah pusing, apa yang harus ia lakukan? Mempertahankan pekerjaannya atau cintanya?
Ringkasan
Selesai sholat Magrib di masjid, aku sudah berada kembali di rumah. Seperti biasa aku sudah memakai baju yang rapi, tak lupa jaket tebal milik Dadun aku pakai pula.
“Sudah rapi, Lih?” Dadun menyapaku dengan pertanyaan, karena dirinya masih mengenakan sarung.
“Ya, rapi-rapi aja, Mang Dadun. Tapi gerimis ya, hm, mudah-mudahan nanti sehabis Isya gerimis ini akan segera berakhir.” Jawabku, sambil aku melihat keluar, menengadahkan wajah, melihat ke langit.
“He he he, itu hujan awet, Lih.” Kata Dadun tersenyum, “Udah kangen ya jeung kabogoh?” Dadun menggodaku. Lalu ia duduk di beranda. Aku pun turut duduk pula. Namun belum beberapa lama kami duduk, terdengar suara orang menyebut namaku dengan keras. “Lihar!” Tentu saja suara itu sangat mengejutkan kami. Segera aku berdiri mencari-cari asal suara tersebut. Dari kegelapan halaman rumah muncul dua orang yang tampak gagah dan galak.
“Siapa?” Aku langsung menyapa mereka dengan bertanya.
“Itu Endar dan Badik, saudaranya Yeti.” Dadun berbisik di sebelahku.
“Aing, Lihar! Geura ayeuna ka Batukarut!” Endar memerintahku dengan keras.
“Tunggu! Memangnya ada apa?” Tanyaku dengan heran.
“Yeti berkelahi dengan Erom di Mata Air.” Kata Badik, suaranya tidak galak seperti Endar. Badik menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, sedangkan Endar menggunakan bahasa Sunda yang paling kasar. Dan aku sangat terkejut mendengar keterangan Badik. “Apa? Yeti berkelahi?” Rasanya aku tidak percaya mendengar kabar tersebut. Bukankah Yeti dan Erom bersahabat baik? Masih terngiang di telingaku Erom memuji Yeti di depanku.
“Enya! Ieu gara-gara sia, Lihar, bobogohan make midua cinta sagala!” Endar menunjukku dengan emosional. Badik menyabarkan, “Tenang, Dar, tenang.” Setelah Endar tenang, Badik berkata kepadaku dengan sopan-santun. “Lihar, maaf ya, aku mohon sekarang juga datang ke Batukarut, agar permasalahan ini cepat diselesaikan.”
“Oh, iya.. tapi…” Aku masih merasa bingung. Sementara Dadun di sebelahku terpaku, tampak ia merasa heran mendengar kabar itu. Wajahnya terlihat pucat. Tapi aku masih belum mengerti, kenapa Dadun merasa takut sekali mendengar kabar yang tidak menyenangkan ini.
“Lihar! Geura! Ulah memperkeruh permasalahan! Maneh kudu tanggung jawab!” Endar membentakku kasar sekali. Kemudian ia menatap Dadun, “He, Dadun! Ajarkeun tah babaturan sia! Ulah ngaruksak awewe lembur urang!” Dan Dadun pun bertambah pucat.
“Mangga, Dar.” Sahut Dadun dengan gugup.
“Baik, Mang! Aku akan segera ke sana!” Kataku dengan tegas.
“Nah kitu! Aing tunggu maneh di Batukarut!” Kata Endar ketus sambil menudingku. Kulihat Badik mengajaknya pergi, sambil ia berkata kepadaku. “Maaf, Lihar. Aku jalan duluan.”
“Iya, Mang Badik.” Aku mengangguk dengan dada bergemuruh. Dan bayangan mereka pun semakin menghilang, karena langkah mereka sangat cepat. Lalu kulihat Dadun yang masih berwajah pucat-pasi. “Mang Dadun, ayo kita ke sana!”
“Beb.. Ja.. jangan Lih. Lebih baik urungkan niat ke sana.” Dadun dengan tubuh gemetar melarangku. Aku menjadi heran, “Kenapa Mang Dadun?”
“Aku takut Lih diapa-apakan oleh mereka.” Kata Dadun merasa khawatir.
“Aku nggak takut, Mang Dadun, soalnya nggak ngerasa salah apa-apa.”
“Tapi Lih!”
“Sudahlah, kalau Mang Dadun nggak mau ikut, biarlah aku pergi sendiri.” Kataku sambil melangkah keluar beranda.
“Baik, Lih.. aa.. aku ikut.” Kata Dadun, sepertinya ia memang khawatir kepadaku, takut terjadi sesuatu padaku nanti. “Tunggu ya, aku ganti baju dulu.”
Tak beberapa lama kami sudah dalam perjalanan menuju Batukarut. Dalam keadaan gerimis kami terus berjalan, karena hatiku saat itu sedang berkecamuk. Antara percaya dan tidak, mendengar kabar yang mengagetkan itu. Yeti, kekasihku berkelahi dengan Erom, yang baru kukenal sebagai teman biasa, dan bukan apa-apaku. Apa iya mereka berkelahi karena masalahku. Ah, aku harus cepat mengetahuinya.
“Lih, kita ajak pula Pardi dan Ubed ya. Supaya kalau ada apa-apa dengan Lih, mereka bisa menolong.” Dadun menyarankan sesuatu kepadaku.
“Nggak usah, Mang Dadun! Percayalah, aku bisa jaga diri!” Kataku tegas dan agak keras. “Pokoknya Mang Dadun tinggal ikut aja!” Mendengar suaraku yang agak tinggi, Dadun tidak bicara lagi. Ia hanya mengikuti langkahku yang agak cepat. Rambut dan bajunya yang kini basah karena gerimis, tak menjadi persoalannya. Begitu pula dengan diriku, gerimis yang tak kunjung berhenti bukan halangan untuk terus melangkah. Jalan yang berbatu dan licin bukan pula suatu rintangan. Yang penting aku harus secepatnya sampai di tempat tujuan. Bahkan aku merasa tidak perduli ketika Dadun terpeleset dan nyaris jatuh. Perhatianku tetap berpusat ke Batukarut yang kini sedang bergolak.
Diskusi
0 Komentar