Jika kuingat-ingat peristiwa lalu agaknya aku merasa malu, mengapa tidak? Aku mencintai seorang dara, namun hatiku bisa tertutup dengan cinta yang lain. Sehingga aku memaksakan diri untuk tetap dicintai dengan cara apa pun. Pada akhirnya aku menyadari, bahwa itu adalah aturan yang di atas, dimana aku tidak boleh memaksakan kehendak. Aku kini pasrah saja pada yang telah terjadi.

Seperti minggu ini aku sendiri di rumah. Aku pun tak dapat memastikan ke mana acaraku hari ini. Dadun yang sudah kuanggap saudaraku kini telah keluar rumah dengan acaranya, meskipun secara basa-basi ia sudah mengajakku. Aku memang dengan halus menolaknya, karena aku tahu, itu adalah acara khususnya sebab sebelumnya dia bilang ingin ada suatu urusan. Di kamar ini aku terus berfikir, mau ke mana malam minggu ini? Aku benar-benar menyadari atas kejombloanku kali ini. Betapa sepinya hatiku. Lalu niatku ingin main ke kontrakan Om Joni, namun aku teringat ucapannya tempo lalu, bahwa hari minggu ia akan mengantarkan saudara Pak Mamat ke Ciawi.

Aku menjadi pusing sendirian, lalu untuk menghilangkan kebosanan aku membaca koran dengan ditemani kopi di beranda rumah. Kebetulan pagi ini Itoh mengantarkan goreng singkong untukku. Sebatang rokok Garfit aku hisap. Aku menjadi tersenyum geli bila mengingat aku merokok sambil menghembuskan asapnya ke wajah seseorang. Ah, lagi-lagi aku ingat itu. Aku menjadi malu, sekaligus berdosa karena aku telah memercayai hal yang mistik. Betapa cinta telah menggelapkan mata hati.

            Setelah kopiku habis, dan rokokku tidak tersisa lagi. Aku beranjak meninggalkan rumah dengan tujuan membeli rokok di pertigaan Cinangka. Setelah itu aku berfikir akan melanjutkan pergi mencari suasana yang menyenangkan hati. Bisa saja aku pergi berjalan-jalan sendiri di danau Lido yang indah, bersilaturohmi ke rumah Jaka, atau mengunjungi ke rumah teman-teman yang lain.

            Di pertigaan Cinangka ada warung kecil penjual rokok, Aku membeli sebungkus rokok Garfit. Dengan uang sepuluh ribu aku mendapat kembalian tujuh ribu delapan ratus. Aku memasukkan rokokku dengan uang tersebut ke kantong celanaku. Sambil berjalan ke arah Cipetir aku melewati gang rumah Ina, kulihat ada seorang gadis berdiri menghadap ke arah gang. Tapi aku memang tidak memperhatikan gadis itu, sedang apa di sana, dan mau apa? Toh, aku memang tidak punya urusan dengan gadis itu. Sambil berjalan aku merogoh saku celanaku kembali, mengambil rokokku, membuka bungkusnya, dan melemparkan sebatang ke mulutku. Lalu kucari korek api di kantong yang lain. Tiba-tiba kudengar teriakan seseorang. “Mas.. mas..!” Aku menebak suara itu datang dari seorang gadis yang berdiri di mulut gang. Aku acuh saja, mungkin gadis itu memanggil orang lain.

            “Mas! Uangnya jatuh!” Terdengar suara itu lebih jelas lagi. Kali ini aku refleks menengok ke belakang, dan benar beberapa uang tercecer di belakangku. Rupanya uang kembalian tadi terjatuh ketika aku mengambil rokok.

            “Oh, terima kasih.” Dalam beberapa detik aku melihat gadis itu, dan secepat kilat kupungut uang yang tercecer itu. Setelah memungut uang tersebut aku kembali menoleh dan melihat gadis itu, Dan seketika ia tersenyum padaku. Aku dengan cepat membalas senyumnya itu. Masya Allah, tiba-tiba hatiku menjadi tersentak saat melihat jelas wajah gadis itu. Ya, wajah itu sepertinya pernah kulihat. Tapi di mana ya? Aku berfikir keras, tetapi tidak kutemukan jawabannya. Akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaran kuhampiri gadis itu.

            “Ceu, eh Teh, terima kasih ya sudah ngasih tau.” Dengan perasaan tak menentu aku mengucapkan terima kasih, dan kini wajahnya semakin jelas kulihat. Dia tampak tersenyum dengan ramah sekali. Dan keramahannya itu membuat aku suka. Sambil tersenyum kuperhatikan wajah cantik itu. Benar! Wajah itu memang pernah kulihat. Wajah seorang gadis yang cantik bak bidadari. Namun aku sulit untuk mengingatnya, di mana dan kapan aku pernah bertemu dengannya? Kudengar gadis itu menyahut, “Sama-sama, Mas. Kebetulan saja aku melihatnya.” Gadis itu ketika kutatap menjadi tersipu-sipu, sepertinya ia malu saat kupandangi seperti itu. Aku jadi tak enak hati, dengan refleks kulempar pandangan ke arah lain, sambil bertanya, siapa namanya.

            “Nama aku Iin.” Katanya dengan suara lembut menyebutkan namanya, Nama yang disebut pendek saja. Dan ia berjabatan tangan denganku sebagai tanda perkenalan. Lalu aku menyebutkan namaku, “Namaku Lih, Lihar.”

            “Mas Lihang?” Lagi-lagi ia tersenyum lebar, ia menyebut namaku. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya geli, tetapi aku tidak tahu apa yang lucu? Aku pun ikut tersenyum.

            “Lihar, pake r. Bukan ng.” Aku meralat ucapannya.

            “Mas Lihar?” Kata Iin sambil mengangkat alisnya, memastikan.

            “Jangan Mas, tapi Abang, Bang Lihar.” Kataku berharap agar ia tidak memanggilku dengan kata Mas.

            “Bang Lih...?” Gadis itu mengeja namaku singkat, aku mengangguk.

            “Boleh tau kenapa Eceu.. eh Teteh, hmm..?”

            “Nggak usah pakai Eceu atau Teteh. Cukup panggil saja Iin.” Kali ini gadis itu meralat panggilanku. Aku tersenyum dan mengangguk. “Oh, ya Iin? Hm, boleh tahu nggak kenapa Iin ada di sini?” Tanyaku.

            “Oh iya, aku baru saja menengok teman yang sakit, namanya Ina.” Jawabnya, “Tapi waktu kami pulang dan baru sampai di sini, Umi-ku kembali lagi karena ada yang tertinggal. Jadi aku lagi nunggu Umi.”

            “Jadi Iin nengok Ina bersama Umi?” Tanyaku mengambil kesimpulan.

            “Iya benar Mas, eh Bang.” Iin masih tampak kaku menyebut nama panggilanku.

            “Rumah Iin di mana?” Tanyaku selanjutnya.

            “Di Cibogo.” Sahutnya singkat.

            “Kenal Om Joni dong?”

            “Iya, Om Joni itu tetanggaku. Rumahnya dekat.” Mendengar jawabannya aku menganguk-angguk. Dalam hati aku berfikir, kenapa Om Joni nggak pernah cerita ya kalau ada tetangganya yang secantik ini. Seorang gadis dengan nama yang singkat ; Iin. Ah, sepertinya  nama yang singkat itu terasa indah di hatiku.

            “Iin saha?” Terdengar suara seorang perempuan bertanya pada Iin. Dan aku terkejut, karena perempuan paruh baya itu  sudah berdiri  di sebelah Iin.

            “Oh, ini  Bang Lih, Umi.” Jawab Iin kepada perempuan itu, yang ternyata ibunya. Aku mengangguk dan menjabat tangan Ibu Iin dengan sikap yang hormat. “Iya, nama aku Lihar, Bu.”

            “Oh, iya iya,” Ibu Iin mengangguk dengan sikap yang ramah, “Teman Iin ya?” Tanyanya.

            “Iya, Bu.” Aku mengiyakan saja.

            “Main atuh ke rumah.” Kata Ibu Iin dengan logat Sunda, mungkin berbasa-basi.

            “Iya, Bu, lain kali aku main.” Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kuperhatikan ibu dan anak sama cantiknya. Tak lama kemudian mereka pamit dengan menumpang ojek yang lewat. Sesaat kemudian tempat itu menjadi sepi. Namun aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja jantungku berdebar-debar. Seolah-olah wajah Iin telah menghujam di jantungku. Dan aku mencoba mengingat-ingat, kapan aku pernah bertemu dengan gadis itu? Rasanya aku pernah bertemu dan berbicara padanya. Tapi kapan dan di mana?

            Niat hari ini hendak jalan-jalan pun aku urungkan. Rokok ditanganku segera  kunyalakan. Lalu aku kembali ke Cinangka sambil membayangkan wajah Iin. Setibanya di rumah aku langsung merebahkan diri di kamar. Sambil rebahan kutatap langit-langit kamar, mengingat wajah Iin yang terasa sangat dekat dan tidak asing di hatiku.

            “Iin.. Iin..” Kusebut berkali-kali nama itu. “Benarkah sebelumnya kita pernah bertemu?” Selalu itu saja yang jadi pertanyaan dalam hatiku. Berulang-ulang, tanpa pernah ada rasa bosan. Lalu aku teringat Om Joni. Hm, ini dia ... Aku menjadi tersenyum sendiri. Kuanggap Om Joni satu-satunya orang yang dapat menjawab rasa penasaranku. Itu artinya, aku harus cepat-cepat bertemu dengan Om Joni. Tapi, kalau hari ini tentu tidak bisa. Jadi aku harus bersabar menunggu keesokan harinya.

            Ketika pagi tiba aku sudah rapi segalanya, dan berjalan ke kontrakan Om Joni. Ternyata tidak ada. Lalu aku berjalan menyusuri jalan Cinangka. Sesampai di pertigaan aku berbelok ke arah Cibogo. Biarlah aku pergi ke rumah Pak Mamat saja, ke rumah saudaranya Om Joni. Siapa tahu Om Joni sedang menginap di sana. Dan siapa tahu pula aku bisa bertemu kembali dengan Iin. Lumayan jauh memang, namun aku merasa sehat jika pagi-pagi berjalan. Seluruh tubuhku banyak mengeluarkan keringat. Namun ketika sampai di rumah Pak Mamat tidak kujumpai Om Joni. Hu, mana badan sudah letih. Aku tidak menemukan orang yang kucari. Aku kembali lagi dengan wajah kecewa. Sambil mataku melihat rumah-rumah di sekitar Pak Mamat. Rumah yang sebelah manakah yang ditinggali Iin? Aku menduga-duga rumah yang agak besar dan bagus. Atau rumah-rumah kecil yang berderet bagai bilik, karena masih dilapisi setengah tembok. Pada bagian atasnya dipasang pagar yang terbuat dari anyaman bambu. Ah, sulit sekali menebaknya. Aku tidak perduli, walaupun Iin anak miskin atau kaya, aku harus bisa mengenalnya lebih dekat.

            Beberapa saat aku melangkah di sebelah kanan atas, karena jalannya memang bagai bukit. Sebelah kiri jalan tampak daratan yang menurun, sebelah kanannya mendaki. Kulihat di atas sana ada jalan setapak yang mendaki, di atasnya ada sebuah warung makanan dan minuman. Aku singgah di sana memesan minuman, es sirop. Sedangkan makanan sudah tersedia dalam wadah, ditutupi plastik transfaran, yaitu beberapa jenis kue-kue basah dan beberapa gorengan. Saat aku sedang menikmati kue dan minum es sirop datang seorang paruh baya duduk di sebelahku.

            “Udud, Ceu.” Kata orang paruh baya itu kepada perempuan pemilik warung.

            “Mari, Pak.” Aku menawarkan makanan kepada orang tersebut. Orang tersebut mengangguk. Dan mengambil sebatang rokok yang disodorkan pemilik warung. Kulihat rokoknya Jarum Coklat. Lalu aku dengan cepat memberikan korek api.

            “Terima kasih, Jang.” Ia menerima korek api tersebut dan menyalakannya. “Jigana Ujang yang tinggal di Cinangka ya?” Orang tersebut meneruskan perkataannya.

            “Iya bener, Pak.” Sahutku dengan cepat.

            “Sedang apa Ujang di sini?” Tanya orang tersebut dengan ramah.

            “Aku dari rumah Pak Mamat, mau ketemu Om Joni eh ternyata orangnya nggak ada.” Kataku dengan ramah pula.

            “Hm, biasanya kan narik pasir?”

            “Iya, pasir teras kepunyaanku.” Memang aku selalu mengatakan teras itu kepunyaanku, pada hakekatnya pasir teras yang aku kelola, semua orang sekitar penggalian tahu, teras kepunyaan Pak Yatna. Namun jika ada orang bertanya kepada mereka, akan dijawab terasnya Lihar.

            “Oh, iya.. iya. Hm, dari Sawangan ya?” Orang itu mengangguk-angguk.

            “Cai Pak RT.” Ibu pemilik warung menyodorkan air teh buat orang tersebut yang ternyata adalah Pak RT.

            “Kopi ya, Pak RT?” Aku langsung menawarkan kopi kepada pak RT.

            “Mangga.. mangga..” Sahutnya, menyetujui. Lalu segera kupesan kopi.

            “Pak RT, kami memang dari Sawangan, dan aku tinggal di rumah Dadun. Sedangkan Pak Yatna, hanya sesekali datang menengok keadaan perusahaannya. O ya, Pak RT, nama ku....”

            “Lihar kan?” Sambar Pak RT dengan cepat. “Aku sudah tahu nama kamu, Jang, sejak kamu tiba di sini. Namaku RT Muhadi, biasa dipanggil RT Muh. Waktu Pak Yatna datang mencari tanah di Batukarut, waktu itu Pak Ading mengajakku. Jadi aku sudah kenal dengan Pak Yatna.” Mendengar cerita dari Pak RT Muh aku menjadi terkejut. Ternyata ia sudah mengenalku sejak awal. “Ooh.” Aku hanya bisa mengucapkan kata ‘oh’.

            “Tahu nggak, Jang? Waktu Pak Yatna memercayakan perusahaannya kepada Pak Ajat, sebetulnya aku sangat nggak setuju. Aku tahu, siapa itu Pak Ajat? Banyak orang yang kecewa kalau berurusan dengannya. Waktu itu aku dan Pak Ading sudah wanti-wanti.” Sambil bercerita Pak RT Muh menghisap dalam-dalam rokoknya. “Untung saja Pak Yatna membawa saudaranya dari Sawangan. Dan kedudukan Pak Ajat langsung digantikan oleh kamu, Lihar. Waktu itu aku dan Pak Ading merasa lega sekali.” Kata Pak RT Muh dengan wajah yang sangat gembira. “Ayo, Jang Lihar, singgahlah ke rumahku. Itu rumahku di atas nggak jauh dari sini.” Tangannya menunjuk ke atas, ke sebuah rumah yang terhalang oleh beberapa rumah di bawahnya.

            “Iya, Pak RT, nanti pasti aku akan mampir ke rumah Pak RT.” Kataku dengan perasaan senang. Tak lama kemudian kopi telah berada di hadapannya. Dan ia minum kopi itu dengan nikmat sekali. Selagi asyiknya kami menikmati suasananya, kulihat mobil yang kukenal lewat.

            “Om Joniii!” Aku memanggil dengan berteriak. Lalu aku berdiri dan berlari turun, kulihat mobil yang disopiri Om Joni tetap melaju. Aku berteriak-teriak di jalan, dan melambai-lambaikan tangan, namun mobil itu lenyap dalam pandangan karena jalannya memang berkelok-kelok dan menurun. Dengan kecewa aku kembali lagi berjalan ke atas.

            “Bagaimana, Jang Lihar? Berhenti dia?” Tanya Pak RT Muh.

            “Nggak, Pak RT Muh... jalannya terlalu cepat. Mungkin mau ke Cinangka dulu.” Kataku menduga. Kemungkinan ia ingin menjemput aku, Mang Dadun, dan Mang Pardi di sana. Setelah itu aku membayar minuman dan makanan. “Pak RT. Muh, aku pamit ya.”

            “Nggak mampir ke rumah dulu, Lihar?”

            “Lain kali aja, Pak RT.”

            “Makasih, Lihar, atas kopi dan rokoknya.”

            “Sama-sama.”

            Tepat saat aku berada di tepi jalan kulihat mobil Om Joni kembali lagi, dan berhenti tepat di sisi aku berdiri.

            “Maaf, Lih, Om tadi nggak dengar.” Katanya sambil membuka pintu mobil sebelah kiri. Dengan cepat aku mengangguk, dan bergerak masuk ke mobil, duduk di sebelah Om Joni.

            “Kok bisa balik lagi ke sini?” Tanyaku.

            “Tadi ada yang berteriak di depan, katanya Lihar memanggil. Lantas Om langsung putar-balik.” Kata Om Joni sambil tersenyum. “Tumben, Lih, pagi-pagi sudah berada di sini?” Sepertinya ia menjadi heran dengan keberadaanku sepagi ini sudah berada di Cibogo.

“Ada perlu yang ingin kusampaikan, Om.” Sahutku.

            “Lho, kan nanti juga kita ketemu. Tadi aja Om buru-buru ingin ke Cinangka.”

            “Ya, karena aku penasaran aja.” Kataku sambil tertawa, “Memangnya Om dari mana, kok nggak ada di rumah Pak Mamat?”

            “Kan sudah bilang Om ke Ciawi mengantarkan saudara Pak Mamat. Nah pagi ini baru pulang. Makanya Om buru-buru mau ke Cinangka.”

            “Oh.. iya.. ya..” Aku manggut-manggut. “Lupa...”

Kemudian dalam suatu persimpangan Om Joni memutar balik mobilnya menuju arah kembali ke Cinangka. Ternyata waktu bergulir sudah pukul 8.15 WIB,  padahal aku ke Cibogo pagi-pagi sekali. Ah, tentu saja, aku kan berjalan kaki dan mampir ke warung, dan ngobrol dengan Pak RT. Muh. Ketika tiba di pertigaan Cinangka, Dadun dan Pardi sudah menunggu dengan masing-masing membawa peralatan perangnya; Cangkul dan sekop. Beberapa detik kemudian kami sudah berada di penggalian Batukarut.

“O ya, tadi Lihar bilang ada sesuatu yang ingin ditanyakan, apa itu?” Tanya Om Joni di gubuk dekat penggalian. Aku menerawang sekejap, melihat keadaan sekitar. Pak Ading dan Mahmud yang sigap menggali teras. Dadun dan Pardi yang memuat teras. Dan beberapa orang yang lewat. “Begini, Om...” Aku sejenak ragu.

“Katakan aja, Lih.” Om Joni tahu akan keraguanku.

“Om kenal sama Iin?” Tanyaku lirih.

“Iin?” Om Joni seperti berfikir, “Hm, Indra barangkali? Anak Cibogo?”

“Indra? Dia perempuan, Om.” Kataku memastikan.

“Lihar, iya, Indra itu anak perempuan. Dia itu anaknya Pak Engkim, orang Cina yang masuk Islam. Ibunya memang asli orang Cibogo.”

“Ya.. dia cantik, Om.” Kataku tak tahan menahan gejolak asmara. Ya, bisa dipastikan aku memang kasmaran. Mendengar perkataanku Om Joni tertawa. “Lih... Lih... Om kok melihat Indra bagai masih kecil aja. Rasanya Om sering lihat dia waktu masih SD, kecil dan memang cantik, tapi hitam.” Om Joni tertawa lepas, “Memang semenjak dia masuk SMP, Om sudah tidak melihatnya lagi.”

“Om... kalau sekarang dia putih Om, nggak hitam.” Kataku memprotes.

“Bisa jadi, Lih, mungkin waktu masih SD mainnya di sawah melulu... Ha ha ha..” Om Joni kembali tertawa lepas. “Lihar, kamu naksir ya? Terus cewek yang di Batukarut gimana?”

“Batukarut? Nanti aku ceritakan deh.”

“Waduh, ada rahasia lagi nih. Dan lagi-lagi Om nggak pernah tahu.”

“Sebentar lagi Om akan tahu.”

“Ya, tahunya selalu belakangan.” Sepertinya Om Joni memprotes, karena apa yang terjadi padaku tidak pernah diceritakan kepadanya. Padahal dia selalu dekat denganku. “Lihar, nggak percaya ama Om ya?”

“Sory deh, Om. Untuk lain kali nanti aku akan selalu ceritakan sama Om.”

“Lho, nggak apa-apa kali, Lih. Mungkin itu surprise buatmu.” Katanya tertawa.

Obrolan kami terputus karena muatan sudah penuh. Segera Om Joni memacu mobilnya, dan aku duduk di sebelahnya. Kira-kira setengah perjalanan kami berpapasan dengan mobil Pak Nana, rupanya ia baru tiba. Mobil kami saling berhenti berjauhan.

“Giliran di mana gua?!” Terdengar teriakan suara Pak Nana bertanya.

“Di Cibogo!” Sahut Om Joni nyaring.

Setelah itu mobil berjalan kembali. Dan dalam beberapa menit kami sudah tiba di Benteng. Ketika muatan diturunkan kami meneruskan obrolan tadi. Kuceritakan tentang aku yang sudah tidak berhubungan lagi dengan Yeti.

“Lih.. Lih.. rupanya kamu sudah putus dengan Yeti Batukarut, kenapa waktu itu nggak mau kalau disuruh pacaran dengan Yeti Benteng? Padahal dia cantik, bodinya bohay, kulitnya putih. Dan dia mau sama kamu.” Kata Om Joni seperti memendam perasaan kekecewaan, karena aku menolak ketika ditawari Yeti Benteng.

“Maaf, Om. Ini kan masalah selera.” Kataku beralasan.

“Oh, type Lihar yang kecil mungil ya? Seperti Indra misalnya?”

“Bener Om.” Aku langsung mengangguk.

“Jadi kamu benar-benar naksir dengan Indra?” Tanya Om Joni seperti keheranan.

“Iya Om, tolong dong.” Aku membujuk sambil menepuk bahunya.

“Lho. Minta tolong apaan? Biasanya kan kamu selalu sendiri jika berpacaran dengan seseorang, nggak minta pertolongan.”

“Maksudku Om Joni hanya menyampaikan surat buat Iin.” Kataku agak tersipu-sipu. Om Joni langsung mengerti, ia menganggukkan kepala. Dan aku sangat gembira sekali. Maka dari itu menjelang sore hari, aku sudah sibuk menulis surat untuk Iin.

 

Teruntuk Iin di kediaman.

 

Salam perkenalan.

Sebelumnya kau dalam keadaan yang sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. Dan selalu berada dalam kebahagian bersama keluarga dan sanak familinya.

Iin ketika pertama kali aku berkenalan denganmu banyak kesan yang kudapatkan. Bahwa kau orangnya baik, berbudi halus, dan perduli dengan orang lain. Dengan kesan seperti itulah aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi. Sepertinya selama aku di sini jarang menemui wanita sepertimu. Seseorang yang berbeda dengan wanita yang lain.

Iin, saat kau menyebut namamu seakan-akan nama itu sudah melekat di hatiku, begitu pula dengan wajahmu. Entah dimana waktu pertama kali aku berjumpa denganmu? Maka dari itu ijinkan aku untuk mengenalmu lebih dekat lagi. Untuk itu bolehkah jika aku bertandang ke rumahmu? Agar dapat lebih mengenal keluargamu, dan menyambung tali silaturohmi sebagai orang muslim. Mengikat persaudaraan sesama manusia.

Kiranya cukup kutuliskan surat untukmu, karena tak ada lagi kata-kata yang dapat kuucapkan lagi. Sebelumnya aku minta maaf jika ada kesalahan kata dalam suratku ini. Dan akan kutunggu jawabanmu.

 

Yang menantikanmu

Lihar

 

            Surat itu kemudian kulipat hati-hati setelah kubaca berulang-ulang agar tak ada kata-kata yang salah. Lalu kumasukkan ke dalam sampul biru muda. Yang mungkin orang muda bilang sebagai lambang pengharapan. Entahlah benar atau tidak, aku tidak perduli dengan arti warna-warna itu. Sebab ketika aku membeli sampul surat itu, kebetulan yang ada hanya warna biru muda. Keesokan harinya dengan optimis kutitipkan surat itu pada Om Joni.

            “Siap Lihar, tapi jangan buru-buru ya. Paling Om bisa ngasihnya sore hari.” Kata Om Joni berseloroh, sambil berdehem-dehem.

            “Kapan aja Om. Yang penting Om harus memberikan kepada orangnya langsung, jangan dititipkan pada orang lain.” Kataku memberi perhatian.

            “Iya Lih, percaya deh. Om nanti akan cari orangnya langsung. Om juga kan penasaran, sudah sebesar apa sih dia? Kok bisa ya kamu naksir ama dia?” kata om joni menggoda. Setelah itu penantian serasa panjang sekali. Sepertinya Om Joni belum memberikan surat itu kepadanya. Padahal tiga hari telah berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda dia akan membalasnya.

            “Sabar, Lih... Nanti juga dibalas.” Kata Om Joni menyabarkan ketika aku menanyakannya. Lalu Om Joni kembali mengulang ceritanya ketika ia memberikan surat itu kepada Iin. Sore hari ketika pulang kerja, sudah beres mandi, dan sudah rapi segalanya, Om Joni bertandang ke rumah Pak Engkim.

            “Oh, Om Joni ada kabar apa gerangan?” Ibu Iin muncul membuka pintu, di belakangnya seorang gadis cantik mengikutinya.

            “Kabar baik, Bu.” Sahut Om Joni dengan ramah. “Hm, Pak Engkim sudah pulang?” Om Joni hanya berbasa-basi bertanya tentang Pak Engkim, bapaknya Iin.

            “Bapak belum pulang, Om.” Anak gadis cantik di belakangnya menyahut.

            “Kamu Iin ya?” Tebak Om Joni kepada gadis itu. Si gadis tersenyum menggeleng. Ibunya langsung menyilakan Om Joni duduk sambil menjawab pertanyaan Om Joni. “Bukan, itu kakaknya Indra, namanya Liza.”

            “Oh, maaf aku jarang lihat, habis mirip.” Kata Om Joni sambil duduk.

            “Iya, Liza tadinya sekolah di Jakarta. Sekarang pulang katanya mau pindah sekolah di sini.” Kata Ibu Iin menjelaskan.

            “Kalau Iin ada?” Om Joni langsung bertanya pada yang dituju.

            “Ada.” Kata Ibu Iin sedikit heran. “Memangnya Om Joni ada perlu dengan Indra?”

            “Iya.” Kata Om Joni mengangguk. Sang ibu langsung menyolek Liza agar memanggil Indra. Tak lama kemudian muncul gadis cantik bermata bening. Kecantikan yang berbeda dengan kakaknya Liza. Perawakan Iin sempurna dan berisi, hanya kulitnya sangat sawo matang, bisa jadi orang-orang menyebutnya hitam manis. Berbeda dengan Liza yang putih namun bertubuh sangat kurus, jadi terlihat lebih tinggi dari Indra. Om Joni terperangah, karena belum lama ia melihat Iin sangat kecil sekali dengan seragam sekolah SD, kucal, dan agak hitam. Kini muncul dengan perawakan yang berbeda, sempurna sebagai gadis cantik. Diam-diam Om Joni mengiyakan jika Lihar bisa jatuh hati dengan gadis ini.

            “Ada apa, Om?” Tanya Iin dengan wajah keheranan, karena selama ini ia tidak mempunyai urusan dengan Om Joni. Kini Ibu Iin dan Liza masuk ke dalam, mereka tidak ingin mengganggu Om Joni yang ada perlu dengan Iin. Namun segelas air sudah disediakan oleh Liza. Setelah mengetahui hanya Iin saja yang berada di ruangan itu, Om Joni berkata. “Iin, Om ke sini memang sengaja khusus bertemu dengan Iin.” Bisik Om Joni. Ia ingin agar yang lain tidak boleh tahu, karena khawatir Iin akan malu.

            “Iya Om.” Iin semakin penasaran, ia pun duduk di bangku.

            “Ini dari Lihar, In.” Om Joni menyodorkan surat bersampul biru kepada Iin. Seketika Iin tersentak, ia cepat-cepat menerima surat tersebut dan menyembunyikan di balik bajunya. “Bang Lihar ya?” Katanya seperti berwajah gembira bercampur cemas. Tapi maknanya susah ditebak, senangkah gadis itu menerima surat itu, atau ia khawatir ada orang lain yang tahu? Ya, sepertinya ia tidak ingin ada orang lain tahu bahwa ia menerima kiriman surat dari Lihar.

            “Om Joni, bilang pada Bang Lihar, terima kasih atas suratnya.” Iin berbisik pula kepada Om Joni. “Tapi, jangan bilang siapa-siapa dulu jika Om datang ke sini atas keperluan surat dari Bang Lihar.”

            “Iya, Iin.. Om udah paham, makanya tadi Om bilang ketika saudara Iin sudah pergi.”

            “Kalau begitu salam saja sama Bang Lihar ya, suratnya udah Iin terima.”

            Sepertinya aku tidak percaya Om Joni bercerita begitu. Jika memang demikian seharusnya Iin sudah bisa membalasnya keesokan harinya. Tapi sudah lewat tiga hari, belum ada tanda-tanda suratku akan dibalas. Jangan-jangan Iin tidak suka menerima suratku. Jika memang demikian untuk apa aku berharap. Biarlah, mungkin itu hanya sebagai hiburan selewat semata. Sebagai tanda bahwa aku masih punya cinta untuk gadis yang lain.

            Pada hari ke-empat akhirnya aku tenang-tenang saja. Di hadapan Om Joni aku sudah tidak bertanya-tanya tentang perempuan itu lagi. Di samping itu Om Joni pun enggan menyinggungnya. Sebab jika menyinggungnya dia khawatir aku akan menjadi marah atau apalah. Akhirnya hari ke-empat terlewatlah, aku lunglai di kamarku. Ketika waktu Isya tiba, aku tidak ikut Dadun pergi berjamaah ke Masjid. Aku sholat di rumah sendiri, merenung, dan berdoa. Mohon kesabaran dalam menghadapi cobaan dan ujian. Aku memang telah sibuk dengan urusanku sendiri. Tetapi aku selalu mohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala bentuk kemaksiatan. Bukan berarti tidak boleh jatuh cinta, karena cinta itu sesuatu yang suci. Dan aku berdoa semoga aku tidak menodai cinta yang suci itu.

            Kemudian kuambil Alquran dan kubaca. Pada saat yang khusyu tiba-tiba terdengar pintu diketuk seseorang dan kudengar namaku dipanggil. Maka segera mengakhiri membaca Alquran dengan mengucapkan Sodaqallahuladzim; Maha Benar Allah dari segala firman Nya.

            “Lihar.” Terdengar suara panggilan lagi dari luar. Jelas suara itu memang tidak asing lagi bagiku

            “Om Joni.” Tiba-tiba jantungku berdebar-debar ketika mengetahui yang datang adalah Om Joni. Berarti ada sesuatu yang penting jika Om Joni datang malam-malam begini ke tempatku. “Silakan duduk, Om.” Kataku dengan gembira melihat kedatangannya. Dan Om Joni langsung duduk, tangannya memegang selembar amplop warna merah muda.

            “Ini surat balasan dari Iin, Lihar.” Kata Om Joni menyodorkan surat itu kepadaku.

            “Terima kasih, Om.” Aku menerima surat tersebut dengan sangat gembira.

            “Tadi Om sengaja datang lagi ke rumah Iin, eh ternyata ia memang menunggu kedatangan Om. Dia bilang tak berani untuk menitipkan suratnya lewat orang lain. Dan dia juga malu jika harus datang ke rumah Pak Mamat. Begitu katanya, Lihar.” Kata Om Joni bercerita sedikit.

            “Oh, berarti sebenarnya suratku sudah langsung dibalasnya ya? Hanya terdampar... hmm..” Aku tak kuasa menahan gejolak kegembiraan.

            “Kira-kira begitulah, Lih.” Kata Om Joni terlihat gembira karena melihat kegairahanku. Yang baginya aku terlihat murung sejak kemarin. “Om pamit dulu ya.”

            “Nggak ber-STMJ dulu, Om.” Kataku sekadar berbasa-basi, karena keinginanku sesungguhnya akan membaca surat ini lekas-lekas.

            “Makasih deh, sampai jumpa besok.”

            Setelah Om Joni tidak tampak lagi, dengan segera aku masuk ke kamar. Namun ketika baru saja ingin membuka surat sampul merah muda itu, terdengar suara Dadun yang baru datang dari masjid.

            “Lih, tadi siapa yang datang?” Dadun bertanya tentang tamu yang datang tadi.

            “Om Joni, Mang Dadun.” Sahutku.

            “Ada perlu apa?”

            “Nggak ada apa-apa, Mang Dadun, hm..” Aku berfikir untuk mencari alasan, karena aku masih belum mau berterus terang. Ah, aku jadi merasa heran dengan diriku sendiri. Kenapa dengan Dadun aku masih menutupi rahasia jika datang masalah cinta? Padahal Dadun adalah orang yang kupercayai. Kurasa aku butuh privasi. “Om Joni hanya menyampaikan sesuatu yang penting, itu aja.” Kulihat sebentar Dadun agak merasa heran, kemudian ia tersenyum. “Oh, masalah pekerjaan ya. Ha ha ha, Om.. Om.. kayak nggak ada hari besok aja.” Kata Dadun yang kemudian tertawa. Aku pun jadi turut tertawa. “Biarlah, nggak apa-apa.” Kataku. Kemudian Dadun ke belakang, biasanya kalau jam malam begini dia suka bikin kopi. Dengan begitu aku lekas-lekas masuk kamar.

            Perlahan-lahan kubuka surat tersebut, dan kubaca.

 

            Menjumpai Bang Lihar

di pembaringan.

 

            Salam perkenalan kembali.

            Sebelumnya Iin berharap bang Lih dalam keadaan yang sehat dan tak kurang suatu apa pun. Dan hakekatnya Iin sangat senang menerima surat dari Bang Lihar. Soalnya Abang orangnya lucu dan sopan. Iin tidak menyangka saat itu Abang menghampiri Iin dan mengajak berkenalan. Maafkan saat itu Iin tertawa saat mendengar nama Abang disebut. Iin jadi teringat Pak Lihang pegawai kelurahan. Namanya lucu apalagi Bang Lihar memakai huruf R pada nama terakhirnya.

            Iin pun sepertinya pernah kenal pula dengan Bang Lihar, tapi dimana, kapan, Iin juga tidak tahu. Dan dengan pintu terbuka lebar silakan Bang Lihar main ke tempat Iin. Tapi jangan langsung ke rumah Iin dulu ya, mainlah ke rumah Dede atau ke rumah Nungsih saudara Iin. Nanti kita ketemu di sana. Iin masih merasa malu dengan keadaan rumah Iin yang berantakan. Takut nanti Bang Lihar kecewa.

            Kiranya sampai di sini dulu balasan dari Iin ya. Dan Iin minta maaf jika ada kata-kata yang kurang baik di dalamnya. Maklumlah Iin hanya seorang wanita yang tinggal di desa. Moga-moga nanti bang Lih bisa mengerti akan keadaan Iin yang sesungguhnya.

 

            Salam Manis selalu

            Indrawati Suzanty.

 

            Selesai membaca surat itu hatiku sangat berbunga-bunga. Dan aku pun takjub dengan bahasa surat itu, rendah hati, dan santun. Yang lebih menakjubkan adalah nama panjangnya yang indah ; Indrawati Suzanty. Nama yang bagus, nama yang jarang ditemukan di sebuah desa yang terpencil. Meskipun menurutku desa ini tidak terpencil, karena kendaraan roda empat sudah banyak yang masuk di dalamnya. Yang pasti satu lagi ada nama yang terukir indah di hatiku, sebuah nama seorang gadis yang jelita. Semoga ke depannya perjalananku akan lebih baik dari yang sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

          ***