Dua orang sahabat berlari-lari di tengah malam, aral melintang jalan yang mereka lalui di dalam hutan sawit itu tak diperdulikan. Mereka terus berlari menjauhi ladang yang baru saja mereka buka. Betapa yang mereka rasakan saat berada dalam ladang itu adalah siksaan dan deraan.

             Teramat berat beban Lihar saat bekerja mati-matian, membuka ladang, menanam bibit dan menyiraminya. Ia tak kuat menahan siksaan oleh majikan yang kejam. Ia harus lari dan menjauhi ladang itu. Adul pun tersiksa, seorang sahabatnya sejak SMA sudah sering Bersama-sama di tanah Sawangan Depok. Lihar dan Adul memang seorang sahabat sejati yang tak terpisahkan. Ketika keduanya ingin berkelana, mereka menjalaninya berdua.

          Entah bagaimana mulanya kini mereka berdua berada di Malaysia, padahal sebelumnya Ketika tinggal di Sawangan sebetulnya mereka itu adalah pekerja. Lihar bekerja di Jakarta, sedangkan Adul bekerja di bandung.

       Ketika mereka sedang berlibur bersama di Sawangan ada seseorang masih punya hubungan sanak famili mengajaknya ke Malaysia dengan biaya yang murah, tapi menghasilkan cuan yang besar. Tanpa berfikir panjang mereka bersedia. Dan terbukalah jalan luas ke Malaysia.

         Lihar dan Adul beranggapan negeri Malaysia adalah negeri impiannya. Maka mereka begitu bersemangat, walaupun jalan yang dilalui tidak lewat jalan legal. Jalan pintas yang mereka lalui ternyata banyak liku. Terbukti sekarang mereka berdua sedang terseok-seok di dalam hutan, menjauhi ladang yang menyeramkan, yang dijaga oleh tiga ekor anjing hitam.

       Betapa hampir saja Lihar tak bisa melangkah saat ingin kabur, anjing-anjing itu menggeram ingin menerkamnya. Namun ada hal yang tak diketahui Lihar bagaimana tadi Adul berbuat sesuatu sehingga anjing-anjing bisa jinak dan berdiam diri. Hanya terdengar lenguhan anjing-anjing itu dengan lirih. Ya, lirih sekali, yang sebetulnya membuat bulu kuduk Lihar merinding.

       Akhirnya Lihar tak perduli, yang penting kini ia sudah menjauhi ladang menyeramkan  itu bersama Adul. Yang akhirnya Lihar berprasangka bahwa Adul punya kelebihan dalam menaklukkan binatang.

             Saat jauh di pedalaman hutan Bakau, entah sebelah mana. Lihar dan Adul terengah-engah berhenti mengasoh. Sekadar duduk menggeloso dan minum air yang mereka bawa.

           “Adul, lo apain anjing-anjing tadi kok jadi pada nurut, dan diam?” Tanya Lihar dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Ditanya demikian Adul hanya tersenyum.

             “Allah telah menjaga kita, Lihar.” Telunjuk tangannya diacungkan ke langit, setelah itu tak berkata lagi. Lihar pun terdiam dan merenung.

       “Sekarang begini Lihar, mata lo kan awas.” Kata Adul sambil membenahi letak kacamatanya di ujung hidung. “Sekarang kita jalan pelan-pelan, agaknya tak ada yang mengejar kita. Terserah lo telusuri jalan yang mana, gua ngikutin aja.”

            “Tapi, tempat ini belantara.” Kata Lihar agak ragu.                                

           “Sekarang lo perhatiin dengan jelas. Kita sekarang sedang berada di jalan setapak. Kita harus melintas sampai kita menemukan jalan lintas mobil yang masuk tadi, agaknya ada bebatuan dan masih ada bekas sisa hotmik.” Ujar Adul dengan perasaan yang sabar. Lihar tampak berfikir.

02                       “Lo kenapa, Har?” Adul merasakan keraguan Lihar.

03                       “Gua kuatir kalo kita nemuin jalan tadi, kita bisa kembali ke ladang sialan itu.” Lihar agak gemetar suaranya.

04                       “Kita mohon petunjuk kepada Allah, karena orang yang teraniaya akan ditolong Allah dan diberi petunjuk ke mana kita harus melangkah.” Kata Adul dengan suara yang mantap.

05                       “Baiklah.” Lihar bersemangat dan bangkit.

06                       Perjalanan dalam hutan mereka teruskan. Langkahnya satu-satu ia tuturkan, Adul mengikuti di belakangnya dengan tiada ragu. Ada beberapa suara yang menyeramkan mereka tiada mengindahkan. Bayangkan mereka ada dalam hutan gelap, pada tengah malam sekitar pukul 2 dini hari. Ada kemungkinan mereka bisa berjumpa dengan harimau atau binatang buas yang lain. Bisa jadi mereka akan berjumpa dengan ular berbisa, atau ular sanca yang siap melahap mereka. Entah mungkin karena tekad mereka sudah bulat, mereka sudah tidak ada kata takut lagi. Meskipun rasa gentar masih memagut jiwanya.

07                         Adul yakin perjalanan mereka keluar hutan itu akan berhasil, karena terlebih dahulu ia mengajak Lihar sholat malam, mohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan jalannya. Dan untuk pertama melangkah keluar dari ladang tersebut ia berhasil membuat anjing-anjing galak itu menjadi jinak. Sebetulnya Adul bukan pawang binatang atau apa lah, dan ia pun tak menyangka, kenapa anjing-anjing itu bisa jinak saat ia berucap, ‘ck.. ck.. ck..” Hanya    itu yang membuat anjing-anjing itu mendekam.

08                       Dan saat berlari ia merasa sangat percaya, bahwa ia melewati jalan yang benar untuk keluar dari hutan  tersebut.      

09                    Lihar yang belum paham atas pemikiran Adul punya perasaan yang berbeda, dianggapnya Adul punya ilmu menjinakkan binatang, yang selama ini dianggapnya belum pernah diceritakan.

10                          Pada akhirnya Lihar dan Adul menemukan jalan yang dapat dilalui dengan mobil yaitu jalan yang berhotmik, meskipun di sana-sini ada beberapa jalan yang sudah rusak. Lihar ingat saat mereka berdua mengeluh di dangau tempat mereka tinggal. Sebenarnya Adul agak ragu untuk kabur, karena kabur ke mana? Sedangkan di Malaysia ini mereka tak punya sanak saudara. Mereka bingung, ke mana tujuan mereka? Saat itu Lihar befikir keras dan bergumam bagaimana dengan duta besar Indonesia. 

11                         Mendengar gumaman itu mata Adul berbinar, “Apa lo kata, Har?”

12                         “Duta besar Indonesia.” Kata Lihar biasa saja.

13                         “Cakep!” Mata Adul berbinar, “Kini tujuan kita kabur sudah ketemu, ke mana kita harus mengadu.”

14                         “O ya.” Mata Lihar tak kalah berbinarnya, “Jadi kita kabur dan pergi mendatangi kedutaan Indonesia.”

15                         “Betul sekali.”

16                         “Alasannya?”

17                         “Kita ditipu.. ya kita ditipu.” Adul sangat antusias sekali. Dan hal itu disambut Lihar dengan harapan yang sangat besar. Yaitu jika sudah sampai di sana tentu mereka akan diterima dan diperlakukan dengan baik.

18                        Bahkan kemungkinan mereka dipulangkan dengan pesawat tanpa harus mengeluarkan biaya.

19                        Betapa Lihar teringat saat ia pergi menuju negeri ini. Ia harus bersusah payah naik perahu tongkang yang hanya cukup 12 orang. Terombang-ambing di laut, dihempas ombak, dan dihantam badai. Belum lagi harus kepergok dengan petugas imigrasi. Yang lebih parah saat nyasar ke selat atol. Sungguh luar biasa susahnya. Kelaparan sepanjang hari, karena jadwal molor tidak sesuai yang diharapkan. Jadwal 5 hari tiba, bisa panjang menjadi dua minggu. Oh, nasib jika perjalanan dengan biaya minim dan illegal. Hampir saja Lihar menuai putus asa saat ia diturun-an di sebuah pulau, yang  masih jauh dari Malaysia. Di kampung itu ia berkenalan dengan seorang gadis melayu. Lihar agak terhibur, mungkin gadis inilah yang membuat tekad Lihar untuk maju terus ke Malaysia. Dengan harapan sepulang dari Malaysia dia akan datang untuk menyambanginya dan mengabarkan bahwa ia berhasil di Malaysia. Apalagi gadis itu telah memberikan sebuah cendra mata hanya berupa buku TTS (Teka-Teki Silang). 

20                        Betapa Lihar Bahagia, meskipun ia nantinya tak akan menduga jika buku TTS itu adalah sebagai penentu cinta mereka bersemi. Lihar tak tahu itu. Yang ia tahu bahwa dirinya tetap semangat pergi ke Malaysia sebagai negeri Impian baginya. 

21                        Adul yang punya harapan yang berbeda dengan Lihar, ia pun tak paham, kenapa Lihar tetap semangat untuk tetap ke Malaysia. Rela berkotor ria di pantai berpasir Malaysia saat berlabuh, dan merangkak di dalam parit yang kotor dan bau. Mereka rela. Yang penting keberhasilan akan membentang di depan mata.  

22                         Namun Lihar dan Adul tak habis fikir, kenapa mereka malah terperangkap dalam majikan yang kejam. Yang kalau bekerja tak boleh istirahat sedetik pun. Padahal dalam bayangan Lihar sebelumnya bahwa ia bekerja di Malaysia bukan ditempatkan di ladang perkebunan, melainkan di sebuah pabrik sebagai operator,  atau  di  kantor  sebagai  cleaning  servis.   Jadi bukan tukang memacul, makanya di hati Lihar sangat kecewa sekali, karena ia memang tak pandai memegang cangkul. Bapaknya tak punya kebun, hanya punya rumah tanpa ada halamannya. Dan tak pernah ia berkebun. Maka dari itu majikan berlaku kejam kepadanya karena tak pandai memegang cangkul.

23                            Berbeda dengan Adul yang sudah biasa mencangkul, disamping itu Adul bertubuh besar, gemuk, dan agak gempal dan ia biasa kerja mencangkul. Tapi anehnya Adul yang sudah sangat giatnya bekerja masih kena marah majikan. Bahkan beberapa nama binatang banyak diarahkan kepadanya. Lihar merasa heran, apa yang dilakukan Adul sehingga ia dianggap bersalah. Yang pasti Lihar berusaha belajar dan belajar meskipun ia pernah tersungkur di atas lumpur saat ia didorong majikannya.  

24                       Kini dalam pelariannya hati mereka merasa lega, meskipun jalan keluar belum mereka dapatkan. Rasa sakit di tubuh mereka yang ngilu, perih, dan nyeri tidak mereka rasakan. Yang penting tujuan mereka satu, yaitu ke kedutaan besar Indonesia.

25                      Saat berada di pintu gerbang, mata mereka bersinar gembira, itu artinya jalan keluar hutan itu telah terang-benderang. Namun hati mereka saat itu menjadi ciut, saat melihat dua orang penjaga di gardu jaga. Tampak dua penjaga bercakap-cakap sambil memegang senter dan mengarahkan ke mana-mana. Hal itu membuat Lihar dan Adul merunduk, hatinya was-was takut kepergok. Soalnya mereka berdua tidak dengan tangan kosong, tetapi membawa tas yang berat-berat.

26                        Memang sebelum berangkat Adul banyak memasukkan makanan yang sudah disediakan majikan untuk persediaan makan di kebun. Telur yang terlebih dahulu direbus. Beberapa liter beras, dan beberapa bungkus gula halus. Pokoknya semua yang tersedia dan bisa dimakan dibawa dan dimasukkan dalam tas. Kata Adul, untuk persiapan di perjalanan.

27                         Boleh jadi jika petugas itu memergoki mereka berdua, tentu mereka bisa jadi tersangka perampok yang melarikan diri. Maka dari itu mereka berdua sangat takut sekali jika penjaga itu mengetahui keberadaannya di sekitar gardu jaga.

28                         Lihar dan Adul merangkak di antara semak-semak, berharap bisa lolos dan keluar dari hutan tersebut tanpa bisa dilihat penjaga. Namun nasib keberuntungan tidak memihak mereka, sebatang ranting telah terpijak oleh kaki Adul, akibatnya terdengar bunyi, “Krak!” yang keras.

29                         Dalam keheningan malam tentu saja membuat dua orang penjaga terkejut.

30                         “Hai, suara berderak..” Terdengar salah seorang penjaga.

31                       “Coba hampiri, siapa tahu ada pencoleng lewat.” Sahut yang lain.

32                      “Siap.” Salah seorang keluar dari gardu jaga. Tangan kanan memegang pistol, dan tangan kiri memegang senter. Sambil berjalan perlahan menghampri suara berderak tadi.

              “Keluar dikau di sana! Jangan harap bisa sembunyi!” Terdengar teriakan penjaga semakin dekat. Hal itu membuat jantung Lihar dan Adul terhenti. Dalam hati mereka tamat sudah riwayatnya sampai di sini.

             “Gedebuk!” Tiba-tiba terdengar suara berdebam yang mengagetkan.

Kiranya sampai di sini dulu prolognya, sebaiknya kita ikuti dulu dari awal bagaimana mulanya sehingga mereka berdua tiba di Malaysia. Yang sudah mereka anggap bahwa Malaysia adalah tujuan negeri yang tepat. Benarkah itu?

 

 

                                                                      ***