ANTARA PACAR, KAU, DAN ORANG TUAKU

 

Lampu-lampu jalan

terang menerangi jalan.

Wajah resah mengalir basah,

tak tahu harus berdoa lagi.

Jiwa bolong.

Angin menyayat tipis,

seakan keraguan meronta,

hingga lolongan bereaksi

sampai jauh.

Oh, kepasrahan menindih.

Kau yang termangu,

selalu menunggu-nunggu

gumam kesetiaannya.

Oh, luka sendiri terpatri.

Harus bagaimana lagi?

Hidup menunggu,

sementara berjalan,

diiringi lolongan yang jauh.

Jiwa kusut.

Gelap menampar bayangan.

Tebing menghadang,

lubang-lubang menganga.

Kau pasrah saja.

 

Habis Magrib

— Henkir