Siang itu udara di luar sangat panas. Mentari sangat terik dengan langitnya yang membiru. Panas matahari menyentuh setiap benda yang berada di atas bumi, termasuk sebuah bangunan kokoh yang terdapat di lereng gunung, berbentuk aneh. Bangunan itu tampak memanjang dengan banyak jendela-jendela pada setiap ruangannya. Ternyata bangunan yang berbentuk tidak semestinya, adalah sebuah laboratorium ilmiah yang dimiliki oleh seorang professional, yang bernama Prof. Mubarack. Beberapa orang tampak di dalam ruangan termasuk Profesor dan beberapa orang asistennya.

Prof. Mubarack dan dua orang asistennya telah melakukan riset dan eksprimen. Salah satunya adalah tentang bijih nikel yang dileburkan dengan cairan kimia, serta berlian yang mengkristal. Hasil leburan itu dimasukkan dalam tabung kaca berbentul botol kecil, dan dicampur dengan cairan kimia berwarna biru. Kemudian dengan peralatan yang sederhana, botol-botol itu berputar pada kumparan mesin. Kemudian keluar lewat suling-suling yang menjalar ke beberapa arah yang bertumpu pada kemasan mini. Hasil dari beberapa kemasan mini itu kemudian dipergunakan untuk dikatupkan pada sebuah benda yang berbentuk senjata aneh. Benda itu ternyata sebuah senjata berujung tiga lubang.

Sebuah 3 benda kecil diletakkan dengan jarak 5 dan 10 meter. Ternyata benda-benda kecil itu adalah berupa logam dari emas, perak, dan tembaga. Salah seorang asistennya mengarahkan senjata berbentuk aneh itu ke arah 3 benda kecil itu. Saat senjata tombol itu ditekan, dengan kecepatan yang tak diduga ke 3 benda itu melesat, dan sudah hilang, masuk ke dalam senjata yang berbentuk aneh itu.

Dua orang asistennya bertepuk tangan, “Berhasil.”

“Ya.. “ Prof. Mubarack membuka katup belakang, dan mengeluarkan  ketiga logam yang sudah menyatu dengan warna emas menyala. “Lihatlah, campuran logam-logam tadi telah berubah menjadi emas tulen. Coba periksa hasilnya dengan baik. Salah seorang asisten langsung memeriksa kadar emas dalam logam tersebut, hasilnya luar biasa, “100 % emas murni.”

“Bagus dengan alat ini kita akan menciptakan logam emas mulia dengan campuran perak dan tembaga. Untuk hari berikutnya, kita harus uji coba di lapangan.” Kata Prof. Mubarack dengan suka cita.

“Siap!” Kedua asisten mengangguk dengan antusias.

Kemudian Prof. Mubarack keluar ruangan, dan keluar dari bangunan kubus, menuju rumah biasa yang tak jauh jaraknya dari bangunan kubus. Di dalam rumahnya ia disambut hangat istrinya, yang sedang hamil.

“Pap, gimana dengan hasil eksprimenmu hari ini?” Tanya istrinya, karena setiap saat Sherly, nama istrinya selalu mengikuti perkembangan tentang eksperimen baru yang sering dilakukan suaminya.

“Berhasil, Mam, dengan senjata yang kurancang telah menghasilkan logam emas mulia yang seratus persen.” Katanya dengan penuh kegembiraan.

“Oh ya?” Sherly yang telah membereskan pakaian bayi, segera berdiri.

“Sudahlah, Mam nggak perlu berdiri. Jaga kandungan agar jangan banyak terguncang.” Prof. Mubarack melarang istrinya untuk berdiri.

“Tak apa-apa, Pap.” Sahut Sherly tetap berdiri, “Aku ingin memelukmu karena keberhasilanmu.”

“Baiklah, istriku.” Mereka saling berpelukan. Kemudian setelah itu mereka duduk. Segelas air putih yang berada di atas meja langsung direguk sang professor. Lalu digenggamnya tangan istrinya, “Mam, aku bahagia karena sebentar lagi kita akan mempunyai seorang anak..”

“Ya, kita sama-sama bahagia. Terlebih lagi aku bahagia karena kau telah menemukan sebuah alat yang nantinya sangat berguna bagi negeri ini.” Kata Sherly menggenggam tangan suaminya yang mulai mengelus-elus perutnya.

“Itu belum seberapa, nanti ada beberapa langkah untuk menyempurnakan alat itu.”

“Lebih sempurna, Pap?”

“Ya, aku akan membuat sebuah alat yang bisa mencari logam yang tersembunyi, dan masuk ke dalam alat tersebut, kemudian keluar sudah berubah menjadi emas. Tentu saja hanya benda yang bersifat logam. Hanya unsur emas, perak, dan tembaga, atau kategori perunggu. Selain logam yang tidak disebutkan tadi, tidak bisa.” Prof. Mubarack menerangkan tentang teorinya.

“Besi misalnya?” Sherly menebak.

“Ya. Besi tak bisa, karena muatan ionnya berbeda. Kalau itu terjadi, tentu sangat riskan apabila benda semacam paku dari besi masuk ke dalam alat tersebut.” Mendengar uraian suaminya, Sherly manggut-manggut. Dia pun bersandar pada sofa, kedua tangannya bertumpu pada perutnya yang hamil.

“Istriku.” Kata Profesor berbisik, “Kira-kira berapa hari lagi anak kita lahir?”

“Menurut dokter kandungan yang memeriksa, katanya bulan besok. Dan kandungan sekarang baru 8 bulan.” Sherly tersenyum kepada suaminya, ia membiarkan suaminya turut mengelus-elus perutnya kembali. “Hasil USG anak kita perempuan, Pap.”

“Aku senang mendengarnya, tentu ia berparas cantik seperti ibunya.” Kata Profesor merasa bahagia. Sherly mengangguk, “Juga gagah, dan pintar seperti papanya.”

“O ya, Pap.” Sherly teringat sesuatu. “Aku tadi masak, sekarang makan yuk.”

“Apa? Kau yang masak, memang Bi Darsih ke mana?” Prof. Mubarack tampak merasa khawatir. Ia tak ingin istrinya lelah dalam mengerjakan rumah.

“Bi Darsih ada, tapi aku sedang ingin memasak, bawaan bayi.” Kata Sherly tersenyum.

“O, ya.. tapi aku kuatir tentang kandunganmu.”

“Tidak apa-apa, Pap.. aku merasa sehat kok.”

“Ya, kalo memang demikian aku akan segera melahap masakanmu.” Prof. Mubarack dengan kegembiraan menuju meja makan. Tak lama mereka berdua sudah menikmati makanan yang telah terhidang. Nampak sekali sang professor makan dengan lahap.

Beberapa waktu berlalu, saat mereka istirahat datang seorang tamu.

“Spada.”

“Oh, siapa? Silakan masuk.” Sang Profesor menyahut, dengan menyuruh orang yang memberi spada untuk masuk. Pintu terbuka tampaklah seorang dewasa berdiri di depan pintu dengan senyum persahabatan.

“Apa kabar Prof?”

“Baik. Hai.. sahabatku Pak Suryadi.” Prof bangkit dari tempat duduknya menyambut Suryadi, sahabat dekatnya. Lalu menyilakan sahabatnya untuk duduk. Sementara istrinya Sherly, setelah menyapa sebentar langsung ke belakang, sambil teriak, Bi Darsih.

Prof dan Suryadi duduk berbincang-bincang, diselingi dengan kedatangan bi Darsih yang membawakan minuman.

“Gimana perkembangan usahamu sekarang?” Tanya Prof kepada Suryadi.

“Berkat bantuanmu Prof, usaha kami berjalan dengan baik.” Jawab Suryadi dengan keramahan selayaknya sahabat lama.

“Bagus. Aku sangat bangga padamu.” Prof memuji.

“Oh ya, Prof, bagaimana hasil eksperimenmu tempo hari yang telah kau beritahukan padaku, apakah sudah ada kemajuan?”

“Ya, aku bersyukur. Eksperimenku berhasil dengan dahsyat.”

“Partikel bijih nikel yang berubah jadi emas.” Suryadi membelalakan matanya, “Tentu kekayaan akan menganga di depan.”

“Tidak, Pak Suryadi.” Prof berdehem sejenak. “Aku membuat eksperimen itu bukan untuk kekayaan, tetapi ilmu pengetahuan untuk masyarakat kita. Dimana sumber daya manusia di negeri kita agar lebih maju. Dan masyarakat negeri ini nantinya diharapkan yang kaya bisa menutupi yang miskin, Maka akan tercipta keadilan yang merata.”

“Sungguh jenius pemikiranmu, Prof. Tak terfikirkan olehku sampai ke sana.”

“Itulah Pak Suryadi. Dengan hasil yang kutemukan itu, aku berharap agar manusia tidak serakah untuk menguasainya.”

“Ya.. ya.. betul.” Suryadi mengangguk-angguk.

“Terlebih lagi aku telah menemukan senjata baru yang kuberi nama XY ray iron.” Prof menenggak minumannya, diikuti Suryadi.

“Luar biasa.” Katanya setelah minum. “Bagaimana pungsinya? Tentu akan mematahkan musuh dengan mudah?”

“Bukan.. bukan itu..” Prof menggeleng.

“Lalu buat apa XY Ray Iron dibuat jika bukan buat perang?”

“Ini untuk pencarian logam mulia yang hilang.”

“Maksudmu, Prof?” Suryadi merasa sangat heran.

“Nanti akan kuterangkan.” Prof berkata dengan santai.

“Aku sudah tak sabar untuk mendengarnya.” Suryadi sangat antusias untuk mengetahui keampuhan senjata XY Ray Iron. Apa faedahnya? Yang membuat bingung kenapa Prof membuat senjata bukan untuk perang?

“Pak Suryadi.. Senjata yang kubuat itu sebenarnya bukan senjata perang, tetapi alat untuk pencarian logam mulia yang tersembunyi. Jika kita berada di suatu tempat, di gundukan pasir, semak-semak atau di dalam air. Senjata itu cukup diarahkan pada bagan-bagan tersebut. Nanti akan berdatangan logam-logam berharga yang masuk ke tabung yang sudah disediakan pada senjata tersebut. Hasilnya jika dibuka, kita akan mendapatkan partikel-partikel emas yang terkumpul. Dan jika partikel-partikel emas itu bisa kita bentuk sedemikian rupa. Tentunya dengan pemanasan dan cetakan yang sudah kita buat.” Prof menerangkan dengan detail dan tentu saja sangat mencengangkan Suryadi.

“Luar biasa.” Suryadi berdecak kagum. “Prof, bolehkah aku melihat senjata langsung dan mempraktekkannya.”

“Oh, tentu saja boleh. Di ruang laboratorium ada asistenku.” Kata Prof tersenyum, Ayo kita ke sana.”

“Mari.. dengan senang hati.” Suryadi langsung berdiri, mengikuti Prof yang berdiri terlebih dahulu. Kemudian mereka berjalan menuju laboratorium yang berada di belakang rumah.

 

                                                                           ***