Sudah tiga hari aku tidak melihat Pak Nana. Dan aku pun tidak tahu, apakah ia tidak datang karena ada halangan atau karena akibat ia sudah tidak bekerja sama lagi dengan perusahaan Pak Yatna. Yang aku khawatirkan justru keadaan Ubed dan Mamit, yang tentunya saat ini mereka tidak bisa beraktifitas lagi. Namun aku berharap meskipun tanpa Pak Nana mereka bisa bekerja di tempat lain. Suatu hari aku mendapat kabar bahwa Ubed jatuh sakit. Mendengar kabar itu aku menyempatkan diri menengok keadaannya di rumahnya.

 Sengaja aku sendiri bertandang ke rumah Ubed. Sebelumnya kusarankan agar Om Joni, Dadun dan Pardi tetap menjalankan aktivitasnya. Di depan rumah Ubed, aku memberi salam. Kudengar jawaban salam seorang perempuan yang sudah kuduga adalah istri Ubed. Ceu Minah membukakan pintu, dan menyilakan aku duduk. Dia tampak gembira melihat kedatanganku. Sebuah bungkusan kuberikan kepadanya.

“Aduh, Lihar, nggak usah repot-repot.” Katanya dengan ramah  sambil menerima pemberianku.

“Ah, nggak apa-apa, Ceu.” Kataku ramah pula, “Bagaimana keadaan Mang Ubed? Apa masih sakit?”  Mendengar pertanyaanku Ceu Minah terbeliak. “Siapa bilang dia sakit?” Seraya ia menuju ke kamarnya. “Kang Ubed sehat-sehat saja. Hanya belakangan dia senang bermalas-malasan dan setiap hari tidur saja.” Katanya seperti memprotes sikap suaminya. Kemudian ia masuk ke kamar dan terdengar membangunkan suaminya.

“Ceu, biarlah nggak usah dibangunkan!” Teriakku.

“Nggak apa-apa, Lihar. Memang siang ini sudah waktunya dia bangun.” Terdengar suara Ceu Minah dari kamar. Dan terdengar pula ia membangunkan Ubed. Kudengar  Ubed bangun, tak lama ia keluar kamar dengan wajah sembab karena mengantuk. Dia sebentar melihatku, tersenyum, “Eh, ada Lihar. Sebentar ya, aku cuci muka dulu.” Kemudian berlalu, ke belakang. Apa yang kufikirkan sebelumnya, tentang penyambutanku ternyata sangat bertolak belakang. Kukira ia akan acuh kepadaku, dan bersikap marah karena sudah tidak bekerja lagi denganku. Ternyata ia masih sopan dan perduli akan kehadiranku.

            Sementara Ubed di kamar mandi, Ceu Minah menyiapkan makanan dan minuman kepadaku. Ketika Ubed kembali persediaan makanan dan minuman kopi sudah tersedia di atas meja. Wajah Ubed tampak gembira.

            “Mangga Lih, dileueut kopina.” Ubed menyilakan aku minum kopi, sambil ia mengangkat gelasnya dan minum. Aku mengangguk mengiyakan dan kureguk kopiku.

            “Lihar.” Katanya setelah minum kopi, “Maaf ya sikapku kemarin, aku nggak bermaksud....”

            “Nggak apa-apa, Mang Ubed. Aku ngerti kok,” Kataku. “Ya, aku juga nggak menduga tiba-tiba Pak Yatna memutuskan demikian. Rasanya memang mendadak. Aku yang seharusnya minta maaf.” Mendengar perkataanku itu Ubed tersenyum. “Kamu nggak salah, Lih. Aku yang salah, terlalu sembrono bersikap di depan Pak Yatna. Sekali lagi maaf pula buat Mamit. Dia juga bilang merasa nggak enak mengacuhkan kamu beberapa hari ini.” Kata Ubed penuh penyesalan.

            “Iya nggak apa-apa, sampaikan saja pada Mang Mamit begitu.”

            “Iya Lih, terima kasih.” Ubed merasa lega sekali. “Hm, ngomong-ngomong Pak Nana sudah tiga hari ini nggak datang, kenapa ya?” Ubed bertanya-tanya tentang Pak Nana.

            “Saya pun belum dapat kabar.” Kataku merasa prihatin atas nasib Mang Ubed, karena untuk saat ini ia tak punya penghasilan apabila Pak Nana tidak datang. “Barangkali Pak Nana pernah ngomong sesuatu dengan Mang Ubed?”

            “Nggak Lih, dia nggak pernah ngomong apa-apa.” Ubed menggeleng.

            “Sedang ada halangan kali ya, Mang Ubed.”

            “Iya kali.” Ubed menganguk, “Tapi apa Pak Nana bakal ke sini lagi Nggak ya?” Sepertinya Ubed merasa was-was.

            “Dia pasti ke sini lagi, Mang Ubed.” Kataku meyakinkan. “Mengenai itu Pak Nana pernah bilang kepadaku, bahwa ia akan tetap di sini selagi teras di daerah ini masih banyak. Bukankah Pak Nana bisa mengambil di Cibogo atau di kampung lain?”

            “Oh, begitu ya.” Wajah Ubed terlihat berbinar, “Syukur deh kalau demikian.” Kemudian dia mengambil sepotong kue dan menikmatinya. Kemudian aku melempar pandangan ke luar rumah. Tampak dalam pandanganku pertigaan Cinangka yang tampak sepi. Di sudut kiri terdapat kios rokok, yang juga tampak lengang. Ya memang, rumah Ubed tepat terdapat di sudut kanan di pertigaan Cinangka. Jika keadaan sepi atau beberapa kendaraan lewat pasti akan jelas terlihat, jika sengaja memandang ke jalan lewat jendela. Apalagi jika ada mobil yang akan masuk ke Cinangka, tentu akan jelas terlihat. Seperti pada detik ini, kulihat mata Ubed yang sedang makan kue tampak berbinar matanya tatkala ia melihat ke luar lewat jendela.

            “Umur panjang, Lih, baru aja kita ngomongin Pak Nana, eh ternyata dia muncul.” Kata Ubed gembira. Dengan refleks aku pun melihat ke jalan. Dan benar tampak mobil Chevrolet Pak Nana tengah berbelok menuju Cinangka.

            “Alhamdulilah, Pak Nana datang!” Seruku gembira, karena dengan demikian Ubed dan Mamit akan bisa beraktivitas kembali.

            Beberapa menit kemudian, Aku dan Ubed sudah berada di kontrakan Pak Nana. Ternyata Pak Nana datang tidak sendiri. Ia datang bersama dengan anaknya yang masih kecil. Aboy, seorang anak laki-laki yang baru berusia 6 tahun. Aboy terlihat sangat gembira sekali. Mungkin baru kali ini ia diajak berjalan-jalan ke tempat bapaknya bekerja.

            “Lihar, gimana tarikan Om Joni?” Tanya Pak Nana.

            “Alhamdulilah, lancar dan cukup untuk tujuh rit setiap harinya.” Jawabku.

            “Gimana Ubed, siap narik hari ini?” Kali ini pertanyaan ditujukan kepada Ubed.

            “Aku sih selalu siap menunggu.” Kata Ubed dengan gembira.

            “Oke, kalau gitu, bilang Mamit suruh nunggu di pertigaan Cinangka, kita cari tarikan di Cibogo.” Pak Nana nampak bersemangat.

            “Aboy diajak nggak Pak Nana? Kalau nggak biar aku aja yang menjaga.” Aku menawarkan diri untuk mengasuh Aboy.

            “Nggak usah, Aboy akan gua ajak. Soalnya dia paling senang kalau ikut-ikut mobil sama bapaknya.” Kata Pak Nana sambil membelai-belai kepala anaknya. “Malahan Lih, kalau kakinya sudah panjang dan bisa nginjek gas, dia pengen sekali menjadi sopirnya.” Seloroh Pak Nana sambil tertawa. Aku pun turut tertawa mendengar gurauan Pak Nana tentang anaknya. Sementara Ubed sudah berlari dengan gembira menuju rumah Mamit.

            “Pak Nana aku sarankan ke penggalian Pak Enggoh aja, yang letaknya di Cibogo kaler. Aku sudah pernah kenal dengannya. Nanti kuantarkan ke sana.” Kataku memberi jalan keluar yang terbaik.

            “Oh, boleh juga Lih.” Pak Nana menyambutnya dengan gembira. “Memang gua udah dengar tentang Pak Enggoh. Oke anterin ke sana ya.”

            “Siap, Pak Nana, Sekarang?” Sambutku.

            “Ya, tunggu apa lagi.”

            Beberapa menit kemudian kami sudah melaju keluar dari kampung Cinangka. Di pertigaan Cinangka Ubed dan Mamit sudah stand by menunggu. Setelah itu mobil terus melaju ke arah Cibogo, melewati rumah Dede dan terus ke utara. Kulirik pula rumah Iin yang tampak sangat sederhana. Dalam hatiku, ingin rasanya aku langsung ke rumah Iin. Aku tidak perduli meskipun Iin melarangku untuk pergi ke rumahnya. Aku sebenarnya masih belum jelas, mengapa Iin melarang ke rumahnya. Padahal niatku baik. Jika tidak enak dengan Cepi, bukankah selain malam minggu Cepi tidak datang ke rumahnya? Ah, sebetulnya apa yang Iin khawatirkan. Padahal sudah jelas Iin tidak mencintai Cepi. Kenapa harus takut? Hal itulah yang membuat aku penasaran.

            Ketika aku sudah berhasil melobi Pak Enggoh, buat Pak Nana untuk menarik terasnya setiap hari. Aku menyempatkan diri pergi ke rumah Iin. Kulihat waktu baru pukul 9 pagi, mudah-mudahan Iin belum pergi ke sekolah. Kudengar Iin sekolah SMP masuk siang, karena sekolahnya kalau pagi hari digunakan anak-anak SD.

            “Assalamualaikum.” Di depan pintu rumah Iin aku memberi salam. Aku merasakan debaran jantungku. Ah, apakah pantas pada siang hari dan bukan hari libur aku bertandang ke rumah cewek? Itulah yang harus kulakukan karena hatiku sangat penasaran. Terdengar jawaban salam seorang ibu. Dan ketika pintu terbuka tampak Ibu Iin dengan senyum ramah menyambutku. “Kalau nggak salah, ieu  Lihar ya?”

            “Betul, Bu, aku Lihar, teman Iin.” Kataku dengan ramah pula.

            “Iya Ibu ingat waktu ketemu nengok Ina ya? Kalau begitu silakan masuk dan duduk Lihar. Nanti Ibu panggilkan Iin.” Setelah itu Ibu Iin masuk ke dalam. Dan aku menunggu di ruang depan. Namun beberapa menit berlalu Iin belum muncul juga. Aku menjadi gelisah. Jangan-jangan Iin tidak mau menemuiku karena aku dengan lancang telah datang ke rumahnya. Kini aku tinggal berserah diri kepada Allah. Jika memang itu yang terjadi aku harus pasrah untuk kehilangan Iin.

            Lima belas menit waktu yang sangat lama bagiku dalam menunggu. Pada menit berikutnya muncul Nungsih.

            “Bang Lih, Iin minta maaf.” Terdengar suara Nungsih tanpa duduk lagi.

            “Kenapa Nung? Iin nggak mau ketemu abang?” Suaraku terdengar bergetar, ada rasa kecewa mendera hatiku.

            “Bukan begitu Bang Lih. Justru Iin mengajak bertemu di luar rumah.” Kata Nungsih agak berbisik. Dan aku sangat terkejut, rasa kecewaku lantas surut. “Ha? Bertemu di luar? Di mana?” Ada kegembiraan mengusik dadaku.

            “Ayo ikut abdi.” Nungsih mengajakku keluar.

            “Abang harus pamit dulu sama Ibu Iin.”

            “Tadi abdi sudah bilang sama Bibi.” Kata Nungsih mengajakku tergesa-gesa untuk ke luar. Sebelum aku bangkit dari kursi muncul Ibu Iin. “Nung, rek diajak ka mana Lihar teh. Memangna Iin aya di mana?”

            “Iin di imah Enung, Bi. Iin ngantosan di dinya ceunah.” Sahut Nungsih kepada ibu Iin dengan bahasa Sunda.

            “Aya-aya wae. Padahal Bibi karak nyiapkeun kopi untuk Lihar.” Kata Ibu Nungsih yang masih tetap ramah.

            “Nggak usah repot-repot, Bu. Aku permisi ya.” Aku langsung beranjak dari kursi. Ibu Iin pun mengiyakan. Aku berjalan ke luar mengikuti langkah Nungsih. Namun ia tidak menuju ke rumahnya, melainkan berjalan menyeberangi jalan. Meskipun aku merasa heran, aku mengikuti langkahnya. Setiba di seberang jalan kulihat ada seorang anak kecil sekitar berumur 8 tahun telah menanti kami sambil tersenyum.

            “Bang Lih, ini adik kandung Iin, namanya Yuda.” Kata Nungsih sambil mendekati anak yang berdiri itu. Dengan sopan santun anak itu menghampiriku, dan mencium tanganku. Aku menjadi semakin heran.

            “Yuda, anterkeun Bang Lih ke tempat teh Iin menunggu ya.” Kata Nungsih kepada Yuda. “Sudah tahu kan, di mana teh Iin menunggu?”

            “Sudah Ceu Enung, tadi Teh Iin sendiri yang pesan kepada Yuda.” Kata Yuda dengan sikap persahabatan menatap padaku. Aku membalas tatapan Yuda yang kemudian  tersenyum. “Ayo Bang ikuti Yuda.” Ajak Yuda kepadaku. Nungsih melihatku mengangguk, agar aku mau mengikuti Yuda. Aku pun mengiyakan. “Terima kasih, Nung.”

            Kami berjalan menyusuri jalan setapak, melewati ladang perkebunan dengan jalan yang mendaki. Kulihat Yuda berjalan sangat lincah sekali, agaknya ia sudah terbiasa berada di tempat seperti ini.

            “Yuda, kelas 2 SD ya?” Tanyaku sambil berjalan dengan nafas agak terengah-engah, karena Yuda berjalan cepat sekali.

            “Iya, Bang Lih, Kok tau? Teh Iin yang ngasih tau ya?” Kata Yuda dengan suara yang biasa saja, tidak ada suara nafas yang terengah-engah. Aku menjawab dengan tawa kecil, karena aku tidak mau menjawab bukan. Biar saja ia menduga Iin sering cerita tentang adiknya. Padahal kenal Yuda baru sekarang ini. Aku tahu tentang adik-adik Iin dari Dede, bahwa Iin mempunyai adik empat orang dan kakak satu orang, yaitu Liza. Adik setelah Iin adalah Reres seorang perempuan umur 10 tahun, kemudian Yuda yang laki-laki, dan dua di bawahnya pun laki-laki.

            Perjalanan kurasakan semakin jauh dan berliku, agaknya perjalanan berbelok ke arah selatan. Hingga kemudian tiba di perkebunan teh yang sangat luas. Melihat ke sekeliling perkebunan teh tersebut aku menduga, bahwa perkebunan teh tersebut sudah memasuki wilayah Batukarut. Kulihat ke sekitar banyak para pekerja yang sedang memetik teh. Beberapa gubuk yang terdapat di sana sudah tersedia daun-daun teh hasil pemetik. Di sebelah utara agak pojok ada gubuk yang agak usang, dan tidak digunakan oleh si pemetik. Aku diajaknya ke sana, dan Iin terlihat sudah menunggu di dalamnya.

            “Iin.” Kupanggil namanya. Iin tersenyum gembira melihat kedatanganku. “Maaf ya, Bang Lih, Iin ajak ketemuan di sini.” Aku yang merasa heran, juga takjub. Aku tak menyangka ia mengajakku ke tempat yang indah. Tempat di mana aku merasakan keindahan di daerah ini. Ya, di perkebunan Batukarut, ketika Yeti sering mengajakku bertemu di sini. Ah, aku jadi teringat Yeti. Ketika cinta telah tumbuh diantara pemandangan yang indah. Akan tetapi keindahan di sini tidak pudar meskipun cinta yang dulu sudah padam. Justru tunas baru dalam cinta inilah yang membawa pemandangan di sini lebih indah lagi. Hamparan perkebunan teh yang luas dan hijau, di ujungnya diselimuti kabut tipis dengan hamparan gunung Salak yang menjulang dan memanjang dari utara sampai ke selatan ; lereng Parakan Salak.

            “Nggak apa-apa, In. Abang malah senang sekali melihat pemandangan yang sangat bagus ini.” Kataku dengan rasa suka cita. Ketakjubanku mengalahkan rasa heran yang mendera. Mengapa Iin lebih memilih bertemu di perkebunan teh dari pada di rumahnya? Lalu kami duduk berdampingan di dalam gubuk itu. Sedangkan Yuda menjauh bermain-main sendiri, mengejar belalang yang tampak melompat-lompat. Kurasa Yuda sudah mengerti, ia tidak mau mengganggu tetehnya yang sedang asyik berpacaran.

            “Bang Lih, sekali lagi Iin minta maaf, karena Iin belum bisa menerima Abang di rumah Iin.” Kata Iin minta maaf kembali, yang justru membuatku bertambah heran dan penasaran.

            “Iya Iin, sebenarnya Abang ingin tahu. Kenapa Iin nggak mau bertemu Abang di rumah?” Tanyaku dengan sejuta rasa yang berkecamuk di dada.

            “Belum waktunya, Bang.” Kata Iin lirih. “Nanti suatu saat, abang akan mengerti pula.” Pandangan matanya nanap sebentar kepadaku, kemudian menerawang ke pemandangan yang hijau terhampar. Kulihat wajahnya yang cantik membias, dengan rasa cemas yang disembunyikan.

            “Tapi In, Abang benar-benar nggak mengerti.” Kutatap wajah Iin yang cantik tanpa polesan apapun. Sungguh kecantikan yang alami. Kuraih dagunya agar ia membalas menatapku.

            “Iin, apakah ada laki-laki lain yang berada di hati Iin?” Tanyaku lirih. Dia langsung menghindari tatapanku, tanganku yang menjangkau dagu dielakkan.

            “Bang Lih.” Ia menundukkan wajah sangat dalam. “Iin belum bisa menjelaskan. Yang pasti Abang harus lebih percaya isi hati Iin yang sebenarnya. Untuk apa Iin bersusah payah bertemu Abang di sini kalau...?” Dia tidak meneruskan kata-katanya.

            “Kalau apa, In?” Aku semakin penasaran, dan aku tak kuasa memaksa Iin agar mau beradu pandang denganku. Kini ia semakin menundukkan wajahnya, rambutnya yang tergerai menghalangi sebelah matanya.

            “Bang Lih tentu dapat menebaknya.” Katanya lirih.

            “Iin, Abang mau menebaknya, kalau Iin mau melihat mata Abang.” Kataku, kali ini dengan tekanan suara yang tegas. Dan perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Kulihat bola matanya penuh linangan air mata, menatapku. Ya, aku memang melihat cinta di matanya. Pandangan cinta kepadaku memang kurasakan di sanubariku. Namun ada sesuatu yang membuatnya takut, sehingga matanya berkaca-kaca. Aku menjadi sulit menebaknya. Ada apa dibalik rasa cinta itu? Kemudian perlahan kupeluk dia. “Iin, Abang percaya.” Kataku merasa iba hati akan derita Iin yang aku tidak tahu. “Maafkan, Abang nggak akan bertanya lagi.”

            “Terima kasih, Bang Lih.” Katanya agak terharu, kepalanya disandarkan di dadaku. Dan aku pun merasakan kedamaian saat Iin memelukku erat. Namun ketika ada langkah kaki yang terdengar dengan cepat, aku melepaskan pelukan Iin. Kami melihat ke arah suara langkah kaki yang kini terhenti di depan gubuk. Rupanya Yuda dengan plastik bening di tangannya yang sudah penuh dengan beberapa ekor belalang. Yuda membuang muka ketika menyaksikan kami yang saling melepaskan, sepertinya ia malu dan hendak pergi lagi.

            “Yuda!” Panggilku, “Jangan pergi!” Seketika Yuda menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan tersenyum, “Bang Lih, aku hanya mau pinjam korek api.”

            “Oya.” Aku merogoh kantong jaketku, kukeluarkan sebuah korek api yang selalu kubawa bersama rokok Garfit. Kuulurkan korek api  itu kepada Yuda. “Ini Yuda, memangnya untuk apa?” Mataku memperhatikan belalang-belalang yang berada dalam plastik. Sepertinya aku sudah menduga untuk apa korek api itu?

            “Buat bikin api, Bang. Nanti Belalang-belalang ini akan aku sate.” Kata Yuda dengan gembira. Ia menerima korek api tersebut, dan berlari. Kupalingkan wajahku kepada Iin, dan Iin tersenyum manis kepadaku. “Betul, Bang Lih. Yuda memang suka sekali dengan daging belalang bakar.” Kata Iin tertawa lucu. Aku membalas tawanya. “Iya, In” Kubayangkan masa kecilku di Sawangan. Aku berlari-lari di padang garapan petani yang luas, yang terletak antara Sawangan dan Bedahan. Hamparan alang-alang dan bermacam-macam pohon ada di sana. Di beberapa bagian ada yang ditanami palawija, kacang-kacangan, Umbi rambat, dan ketela pohon. Pada rerumputan yang lapang aku dan teman-teman berkumpul membuat perapian dari tumpukan kayu. Dan beberapa belalang sudah kami tusuk dengan sejumput batang rerumputan yang keras. Kami memanggangnya di atas bara api yang menyala. Dengan ditaburi garam yang sebelumnya kami bawa, belalang itu kami santap dengan nikmatnya setelah masak. Dagingnya memang gurih sekali bagai rasa udang yang digoreng.

            “Kenapa Bang Lih, kok jadi senyum-senyum sendiri?” Terdengar suara Iin yang mengagetkan aku. “Oh, eh...” Aku memang tersentak, “Iya, Abang lagi membayangkan betapa enaknya daging belalang itu.” Kataku dengan spontanitas.

            “Bang Lih suka juga daging belalang?” Tanya Iin tertawa geli.

            “Iya dulu, waktu kecil Abang juga sering bakar belalang seperti yang Yuda lakukan.” Kataku tanpa malu-malu. “Kalau sekarang rasanya udah nggak mau.”

            “Sama Bang Lih. Waktu kecil Iin juga doyan, sekarang nggak juga.” Kata Iin tertawa malu-malu, sambil memiring-miringkan wajahnya. Lucu. Dan gemes. Membuat aku terhanyut melihatnya. Tak terasa hari sudah siang, kulihat jam sudah menunjukkan angka sebelas. Yuda datang dengan belalang yang sudah masak, belalang yang sudah ditusuk dengan batang rumput. Baunya harum menerpa hidungku. Sementara perut mulai terasa lapar.

            “Pulang yuk, Bang, Iin harus sekolah.” Ajak Iin mulai berdiri.

            “Kita Makan di warung dulu ya..” Kataku mengajak makan di warung nasi yang terdapat di ujung kampung Batukarut.

            “Nggak usah, Bang. Nanti Iin terlambat.”

            “Teh Iin, coba dah belalangnya, gurih..” Kata Yuda sambil mengunyah sate belalang.

            “Embung Yuda, engke bae Teteh dahar di imah.” Sahut Iin dengan memakai bahasa Sunda. Kami mulai berjalan meninggalkan gubuk, menyusuri jalan setapak yang agak menurun.

            “Teh Iin biasana beuki.” Yuda tertawa menggoda tetehnya.

            “Oh, jadi Teh Iin masih doyan belalang, ya Yuda.” Aku menyahuti godaan Yuda.

            “Iya, Bang Lih. Pasti Teteh malu karena ada Bang Lih.” Yuda tertawa terpingkal-pingkal. Aku pun mengikuti tawanya.

            “Yuda! Ulah kitu!” Bentak Iin kepada adiknya sambil merajuk. “Bang Lih, jangan percaya omongan Yuda. Dia emang suka ngalalaga tetehnya.” Kata Iin yang kemudian ditujukan padaku.

            “Iin, masih doyan juga nggak apa-apa kok. Makan aja satu mah, lumayan buat ganjel perut.” Timpalku masih menggoda Iin.

            “Tuh, kan, Bang Lih.” Tiba-tiba Iin mencubitku. “Yuda juga sih.” Ia ingin pula mencubit Yuda, tetapi anak itu lebih cepat menghindar dan lari sambil tertawa-tawa. Tinggal aku yang mengaduh-aduh dicubiti Iin, karena sasaran yang dituju tidak didapatkannya.

            “Aduuh, ampun Iin, iya deh Iin nggak doyan belalang. Abang yang doyan belalang.” Kataku sambil mengusap-usap tanganku yang nyeri. Tetapi dalam hati sesungguhnya, aku sangat suka sekali dengan cubitan Iin yang lembut. Memang sedikit nyeri sih, tapi ada sesuatu kenikmatan sendiri yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kesimpulannya semua berangkat dari cinta, segala yang perih menjadi indah.

            “Nah, Bang Lih ngaku kan, doyan belalang!” Iin merasa gembira sekali. “Yudaa.. dagoan, yeuh Bang Lih hayang simeud!” Iin memanggil Yuda agar berhenti, dan mengatakan bahwa aku kepengin makan belalang.

            “Embung ah, sieun diciwit.” Kata Yuda terus berlari.

            Kejar-kejaran pun terjadi.  Apabila dizoom-out akan tampak dari jauh tiga bayang-bayang manusia yang berlari-lari di jalan setapak yang menuruni bukit dengan sejuta kebahagiaan. Panasnya matahari yang terik itu tidak membuat suasana jadi panas, karena hawa dingin pegunungan itu tetap saja memagut walau diterpa matahari sekali pun. Beberapa kabut yang berada di bayang-bayang pepohonan masih seperti enggan pergi.

 

                                                                       ***