Udara pagi ini sangat cerah, di sekitar kebun di belakang rumah burung-burung berkicau dengan ceria. Seakan-akan hewan kecil yang suka terbang itu tengah menghibur orang-orang yang berada di dalam rumah. Suara siulannya memang membuat penghuni di dalam rumah itu sangat nyaman mendengarkannya. Rupanya sang professor yang sedang duduk minum kopi susu dengan pakaian kebesarannya. Pakaian kedokteran yang dipakai itu pertanda ada suatu tugas tentang kedinasan sebagai seorang ahli dalam bereksperimen.

Sherly seorang istri yang setia dengan suami, meskipun dalam keadaan hamil besar ia tetap melayani kebutuhan suaminya.

“Pap, jam berapa berangkat ke Puncak Cipanas?” Tanya Sherly sambil menenteng sebuah koper, menyiapkan untuk keberangkatan suaminya.

“Aku menunggu teman kolega dulu, Mam. Sekalian sebelumnya membenahi data-data eksperimen yang akan kubawa.”

“Perlu kubantu, Pap?” Tanya Sherly.

“Nggak perlu, sayang. Biarlah asistenku yang mengurus semuanya. Sebaiknya kau perlu menghirup udara pagi yang segar di luar sana.” Kata Prof dengan rasa kasih sayang.

“Oh, ya, baiklah saya akan jalan-jalan ke taman bersama Pleki.”

“Betul.” Prof mencari sesuatu, “Di mana Plekimu?”

“Dia menunggu di luar, Pap.”

Pleki adalah seekor anjing betina yang berbulu bagus. Dialah yang menemani hari-hari pada waktu Sherly berjalan-jalan di luar. Saat Sherly berjalan keluar Pleki menyambutnya, dan segera berlari mengiringi tuannya pergi jalan-jalan pagi.

Sementara Prof melalui asistennya segera membenahi dokumen penting yang akan ia bawa. Kemudian bersama sopirnya, pak Amat ia segera berlalu. Prof pergi ke suatu tempat untuk mengkonservasi atas eksperimennya pada yang berkepentingan.

Kembali ke sebuah taman bunga yang indah dan luas, Sherly tengah berjalan diringi dengan Pleki yang lincah. Sepertinya Sherly dan Pleki dalam keadaan yang sama, yaitu sama-sama sedang hamil. Entah factor kebetulan atau apa? Hal itu tak jadi pikiran buat dua makhluk hidup itu. Yang pasti mereka sangat akrab satu sama lain. Berjalan berdua, beriringan. Walau kadang-kadang Sherly mengajaknya bicara, dan akan disahuti dengan lenguhan kecil.

“Pleki, kau senang kuajak jalan-jalan di pagi ini?” Begitulah gaya Sherly mengajak bicara kepada anjingnya. Seakan-akan Pleki memang bisa mengerti maksudnya.

“Huuk..” Terdengar suara Pleki bagai gumaman kecil, dan itu tandanya mengerti. Apalagi kepalanya seperti manggut-manggut. Sherly gembira dan merentangkan tangan menghirup udara pagi yang segar. Matanya kemudian berkeliling ke sekitar taman bunga itu. Ia kemudian melihat seorang ibu muda yang sedang mendorong kereta bayi.

“Pleki, lihat itu seperti jeng Sri, istri pak Handaka.” Sherly melangkah menuju di mana orang yang bernama Sri mendorong kerte bayi.

“Jeng Sri.” Sapa Sherly ketika dekat.

“Oh, Mbak Sherly.” Sri menghentikan langkahnya.

“Apa kabar, Jeng? Jarang kelihatan?” Tanya Sherly sambil melihat bayi yang berada di kereta bayi.

“Betul, Mbak.. setelah lahir baby, aku tinggal di rumah ibu.” Sahut Sri.

“Oh, pantesan, setiap jalan pagi nggak pernah kelihatan.” Lalu Sherly mencubit sayang pipi anak Sri. “Aduh, manisnya anak kamu.”

“Iya, dia laki-laki yang tampan.” Sri menyahut.

“Bukan main, ganteng kayak bapaknya ya? Hm, anak yang kedua ya?” Tanya Sherly seperti geregetan menatap bayi kecil yang anteng itu.

“Betul, Mbak.”

“Ikut KB ya?”

“Terang dong, program pemerintah, anak cukup dua.” Sri tertawa. Lalu mata Sri beralih ke perut Sherly yang memang sedang hamil itu. “Aih, kandungan Mbak sudah besar, sudah enggal rupanya? Mbak Sherly bakal punya anak yang pertama.”

“Iya, Jeng, kayaknya aku bakal seneng seperti kamu.” Sherly tertawa gembira.

“Udah USG? Laki apa perempuan?”

“Perempuan.”

“Wah, pasti cantik seperti ibunya.”

“Ha ha ha, ada-ada Jeng, kan belum kelihatan.”

“Kelihatan, itu di wajah Mbak.”

Setelah obrolan panjang berlalu, mereka berpisah. Sherly kembali menyusuri jalan setapak. Matanya berkeliling ke beberapa orang-orang yang sudah hadir di taman itu. Ada yang lari-lari kecil, ada yang senam pagi, dan ada pula yang hanya sekadar berjalan santai seperti dirinya.

Sherly berpapasan dengan dara muda jelita mengenakan celana pendek dan kaos Puma, menyapa Sherly dengan wajah berseri. “Hai, Kak Sherly, udah lama nggak jalan ke taman, tau-tau kandunganmu sudah besar.”  Sherly yang mengenali gadis itu tertawa dengan senang.

“Hai, Tini.. iya, udah agak berat dibawanya.” Sherly sekadar bergurau.

“Ciah, bakal seneng deh punya baby.” Kata Tini sambil tak henti-henti menggerakkan kakinya, lari di tempat. “Nanti kalau sudah lahir bilang-bilang ya, Kak.. Aku mau ikut timang-timang.”

“Ya, pastinya, siapa aja boleh gendong.” Sherly tersenyum.

“Cihuy, asyiik.. Aku nanti ada teman main.” Seraya tangan Tini bertegger dipinggang, lalu menggerakkan kiri-kanan selayaknya gaya senam pagi.

“Tini, kau cepat sekali besar ya, cantik lagi. Kelas berapa kamu?” Tanya Sherly sambil menatap wajah Tini yang berkeringat.

“Kelas II SMA, Kak.”

“Cepat ya, rasanya kakak baru kemarin ngajak kamu jalan-jalan di taman ini waktu masih SD.”

“He he he, waktu cepat berlalu ya, Kak. Dulu kak Sherly masih sendiri, sekarang udah jadi nyonya Profesor.” Kata Tini tertawa.

“Bisa aja kamu, Tini.” Sherly turut tertawa.

“Ambil jurusan apa kamu?”

“Jurusan IPA.”

“Bagus, masa depanmu akan cemerlang, Tini.”

“Cemerlang sih cemerlang, kalo otaknya bebal gimana…” Tini bercanda.

“Ya nggaklah, otak kamu kan otak encer, waktu SD kamu juara terus.” Kata Sherly memuji. “Waktu kakak Tanya kali-kalian kamu sering menjawabnya dengan tepat.”

“Ah, Kak Sherly.” Kata Tini tersipu dan bangga akan dirinya.

“Bener Kak, tapi sekarang aku harus belajar lebih tekun lagi, sebab jurusan IPA tuh bikin aku mabok rumus.” Tini mengucapkannya dengan gaya yang serius, namun hal itu membuat Sherly tertawa terpingkal-pingkal.

“Awas Kak!” Disela tawanya Tini berteriak.

“Ada apa?!” Sherly menutup mulutnya.

“Itu! Bayi yang ada di dalam perut ikut tertawa. He he he.” Tini tertawa girang karena sudah menjebak Sherly untuk terkejut.

“Hahaha.. kirain apa.”

“Itu Pleki ya Kak?” Tini menghentikan tawanya dan menunjuk Pleki yang diam saja melihat mereka tertawa, hanya lidahnya yang kadang-kadang menjulur keluar. “Dulu masih kecil banget, eh sekarang sepertti kak sherly, lagi hamil juga ya?”

“Oh, iya betul.. Menurut dokter kelahiran bayi ini bisa bareng dengan kelahiran anak Pleki.”

“Wah, seru dong.. nanti bayi kak Sherly langsung ada teman bermain.” Tini tertawa seneng, begitu pula dengan Sherly. “O ya Kak Sherly, aku lanjut lari pagi ya.” Kemudian Tini pamit.

“Ya.” Sherly mengangguk.

“Tu wa tu wa… Bye..!” Tini menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Lalu berlari sambil melambaikan tangannya. Sherly tersenyum melihat dara jelita itu pergi dengan rasa semangat yang tinggi. Setelah Tini menjauh, Sherly dan Pleki melanjutkan jalan santainya. Setelah beberapa jenak, Sherly memilih istirahat di sebuah pohon ceri yang rindang, yang cabang tumbuh menyamping. Hingga Sherly yang duduk di kursi beton yang ada di bawah pohon tersebut merasakan kesejukan yang menyelusup ke dalam tubuhnya yang mulai berkeringat.

Pleki yang setia dengan majikannya turut istirahat dengan mendepong di sisi kursi beton. Sherly matanya menerawang ke sekeliling melihat beberapa orang-orang sekitar yang sedang berolah raga di taman itu. Bermacam ragam cara olah raga mereka. Ada yang senam, ada yang sekadar jalan santai, ada yang berlari-lari kecil, dan ada pula yang bermain skiping. Pokoknya dari yang masih kecil sampai yang sudah dewasa hadir di sana.

“Pluk.” Terdengar sebuah benda jatuh dari atas pohon, benda yang berwarna kuning kemerah-merahan dan bulat itu menggelinding ke arahnya. Sherly terkejut memperhatikan benda itu. “Hey, apa itu?” Ia segera memungutnya. Diperhatikannnya benda ternyata buah segar, tapi buah apa? Selama ini ia belum pernah melihat buah yang bentuknya aneh seperti itu. Bentuknya bulat seperti buah ceri. Tapi ini agak aneh dan lebih besar dari buah ceri. Kemudian matanya menengadah ke atas memeriksa buah-buah ceri di atas. Ia melihatnya tidak ada yang besar, semua kecil-kecil. Kemudian ia berdiri melihat pohon di sebelahnya, ternyata pohon jambu air, dan agak jauh berselang tampak pohon belimbing yang buahnya memang kuning-kuning, dan berbentuk bintang pada sisinya.

Sherly kembali memperhatikan buah aneh itu, yang bentuknya sebesar belimbing, tapi bulat seperti ceri. Dia memperlihatkannya kepada Pleki yang hanya mendengus-dengus, dan bersuara kecil.

“Buah ini aneh, Pleki. Mirip buah ceri, tapi besarnya kok seperti buah belimbing yang masak, dan tampaknya segar sekali.” Merasa Sherly mengajak Pleki berbicara, anjing itu seperti mengangguk-angguk

“Kau tahu nama buah ini Pleki? Buah yang aneh.” Sherly bertanya-tanya bingung. “Hm, mungkin buah ini beracun, Pleki.” Katanya kepada Pleki, sepertinya ia ingin membuang buah tersenyum. Namun tampaknya Pleki mengisyaratkan agar jangan membuangnya.

“Aih, kau melarang membuang buah ini, Pleki?” Tanya Sherly kepada Pleki, dan dengan gerakan yang dimengeri Sherly, menandakan anjing itu mengiyakan. Kok Pleki kelihatan sangat suka dengan buah ini? Begitu kata hati Sherly. Tiba-tiba hasratnya bergelora untuk makan buah tersebut. Sepertinya bayi yang ada dalam kandungan yang ingin buah itu.

“Ah, kenapa bayi dalam kandungaku bergerak-gerak, seakan-akan menginginkan buah ini.” Sherly berfikir ragu-ragu. Tangannya kembali ingin melempar buah itu.

“Rrrr..” Pleki menggeram.

“Ada apa, Pleki? Kau sepertinya nggak setuju kalau buah ini kubuang.” Sherly mengurungkan niatnya. Diperhatikan Pleki yang berbinar melihat buah aneh yang dipegangnya. Tiba-tiba tangannya bergetar dan seperti ada magnet yang menariknya. Buah itu mampir ke mulutnya dan menggigitnya. “Kres.”

Ternyata buah itu sangat lezat sekali, seperti layaknya menggit buah jamblang, dagingnya putih, rasanya gurih kemanis-manisan. Entahlah Sherly tak dapat membayangkan rasa apa? Dibilang jambu bukan, sawo bukan, belimbing juga bukan. Rasanya aneh, ia belum pernah merasakan buah selezat ini. Disamping itu rasa yang ia rasakan tadi segera hilang. Namun Sherly mengerti atas perhatian Pleki yang memperhatikan ia makan. Segera ia membuat bagian buat anjingnya. Dan dengan sekali lahap anjing itu menelan buah tersebut.

Sherly masih menikmati buah tersebut, rasa yang segar itu ia jadi lupa akan sekitarnya. Yang saat itu sudah banyak orang-orang yang di taman itu pulang. Matanya terbelalak ketika ia melihat taman sudah mulai sepi. Makanan di tangannya pun sudah habis.

“Pleki, kemana orang-orang di taman ini, kok udah nggak ada?” Tanya Sherly dengan heran. Pleki seperti menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Sherly baru menyadari ternyata hari sudah siang, matahari menggelincir di ufuk timur sudah meninggi. Selanjutnya suatu keanehan terjadi pada dirinya, ia merasakan tubuhnya ringan. Kelelahan yang tadi ia rasakan tak ada lagi. Apalagi bayi yang berada di dalam kandungannya sudah tidak berasa berat lagi. Hal itu rupanya dirasakan oleh Pleki pula.

“Rupanya kau merasa seger juga ya.” Sherly bangkit dari duduknya. “Yuk, kita pulang.” Baru saja  Sherly mengucapkan kata itu, Pleki dengan sigap berjalan ke luar taman. Dan di belakangnya Sherly berjalan dengan ringan.

Hari-hari berlalu, dan Sherly dan Pleki yang sudah makan buah tersebut tak ingat lagi. Memorinya telah melupakan peristiwa itu. Entah apa yang terjadi sebenarnya?

 

                                                                         ***