Pagi hari suasana Desa Cipetir penuh dengan kesibukan di sekitar mata air. Sehingga suasananya menjadi riuh dan khas pagi. Apa lagi ketika terdengar suara azan dari musola yang berada di pengkolan Kampung Cinangka. Beberapa ibu-ibu dan anak-anak gadis bergegas ke mata air. Sebuah pekerjaan rutinitas mereka di pagi hari yang masih gelap, mencuci dan mandi. Aku yang sudah bangun pada subuh ini, juga berada di mata air tersebut, yang airnya dingin sekali seperti es. Maka dari itu aku tidak berani mandi dengan air sedingin itu, yang kulakukan hanya sekadar cuci muka dan berwudhu, lalu sholat berjamaah bersama penduduk setempat.

Sebenarnya ini sudah hari ketiga aku berada di Cipetir. Aku tinggal di rumah pak Ading, dan diberikan tempat di kamar Belu. Ternyata meskipun terlihat kaku, Belu asyik juga diajak bicara. Dengan bahasa yang diatur rapi, ia berusaha memakai bahasa Indonesia, meskipun logat sundanya terdengar sangat kental sekali. Pada kali pertama malam, Belu mengajak aku jalan-jalan ke kampung Cibogo, di sebelah utara. Ia menawarkan aku rokok Ji Sam Su, tetapi aku tidak mau menerimanya, karena rokok yang aku sukai Gudang Garam Filter atau disingkat ‘Garfit’. Keherananku pun bertambah, ketika Belu yang sangat sederhana itu banyak memiliki uang.

“Lih, tenang saja, makan saja yang disukai.” Begitu ia berkata saat berada disebuah warung kopi.

“Terima kasih, Belu... udah kenyang.” Sahutku sambil menepuk-nepuk perutku.

“Ambil aja Sam Su, itu.” Belu menunjuk rokok yang berada dalam kotak warung.

“Nggak, Garfit aja udah cukup.” Kataku sambil mengambil sebungkus rokok Garfit. Belu tersenyum, ia kemudian berbicara dengan teman-temannya yang kebetulan hadir di sana. Tentu saja mereka menggunakan bahasa Sunda. Tampak teman-temannya sangat senang pada Belu, karena kehadiranya di sana mereka semua ditraktir.

“Belu, kami pamit ya, rek nganjang heula yeuh...” Dua orang temannya pamit, “Nuhun atas traktirannya.” Kemudian mereka pamit kepadaku juga.

“Mangga..” Sahut Belu. Aku juga turut serta mengucapkan mangga, sambil tersenyum ramah kepada mereka. Setelah mereka jauh, kutanyakan kepada Belu mau ke mana mereka. Belu nyengir. “Mereka mau ngelancong Lih. Mereka apel ke rumah pacarnya.”

“Ooh, nganjang ya?” Kataku menyebut dengan cosa kata bahasa Sunda, “Kok Belu gak ikut nganjang?” Belu menggeleng, “Aku belum punya pacar, Lih.” Katanya dengan serius, “Aku belum berani.” Lalu Belu meneguk kopinya               yang sudah mulai dingin, karena cuaca sangat dingin. Akibatnya apapun yang tadinya panas akan cepat menjadi dingin.

Samar-samar dalam kegelapan kulihat keangkuhan Gunung Salak, yang sebenarnya aku berada di sebelah selatan kaki gunung tersebut. Gunung Salak terdapat di kota Bogor, namun lerengnya memanjang ke selatan sampai Parakan Salak Sukabumi. Maka tepatnya kini di titik pertengahan dua daerah itu aku berada. Hawa dingin yang menyelusup ke tubuhku mengharuskan aku mengenakan jaket tebal. Mungkin untuk penduduk asli di sini sudah terbiasa dengan hawa pegunungan yang dingin tersebut. Sebab kulihat Belu memakai baju biasa saja. Namun meskipun demikian ada beberapa teman-teman Belu yang juga mengenakan jaket. Kemungkinan mereka hanya sekadar bergaya saja.

“Kalo Lih punya pacar nggak?” Pertanyaan Belu mengagetkan aku, sebab saat itu aku sedang melamun sambil menikmati alam di kaki pegunungan. Namun aku segera menjawab, “Dulu punya, tapi .. sekarang udah nggak.”

“Pasti dengan orang Bogor ya?” Belu menebak.

“Iya, tepatnya gadis Sawangan, tapi sekarang aku udah    jomblo.” Sahutku sambil tertawa, memang Sawangan itu bagian dari kabupaten Bogor, sebelum nantinya akan menjadi bagian dari kota Depok. Letak Sawangan memang lebih dekat ke Jakarta ketimbang ke Bogor.

“Ha ha ha... agaknya kita senasib, Bel. Sama-sama jomblo ” Aku tertawa, lalu kopiku yang sudah dingin itu kuhabiskan.

“Beda, Lih, kalau aku belum sama sekali, kalau kamu kan sudah pernah punya.” Kata Belu menyangkal, sambil turut tertawa.

“Bener, tapi   kan   julukannya   sama,   Jomblo!”   Aku ngakak.

“Iya.. ya.. Hm.” Belu berhenti tertawa, seperti ada yang difikirkan, “Di sini banyak cewek kok, Lih.” Belu tiba-tiba berbisik kepadaku.

“Masa? Lalu anak muda di sini gimana?”

“Jangan kuatir Lih, teman-teman di sini baik-baik kok.” Dia menepuk-nepuk bahuku, “Kamu harus tahu, cewek- cewek di sini geulis-geulis euy.” Kata Belu yang kemudian terkekeh, dan aku jadi turut terkekeh pula.

Malam itu kami berdua tertawa, tanpa disangka, Mang Japra yang punya warung ikut-ikutan tertawa. Akhirnya menjelang larut malam, kami permisi pulang kepada pemilik warung. Di rumah kami langsung tidur. Dan kami tidur dalam satu kamar. Belu tidur di bawah dengan menghampar tikar, di sebelahnya terdapat tape recorder, dengan lagu Syahdu – Rhoma irama yang distel melalui kaset. Sedangkan aku tidur  di atas ranjang yang terbuat dari kayu.

Kini aku masih tersenyum mengingat pengalamanku bersama Belu di warung itu. Selesai sholat Subuh berjamaah, aku kembali ke rumah pak Ading, Kulihat Belu masih tertidur, tetapi ibunya sudah berada di dapur, menjerang air.

“Tangginas Lihar?’ Sapa Ibu Belu.

“Iya. Bu..” Kataku.

“Hudangkeun tah si Belu, titah sholat, ari abahna geus ka cai tadi.” Ibu Belu menyuruhku membangunkan Belu agar melaksanakan sholat Subuh. Kata Ibu Belu, kalau bapaknya sudah bangun dan pergi ke mata air. Ibu Belu memang setiap berbicara selalu menggunakan bahasa Sunda, sebab dia tidak pandai bahasa Indonesia. Untung saja aku sudah mengerti bahasa Sunda.

Pagi itu secangkir kopi dan beberapa potong pisang goreng menemaniku sarapan. Biasanya jika di rumahku, Emak selalu menyiapkan sarapan nasi goreng atau nasi uduk. Tapi di sini aku harus membiasakan diri sarapan dengan beberapa potong gorengan. Sebab waktu pertama kali aku di sini. Ibu Belu hanya menyiapkan sarapan pagi dengan secangkir kopi dan sepotong pisang goreng. Akibatnya pada jam 10 siang tubuhku menggigil, dan keringat dingin mengucur. Aku tidak bisa berkonsentrasi mengawasi beberapa pekerja, dan pengangkutan teras yang dilakukan Pak Yunus, menuju pabrik. Aku hanya bisa duduk di gubuk dekat penggalian dengan tubuh yang gemetaran, bila tak kuat aku berbaring.

“Kenapa Lih, sakit?” Seorang pekerja yang bernama Dadun menghampiriku. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk saja. “Kalau begitu aku carikan obat ya?” Ia menawarkan diri.

“Jangan.. jangan Mang Dadun. Biar nggak apa-apa, hm,              biar aku sendiri nanti yang cari obatnya.” Perlahan aku bangkit dari baringku.

“Lih, kuat jalan?” Tanya Dadun agak ragu.

“Iya, aku kuat, Mang Dadun.” Lalu dengan petunjuk Dadun aku sudah berada di sebuah warung, yang kebetulan warung itu menyediakan pula mie rebus. Aku pun memesannya dan makan. Setelah makan, baru aku mengerti, ternyata aku kelantih, tidak sarapan pagi. Maka sejak kejadian itu, pada hari kedua setelah aku sarapan kopi  dan beberapa potong ketela rebus, aku langsung berlari ke warung dan memesan mie. Untuk berjaga-jaga supaya jangan kelantih lagi.

Sekarang aku mencoba tidak memesan mie dulu, aku mau membiasakan diri. Aku sengaja ke tempat kerja lebih pagi. Nanti bila kurasa lapar, aku akan segera berlari ke warung. Di tempat penggalian, kulihat pak Ading sudah mulai bekerja. Tak lama Dadun, Ubed, dan Pardi datang.

“Tangginas, Lih.” Sapa mereka, sambil mereka turun ke penggalian.

“Santai dulu, masih pagi.” Kataku kepada mereka. “Merokok dulu..” Aku menawarkan rokok kepada mereka. Mendengar tawaranku Ubed langsung menghampiriku. “Ambil tiga sekalian buat teman-teman.”

“Terima kasih, Lih.” Ubed mengambil tiga batang Garfit.     Lalu melemparkannya pada teman-temannya. Kalau Pak  Ading sudah asyik dengan rokoknya sendiri, jenis rokok kawung.

Pukul 8.00 pagi, Pak Yunus tiba, teras yang sudah siap langsung dimuat oleh Ubed dan Pardi. Kemudian setelah penuh segera dibawa ke pabrik. Tentunya aku harus ikut ke pabrik. Di sana aku harus bertemu dengan bos yang punya pabrik, Pak H. Karta. Untuk pembayarannya nanti dilakukan pada jam terakhir kirim barang. Maka dari itu untuk penarikan berikutnya kadang aku tidak ikut. Bagi yang tukang muat, yang ikut hanya cukup dua orang saja.

Di tempat penggalian aku harus mengawasi pekerja dengan cermat, bukan berarti mereka tidak boleh bersantai, atau sedikit mengaso menghilangkan penat. Aku hanya teliti pada jumlah penarikan agar jangan sampai keliru. Kadang aku menyarankan tanah mana dulu yang harus didahulukan. Mereka semua patuh dan hormat padaku. Mereka ramah-tamah, dan baik hati. Tapi yang kurasakan paling baik di antara mereka adalah Dadun.

Kadang-kadang Pak Ajat suka datang, dan bertanya ini- itu kepadaku, setelah itu pergi. Aku sendiri masih belum paham, sebenarnya peran dia dalam perusahaan ini sebagai apa? Memang semula kudengar dia sebagai pimpinan pengelola perusahaan ini. Tetapi menurut Pak Yatna, urusannya sudah cukup kepada Pak Yatna saja. Jadi dia sudah tidak berperan sebagai pimpinan pengelola. Kurasa Pak Ajat tidak terima dengan keputusan Pak Yatna tersebut. Maka dari itu dia sering bolak-balik, berlagak seperti berkuasa. Rupanya diam-diam Dadun memperhatikan itu, dia pernah berbisik kepadaku, katanya harus berhati-hati dengan Pak Ajat. Aku pun mengangguk dan berjanji akan selalu waspada menghadapi orang tersebut.

Saat aku makan siang di rumah Pak Ading, datang Pak Ajat kepadaku.

“Lihar..” Sapanya.

“Makan Pak Ajat..” Sekadarnya aku menawarinya, dengan berbasa-basi. Tetapi tawaranku disambutnya dengan mengambil piring di belakang. Pak Ading mengiyakan agar Pak Ajat mengambil piring, dan menyendok nasi sendiri.

“Lihar.. aku ada perlu sama kamu.” Kata Pak Ajat sambil  mengunyah nasi. Aku menatapnya, “Oh ya? Ada apa ya?” Mendengar pertanyaanku, Pak Ajat tersenyum manis. Membuat hatiku bertanya-tanya. Ada apa gerangan?

“Nanti sore aku mau pergi ke Warung Kiara Cibadak.” Kata Pak Ajat selanjutnya, “Kamu ikut ya?” Rupanya dia menawariku.

“Ha? Memangnya untuk keperluan apa, Pak Ajat?” Tanyaku heran.

“Penting    banget,     Lihar...     ini     untuk     kemajuan perusahaan kita, perusahaan Pak Yatna.”

Kata pak Ajat serius. Ia minta dukungan kepada Pak Ading agar aku mau ikut. Kulihat pak Ading mengangguk, “Bener, Lihar... ikut saja.”

“Kalau begitu, Insya Allah...” Jawabku.

Pada sore hari, selesai bekerja, aku minta pendapat kepada Dadun.

“Oh... biasanya Lih, Pak Ajat tuh kalau ke sana ingin menghadap Ajengan, Itu guru spiritualnya.” Kata Dadun dengan logat sundanya yang kental. Sebetulnya ada selipan perkataan bahasa Sunda di dalamnya, tetapi tidak perlu kutuliskan.

“Begitu ya, Mang Dadun? Lalu kenapa harus mengajak aku...?” Aku bertanya-tanya dengan heran. Dan Dadun cuma termangu-mangu, tidak tahu persis apa yang diniatkan pak Ajat.

“Begini aja, Mang Dadun, gimana kalau Mang Dadun ikut aja bersamaku?” Aku mencoba menawari Dadun.

“Hm... mana boleh, Lih?” Dadun ragu.

“Nanti aku bicara dengan Pak Ajat.” Kataku dengan serius. Lalu tanpa berfikir lama-lama Dadun pun setuju.

Sehabis Magrib dengan menggunakan mobil Carry, aku,   Pak Ajat, dan Dadun segera berangkat menuju Warung Kiara Cibadak. Kami ngobrol di mobil dengan omongan yang konyol, rupanya sopir Pak Ajat yang bernama Johan pandai sekali bergurau dengan lucu. Dengan banyolan tersebut tidak terasa kami sudah tiba di Warung Kiara. Di sana kami disambut oleh orang paruh baya, kemudian di dalam telah menunggu seorang ajengan yang memakai sorban, tetapi tidak memakai baju gamis, hanya pakai baju koko biasa. Tampak sekali ajengan itu sudah mengenal Pak Ajat. Kemudian Pak Ajat masuk ke kamar khusus ajengan, namanya Kyai Surya. Sedangkan aku, Dadun, dan Johan menunggu di luar.

“Lihar... sudah lama kenal dengan Pak Ajat?” Dalam keheningan Johan bertanya. Dadun langsung menyahut, “Belum Om, dia baru beberapa hari di Cipetir.” Aku mengangguk membenarkan perkataan Dadun. “Bener, Om...” Sahutku. Aku mengikuti Dadun dengan memanggil Johan dengan panggilan Om. Lalu kuterangkan asal-usul aku hingga sampai aku di desa Cipetir. Tak lama kemudian kudengar Pak Ajat memanggilku. Yang langsung aku menyahut, “Ya, Pak Ajat!”

“Masuk!” Kudengar suara Pak Ajat dari dalam. Sebelum  masuk aku minta pendapat Dadun, ketika Dadun mengangguk, aku segera masuk.

“Mari Lihar, kenalkan Kyai Surya.” Kata Pak Ajat kepadaku setelah aku berada dalam ruangan Kyai Surya. Kulihat Pak Ajat memberi isyarat agar aku mencium tangan sang ajengan. Apa boleh buat aku menuruti isyarat tersebut, aku mencium tangan Kyai Surya.

“Dik Lihar... demi kebaikanmu minumlah air ini.” Kyai Surya memberikan aku segelas air putih. Tapi aku menolaknya dengan halus, “Maaf Kyai, aku kan nggak apa- apa.”

“Minumlah, Lihar.” Pak Ajat memerintah dengan penuh tekanan. Pada akhirnya dengan membaca kalimat Allah, kuminum air itu. Pak Ajat tersenyum puas. Dan beberapa waktu kemudian kami sudah berada di ruang depan. Di sana Kyai Surya turut menemani kami dengan suguhan beraneka macam hidangan makanan ringan. Kami bercengkerama sampai jauh larut malam.

Pukul 2 dini hari kami pulang. Dan pada malam itu aku sengaja menginap di rumah Dadun. Ternyata Dadun adalah seorang duda dengan anak satu. Namun saat ini anaknya diasuh oleh keluarga mantan istrinya. Maka dari itu, Dadun tinggal di rumah bersama orang tuanya. Dadun memiliki kamar di depan rumahnya, di sanalah nanti aku tidur. Sebelum tidur, kuceritakan pengalamanku di kamar Kyai Surya kepada Dadun.

“Pak Ajat itu sudah jelas ingin menguasai Lih.” Kata Dadun menyimpulkan.

“Astagfirllah.. kok sampai begitu ya...?” Aku merasa heran.

“Iya... Lih... tadi merasa nggak? Atau dia minta sesuatu ama Lih?”

“Hm... apa ya?” Aku mulai berfikir, “O.. iya... dia tadi minta uang dan aku kasih. Jumlahnya juga besar 30.000 perak.”

“Nah, itu Lih.. kelihatan perusahaan itu ingin sekali dia  yang pegang.” Kata Dadun menegaskan. Membuat aku menggeleng-gelengkan kepala. “Ha? Bisa jadi, Mang Dadun... gawat,” Aku baru menyadari, “Padahal uang yang dulu juga belum dikembalikan. Waduh, nanti gimana ya, gaji kuli- kuli? Termasuk gaji Mang Dadun?” Aku menjadi bingung.

“Ya.. harus ditagih, Lih...” Kata Dadun bersungguh- sungguh. Aku menatap mata Dadun yang serius berbicara, kurasa perkataan Dadun benar, aku harus menagihnya. Ketika Dadun membalas tatapanku, aku mengalihkan pandanganku ke langit-langit kamar, sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Baiklah, Mang Dadun, pada waktu gajian nanti aku akan menagih hutang semuanya.” Kataku meyakinkan diri. Kemudian aku berfikir kembali tentang kejadian di Warung Kiara, waktu aku diberi air putih. Aneh? Masa hanya dengan air putih, Pak Ajat bisa mempengaruhiku. Aku istigfar beberapa kali dalam hati. Pada saat Dadun tertidur, aku mengerjakan sholat malam. Aku minta petunjuk Allah, agar dihindarkan dari hal-hal yang tidak baik, juga aku mohon agar dihindarkan dari hal-hal mistik yang menurutku sangat aneh, dan tak bisa aku mengerti.

 

                                                                        ***