Malam ini aku tidak memperhatikan waktu. Aku tidak dapat membedakan malam minggu atau  malam lain. Yang pasti malam ini aku sudah berada di rumah Dede, seorang laki-laki muda yang baru berusia 18 tahun, Namun ketika aku datang dan berkenalan, kami cepat sekali akrab. Kuperhatikan perawakan Dede agak tinggi dan kurus, sifatnya sangat ramah dan santun kepadaku. Kulitnya agak hitam, dan pandangannya pun selalu tajam dengan sebelah matanya, karena sebelah kiri matanya sudah cacat sejak lahir. Namun ia menghadapinya dengan sifat yang optimis. Dengan sebelah matanya yang terang itu, ia sudah jelas melihat benda-benda di depan. Bahkan lebih awas dari orang yang bermata lengkap.

            “Lihar, tinggalnya di Cinangka ya?” Tanyanya dengan sangat ramah.

            “Iya. Di rumah Mang Dadun.” Sahutku dengan ramah pula. “Hm, kalau Dede apanya Iin?” Lalu kusambung dengan pertanyaan yang memang sedang kutuju.

            “Iin? Dia saudara sepupuku.”

            “Bisa nggak aku ketemu dia?” Langsung aku bicara pada pokoknya. Dede dengan senyum keramahan mengerti apa yang aku maksudkan. Ia dengan cepat mengangguk. “Lihar tunggu dulu di sini ya. Aku akan panggil Iin.”

            “Iya, terima kasih De.” Kataku mengucapkan terima kasih dengan suka cita. Agaknya Dede tidak sempat mendengarkan kata terima kasih dariku, karena ia sudah lari cepat dari rumahnya, Sementara aku duduk sendiri di ruang tamu, yang tak lama kemudian ibunya muncul membawakan segelas air minum.

            “Silakan, Jang.” Ia menyilakan, ”Dede kamana atuh, tidak ada?”

            “Lagi ke luar sebentar, Bu.” Kataku dengan ramah. Ibu Dede bilang oh, kemudian masuk kembali. Tak lama berselang Dede muncul, di belakangnya seorang gadis cantik mengikutinya. Dadaku berdebar-debar saat melihat penampilan Iin di malam hari. Wajah itu demikian cantik tertimpa sinar lampu di malam hari. Dan aku yakin wajahnya sedikitpun tidak ia poles. Sebuah kecantikan alami gadis desa. Mungkin jika didandani seperti gadis kota, ia akan nampak bagai Desi Ratnasari atau penyanyi yang sedang ngetop Nike Ardila.

            Iin datang dengan senyum mengembang. Aku langsung berdiri menyambut kedatangannya dan menjabat tangannya. “Iin, seperti yang aku janjikan, aku datang.”

            “Iya Bang Lihar. Iin senang sekali.” Katanya dengan gembira. Kami langsung duduk di beranda itu dengan bersebelahan. Jantungku berdegup, dan getar-getar cinta mulai memukul-mukul jiwaku. Ya, aku memang jatuh cinta, dan aku tidak dapat memungkirinya. Pada saat ini terlupakan sudah cinta yang lalu dengan gadis lain. Dan luka-luka akibat putus cinta pun sembuh seketika. Bagai luka menganga yang ditetesi air ajaib, yang langsung menguap dan sembuh. Kupandangi wajah Iin yang terkena cahaya lampu pada sebagian wajahnya. Dan bagian wajah yang gelap itu menjadi sebuah bayangan yang indah. Sebuah silhoute yang melukiskan wajah bidadari yang anggun. Sepasang mata pada wajahnya menatapku dalam, dan bibirnya mengembang senyuman yang menyiratkan rasa bahagia.

            “Iin.” Rasanya aku sangat kesulitan untuk merangkaikan kata-kata yang mengarah kepada cinta. Hanya beberapa patah saja kusebutkan namanya. “Iin... Indra...”

            “Bang Lih.” Sepertinya yang terjadi pada Iin pun demikian. Setelah itu kami saling diam, memandang ke sekitar ruangan. Kami pun tak menyadari, Jika Dede sudah tidak ada di ruangan itu. Rupanya Dede mengerti, ia tidak mau mengganggu kami berdua yang sedang dilanda cinta.

            “Hm.” Kata itu berbarengan, kami masing-masing ingin membuka suara. Akibatnya kami sama-sama tersenyum malu.

            “Iin duluan deh yang ngomong.” Kataku kemudian.

            “Bang Lih aja.” Kata Iin masih malu-malu.

            “Hm, rumah ini bagus.” Mataku menyelusuri ruangan itu.

            “Iya, ini rumah Dede. Rapi dan bagus.” Sahut Iin, melihat ke sekeliling ruangan pula. Dan saat itu aku baru sadar, ternyata Dede memang sudah tidak ada di ruangan itu. Jadi kami hanya berdua.

            “Dede ke mana ya?” Aku langsung menanyakannya. Sekadar berkata dari pada tidak ada bahan omongan lain. Kulihat wajah Iin pun terbeliak, “Iya ke mana dia?” Setelah itu kami diam kembali.

            “Bang Lih, airnya diminum.” Kali ini Iin yang mendahului aku bersuara.

            “Oh iya ya.” Dengan spontanitas kureguk air teh itu hingga tinggal setengah gelas isinya. Iin tersenyum melihat cara minumku yang cepat. Dan aku pun tersenyum, “Hm, Iin nggak minum?”

            “Kalau Iin gampang, Bang Lih, nanti Iin ngambil air sendiri di belakang.”

            “O iya.” Lalu kami terdiam kembali. Dalam hatiku apa yang harus kukatakan. Aku pun terus mencari kata-kata dalam fikiranku. Aduh betapa sulitnya. Padahal kemungkinan aku bisa bercerita apa saja. Seperti yang sering kualami jika bicara dengan gadis-gadis yang lain. Kuperhatikan Iin pun bingung mencari kata-kata. Ah, mungkin ia hanya menungguku bicara, selanjutnya nanti dia akan menjawabnya. Seperti yang sudah dilakukan awal tadi. Namun tetap saja, hanya sebatas aku bicara dan ia menyahutinya. Setelah itu sepi lagi. Aku tidak bisa memperpanjang tema yang kami bicarakan. Pada saat muncul ide dan bahan di kepalaku untuk dibicarakan,  hal itu  terjadi pula pada Iin, “Jadi...”  Selalu saja berbarengan. Akibatnya kami menjadi canggung, sama-sama senyum tersipu-sipu dan sama-sama mengurungkan niatnya untuk berbicara.

            “Iin silakan.” Untuk kedua kalinya aku menyilakan Iin bicara. Dan Iin kembali melemparkannya kepadaku. Aku pun berdehem, menarik nafas dan siap bicara. Namun belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun, muncul seorang gadis yang sebaya dengan Iin.

            “Hampura, mengganggu.” Gadis itu dengan senyum yang manis menjabat tanganku. “Perkenalkan nama abdi Nungsih.”

            “Oh, Nungsih, iya aku udah denger namanya dari Iin,” Kataku dengan gembira menyambut kedatangan saudara Iin, tanpa canggung lagi. Sepertinya Nungsih datang sebagai dewi penolong. Seorang dewi yang bisa mengusir kecanggungan.

            “Iya Bang Lih, Nungsih yang kubilang dalam surat, ia juga saudara sepupu Iin.” Iin menimpali perkataanku, aku dapat menebaknya, Iin pun senang atas kedatangan Nungsih.

            “He he he, diam-diam sudah main surat-suratan ya?” Kata Nungsih dengan riang dan bersenda gurau.  “Gosip apa yang diceritakan Iin pada Bang Lih dalam suratnya?”

            “Kasih tau nggak ya.” Aku membalas dengan gurauan pula. “Yang jelas bukan gosip kok, Nung. Iin sekadar mengenalkan saudara-saudaranya aja.” Nungsih tertawa mendengar uraianku, posisinya masih berdiri. Jika kutilik-tilik perawakan Nungsih lebih pendek dari Iin. Namun kulitnya agak sedikit kuning. Mungkin itu penglihatanku di malam hari, karena ada cahaya lampu yang menyinarinya. “Hm, Nungsih kenapa nggak duduk?”

            “Bang Lih, abdi ke sini hanya sebentar. Ingin kenal saja dengan Bang Lih.” Katanya tertawa. “Abdi alim mengganggu keasyikan Iin dan Bang Lih.” Sepertinya ia ingin berlalu.

            “Jangan pergi Nung. Duduklah di sini bersama kami.” Kataku tanpa basa-basi. Sebab Jika kami hanya berdua, kami tak berdaya untuk berkomunikasi dengan lancar.

            “Iya Nungsih, temani Iin.” Rupanya Iin pun setuju dengan keinginanku. Nungsih pun duduk di antara kami.

            “Terima kasih ya.” Kata Nungsih tersenyum lebar. Kemudian ia menatap Iin. “Iin, punya kenalan baru kok nggak cerita sama Enung?”

            “Ya, sekarang kan sudah kenal.” Sahut Iin.

            “Ya, abdi kenal karena datang ke sini, coba kalau nggak....” Kulihat mimik wajah Nungsih tampak memang sangat kocak. Pembicaraannya banyak, kalau orang Sawangan bilang ‘Gerecek’, orangnya sangat ramah dan  pandai bergaul. “Tadi Enung mencari Iin, terus ketemu Dede, dan Dede bilang katanya Iin ada di rumahnya bersama dengan Bang Lih.” Kata Nungsih menyatakan alasan yang masuk akal.

            “Baguslah, aku jadi bisa kenal Enung dengan cepat.” Kataku mengimbangi Nungsih. “Ternyata Enung orangnya asyik dan menyenangkan.” Lalu aku tertawa senang.

            “Bang Lih, bisa aja.” Kata Nungsih seperti hendak mencubitku, dan aku mengelak. Ternyata Nungsih hanya berlagak saja, tidak bersungguh-sungguh. Iin tertawa-tawa melihat kami bercanda. Kini suasana menjadi riang. Di antara kami ada saja yang bisa kami bicarakan. Dan tanpa terasa jam sudah menunjukkan angka 10. Agaknya aku harus pamit, meskipun dalam hatiku sangat betah sekali. Sampai pagi pun rasanya aku sanggup. Namun demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, serta menjaga norma ketimuran. Jika laki-laki bertandang terlalu larut malam di rumah wanita, tentu akan banyak fitnah. Apalagi omongan tetangga yang nantinya akan berlebihan, dan bisa berakibat buruk bagi hubungan kami.

            “Iin, Nung, aku pamit ya.” Kataku mengatakan kepada keduanya.

            “Kok cepat benar sih, Bang Lih.” Kata Nungsih seperti menyesalinya.

            “Baru jam berapa, Bang Lih...” Sambung Iin.

            “Sudah jam sepuluh.” Aku memperlihatkan jarum jam yang sudah menunjuk angka 10 pada jam arloji yang kupakai. Lalu aku berdiri diikuti Nungsih dan Iin. Aku berjalan ke luar rumah, dan mereka tetap mengikutinya.

            “Terima kasih ya, sudah mau menerimaku datang.” Kataku kepada keduanya.

            “Iya Bang Lih, jangan kapok ya.” Kata Nungsih mengangguk.

            “Tentu, aku senang sekali di sini.” Kemudian kupandangi Iin. Yang kupandang tersipu malu-malu. “Iin, Abang pulang ya. Jangan lupa salam sama Dede.”

            “Iya, Bang.” Iin mengangguk. Mereka berdua memandang kepergianku. Sementara aku semakin jauh dari pandangan mereka. Aku menjadi tersenyum sendiri. Di sini ternyata sangat berbeda sekali dengan di Batukarut. Apakah di Cibogo ini sudah lebih mendekati kota, seperti yang terjadi di Benteng? Kurasa tidak, karena di Benteng lebih terasa kebebasannya dibanding di Cibogo. Di sini masih tampak gadis-gadisnya menjaga etika moral, dengan berpakaian yang santun. Masih tetap mau memakai kain. Atau jika memakai gaun pun pasti yang panjang menutupi betis.

            Di rumah aku langsung rebahan di tempat tidurku. Dadun yang masih belum tidur menghampiriku.

            “Dari mana, Lih? Tadi aku ke tempat Om Joni nggak ada?” Tanya Dadun.

            “Main ke Cibogo, Mang Dadun.” Sahutku dengan wajah cerah.

            “Ke tempat siapa? Kan Om Joni ada di Cinangka?” Wajah Dadun nampak keheranan. Tampaknya ia merasa sebelumnya aku tidak pernah main ke Cibogo, apalagi sampai larut malam tanpa Om Joni.

            “Ke rumah Dede. Mang Dadun kenal nggak?”

            “Dede? Yang, maaf, matanya cacat ya? Kalau yang itu aku kenal.” Kata Dadun mengernyitkan alisnya. “Ada keperluan apa dengan dia, Lih?” Mendengar pertanyaan itu aku tersenyum. Dadun bertambah heran, “Kok cerah banget, Lih? Di sana dapat perempuan baru ya?” Tebaknya dengan hati-hati. Aku semakin tersenyum gembira mendengar tebakan Dadun. Melihat aku demikian Dadun sumringah, “Siapa dia, Lih?”

            “Iin.” Sahutku pendek.

            “Iin? Kalau nggak salah anaknya Pak Engkim ya?” Dadun tertawa gembira, wajahnya manggut-manggut. “Indra itu memang cantik, Lih. Apalagi tetehnya Liza, bukan main.”

            “Kalau sama tetehnya aku belum kenal, Mang Dadun. Tapi kalau namanya sudah dengar.” Kataku tertawa gembira. “Bagaimana Mang Dadun, setuju nggak kalau aku sama Iin?”

            “Wah, aku senang sekali Lih. Tentu aja sangat setuju. Memangnya Lih kenal di mana?” Dadun bertanya dengan rasa penasaran.

            “Aku kenal Iin sewaktu dia menengok Ina yang sakit.”

            “Oh, bagus Lih, teruskan deh, kalau bisa sampai jadi.” Dadun berharap optimis.

            “Insya Allah, Mang Dadun, doain aja.” Sahutku dengan gembira.

            “Beres, Lih.” Kata Dadun sambil berlalu. Namun baru saja Dadun keluar kamar, aku memanggilnya. Dan Dadun kembali lagi, “Ada apa, Lih?”

            “Kalau dipikir-pikir adat Batukarut dengan Cibogo nggak sama ya?”

            “Nggak sama gimana?” Dadun bingung.

            “Kalau di Cibogo aku datang nggak bawa apa-apa tak ada masalah, tapi kalau di Batukarut pasti ada teriakan, Keresek Gedebuk!” Kataku sambil tertawa kecil. Mendengar itu Dadun tertawa keras. “Ha ha ha. Iya.. iya, emang beda Lih. Cibogo itu sudah hampir kena gaul kota. Rata-rata anak muda Cibogo kerjanya di kota. Kalau nggak salah Liza aja pernah sekolah di kota. Hanya sekarang pindah ke sini.”

            “Memang kotanya di mana, Mang Dadun? Jakarta?”

            “Bukan. Kota Bogor. Di Ciomas dan Di Dermaga.”

            “Ooh.” Aku mengangguk-angguk. Dadun dengan wajah sumringah meninggalkan aku. Dan tinggal aku sendiri yang tersenyum bahagia membayangkan peristiwa tadi. Kemudian aku melihat kalender, ternyata sekarang malam kamis. Oh, aku benar-benar lupa kupikir sekarang malam minggu. Hari semakin larut, dan tiba-tiba aku tersentak ketika kusadari bahwa aku belum menunaikan sholat Isya. “Astagfirlah Alazim.” Dengan cepat kuseret tubuhku menuju ke air. Berwudhu. Dan malam itu aku menunaikan sholat Isya dengan khusyu.

            Ketika pagi menjelang, gairahku pun menjulang. Dengan rajin aku bekerja menemani Om Joni. Dan Om Joni pun merasa senang dan suka cita melihat aku bahagia. Pekerjaan pun berjalan lancar. Sabtu aku dapat menggaji mereka dengan cepat. Dan malam minggu aku kembali sudah berada bersama Iin, hanya kali ini aku berjumpa dengannya di rumah Nungsih. Sepertinya aku jadi ingin bertemu Iin setiap hari.

            Di rumah Nungsih, aku berkenalan dengan Liza, Tetehnya Iin. Apa yang dikatakan Om Joni benar, Liza memang seorang gadis yang cantik. Perawakannya lebih tinggi sedikit dari Iin, dan kulitnya lebih putih. Orangnya ramah dan santun. Ia menemani kami sebentar, kemudian ia pergi membiarkan aku berdua dengan Iin. Nungsih pun demikian, ia muncul hanya sebentar, membawa air minum, ngobrol sebentar dan pergi.

            “Iin, saudara Iin baik-baik ya.” Kataku memuji mereka. Iin mengangguk-angguk dengan senang. “Iya, Bang Lih, orang tua Iin mengajarkan kami agar selalu baik kepada semua orang.”

            “Bagus. Abang jadi betah di sini.” Kataku tersenyum saat itu. Dan Iin pun tersenyum, namun ada yang mengganjal di hatiku. Entahlah aku harus mengatakan kepada Iin atau tidak. Tadi sewaktu aku datang ke sini, sebetulnya aku ke rumah Dede.

            “Lih.” Dede seperti biasa menyambutku dengan ramah. Dan aku langsung diajak ke kamarnya. Di sana ada yang mau Dede bicarakan. Namun sebelum dia bicara aku memberikan sebungkus Garfit untuknya. Dengan senang ia menerimanya.

            “Mau bicara apa, De?” Tanyaku, “Apakah masih ada hubungannya dengan Iin?”

            “Iya, Lih. Tapi...” Dede seperti ragu meneruskan kata-katanya. “Walau bagaimana pun aku lebih suka Iin berhubungan dengan Lih.” Mendengar perkataan Dede seperti itu aku menjadi terkejut. “Maksud Dede apa ya?” Aku merasa heran dan curiga, jangan-jangan?

            “Hm, ini mengenai Cepi.” Kata Dede masih ragu.

            “Siapa Cepi?” Jantungku langsung dag dig dug. Kecurigaanku pun semakin tumbuh, Dede menyebut nama orang lain. Ah, sepertinya aku tidak akan menerima kalau ada laki-laki lain yang ada di kehidupan Iin. “Cerita aja Dede, aku nggak apa-apa kok.” Kataku selanjutnya, padahal bertolak belakang dengan isi hatiku.

            “Cepi itu suka sekali pada Iin, itu sudah lama sekali.” Kata Dede.

            “Ha? Jadi Cepi pacar Iin?” Aku terbeliak. Dede terlihat merasa tidak enak hati. “Bu.. bukan Lih.” Kata Dede memastikan dan agak sedikit gugup. “Cepi memang suka Iin, tapi kelihatannya Iin nggak suka.” Plong. Mendengar kata-kata itu aku merasa lega. “Jadi, kalau begitu apa masalahnya?”

            “Hm, begini Lih. Sebaiknya kamu ke rumah Nungsih. Tadi dia ke sini agar kamu bertemu Iin di rumahnya. Dan malam ini Cepi datang lagi ke rumah Iin. Dan Iin nggak ingin  Cepi tahu bahwa Lihar datang ke sini.” Kata Dede dengan serius. “Cepatlah Lih, masuknya lewat pintu samping ya.”

            “Aku nggak mengerti, De?” Aku bertanya dengan heran.

            “Nanti aku ceritakan, yang jelas waktu malam kemarin Lih berdua dengan Iin di sini, ternyata ada teman Cepi yang mengetahuinya.” Mendengar penjelasan itu aku cepat berdiri. Dengan diantar Dede aku masuk ke rumah Nungsih lewat pintu samping. Sungguh suasana yang membuatku tidak nyaman. Dan nanti aku harus menanyakannya pada Iin masalah itu. Namun ketika aku sudah berdua dengan Iin aku tak kuasa mengatakannya. Sepertinya aku sudah nyaman duduk berdua dengan Iin saat ini. Apalagi teteh dan saudara sepupunya sudah mendukungku.

            “Bang Lih, sudah lama tinggal di Cinangka?” Tanya Iin saat itu.

            “Hampir satu tahun In. Hm, Abang betah di daerah sini, Iin. Penduduknya ramah- tamah, udaranya pun sangat menyegarkan. Udara pegunungan yang sangat bersih dan menyehatkan.”

            “Oh gitu ya, tentunya sebelum kenal Iin, Bang Lih sudah punya pacar orang sini ya?” Perkataan Iin sebetulnya sederhana, ia seperti menebak-nebak. Namun justru perkataan itu membuat fikiranku jadi menerawang ke mana-mana. Aku langsung  terkenang Yeti. Tapi haruskah dugaan itu kujawab, atau aku harus berdusta. Dan rasanya aku memang belum berani jujur. Biarlah waktu jua yang akan menguaknya. “Ah, kalau Abang punya pacar untuk apa ke sini?” Sengaja perkataanku hanya mengambang, berkata dengan kata kalau atau ibarat. Setelah itu kualihkan ucapan dengan memandang tajam mata Iin. Dengan harapan dia tidak mengincar dengan pertanyaan yang aku belum tentu bisa menjawabnya. Berhasil, Iin menundukkan wajahnya karena malu kutatap demikian. Melihat gelagat itu, dengan perlahan-lahan kuraih tangan Iin, dan dia membiarkan jemarinya kugenggam.  “Abang ke sini hanya untuk Iin.” Bisikku pelan, meyakinkan Iin bahwa aku memang bersungguh-sungguh.

            “Kalau Iin sudah ada yang punya gimana?” Timpalnya halus. Tentu saja perkataan seperti ini yang tidak mau aku dengar. Iin sudah ada yang punya, rasanya aku tidak terima.

            “Abang akan merebutnya.” Aku menjawabnya dengan sedikit emosional, karena aku menjadi ingat nama Cepi yang disebutkan Dede. Dan aku menjadi cemburu luar biasa. Tanpa kusadari aku meremas jemari Iin dengan kuat.

            “Aduh.” Iin kesakitan, tentu saja itu sangat mengejutkan aku.

            “Maaf, Iin.” Dengan gugup secepatnya kulepaskan jemari Iin.

            “Nggak apa-apa, Bang.” Seraya Iin mengusap-usap jemarinya yang tadi kuremas.

            “Abang marah ya?” Iin bertanya menyelidik. Dan aku dengan cepat menggelengkan kepala. “Nggak In, maaf ya, abang nggak sengaja.” Iin menundukkan kepala. Diam. Mungkinkah ia sedang membayangkan Cepi yang saat ini sedang berada di rumahnya. Ah, kalau demikian aku harus memancingnya.

            “Iin.” Kupanggil dia dengan suaraku yang lirih. Dan lantas ia tengadahkan wajah. “Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah Iin?” Kataku menguatkan hati, sambil kuperhatikan reaksi wajah Iin.

            “Jangan Bang Lih.” Dengan cepat Iin memegang lenganku, sepertinya ia merasa ketakutan dan risau. Melihat sikap Iin seperti itu kecurigaanku kian memagut. Aku menjadi cemas, aku menjadi takut jika Iin hadir untukku hanya selintas saja. Haruskah kukatakan kepadanya, bahwa ada laki-laki lain yang sedang menunggunya di rumah.  Tapi aku tak berdaya untuk berkata seperti itu, karena tentu saja akan berakibat menyakitkan hatiku sendiri. Biarlah aku hanya ingin mendengar dari bibir Iin sendiri mengenai nama Cepi. Dan jika itu terjadi, entah bagaimana hatiku ini. Astagfirlah Al Azim, mungkin aku akan istigfar. Entahlah,  kenapa aku berfikir sejauh itu?

            “Iin.” Akhirnya aku mencoba sabar, “Tidak bolehkah Abang mengenal keluarga Iin lebih jauh? Selain Ibu Iin dan Liza, Abang pun ingin kenal dengan Bapak Iin.”

            “Nanti ada waktunya Bang Lih, semuamya nanti akan Iin kenalkan dengan Abang.” Kata Iin dengan lembut. Dan tanpa kusangka ia menyentuh jemariku. Mungkin untuk memastikan agar aku jangan memaksa mengajak ke rumahnya, atau, ah, aku tidak perlu berfikiran yang macam-macam. Aku harus berfikir positif thingking. Dan aku harus membalas sentuhannya, agar segala fikiran yang buruk dalam fikiranku dapat segera sirna.  Aku pun merasa bahagia saat melihat Iin tersenyum manis padaku.

            “Iin.” Aku berbisik dan mengatakan sayang kepadanya.

            “Bang Lih.” Ia membalas bisikanku, mungkin kelanjutannya ia pun mengatakan sayang pula kepadaku. Meskipun tak terdengar kata-katanya, tetapi aku yakin ia membalas cintaku. Akhirnya malam itu kulepaskan kebahagiaan berdua. Hal-hal yang tidak mengenakkan hati tadi telah kubuang jauh-jauh. Biarlah meskipun ada orang ketiga, aku bertekad akan mempertahankan Iin agar tidak dapat lepas lagi. Yang jelas aku malam ini bahagia, karena Iin memilih menemaniku, dari pada menemani Cepi yang kini sedang berada di rumahnya. Sebenarnya aku hanya menduga saja, apakah benar Cepi ada di rumahnya atau tidak? Wallahu Alam. Dan aku memang tidak perlu memikirkannya.

            Malam ini kurasakan hal yang bernuansa, yaitu antara indah dan tidak. Ketika pulang, aku malah menjadi gelisah. Sebelumnya aku mampir ke rumah Dede, tetapi aku tidak menemukan Dede. Kata saudaranya Dede keluar rumah dan belum pulang. Ah, kemanakah Dede? Apakah ia tadi menemani Cepi di rumah Iin? Tapi, tidak mungkin, sebelumnya kudengar ia berkata lebih baik aku ketimbang Cepi. Sudahlah, aku tidak boleh berparasangka buruk. Yang penting bagaimana tadi sikap lembut Iin kepadaku. Bukankah sudah jelas, Iin lebih memilihku dari pada laki-laki itu?

            Ketika Senin pagi menjelang. Pak Yatna datang tepat ketika kami sedang mengirim teras di Benteng. Kami berbarengan dengan Pak Nana pula. Pak Yatna menghentikan mobilnya di halaman rumah Pak H.Karta. Dan ia sengaja memang menemuinya.

            “Bagus, Pak.” Terdengar suara Pak H. Karta yang berat, “Lihar bekerja dengan baik dan teliti sekali. Aku puas jadinya.” Wajah Pak H. Karta sangat gembira, Pak Yatna pun gembira sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Alhamdulilah, aku memang berharap demikian.” Pak Yatna merasa sangat bersyukur mendengar laporan Pak H. Karta yang positif mengenai aku.

            “Hanya sayang penghasilan teras Bapak sudah sedikit sekali, sehingga semua harus ditutupi dengan teras orang lain.”

            “Nggak apa-apa, Pak Haji. Yang penting aku ingin agar Lihar di sini tetap bisa bekerja. Mudah-mudahan setelah itu akan ada jalan keluar untuk ke depannya.”

            “Aamiin.”

            Ketika Pak Yatna selesai bercakap-cakap dengan Pak H. Karta. Pak Yatna mengajakku ke Batukarut untuk melihat kondisi penggalian. Tiba-tiba Ubed dan Mamit menghampiriku, dengan tanpa canggung sedikit pun di hadapan Pak Yatna mereka minta rokok dariku. Tampak kulihat wajah Pak Yatna terperanjat, sedangkan aku dengan cepat merogoh sakuku yang memang ada sebungkus Garfit yang sisanya hanya 6 batang. Lalu rokok itu kuberikan kepada Ubed. “Buat berdua, ya.” Kataku. Dan Ubed dengan gembira mengangguk serta mengucapkan terima kasih, diikuti Mamit di belakangnya. Kemudian mereka berlari ke mobil Pak Nana yang siap berangkat. Sementara Dadun yang melihat tingkah teman-temannya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.

            “Apakah mereka selalu begitu, Lih?” Tanya Pak Yatna ketika mobil Pak Nana berangkat. Aku menggelengkan kepala. “Mereka baru kali ini begitu, Pak.” Sahutku.

            “Hm. Aku mengerti maksud mereka. Tentu sebenarnya pemintaannya itu ditujukan padaku.” Kata Pak Yatna bersungut-sungut.

            “Maafkan mereka Pak Yatna.” Kataku merasa tidak enak hati.

            “Sudahlah.” Pak Yatna naik ke mobilnya. Dan aku naik ke mobil Om Joni.

            “Ada-ada aja itu Mang Ubed.” Kataku saat Om Joni menstater mobil.

            “Maklumlah, Lih. Mereka lagi cari perhatian Bos.” Kata Om Joni tertawa khas.

            “Cari perhatian sih cari perhatian, tapi kesannya seakan-akan aku nggak pernah memberi mereka rokok.” Kini aku bersungut-sungut. Rokok yang tadi aku berikan menjadi tidak ikhlas. Mungkin karena cara memintanya yang dianggap tidak santun. Akibatnya memang menjadi fatal. Pak Nana sudah tidak boleh menarik teras di penggalian Batukarut, dengan alasan teras sudah tidak mencukupi lagi jika diangkut oleh dua mobil. Rupanya Pak Nana dapat mengerti dengan alasan tersebut. Dia menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Maka putus sudah hubungan kerja kami dengan Pak Nana. Hal itu tidak disadari Pak Nana, bahwa keputusan Pak Yatna itu akibat kelakuan kernet Pak Nana yang dianggap tidak santun.

            Kulihat Ubed dan Mamit saling berpandangan. Kelihatan pada wajahnya sangat menyesalinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Mereka sudah putus hubungan kerja dengan kami. Maka mulai hari itu dan seterusnya harapan sebungkus rokok dariku pun putus.

            Ternyata keputusan itu memang menguntungkan buat kami, karena teras di Batukarut menjadi cukup untuk kami angkut setiap hari.  Pendapatan Om Joni dan kawan-kawannya pun jadi bertambah. Sedangkan Pak Nana harus mencari tarikan sendiri ke sana-sini. Tanpa melibatkan lagi aku yang mencarinya. Beban pekerjaanku pun menjadi lebih ringan. Dan Alhamdulilah meskipun tidak bersama kami lagi, Pak Nana masih dapat bertahan. Dan sikapnya kepadaku pun ia tidak berubah. Pak Nana tetap ramah dan akrab kepadaku. Hanya Ubed dan Mamit saja yang berubah sikap kepadaku. Padahal semua itu akibat salah mereka sendiri.  Maksud mereka mau untung, eh  malah menjadi buntung.

            Kadang-kadang Dadun tertawa mengingat hal itu.

            “Begitulah, Lih orang-orang di sini senangnya memang mencari perhatian. Tanpa melihat kondisi dan situasi ia bertingkah macam-macam, ya jadinya begitu.” Kata Dadun ketika berbicara mengenai Ubed dan Mamit yang berubah sikap padaku. “Sudahlah, Lih jangan fikirkan sikap mereka itu. Nanti juga sadar sendiri.”

            “Iya, Mang Dadun. Hanya aku merasa nggak enak hati dengan Pak Nana.”

            “Ah, Pak Nana sih nggak apa-apa Lih. Walau tanpa kita, Pak Nana masih bisa narik terus. Aku perhatikan, yang punya teras di Cibogo masih bersedia untuk ditarik Pak Nana.” Kata Dadun tersenyum, “Yang penting sikap Pak Nana nggak berubah ama kita.”

            “Iya juga sih.” Aku pun tersenyum. Dalam hatiku benar pula apa yang dikatakan Dadun. Ya, Dadun memang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri selama aku di sini.

           ***