KETERLALUAN KAMU, SIH

"Beng Beng...!" Panggilan itu nyaring terdengar, hampir-hampir binatang-binatang unggas yang ada di sekitar orang itu, teriak semua. Tapi yang dipanggil belum juga nongol wujudnya, atau seenggak-enggaknya nyahut, kek. Orang itu kesal, dan langsung teriak lebih nyaring.

"Beng Beng...gg...!!" Langsung aja tempat sekitar itu rame, unggas-unggas berkotek-kotek, kaget. Kebetulan ada yang mau nelur, terpaksa diurungin. Tapi tak lama muncul seorang anak laki-laki tanggung, dibilang bocah, bukan, dibilang pemuda apalagi.

"Ya, Ayah, saya udah di sini, karang." Kata anak bernama Beng Beng berdiri di samping ayah, yang kelihatan bawaannya marah-marah. Ayah langsung melotot melihat Beng Beng udah ada di depannya.

"Kemana aja, sih. Dipanggilin dari setadin, enggak mao nongol-nongol." Ujar ayah sembari tangannya mengangkat keranjang yang isinya penuh dengan telur. 

"Gi, sana. Kumpulin telur-telur yang masih ada di kandang. Barangkali ada yang nelor lagi." Beng Beng cengengesan, garukin kepala yang enggak gatal. Kemudian cepat-cepat dia raih keranjang kosong yang gak jauh darinya, bergegas menuju kandang ayam petelur yang berderet-deret. Semua ayam berkotek rame menyambut kedatangan Beng Beng, agaknya mereka lebih suka Beng Beng ketimbang ayah, bawel. Terbukti dengan hadirnya Beng Beng, ayam-ayam yang tadinya setengah mati menahan telurnya, biar jangan keluar, kini enak aja mereka keluarin dengan hati ikhlas. Demi Beng Beng, katanya.

"Beng, ati-ati ya, numpukin telurnya." Kata ayah memberi perhatian, soalnya Beng Beng emang suka sembrono. Tapi kadang-kadang ayah heran, kok kalau Beng Beng ngangkatin telur, kayaknya telur-telur itu nambah banyak, padahal ia udah perhatian banget, bahwa tuh telur udah tinggal sedikit. Tapi bagi Beng Beng lain lagi persoalannya, disangkanya ayah ngasih jatah ngangkatin telur selalu banyak. Sehingga otomatis pundak Beng Beng setengah mati pegel memanggul keranjang berisi telur itu.

Setelah udahan ngebantuin ayah, Beng Beng langsung ambil handuk, siap-siap mandi. Dan Beng Beng kesal, kamar mandi lagi ada yang make.

"Hu, Ninil. Kenapa baru mandi, sih?" Di depan kamar mandi Beng Beng menggerutu.

"Kak Beng Beng, tunggu aja dulu ya. Ninil baru aja masup." Kata suara Ninil di dalam.

"He, emangnya kamu ke mana dulu, sih, sepulang lari pagi tadi?" Tanya Beng Beng berang.

"Pan, nyiram kembang dulu." Sahut Ninil cuek, kemudian terdengar jebar-jebur air dibuangin. Beng Beng langsung diam, menunggu. Kemudian muncul Wawan, adiknya yang baru kelas tiga SD.

"Kak Beng Beng, lagi ngapain di pintu kamar mandi?" Tanya Wawan, nampak ia memegang perutnya, padahal nampak Wawan sudah pake baju seragam. Beng Beng perhatiin adiknya.

"Eh, Wan, kenapa kamu, kok megangin perut?" Beng Beng balik nanya.

"Perut Wawan mules, Kak. Ada siapa sih di kamar mandi, kok pake dijagain?"

"Ada Kak Ninil. Panggil aja biar dia cepet." Kata Beng Beng kurang bersemangat, sopasti dia jadi lebih lama nungguin. Langsung aja dia cow dari situ. Dan gak lama Ninil udahan. Wawan buru-buru masuk, nyaris aja dia nabrak kakaknya.

"Eh, ati-ati, Wan. Enggak liat apa!" Ninil melotot.

"Lho, kemana kak Beng Beng?" Katanya pengen mandi. Matanya nampak mencari-cari sesuatu. Terus jalan, masuk ke kamarnya sendiri. Sementara Beng Beng di luar iseng-iseng pegang-pegang bunga.

"Lho, Beng Beng. Kenapa belum rapi? Kamu, kan mau sekolah." Ayah melihat Beng Beng ada di depan heran.

"Nungguin Ninil mandi, lama banget, Yah. Udah gitu digantiin Wawan yang ngedadak perutnya mules." Sahut Beng Beng.

"Tapi, kenapa gak masuk sih? Enggak pantes pake anduk begitu," anak-anak sekolah banyak yang lihat kamu. Ayo sana masuk." Suruh ayah kurang suka lihat anaknya ditonton cewek-cewek sekolah yang kebetulan lewat. Beng Beng nurut, tapi langsung langkahnya terhenti, ketika mendengar orang memberi salam.

"Wa'alaikum salam!" Beng Beng dan ayah kompak menjawab.

"Oh Husin, sini... sini masuk." Rupanya yang memberi salam itu teman sekelasnya Beng Beng.

"Kok, belum rapi, Beng?" Tanya Husin sembari ngelepas sepatunya.

"Biasa, Sin. Ngebantu ayah dulu." Sahut Beng Beng, disampingnya ayah senyum-senyum, bener kok, mengiyakan.

"Sin, udah enggak usah dilepas sepatunya, tinggal aja deh." Kata Beng Beng basa-basi, Husin bingung. Dari dulu Husin memang selalu bingung dengerin kata-kata Beng Beng, pokoknya semenjak mereka berkenalan dulu di sekolah. Husin heran kenapa ya, anak ini namanya Beng Beng? Sebenarnya bukan Husin aja yang heran, Beng Beng sendiri yang memegang nama itu enggak ngerti. Salah apa dia dulu, ya. Konon samar-samar dia sebenarnya pernah dengar cerita asal-usul namanya. Dulu kakeknya pernah cerita bahwa, ketika Beng Beng dilahirkan katanya user-usernya susah banget dipotong, udah gitu lolongannya kedengeran ke mana-mana. Sehingga malam sewaktu dia dilahirkan rata-rata orang terjaga dari tidurnya. Bidan yang mengurus kelahirannya, bingung. 

"Gimana, nih cara ngedieminnya? Terus mesti pakai apa ngeguntingin user-usernya? Kok jadi mirip Gatot Kaca. Apa nantinya anak ini bakal sakti seperti tokoh tersebut?" 

Akh, bingung. Semua yang hadir di sana bingung. Berbagai usaha dilakukan, tapi hasilnya tak ada.

Akhirnya mereka memanggil dokter bedah, siapa tahu dia tahu caranya. Eh ternyata gagal juga. Tuh, anak nangisnya jadi makin tambah nyaring, persis lolongan serigala di hutan. Orang-orang di sekeliling menyumpal kupingnya dengan kapas, baru aman. Suasana terus dihantui dengan kebingungan, apalagi ketika pisau sakti kakek enggak mempan juga. Semuanya jadi putus asa. 

"Gimana ya? Kita bawa aja ke rumah sakit, bayi ini harus dioperasi di tempat yang khusus.” Usul pak Dokter, dan semuanya enggak ada yang setuju.

Melihat situasi yang agak semakin berlarut-larut, ayah akhirnya nekat. Kebetulan dia baru aja beli silet Gobal buat ngecukur janggutnya yang baru tumbuh dikit, silet itu kebetulan belum digunakan. Dengan kebulatan hatinya ayah menggunakan silet itu buat memotong user-user sang bayi. Semua yang hadir teriak ngeri, melarang. Dan "Tras!" berhasil. Sang bayi diam seketika. Yang lain bengong, gak percaya.

Dari kisah itulah, kakeknya memberi nama cucunya ‘Bengal Radiasi’, untuk cucu yang pertama, katanya. Padahal sebelumnya ayah sudah mempersiapkan nama yang bagus, ‘Benny Titik Titik’, dan ibunya, ‘Bendi koma-koma.’

“Bengal Radiasi itu cocok, soalnya baru pertama lahir aja, udah bikin susah orang. Coba kalau kalian tetap kasih nama Benny atau Bendi, salah-salah anak itu, gedenya akan lebih bandel.” Begitu alasan kakek, ketika ayah dan ibu protes.

“Tapi, Pak. Dengan nama Bengal, bagaimana kami harus memanggilnya? Kayaknya enggak pantas deh, kalau kita panggil ‘Bengal-Bengal-ngal’.” Ayah masih protes.

“Lho, segitu aja kok bingung. Panggil aja dia ‘Beng Beng’, kan beres. Kok susah amat sih.” Kata kakek pasti, membuat ayah dan ibu tak berdaya. Mereka mengangguk, oke aja. Kakek waktu itu puas.

Beng Beng? Memang selintas nama itu kedengarannya aneh. Tapi, bagus juga kedengarannya. Beng Beng tersenyum di kamar mandi. Kakek, ya, kakek memang pintar kasih nama dia, hati Beng Beng ngomong sendirian. Untung aja ayah enggak jadi kasih nama Benny, atau ema kasih nama Bendi. Wah, nama apaan tuh?

Beng Beng mulai mengguyur badannya. Tapi... Tapi nama asliku, kan bengal, ya bengal, nama yang aneh. Beng Beng ingat dulu sewaktu ia didaftarin masuk SD, guru yang menerima pendaftaran murid heran.

"Bengal Radiasi, pak?" 

"Ya, nama anak saya Bengal Radiasi, kenapa?" Ayah menampakkan muka tegang. Maunya Ayah itu guru langsung aja tulis, enggak usah tanya-tanya. 

"Tidak, tidak apa-apa, pak." Si guru tergagap, dan langsung menulis nama Bengal Radiasi di bukunya. Ia heran, apakah anak ini emang bengal sungguhan? Atau… 

“Pak guru," kata ayah santai, "Ingat, jangan panggil anakku 'Bengal', tapi panggil dia 'Beng Beng'." 

"Apa, pak, Beng Beng?" Guru terlihat heran. 

"Iya, Beng Beng." 

"Baik pak, baik." Guru itu mengangguk-angguk.

Beng Beng tersenyum. Thanks, Yah, karena pesan ayah lah sehingga semua guru dan teman-teman memanggilku Beng Beng. Dia memang paling enggak suka kalau ada orang yang memanggilnya bengal, contoh itu pernah kejadian di rumahnya sendiri. Waktu itu adiknya Ninil, yang punya nama ‘Cengil Isolasi’, dia panggil ‘Cen Cen’, maksudnya sih biar sama dengan namanya. Ujung-ujungnya Ninil marah berat, soalnya wajah doi emang ada kecina-cinaan. Tau tuh, waktu itu Ema ngidamin apa sehingga Ninil rada-rada mandarin punya wajah. Dan gara-gara dipanggil Cen Cen, akhirnya setiap hari Ninil memanggil dia "Kak Bengal", pertama sih Beng Beng cuek. Tapi lama-kelamaan enggak tahan juga, soalnya Ninil keterusan, ia panggil bengal nggak perduli ada di mana. Apa itu di pasar, di pinggir kali, atau di sekolahan. Kan hasilnya ada beberapa temannya ikut-ikutan memanggil dia Bengal. Makanya untuk tidak berkepanjangan Beng Beng langsung minta maaf sama Ninil, dan berjanji enggak panggil lagi Cen Cen. Ninil pun demikian, berjanji enggak panggil kak Bengal lagi.

Beng Beng sambil mandi ingat, sebenarnya sebelum Ninil, dia pernah punya adik laki-laki yang dikasih ayah sebuah nama yang keren, Hardi Mamesa. Namun sayang umur Hardi enggak panjang, ia udah dipanggil yang Maha Kuasa ketika berusia lima tahun. Waktu itu usia Beng Beng enam tahun, sedangkan Ninil baru tiga tahun, dan Wawan belum ada. Byur! Oh Hardi, adikku yang malang, sesungguhnya kamu seorang yang beruntung dapat nama bagus dari ayah. Enggak seperti aku dan Ninil yang kebagian nama aneh dari kakek. Seandainya kamu masih hidup tentu Hardi sekarang udah kelas tiga SMP, so pasti soalnya Ninil sekarang baru kelas satu di SMP. Dan Wawan, ekh dia juga beruntung, dapat nama bagus dari itu. Yah Wawan Arlidi, bagus! Byur!

Ya, Beng Beng pernah kesal dengan namanya, dulu ketika pertama masuk SMA. Dia kenalan sama cewek.

"Beng Beng." Eh, tuh cewek-cewek kontan ketawa. 

"Lho, kenapa kalian ketawa?" Beng Beng bingung karena nggak ada sesuatu yang lucu. Paling-paling Cuma ada Husin, Warno, Zaenudin, dan Empol yang ikut-ikutan kenalan dengan cewek-cewek  itu. Keempat temannya juga tampak bingung.

“Idih, kenapa celingukan?” Terdengar cewek yang punya nama Tarina, sembari cekikikan, "Liat ke kamu sendiri, dong. Beng Beng itu, kan wafer kesukaanku”.

"Iya. Saya juga suka makan Beng Beng," sahut temannya.

"Apa? Saya makanan? Enggak! Saya bukan makanan! Saya enggak terima!" Beng Beng langsung stres dibilang ‘wafer’. Dia langsung lari, teman-temannya bingung. Tapi kemudian mereka punya inisiatif mengejar, mereka khawatir Beng Beng kenapa-napa dalam pelarian. Tarina dan kawan-kawannya pun jadi enggak enak hati. Enggak nyangka kalau yang namanya Beng Beng itu cepet kena stres. Padahal kalau dipikir-pikir, Beng Beng itu nama makanan. Kok, jadi gitu ya.

"Yok, kita kejar," ajak Tarina. 

"Tapi mereka udah jauh." 

"Biarin!" Serentak mereka lari-lari ke arah dimana Beng Beng lari. Napas mereka sampai ngos-ngosan, ketika udah jauh meninggalkan sekolahan Beng Beng belum ditemukan.

"Waduh, gimana nih, Beng Beng enggak ada." Tarina lemas, mengeloso di bawah pohon mangga. Temen-temennya malah sampe tidur-tiduran, saking capenya.

"Tari, udah ah. Yok kita balik lagi," ajak seorang temannya.

"Bentar Susi, gue masih cape, nih." Tarina sementara menolak. Capenya emang enggak ketulungan, Susi megap-megap, yang dua lagi napasnya hampir putus, diem aja gak ngomong.

"Yok deh, gue udah mendingan, nih," setelah sekian lama Tarina bangkit, napasnya udah normal kembali. 

"Ayok." Susi ngikutin.

"Tungguin dong." Kedua temannya belum bisa bangun. Susi, tarik-tarikin tuh si Ayu dan si Tarsih," suruh Tarina. Susi nurut aja. Dan begitu Ayu dan Tarsih bangun, Susi langsung rubuh. Kontan mereka jadi repot ngebangunin Susi. Selanjutnya, setelah segalanya beres tampak mereka kembali lagi ke sekolah. Diperjalanan mereka ada yang manggil.

"Hai nona-nona, dari mana aja sih? Kok kelihatannya lemes-lemes banget." Suara itu jelas milik Beng Beng, lalu secara serempak mereka berhenti, mendapati suara itu.

"Beng Beng!" Mereka terkejut, kok bisa-bisanya Beng Beng ada di warung bakso? Kelihatan nyantai benget ngebaksonya. Lantas cengar-cengir memandang nona-nona yang berbengong ria itu.

"Udah, sini masuk, nggak usah lama-lama bengong di situ," kata Beng Beng sambil melirik dan memamah mie baksonya. Tarina mangkel, kemudian bergegas menghampiri warung bakso yang ada Beng Bengnya. Di sana ia makin melongo, melihat teman-teman Beng Beng sudah di sana, lagi ngebakso dengan khusyu.

“Lho kok, kamu masuk sendirian? Panggil gih teman-teman yang lain, ajak makan bakso sekalian. Lagi gini hari masih lari-larian, panas tau..” Beng Beng dengan enteng berkata demikian, membuat mata Tarina melotot.

“He, kami lari-lari bukan lagi oleh raga, tapi lagi ngejar kamu!”

"Lho kok ngejar saya? Memangnya saya kenapa?" Tanya Beng Beng heran. Teman-temannya ketawa dalam hati, berlagak serius ngebaksonya, padahal emang.

"Beng Beng, saya liat tadi, kan kamu stress sewaktu di sebut wafer, terus kamu lari ngambek. Pan kita ngeri, takut kesalahan." Dengan kesal Tarina ngejelasin, biar jelas. Meskipun persoalannya udah jelas.

"Wah, kamu salah duga, tar." Beng Beng ketawa, “saya tadi lari-lari bukan lantaran denger wafer, kebetulan tadi mendadak saya kepingin bakso. Langsung aja deh saya lari. Lagian apa hubungannya ama waiter." Beng Beng belagak bego. Tarina jadi sewot, terus aja tangan kanannya melayang ke wajah Beng Beng. Beng Beng emang udah punya firasat jelek, kontan dia mendek. Ternyata itu tangan tarina mendarat ke lain sasaran.

"Plak!" bunyi tamparan nyaring terdengar, Husin yang kena sasaran ngejerit. Bakso yang mau ditelan langsung melompat out ke atas meja, berguling-guling. Teman-temannya kaget. Lho diapain tuh si Husin. Semenatara Tarina ngeloyor keluar, dia nggak sadar kalua sasarannya salah.

"Sin, lu gak pa pa?" Zaenudin pegang-pegang pipi Husin, ia khawatir Husin pingsan. Soalnya pipi Husin merah sih, telapak tangan Tarina mejepak.

"Gak pa pa. Gak pa pa." Gelagap Husin enggak mengerti. Beng Beng cuek ajaia sibuk ngabisin kuah bakso.

"Beng, lu kok diem aja, liat tuh si Husin." Omel Zaenudin kepada Beng Beng yang cuek-cuek aja, “orang-orang gimana ke, gitu. Lihat aja Embong sibuk ngeberesin bakso yang gelinding tadi , terus Warno dengan gigihnya memegasngi kaki meja.”

“Lho?” Beng beng jadi bertanya-tanya, "Emangnya ada apa?"

"Liat ini Husin, pipinya kena gampar Tarina," kata Zaenudin masih sibuk ngelus-ngelus pipi Husin.

"Asyik dong." Beng Beng ketawa, "Lumayan Sin. Tarina, kan kece. Beruntung banget situ."

Tampak Husin hidungnya megar-megar, kayaknya bener juga kata Beng Beng. Zaenudin mendelik, kok enak aja Beng Beng ngomong begitu. Bukankah yang bikin salah Beng Beng? Kenapa yang jadi sasaran Husin? Diem-diem Zaenudin kesal atas kejadian ini, kenapa bukan dia yang jadi sasaran tangan cantik itu? Ada-ada aja.

Beng Beng ketawa geli mengingatt kejadian itu. Kini ia jadi bangga punya nama Beng Beng.

"Beng Beng!" Tiba-tiba terdengar suara Ema, "Ngapain kamu lama-lama di kamar mandi? Lihat tuh udah jam tujuh lewat. Kok belum juga udah mandinya? Kasihan tuh Husin nungguin kamu." Beng Beng kaget setengah mati, dengan terburu-buru ia keluar kamar mandi.

"Kamu tidur ya di kamar mandi, kok ampe setengah jam lamanya?" Ema ngomel, Bergegas ia ngelongok ke kamar mandi, terus enggak lama keluar lagi.

"Beng, Beng Beng, kamu apa-apa-an sih, jadi anak kok keterlaluan banget." Emanya nyap-nyap, Beng Beng cuek aja, dalam kamar diem aja, ia sibuk pake baju seragam.

Sementara ayah yang mendengar ada ribut-ribut dengan cepat menghampiri ema. "Ada apa, Ma, kok ribut banget?"

"Itu, Yah. Beng Beng keterlaluan bener. Masa sih air sebak penuh udah abis dia pake mandi."

"Ha?" Ayah tertegun, "Kok bisa begitu. Padahal bak mandi itu besarnya enggak ketulungan. Jangan-jangan Beng Beng baru aja baligh," pikir ayah.

"Ayah, kok malah bengong, bukan bantuan Ma ngomelin Beng Beng yang udah keterlaluan. Bayangin aja Yah," ema kesal melihat ayah biasa-biasa aja.

"Masa sih Beng Beng mandi sampe setengah jam. Coba Ayah bayangin."

"Kalo gitu biar aja, Ma. Kan kolamnya bisa kita isi lagi. Gampang, tinggal pencet sanyo ini." Kata ayah kalem, tampaknya ia maklum dengan sikap Beng Beng.

"E-eh, enak aja ayah ngomong. Rekening listriknya gede, lho."

"Tenang Ma, segalanya bisa diatur." Ujar ayah langsung meninggalkan ema. Ema dengan geleng-geleng kepala kembali ke belakang. Sementara Beng Beng yang buru-buru beberes keluar dari kamarnya, hampir aja dia nabrak ayah.

"Ma’af, Yah. Beng Beng lagi buru-buru." Terus aja tuh anak ke depan, dapetin Husin yang lagi bosan nungguin.

"Udah siap, Beng?" Tanya Husin ragu, diperhatiin tubuh Beng Beng dari atas ke bawah.

"Siap dong. Lho ada apa, kok melotot begitu?" Beng Beng heran.

"Anu Beng, kayaknya ada yang enggak beres dengan lu."

"Yang bener aja, Sin. Udah, deh yok kita cow, karang."

"Tapi, Beng."

"Tapi apaan?" Beng Beng semakin enggak ngerti dengan sikap temannya itu.

"Itu lho," Husin menunjuk kaki Beng Beng, "itu kok lu pake sepatu sebelah titania, sebelah lagi reabok."

Beng Beng tersentak, kontan dia balik lagi masuk ke kamarnya. Husin geleng-geleng kepala, tahu begini gak bakalan dia nyamper-nyamper Beng Beng. Abis keterlaluan, sih, masa berangkat sekolah jam delapan. Terang aja terlambat.

 

 

© Henkir Alam,

Bogor, 16 Mei 1992