Di rumah Adul tampak suasana lengang, anak-anak kecil yang biasanya berkumpul kini bermain-main di tempat lain. Ibu Unah sedang sibuk sendiri membereskan rumahnya yang tadi berantakan, karena anak-anak sempat berkumpul sebentar di rumahnya. Fitri, anaknya yang perempuan turut membantu Ibu Unah, dengan membersihkan lantai.
“Assallamuallaikum….” Terdengar seorang bapak memberi salam. Fitri yang sedang sibuk dengan kain pelnya menjawab salam tamunya. Lalu ia membuka pintu.
“Emak ada , Fit?” Tanya tamu itu sambil tertawa lebar.
“Ada di dalam, Pak Amat..” Rupanya Fitri mengenali tamunya. Sambil tersenyum, Fitri pergi ke belakang dengan membawa ember dan kain pelnya. Tak lama kemudian muncul Ibu Unah.
“Oh , Pak Amat , apa kabar?” Ibu Unah menyapa dengan ramah. Pak Amat tersenyum dan mengajak bersalaman dengan mengucapkan ‘lebaran’. kemudian Pak Amat duduk tanpa dipersilakan lagi. Sementara di meja sudah tersedia makanan lebaran.
“Mau kopi Pak Amat?”
“Nggak usah.” Kata Pak Amat basa-basi. Dan ia membiarkan Ibu Unah menyediakan segelas air putih.
“Saya dengar Heri Abdulah mau pergi ke Malaysia?” Pak Amat mengawali percakapan ketika Ibu Unah duduk.
“Iya benar… dia mau pergi bersama si Ai, katanya sih Bumi mau ikut.” Kata ibu Unah bersemangat. “Untuk pengalaman saya setuju jika dia mau pergi ke sana.”
“Oh, sama anaknya Mpok Marisa?” Ibu Unah mengangguk mendengar tebakan Pak Amat. “Hm, si Ai itu apa sudah sering pergi ke Malaysia?” Selanjutnya Pak Amat bertanya, kembali Ibu Unah mengangguk. “Iya, dia memang sudah mempunyai pengalaman hidup dan berkerja di Malaysia. Bahkan dia sempat kawin dengan orang sana dan punya anak.”
“Hm, saya jadi tertarik pergi ke Malaysia.” Wajah Pak Amat berbinar.
“Apa? Pak Amat berminat ikut ke Malaysia?” Ibu Unah agak sedikit heran.
“Iya saya ingin sekali bekerja di Malaysia, sebab hidup di Sawangan saat ini susah sekali untuk mencari pekerjaan. Apalagi anak-anak saya sudah besar, dan banyak membutuhkan biaya buat sekolahnya. Siapa tahu setelah saya bekerja di Malaysia, kebutuhan anak-anak dapat terpenuhi.”
Pak Amat sebetulnya seorang guru SD dan SMP di Jakarta. Dulu semasa mengajar hidupnya sangat berkecukupan. Dengan mengajar itulah dia dapat menghidupi keluarganya, istri dan kelima anaknya. Bahkan Pak Amat pernah mencapai puncak kejayaannya saat ia memangku jabatan kepala sekolah. Tetapi semenjak menjadi kepala sekolah, Pak Amat dinilai tidak jujur oleh pemerintah, maka dari itu ia dipecat dengan tidak hormat. Pak Amat terbukti melakukan korupsi di sekolah. Dan semenjak dirinya dikeluarkan dari kepegawaian, bahkan nomor NIP-nya dicoret, kehidupan Pak Amat jadi tidak menentu. Istrinya yang dulu setia, mulai meninggalkannya. Dan minggat jauh ke luar negeri, ke Saudi Arabia menjadi TKW.
Mengetahui kenyataan itu Pak Amat menjadi sedih dan terpukul. Namun ia tidak putus asa, malahan ia berlari ke sana-sini berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Pada akhirnya pekerjaan serabutan dilakukan oleh Pak Amat, ia tidak perduli dengan kotornya debu, pasir, dan lumpur. Yang penting ia dapat menghasilkan uang dengan halal. Apakah Pak Amat insyaf? Menurut pak Amat memang ia selalu mencari uang dengan cara halal, jika dituduh korupsi itu adalah fitnah. Begitulah katanya jika ada orang yang menanyakan perihal tersebut. Disamping itu ia sedang berusaha mengembalikan kepercayaan anak-anaknya yang memang sudah tidak memercayainya lagi. Bahkan anak-anaknya sudah berani menuduh, bahwa ia telah menyebabkan ibunya pergi. Pak Amat cuma dapat menarik nafas panjang, kemudian ia menjalani hidupnya sendiri dengan tabah sekali.
Aku dan Adul sangat terharu ketika Ibu Unah menceritakan tentang riwayat hidup Pak Amat. Tetapi kami juga gembira setelah mendengar tentang keinginan Pak Amat untuk ikut serta ke Malaysia.
“Wah, asyik kalau Pak Amat mau ikut kita.” Begitu komentar Adul dengan gembira. Akupun turut mengangguk-angguk. Di depanku tampak Nurmah berjalan hilir-mudik dengan mainannya, kelelahan kemarin di Ragunan tidak dirasakannya.
“Iya, Ncang senang sekali kalau Heri dan Bumi berangkat sama Pak Amat.” Kata Ibu Unah . ‘Ncang’ itu adalah panggilan ibu gede.
“Emak, kalau dengan Pak Amat, saya enggak ragu lagi.” Kata Adul bersemangat ditujukan kepada ibunya.
“Alaah, lo sekarang girang, kemarin Nurmah hampir dibikin hilang.” Timpal Ibu Unah sambil tersenyum berkelakar.
“Akh, itu kan salah Nurmah sendiri. Kenapa dia jalan duluan?” Nurmah yang mendengar namanya disebut-sebut cuma tertawa kecil, maklum anak kecil. Sekarang ini perasaannya sudah biasa-biasa saja.
“Bi Ai , sekarang di mana, Mak?” Tanya Adul. “Ke ru mah Wa Jaim, tadi ngajak Irma.”
“Dia sudah tahu tentang Pak Amat?”
“Sudah.”
“Bagaimana tanggapannya?”
“Dia senang sekali.”
“Asyik, Har... kita dapat teman lagi.” Adul berkata dengan gembira kepadaku. Ibu Unah kemudian pergi ke ruang belakang. Sedangkan Nurmah dijemput teman- temannya bermain rumah-rumahan.
Aku dan Adul keluar menuju rumah Ade. Ibu Hebring menyambut kami dengan tertawa gembira. Dia duduk di hadapan televisi sambil membereskan sesuatu.
“Hm, yang mau ke Malaysia.. gelisah terus ya..” Ibu Hebring menggoda kami.
“He he he..” Adul tertawa, “Ade ke mana?”
“Lagi nganterin es ke warung.” Kata Ibu Hebring, “Tuh ada Apen, kakaknya Ade.”
“Bang Lih main?” Apen langsung menyapaku.
“Iya ... Pen.” Aku menyahut.
“Kapan berangkat?” Tanya Ibu Hebring kepada kepada kami. Kulihat Apen langsung pergi ke belakang.
“Rencananya besok, Bu.” Jawabku.
“Iya rencananya kami mau pamit sekarang, takut besok nggak sempat.” Adul menyambung. “Tapi Ade..”
“Huss..” Aku menutup mulut Adul. Aku takut menjadi gosip yang tak karuan kalau dibiarkan.
“Apa?” Ibu Hebring kurang perhatian atas perkataaan yang diucapkan Adul.
“Oh, nggak..” Sahutku cepat, “Nggak ada apa-apa.”
“Ya, udah, Ibu doakan agar kalian berdua sampai di tempat dan pulang dengan sukses.”
“Terima Kasih atas doanya, Ibu.”
Sehabis dari rumah Ade, aku langsung pulang ke rumah dan berbaring di kamarku. Dan aku masih bertanya-tanya dalam hatiku. Apakah pantas bersanding dengan Ade? Kurasa itu bisanya Adul saja. Akh, lamunanku pun berubah, kini aku ada di Malaysia. Di sana aku telah sukses, lalu aku mendapatkan seorang gadis Malaysia yang berhijab. Dia cantik melebihi kecantikan Ade. Tetapi lamunanku terputus, karena ibuku datang menghampiriku.
“Kapan berangkat?” Ibu bertanya.
“Mungkin besok Mak, katanya sih, Pak Amat mau ikut.”
“Iya…. Emak sudah dengar dari Cang Unah pagi tadi.” Kata Ibu. “Dan menurut Emak itu bagus. Dengan adanya orang tua perjalananmu nggak bikin Emak kuatir.”
“Iya Mak, saya juga senang Pak Amat mau ikut. Soalnya dia itu orangnya lucu sekali, dan sangat menyenangkan.”
“Tapi ingat di negeri orang jangan sekali-kali meninggalkan sholat. Dimana kita berada, kita tidak boleh meninggalkan ibadah.” Kata Ibu mulai menasehatiku. Aku mengangguk-angguk mengerti.
Tiba-tiba muncul adikku perempuan yang bungsu bernama Anggi. Matanya yang sipit melihat kepadaku, di tangannya menggenggam kue yang enak. Lalu ia tertawa memperlihatkan kuenya. Aku berjongkok di hadapannya, seraya mengusap-usap rambutnya.
“Anggi nggak boleh nakal ya. Nanti kalau Abang pulang dari Malaysia, Abang bawain oleh-oleh buat Anggi.” Begitu kataku sehingga adikku yang baru berumur 5 tahun itu tertawa.
Sore hari kami berkumpul di beranda rumah Adul . Disana hadir Pak Amat, Bibi Ai, Ibu Unah, Pak Madi, dan Harun. Anak-anak kecil bermain di luar .
“Sekarang kalian harus nyiapin segalanya. Pakaian nggak usah dibawa banyak-banyak. Dan jangan lupa bawa sarung.” Kata Ibu Unah di tengah-tengah percakapan .
“Saya sih sudah siap semuanya.” Kataku .
“Bagaimana Ai, apa besok kita mampir dulu ke Cibitung?” Pak Amat bertanya kepada Bibi Ai .
“Betul Pak Amat, justru kita harus menginap semalam di sana.” Begitu kata Bibi Ai. “Lagi, Irma harus tetap tinggal bersama neneknya di Cibitung.”
“Pak Amat titip Heri.” Kata pak Madi. “Badannya memang besar, tetapi jiwanya masih terlalu kecil.” Yang lain tertawa mendengar ucapan Pak Madi.
Semua orang yang hadir dalam ruangan itu berbicara, kecuali Harun yang tertawa-tawa saja, karena dia sedang asyik dengan mengarsir wajah di atas kanvas. Harun dikenal memang jago melukis.
Keesokan harinya aku bangun, langsung mandi. Rupanya Ibuku sudah terlebih dahulu bangun ia sedang membungkus-bungkus sesuatu, sementara aku langsung sholat Subuh. Bapakku bangun berikutnya, ia pun langsung ke kamar mandi, diikuti Alwi yang sudah kelihatan rajin. Sementara Dani masih terlihat tidur. Setelah beres aku menghampiri Ibu.
“Mak, sudah siap semuanya?” Tanyaku.
“Sudah,” Sahut Ibu, “Oh ya, ngomong-ngomong nanti mau mampir ke Bekasi ya?”
“Iya Mak, malah kita harus menginap semalam di sana.” Kataku menjelaskan. Ibuku mengangguk, tanda ia menyetujuinya.
Ketika aku memakai sepatu, Yanah dan Yati bangun. “Bang, mau berangkat sekarang?” Terdengar suara Yanah.
“Iya, Yan. Nanti di rumah jangan nakal ya kalau enggak ada Abang. Yati juga lho.” Kataku berlagak menasehati kepada kedua adikku yang cantik-cantik itu. Mereka menganggukkan kepala tetapi roman wajahnya terlihat sedih. Mungkin sedih karena abangnya mau pergi jauh.
“Sama Geri sudah bilang?” Ibu bertanya lagi . “Sudah, kemarin!”
“Sekarang dia ada di mana?”
“Dia tidur di Cobra.” Sahutku. Cobra itu adalah nama pemancar radio AM. Dan yang merakitnya adalah Geri itu sendiri; adikku nomor dua. Konon penggemar Cobra AM lumayan banyak. Aku sendiri pernah siaran di sana mempunyai penggemar cewek yang khusus, sampai-sampai aku dikejar-kejar lantaran hutangnya belum dikembalikan, lho…. kok jadi ngawur ke situ?
“Mak saya pamit.” Setelah beres semuanya aku mencium tangan Ibuku. Yanah dan Yati mencium tanganku, kemudian Bapak menghampiriku.
“Hati-hati,” Katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Iya Pak,” aku mencium tangannya, dan aku mengusap-usap kepala Alwi, “Alwi, jangan nakal, ya…” Kukatakan begitu Alwi mengangguk-angguk nampak roman wajahnya sedih. Kulihat sekeliling Dani tidak ada di tempat, mungkin masih tidur di kamarnya.
“Assalamualaikum.” Aku pamit memberi salam.
Serempak mereka menjawab salamku. Mereka memandang kepergianku dengan linangan air mata, tak terasa mataku pun basah.
***
Diskusi
0 Komentar