UNTUK APA NAFAS
Karya: Henkir Alam
Merayap wanita malang
Di antara jerit ilalang
Mendesah bimbang
Merangsak ke belakang
Di bawah langit-langit
Ada sekelompok laki-laki
Yang uruskan birahi
Untuk masa nanti
Wanita-wanita terhentak
Tak dapat berkata-kata
Dirinya banyak cela dan noda
Kotor melebihi kera
Kotor melebihi kera
Oh betapa bumi menangis
Melihat kenyataan yang ada
Bumi menangis
Penghuninya berotak syahwat
Langit meranggas
Ingin roboh agaknya
Iblis-iblis tertawa
Ayo dansa birahi
Untuk apa nafas di dunia
Tanpa ketiak syahwati
Tanpa ketiak syahwati
Jakarta Barat, 12 Desember 1988
Henkir Alam
di Berdoma Jakarta Selatan
Puisi “Untuk Apa Nafas” menghadirkan suasana gelap dan penuh kegelisahan. Melalui diksi yang keras dan simbolis, Henkir Alam menggambarkan kerusakan moral, penderitaan perempuan, serta manusia yang dikuasai hawa nafsu. Tangisan bumi dan tawa iblis menjadi metafora kuat atas kondisi sosial yang kehilangan nurani.
Karya ini tidak hanya berbicara tentang birahi, tetapi juga kritik terhadap manusia yang menjadikan nafsu sebagai pusat kehidupan, hingga melupakan nilai kemanusiaan dan rasa belas kasih.
Anda bisa melihat karya saya yang ini yang sudah dibuatkan music di Youtube




Diskusi
0 Komentar