PUTIH PELANGI MANISE

Menjelang pulang, Liana menghadang Mini, Sumi, dan Ririn.
“Ada apa, Liana? Apa kamu nggak puas saat kami kena hukum tadi?” Tanya Mini dengan geram dan hatinya tambah membenci Ranti.
“Hm, gimana ya?” Kata Liana tersenyum dibuat-buat. “Kalian nggak boleh senang dulu sebelum berjanji padaku.”
“Janji apa?” Tanya ketiga anak perempuan itu serempak.
“Jika nanti Ranti sudah sembuh, kalian harus minta maaf dan mau berteman dengannya.” Kata Liana dengan sorot mata yang tajam.
“Kalo aku nggak mau, kamu mau apa?” Tanya Mini dengan agak sedikit geram. Ingin rasanya mendorong tubuh Liana agar terjungkal ke belakang. Namun sorot pandangan Liana yang tajam membuat ia tak berdaya.
“Baiklah..” Liana mengambilnya sesuatu dari dalam tasnya. Diambil tiga buah paku sepanjang 7 CM. “Kalian tau, apa ini?” Tanyanya. Lalu satu paku diberikan pada Mini. “Pegang ini.” Mini dengan berat hati menerimanya.
“Untuk apa paku ini, Liana?” Mini tidak mengerti, kedua temannya pun bingung.
“Kamu rasakan sendiri, Mini. Seberapa keras paku itu.” Kata Liana sambil memperhatikan kebingungan mereka.
“Sudahlah Liana, kami ingin pulang. Atau kami akan berteriak, sehingga sopir-sopir kami akan datang dan menghukum kamu, Liana.” Ancam Mini dengan wajah kesal.
“Hm, coba aja kalo berani.” Liana segera melempar salah satu paku ke arah pohon yang berada di antara Mini dan teman-temannya. “Crak!” Paku itu menancap dalam di pohon tersebut. Mini, Sumi, dan Ririn pun terkejut. Mereka mengurungkan niatnya untuk berteriak. Mereka takut satu paku yang masih dipegang Liana menancap di tubuhnya.
“Nah, kalian mau janji nggak?” Tanya Liana kembali.
“Tapi..” Mini berkata ragu-ragu.
“Baiklah.” Liana menghampiri mereka dan mengambil paku dari tangan Mini. “Lihat kedua paku ini.” Liana memamerkan kedua paku di tangan kanan dan kirinya. “Seperti yang Mini sudah tau, paku ini sangat keras.” Lalu perlahan-lahan Liana membengkokkan paku ini dengan ibu jarinya. Seketika ketiganya mengeluarkan keringat.
“Kami janji, kami akan minta maaf pada Ranti dan kami ingin berteman.” Tiba-tiba terlontar dari mulut Sumi dan Ririn dengan penuh ketakutan.
“Gimana kamu Mini?”
“Aku juga, Liana, aku janji.” Mini berjanji dengan mengeluarkan keringat dingin karena rasa takutnya. Ia sudah membayangkan bagaimana jadinya jika jarinya yang lemah ini ditekuk Liana seperti paku tadi. Maka dari itu mereka takut luar biasa. Hatinya tak percaya jika Liana mempunyai kekuatan super seperti itu.
“Bagus. Ingat baik-baik, kalian nggak boleh cerita kepada siapa-siapa tentang kejadian yang aku bisa. Jika cerita awas, kalian akan celaka.” Liana mengertak.
“Kami janji.” Ketiganya mengangguk-angguk, hampir menangis.
“Oke sekarang kita pulang.” Lalu dengan langkah biasa Liana segera keluar gerbang sekolah dan menghampiri ke tempat parkiran. Ketiga temannya mengikutinya dengan keadaan yang gemetaran di seluruh tubuhnya. Mereka menuju mobilnya masing-masing, dan tak berkata apa-apa ketika sopirnya bertanya.
Daftar Isi
Dukung LiharAksara
Jika Anda menikmati tulisan ini, Anda dapat memberikan dukungan agar kami bisa terus menyajikan konten yang berkualitas.
Beri DukunganTerima kasih atas apresiasi Anda
Diskusi
0 Komentar