Suara hiruk-pikuk suasana lebaran masih terdengar di sana-sini. Aku yang berpenampilan biasa-biasa saja tidak menampakkan kesibukan yang berarti. Seperti misalnya aku bertandang ke rumah saudara terdekat, yang telah menjadi sahabat sejatiku. Waktu aku masuk ke rumahnya, kulihat dia sedang tidur-tiduran di sebelah radio kesayangannya.
“Hai, Dul,” begitu aku menyapanya, “Nggak pergi ke mana-mana, nih?” Tanyaku sambil duduk di samping tempat tidurnya. Adul tersenyum sambil menggelengkan kepala, sepertinya ia tampak berfikir.
“Lihar, lo masih ikut rombongan kerja di Jakarta?” Adul malah balik bertanya.
“Masih.” Aku menjawab dengan enggan, “Tapi tau deh gua setelah lebaran ini jadi agak males kerja.”
“Hm,” Adul menarik nafas sebentar, kemudian menatapku ragu-ragu, “Kira-kira elo masih bermimpi nggak kerja di Malaysia?” Matanya kini beralih menatap langit-langit rumah.
“Waduh Dul, masih belum terbayang deh.” Lalu aku berfikir sejenak, “Memangnya ada kabar tentang itu, Dul?” Tanyaku dengan rasa ingin tahu.
“Iya ada, Bi Ai ngajak gua kerja di Malaysia, Har. Gua ogah kalau sendiri, pengennya elo juga ikut.” Mata Adul menerawang ke mana-mana.
“Hm boleh juga,” Aku berfikir sejenak. “Tapi ke Malaysia kan ongkosnya mahal.” Mendengar ucapanku itu mata Adul berbinar. “Nah, kalau elo mau, yang ini ongkosnya nggak mahal.” Lantas ia duduk, “kata bi Ai Rp 100.000,- cukup.”
“Waduh, dari mana gua dapat duit sebanyak itu, Dul? Gaji gua kerja di Jakarta aja nggak ada segitu jumlahnya.” Kubayangkan gajiku yang kecil sebagai kuli bangunan.
“Kayaknya gua nggak bisa Dul, mencari uang sebesar itu.”
“Gampang deh, Lihar. Elo cari duit Rp 50.000,- nanti separuhnya biar gua yang nalangin. Mau nggak?” Adul nampak antusias sekali. Mungkin dia sudah bosan hidup di Sawangan yang kerjanya kadang ada, kadang tidak ada. Selingan pekerjannya pun tak menghasilkan uang, misalnya mengajar ngaji anak-anak di rumahnya. Ya, dari pada nggak ikhlas, mendingan niat beramal aja deh, dapat pahala, begitu katanya satu ketika.
Sebelumnya Adul memang pernah bekerja di Bandung, dan tinggal menumpang di rumah saudaranya. Di sana ia bekerja serabutan, dan pada malam harinya mengajar anak-anak mengaji di musolah lingkungan rumah saudaranya. Setelah kerja serabutan sepi, Adul kembali ke Sawangan. Selama di Bandung jika diperhitungkan sudah jalan 8 bulan. Itu pun diselingi pulang 2 minggu sekali, dan bertemu denganku jika aku juga libur bekerja.
“Bagaimana Lihar?” Adul bertanya lagi, penasaran.
“Oke deh, Dul! Tapi gua harus bilang dulu ama nyokap, siapa tau nyokap setuju, dan bisa memberikan jalan keluar.” Kataku.
“Sip deh.” Adul mengangguk lega.
Ibu ternyata tidak melarang tentang keinginanku itu, karena ibu memang berharap agar anak-anaknya punya pengalaman yang berarti dalam kehidupannya. Tentu saja dengan setujunya ibu akan rencanaku, membuat hatiku gembira. Ditambah lagi, katanya ibu bersedia untuk menyiapkan uang keperluanku. Maka dari itu ibu dengan senang hati menjual mesin jahit kesayangannya. Kemudian hal itu kuceritakan kepada Adul, dan dia sangat gembira mendengar kabar dariku.
Sore hari kami berkumpul di rumah Adul. Di sana bibi Ai hadir, karena memang dia orangnya yang akan mengajak kami merantau ke Malaysia. Harapan kami akan mendapatkan pekerjaan yang layak, dan menghasilkan uang banyak. Dan konon bibi Ai sudah sering bolak-balik Indonesia – Malaysia. Bahkan ia telah atau pernah kawin dengan orang sana, yang kemudian membuahkan seorang putri bernama Irma. Kini Irma hadir ada di antara kami, di Sawangan – Depok.
“Bumi serius mau ikut?” Tanya bibi Ai, entah pertanyaan ini sudah yang keberapa kali. Bi Ai menyebut nama depanku, karena nama panjangku adalah Bumi Suburi LH. Dan LH itu singkatan dari nama ayahku, Limo Hartono. Maka dari itu aku lebih senang dipanggil Lihar, singkatan nama ayahku.
“Iya, Har… kamu harus ikut, untuk menemani Heri di Malaysia.” Ibu Unah menimpali, ia adalah ibunya Adul, dia memanggil Adul dengan sebutan Heri, karena nama lengkap Adul adalah Heri Abdulah. Melihat keseriusan mereka, aku tersenyum sambil berkali-kali menganggukkan kepala.
“Nah kalau memang bersungguh-sungguh, kita persiapkan bekal selama tiga hari sebelum saatnya kita berangkat.” Kata bibi Ai sambil membetulkan letak jilbabnya yang mulai agak miring.
“Sebelumnya, besok Bibi akan mengajak Irma jalan- jalan ke kebun binatang Ragunan. Soalnya kasihan, nanti dia kan bakal ditinggal lama.” Bibi Ai berhenti sebentar melihat ke arahku dan kepada Adul. “Bumi ama Heri mau ikut?” Dan penawaran yang mendadak itu membuat aku dan Adul saling pandang.
“Ikut aja, Har.” Kata Adul antusias. “Gimana ya …” Aku berfikir ragu-ragu.
“Nggak usah dipikirin Har, ayo ikut aja.” Kata Adul dengan maksud aku tidak perlu berfikir lama. Akhirnya aku mengiyakan. Menurut Adul ia juga akan mengajak Ade, seorang gadis yang baru gede, anak tetangga.
Selepas waktu magrib, Adul mengajakku ke rumah Ade. Maksudnya adalah ingin mengajak Ade ke Ragunan. Hanya yang berat Adul mengatasnamakan aku; yang mengajaknya. Apa boleh buat aku mengangguk walaupun berat.
“Boleh aja, tetapi kalau bawa anak orang harus ada tanggung jawabnya lho.” Kata Ibu Ade yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Hebring - tertawa girang, lalu ia menatap anak kesayangannya. “Gimana De, mau nggak kamu diajak pergi sama Bang Lihar?” Dan benar-benar tak mengerti dengan jalan fikiran Adul; dia yang ngajak kok aku yang disebut, ya, apa boleh buat lah.
“Diajak ke mana, Mak?” Si Ade bertanya, saat itu ia mengenakan jilbab warna merah jambu. Roman wajahnya memang malu-malu kucing.
“Kamu mau diajak Bang Lihar ke kebun binatang buat ngeliat uwanya, kamu mau nggak?” Ibu Hebring cengar-cengir memperhatikan anaknya yang menggulung-gulung ujung bajunya. Dan Ade dengan pelan-pelan mengangguk.
Pada hari yang ditentukan kami pergi ke Ragunan, kata Adul sih, untuk merayakan perpisahan dengan adiknya Nurmah karena bakal ditinggal lama pergi ke Malaysia. Dan aku mengajak adikku Alwi yang baru kelas 1 SD. Kukatakan kepada ibuku, kami ke Ragunan untuk menemani Bi Ai yang mengajak anaknya, Irma. Sesekali mumpung masih ada waktu dua hari sebelum bertolak ke Malaysia.
Dengan menumpang Angkot kami menuju Depok. Bibi Ai berencana naik kereta listrik sampai Pasar Minggu, katanya Irma belum pernah naik kereta. Tentu saja kami semua setuju. Di stasiun aku segera membeli karcis 4 lembar, karena Alwi, Irma, dan Nurmah belum layak untuk membayar karcis.
Setibanya di kebun binatang Ragunan Alwi berjingkrak-jingkrak riang, Nurmah dan Irma juga bersikap sama. Hanya Ade yang menahan kegembiraannya, yang jelas di wajahnya tampak berseri dan kemerah-merahan. Terlihat di bibirnya selalu melukiskan senyum yang simpatik.
Kami mencari tempat berteduh, dan membuka bekal makanan di sana, karena Nurmah dan Irma sudah ribut mau makan dan minum. Setelah perut kenyang kami berkeliling melihat-lihat aneka binatang yang berada di sana. Kadang tanpa kusengaja aku membimbing lengan Ade, dan sepertinya ia tidak menolak. Meskipun kadangkala ia tidak mau dibimbing, aku cukup mengerti. Toh, antara dia dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Cuma kalau aku acuhkan dia akan segera memegang bajuku. Akh, aku malas untuk berpikir macam-macam. Mungkin dia takut terpisah saja.
“Bang, Alwi lapar.” Tiba-tiba kudengar suara adikku yang lagi memegang perutnya yang kukuruyuk. Lalu kulihat bayangan matahari sudah berada di pusat kepala. Waduh, tanpa terasa kami sudah setengah hari berkeliling. Saat itu kami tepat berada di kandang jerapah, tampak olehku Ade tengah tertawa berseri memperhatikan anak jerapah yang lemah dan lucu.
“Sebentar dulu, ya Alwi.” Kataku kepada adikku.
“Lho, Alwi sudah lapar ya?” Rupanya Bibi Ai tahu akan gelagat adikku, “Sama Bibi juga sudah lapar.”
“Kita makan bakso aja yuk.” Ajak Adul seketika, dan semuanya setuju. Maka kami bergegas meninggalkan kandang jerapah, tetapi baru beberapa langkah kami berjalan, seorang tukang potret keliling menghadang kami.
“Potret langsung jadi Mbak, buat kenang-kenangan kebun binatang.” Tukang potret langsung menawarkan jasa foto kepada Bibi Ai.
“O ya?” Bibi Ai menatap aku dan Adul bergantian, maksudnya minta pendapat kami. Adul langsung setuju, dan langsung bertanya, “Harganya berapa, Bang?”
“Rp 2000,- saja, hm, di mana fotonya?”
“Bagaimana kalau Rp 1500,- Bang.” Bibi Ai mencoba menawar harga.
“Nggk bisa Mbak, ini saja sudah yang paling murah.” Sahut tukang potret dengan pasti. Lalu tawar-menawar terus terjadi, tetapi si tukang potret tetap pada pendiriannya, harganya tidak dapat diganggu-gugat. Akhirnya untuk berfoto-ria jadi batal.
Kami melanjutkan ke kedai bakso untuk megisi perut yang lapar. Bibi Ai duduk satu meja dengan Adul, sedang kan aku duduk berdua dengan Ade. Anak-anak yang lain duduk meriung sambil bercanda dan makan bakso dengan lahapnya.
“Ade.” Aku membuka percakapan, “Abang mungkin akan ikut Bi Ai ke Malaysia.” Ade menengadahkan wajah, ia masih asyik mengunyah bakso dengan nikmatnya.
“Ke Malaysia? Memangnya ada apa di sana, Bang?” Dengan polos Ade bertanya. Agaknya ia belum mengerti tentang Malaysia.
“Abang mau kerja di sana.” Kataku.
“Jadi Abang nggak kerja di Jakarta lagi?”
“Nggak.”
“Memangnya kerja di Malaysia enak Bang?” Tanya Ade lagi.
“Tau juga deh, yang pasti sih Abang mau mencari pengalaman lebih dulu. Siapa tau nasib Abang memang berada di sana.” Kataku sambil menatap wajah Ade lekat-lekat, yang ditatap menunduk.
“Hu..” Tiba-tiba Ade mencibir, “Paling-paling Abang akan dapat pacar di sana.” Katanya terus menunduk, karena ia mengunyah bakso agar tidak terlihat, atau dia malu karena terus kutatap. Akh, itu dugaanku kok.
“Lho, kalau Abang dapat pacar di sana, lalu yang di sini mau dikemanakan?” Ujarku sambil bercanda, entah apa maksudku.
“O iya, memangnya pacar Bang Lihar siapa sih?” Tanya Ade polos dan lugu.
“Kok Ade nggak tau?” Aku balik bertanya.
“Iya, nggak tau.” Sahut Ade polos.
“Hm,” Aku menatap Ade, dan yang ditatap tak berani balas menatap, ia bahkan menunduk dengan malu .“Pacar Abang sekarang nggak jauh dari sini.” Kataku, dan aku sendiri heran kenapa aku berkata demikian.
“Siapa?”
“Ade.” Jawabku singkat. Seketika dia memukul tanganku pelan-pelan saja.
“Lho.. Ade, kenapa?” Betapa aku terperanjat.
“Ade malu.. Ade kan masih kecil, kata Emak belum boleh.” Kata Ade dengan suara yang merajuk.
“Oh iya.. iya.. Abang cuma bercanda kok.” Kataku mencari alasan, yang pasti dalam hati, aku memang tidak sungguh-sungguh. Ah, mungkin aku terlalu naif karena memikirkan kata-kata Adul yang menteror aku, bahwa Ade itu pantas untukku. Walaupun bergurau aku menjadi tak enak hati. Kemudian Ade berdiri, ngambek atau memang baksonya sudah habis?
“Mau kemana sih, De, kan teh botolnya belum diminum?” Aku lalu menyuruhnya duduk kembali.
“Habisnya Bang Lihar ngeledekin sih.” Katanya sambil duduk kembali.
“Iya deh, Abang sekarang diam.” Janjiku sambil tersenyum, isi teh botol langsung kuhabiskan sekaligus.
Kulihat Adul berdiri, berjalan, dan menghampiriku. “Har, sudah?” Maksud Adul sudah makan baksonya. Tentunya bukan sudah begono-begini dengan Ade.
“Sudah, Dul.” Jawabku sambil mengeluarkan kocek dari sakuku, “Nih, uangnya bayar sekalian ke kasir, kami bertiga.” Adul menerima uang pemberianku, lalu dia memperhatikan Ade yang sedang memberengut.
“Lo apain si Ade, Har?”
“Nggak.” Sahutku. “Mungkin dia lagi kekenyangan, lihat aja roman mukanya merah dan kepedasan.” Dan tidak kusangka kata-kataku itu membuat Ade tersenyum.
“Habis kesel ama Bang Lihar, ngeledek melulu sih.” Begitu katanya.
“Iya deh, terusin Har.” Kata Adul penuh pengertian, lalu ngeloyor ke kasir. Tinggal Ade yang berteriak-teriak kesal, “Hu, Bang Adul…!” Gerutunya.
Setelah urusan kasir beres, kami bergegas meninggalkan kedai bakso yang ramai itu. Di perjalanan Adul melihat ke kiri dan ke kanan.
“Cari apa, Dul?” Tanyaku.
“Nurmah ?”Jeritnya, “Nurmah ke mana?”
“Apa? Oh, Iya?” Bibi Ai terkejut, dan langsung menengok ke sekeliling. Aku melakukan hal yang sama, tetapi tak ada Nurmah yang kulihat. Yang ada Cuma Irma, Alwi, dan Ade; yang kelihatan kebingungan.
“Irma, ke mana Nurmah ?” Bibi Ai setengah berteriak bertanya kepada anaknya.
“Tau, Mi.” Irma menggelengkan kepalanya, “Tadi Nurmah jalan duluan.” Seraya menujuk ke arah muka, dimana ia berdiri.
“Gawat! Saya harus menyusul ke sana.” Adul langsung berlari ke arah dimana Irma tadi menunjuk. Aku dan bibi Ai saling pandang; kenapa Nurmah bisa terpisah begitu? Namun belum lama berselang Adul sudah kembali lagi, dengan tangan kosong; tanpa Nurmah di sampingnya.
“Bagaimana nih, Bi? Nurmah hilang!” Adul Panik bukan main. Melihat Adul demikian, aku menarik napas dalam-dalam sambil berpikir.
“Tenang, Dul.” Kataku dengan tenang. “Sekarang kita bagi tugas mencari Nurmah. Lo ama gua mencari Nurmah ke arah timur, sedangkan Bibi Ai dan Ade ke arah barat. Bagaimana?”
“Baik, itu ide yang bagus.” Bibi Ai menimpali dengan antusias. Adul pun menyetujui usul itu, agaknya dia memang sudah tidak dapat berfikir lagi. Wajahnya tampak pucat, ia jadi ingat pesan ibunya tadi ketika masih di rumah. ‘Mak, Nurmah hilang,’ gumamnya.
“Nanti setengah jam kemudian, kita kembali lagi bertemu di sini. Jika Nurmah tetap tidak dapat kita temukan, terpaksa kita harus lapor kepada petugas.” Begitu kataku selanjutnya. Setelah cukup dengan keteranganku, Bibi Ai, Ade, dan Irma bergegas menuju ke arah timur. Sedangkan aku, Adul, dan Alwi menuju arah yang berlawanan.
Dalam tugas mencari anak hilang memang tidak segampang apa yang diangankan. Apalagi suasana lebaran ini begitu banyak pengunjung, mataku yang liar melihat anak-anak kecil yang bermain di sana-sini sangat melelahkan. Yang pasti aku berharap di antara anak-anak kecil yang sedang bermain-main itu ada terdapat Nurmah. Tetapi harapan tinggal harapan, setengah jam berlalu Nurmah belum kami temukan.
“Bagaimana nih, Lihar?” Adul tampak putus asa. “Kalau Nurmah benar-benar hilang, celakalah gua. Kita tidak bisa pulang tanpa membawa Nurmah, salah-salah nyokap di rumah malah ngamuk.” Suara Adul terdengar bergetar, matanya yang memakai kaca mata minus semakin mengecil; berkeliling mencari-cari.
“Sabar, Dul.” Kataku menyabarkan, “Kebun binatang ini kan nggak begitu luas, gua rasa Nurmah akan dapat kita temukan.” Aku sekadar menghibur, dengan harapan ucapanku menjadi kenyataan. Namun waktu terus bergulir, Nurmah tetap saja tidak nampak batang hidungnya.
“Adul, ayo kita kembali ke tempat semula, kita sudah setengah jam lebih. Mungkin Bibi Ai sudah menunggu di sana.” Kataku sambil melihat jam tanganku.
“Ayo Har.” Suara Adul lemas, “Kita harus lapor petugas.”
“Ayo.” Aku setuju saja.
Dengan bergegas kami kembali ke tempat dimana tadi kami berpisah dengan Bibi Ai. Dan dari kejauhan aku sudah melihat keberadaan Bibi Ai, yang matanya seperti mencari- cari sesuatu di depan. Ketika dia melihat kami, langsung ia melambaikan tangannya. Serentak kubalas lambaian tangannya itu. Adul diam saja, malah ia mempercepat langkahnya.
“Kita harus cepat lapor kepada petugas, Har!” Adul berambisi sekali untuk itu. Sepertinya ia hendak menangis. Tapi, ada hal yang membuat aku tersentak tak percaya, mataku terbeliak demi melihat siapa yang berada dalam bimbingan Bibi Ai.
“Tunggu, Dul, lo jangan buru-buru ngelapor!” Kataku tertahan, “Lihatlah itu!” Aku menunjuk Bibi Ai yang sedang berjalan ke sini di tengah-tengah keramaian manusia.
“Nurmah?!” Suara Adul tertahan, dan langsung lari menubruk Nurmah. Yang ditubruk diam saja, tampak wajahnya yang sembab bekas menangis. “Nurmah, Nurmah, nyusahin orang banget sih lo!” Melepas pelukannya sambil mengomel.
“Di mana ketemunya, Bi?” Tanyaku kepada Bibi Ai, seraya tanganku mencubit pipi Nurmah lembut.
“Syukur banget, deh.” Bibi Ai tampak berseri-seri.
“Untung Bibi tadi sempat melihat Nurmah berlari-lari mengejar orang berjilbab di depannya. Mungkin disangkanya orang berjilbab itu Bibi.”
“Oh, begitu...” Aku mengangguk-angguk dan mengu- capkan syukur ‘Alhamdullillah’.
“Hu, makanya kalau jalan lihat-lihat dulu…!” Adul menggamit Nurmah dengan gemas. “Coba kalau hilang, bagaimana? Bisa jadi empan macan nanti.”
“Aaang…” Nurmah merengek sambil memukul-mukul pinggang abangnya.
“Sudah, yang penting sekarang kita bersyukur, Nurmah sudah kembali kepada kita.” Kata Bibi Ai menyarankan agar Adul jangan marah-marah. Kalau dibiarkan terus, nanti Nurmah malah stress. “Sekarang Nurmah jalannya dituntun aja ya, sama Bang Adul, agar jangan terpisah lagi.”
“Iya, memang bandel ini anak.” Adul mengomel lagi, tetapi kali ini nadanya tidak tinggi seperti tadi, lembut gitu. Wajah Adul pun sudah terlihat cerah. Kami semua tersenyum dengan hati yang lega.
“Bang,” Alwi membuka suara, “Katanya mau ngeliat buaya.”
“Iya, buaya.” Ade menyambung, setuju. Dan yang lain pun setuju.
“Ayo deh kita keliling lagi.” Kataku gembira, lalu kembali kami berkeliling, melihat-lihat binatang yang tadi belum sempat kami lihat, termasuk buaya dan pak Aya. Kok ke situ? Selintas bayangan negeri Malaysia terlintas di hatiku, esok aku akan ada di sana.
***
Diskusi
0 Komentar