
PUTIH PELANGI MANISE
Karya Novel: Henkir Alam
Media Sosial Penulis
Sinopsis
Di barat kota Bogor ada sebuah kecamatan yang penduduknya selalu dalam kedamaian. Ciseeng yang punya kehidupan yang maju, penduduknya saling gotong-royong dan perduli dengan tetangga. Di sana di pegunungan Peye ada sebuah rumah yang nampak antic, mempunyai bangunan pavilion di sebelahnya yang dijadikan sebuah laboratorium penelitian dan eksperimen. Rumah itu dihuni oleh seorang professor yang bernama Mubarack, serta istrinya yang cantik bernama Sherly. Selisih usia suami istri itu 15 tahun, Prof. Mubarak 35 tahun, Sherly 18 tahun. Keluarga itu dikaruniai seorang putri cantik bernama Liana Putri Mubarack, yang kebetulan keluarga itu memelihara anjing. Sejenis anjing kampung yang penurut yang dinamakan Pleki. Ada keanehan yang terjadi pada putri keluarga itu. Liana ketika lahir tumbuh pesat, usia 2 tahun sudah sebesar anak usia 7 tahun. Begitu pula dengan Pleki yang melahirkan anjing yang berjenis lain, berbeda dengan induknya yang hanya seekor anjing kampung biasa. Zegri nama anjing baru itu tampak jenis anjing westie terrier, jenis anjing luar negeri. Sama seperti Liana yang berparas jelita bagai anak Indo. Prof. Mubarack telah berhasil menemukan sebuah senjata ampuh yang dikemas dalam dokumen Juk-p1 dan Juk-P2, dan senjata Juk-p1 yang sudah dirampungkan bukan sejenis senjata yang mematikan, namun ketika disatukan dengan Juk-P2 akan menghasilkan senjata yang luar biasa. Tentu saja banyak penjahat yang tertarik untuk memilki senjata tersebut, salah satunya adalah komplotan Mbah Roso yang tinggal di bukit Cabe Cipinang Rumpin. Liana yang baru berusia 2 tahun, didaftarkan sekolah SD sebagai anak usia 7 tahun. Kejeniusan itu yang langsung diterima di sekolah tersebut. Hanya kepala sekolah saja yang tahu usia Liana sebenarnya. Dan di sana Liana bergaul dengan teman-temannya biasa, tidak memamerkan kekuatannya yang ia miliki. Meskipun kadang terpaksa ia keluarkan demi menolong teman-temannya yang lemah. Tapi dengan pesan jaga rahasia atas dirinya. Beberapa penjahat beraksi di rumah Prof. Mubarack namun selalu digagalkan oleh Liana dan Zegri, dan itu pun menjadi rahasia, sehingga penghuni rumah tidak mengetahuinya. Namun suatu peristiwa yang genting terjadi, sahabat Prof. Mubarack yang bernama Doct. Hasmi diculik, dan Ir, Suryadi yang tinggal di Gunung Sindur dilumpuhkan. Akibat peristiwa itulah Liana harus bertindak. Lalu bagaimana caranya, karena ia harus merahasiakan jati dirinya? Jalan yang terbaik ia harus menyamar dengan mengenakan topeng dan baju ala superhero. Belakangan diketahui kekuatan Liana memang sudah dipersiapkan oleh seseorang yang misterius. Yang akhirnya nama Liana dalam membasmi kejahatan menjadi Putih Pelangi Manise. Menurut sang misterius tersebut akan datang penjahat besar dari masa lalu yang akan menghancurkan negeri ini. Penjahat itu menitis pada seorang bocah laki-laki yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Bocah itu bernama Maung, yang dibalik itu harus berhasil mencuri berkas senjata muktahir milik Prof. Mubarack. Nah, siapakah sang misterius yang mengubah Liana menjadi berkekuatan superhero, dan titisan dari mana yang membuat Maung mempunyai kekuatan dan perlakuan yang jahat. Lalu berhasilkah Liana mencegah kejahatan yang dilakukan Maung.Lalu apa peran Mbah Roso dibalik itu semua. Jawaban ada pada, Putih Pelangi Manise. Yuk, miliki bukunya, dan ikuti ceritanya.
Ringkasan
Menjelang pulang, Liana menghadang Mini, Sumi, dan Ririn.
“Ada apa, Liana? Apa kamu nggak puas saat kami kena hukum tadi?” Tanya Mini dengan geram dan hatinya tambah membenci Ranti.
“Hm, gimana ya?” Kata Liana tersenyum dibuat-buat. “Kalian nggak boleh senang dulu sebelum berjanji padaku.”
“Janji apa?” Tanya ketiga anak perempuan itu serempak.
“Jika nanti Ranti sudah sembuh, kalian harus minta maaf dan mau berteman dengannya.” Kata Liana dengan sorot mata yang tajam.
“Kalo aku nggak mau, kamu mau apa?” Tanya Mini dengan agak sedikit geram. Ingin rasanya mendorong tubuh Liana agar terjungkal ke belakang. Namun sorot pandangan Liana yang tajam membuat ia tak berdaya.
“Baiklah..” Liana mengambilnya sesuatu dari dalam tasnya. Diambil tiga buah paku sepanjang 7 CM. “Kalian tau, apa ini?” Tanyanya. Lalu satu paku diberikan pada Mini. “Pegang ini.” Mini dengan berat hati menerimanya.
“Untuk apa paku ini, Liana?” Mini tidak mengerti, kedua temannya pun bingung.
“Kamu rasakan sendiri, Mini. Seberapa keras paku itu.” Kata Liana sambil memperhatikan kebingungan mereka.
“Sudahlah Liana, kami ingin pulang. Atau kami akan berteriak, sehingga sopir-sopir kami akan datang dan menghukum kamu, Liana.” Ancam Mini dengan wajah kesal.
“Hm, coba aja kalo berani.” Liana segera melempar salah satu paku ke arah pohon yang berada di antara Mini dan teman-temannya. “Crak!” Paku itu menancap dalam di pohon tersebut. Mini, Sumi, dan Ririn pun terkejut. Mereka mengurungkan niatnya untuk berteriak. Mereka takut satu paku yang masih dipegang Liana menancap di tubuhnya.
“Nah, kalian mau janji nggak?” Tanya Liana kembali.
“Tapi..” Mini berkata ragu-ragu.
“Baiklah.” Liana menghampiri mereka dan mengambil paku dari tangan Mini. “Lihat kedua paku ini.” Liana memamerkan kedua paku di tangan kanan dan kirinya. “Seperti yang Mini sudah tau, paku ini sangat keras.” Lalu perlahan-lahan Liana membengkokkan paku ini dengan ibu jarinya. Seketika ketiganya mengeluarkan keringat.
“Kami janji, kami akan minta maaf pada Ranti dan kami ingin berteman.” Tiba-tiba terlontar dari mulut Sumi dan Ririn dengan penuh ketakutan.
“Gimana kamu Mini?”
“Aku juga, Liana, aku janji.” Mini berjanji dengan mengeluarkan keringat dingin karena rasa takutnya. Ia sudah membayangkan bagaimana jadinya jika jarinya yang lemah ini ditekuk Liana seperti paku tadi. Maka dari itu mereka takut luar biasa. Hatinya tak percaya jika Liana mempunyai kekuatan super seperti itu.
“Bagus. Ingat baik-baik, kalian nggak boleh cerita kepada siapa-siapa tentang kejadian yang aku bisa. Jika cerita awas, kalian akan celaka.” Liana mengertak.
“Kami janji.” Ketiganya mengangguk-angguk, hampir menangis.
“Oke sekarang kita pulang.” Lalu dengan langkah biasa Liana segera keluar gerbang sekolah dan menghampiri ke tempat parkiran. Ketiga temannya mengikutinya dengan keadaan yang gemetaran di seluruh tubuhnya. Mereka menuju mobilnya masing-masing, dan tak berkata apa-apa ketika sopirnya bertanya.
Diskusi
0 Komentar