MENANTANG RESAH
Buaian angin
Laksana belaian iblis
Menampar pipi juga telinga
Dan orang-orang itu pada degil
Tertawa kesyetanan
Memekakkan telinga
Tertawa kesyetanan
Memekakkan telinga
Api,
Aku begitu kepanasan
Panas sekali
Aku tak kuat dan tergelincir
Sapuan angin
Laksana hembusan dewa
Memercikkan peluh
juga mendirikan kuduk
Dan orang-orang itu Tetap degil
Siapa dirinya itu
Seakan dia syetan
Siapa dirinya itu
Seakan dia syetan
Air,
Siramilah semua
Aku yang panas
Tak pantas tergelincir dan sesat
Sesat……..
Henk, Des 1985
Puisi “Menantang Resah” menggambarkan pergulatan batin manusia ketika berhadapan dengan godaan, panasnya amarah, dan kegaduhan dunia. Henk menggunakan unsur alam seperti angin, api, dan air sebagai simbol emosi, nafsu, hingga harapan akan penyucian diri.
Nuansa gelap dan penuh tekanan terasa kuat melalui pengulangan kata serta metafora tentang manusia yang keras kepala dan kehilangan arah. Di akhir puisi, hadir permohonan sederhana namun dalam: keinginan untuk diselamatkan dari kesesatan sebelum semuanya terlambat.
Anda bisa melihat karya saya yang ini yang sudah dibuatkan music di Youtube




Diskusi
0 Komentar