Dua minggu sudah berlalu, kini tampak Sherly di rumahnya sedang memangku Liana. Anehnya baru menjelang dua minggu, bayi itu sudah bisa duduk di pangkuannya. Sherly tidak memikirkan itu, yang terpenting ia sudah memberikan Liana ASI, yang tadi dengan rakus bayi itu menyusu.
Tiba-tiba bell berbunyi, tanda ada tamu. Ternyata tamunya adalah Tini, seorang gadis ABG yang datang bersama temannya.
“Hai, Tin…” Sapa Sherly gembira, “Bersama siapa tuh?”
“Teman, Kak Sher… namanya Rustimah.” Seraya Tini memegang lengan temannya. Sherly dengan gembira menyambut salaman dari Rusti yang kemudian Tini. Sherly hanya sebentar memperhatikan wajah kedua gadis itu. Menurut Sherly gadis yang bernama Rusti itu lebih cantik. Rambutnya ikal panjang, nampak anggun. Poni indah berada di keningnya yang sebetulnya tidak jenong. Sherly yakin, tentu banyak lelaki yang tergila-gila padanya.
“Kami datang ke sini sengaja ingin melihat adik bayi, yang katanya cantik. Ternyata emang benar.” Tini langsung mencolek pipi bayi yang duduk di pangkuannya itu. “Namanya siapa, Kak?” Tanya Tini.
“Liana. Nama dapat dari Papanya.” Sahut Liana gembira.
“Kak Sherly, itu Liana sudah umur 2 bulan ya?” Tanya Rusti, karena ia melihat Liana sudah duduk tegak dan bermain-main dengan tangannya. Suaranya yang lucu terdengar dari mulut bayi itu.
“Dua bulan gimana?” Sergah Tini. “Liana tuh baru umur 2 minggu.”
“Masa?” Rusti heran, “Kok udah bisa duduk sih?” Seraya Rusti memegang tangan Liana, dan disambut bayi itu dengan tertawa gembira.
“Ya, betul Rusti, Liana baru berumur dua minggu.” Sherly meyakinkan.
“Wah, berarti bayi bongsor ya, pertumbuhannya cepat.” Kata Surti berdecap kagum.
“Ya, tentu aja, Liana kan bayi Kak Profesor, pasti makanannya beda.” Tini tertawa. “Sini Kak, aku gendong.” Tangan Tini meraih Liana, mengangkat dan menggendongnya. “Aduh, berat banget.” Sepertinya Tini hampir tak kuat, mimik wajahnya tampak keberatan. Lalu Rusti menyambutnya, dan menggendong Liana. “Aduh.. iya berat..” Sementara Liana tertawa-tawa senang, karena dirinya dioper kesana-kemari. Tampaknya anak itu merasa sedang diajak bermain-main.
Ketika Rusti hendak memberikan Liana kepada Sherly, Liana lolos dari tangan Rusti. Tetapi anak itu malah tertawa gembira ketika ia jatuh terduduk di lantai. Padahal ketiga perempuan itu menjerit khawatir jika bayi itu mengalami cedera. Sherly langsung hendak menubruk Liana yang terduduk di lantai, lalu hal itu diurungkan. Tiba-tiba saja Liana merangkak dengan cepat ke arah bufet yang di bawahnya ada mainan bola kecrek. Mainan itu diraihnya dan ia menggoyang-goyangkan mainan itu dengan riang gembira. Sherly, Tini, dan Surti hanya berbengong ria melihat hal yang menakjubkan itu.
“Liana, mana mungkin?” Sherly heran karena sebelumnya ia tak pernah melihat Liana merangkak. Kenapa sekarang tiba-tiba merangkak, dan tahu mainannya jatuh?
“Iya, Kak. Apakah kemarin Liana udah bisa merangkak?” Tanya Tini heran.
“Justru Kakak baru melihatnya sekarang. Kemarin dia biasa saja saat mainannya jatuh. Dia hanya tertawa-tawa di pangkuan Kakak. Ya, Kakak hanya melihat dia baru bisa tengkurap. Tapi sekarang melihat kok dia sudah dapat merangkak secepat itu.” Kata Sherly masih dengan keheranan. Lalu ia berdiri menghampiri Liana, lalu menggendongnya. Anehnya Sherly tidak merasa berat seperti yang dirasakan dua teman ABG-nya.
“Kok, Kak Sherly nggak merasa berat sih?” Tanya Tini heran.
“Hm, kenapa ya?” Sebenarnya dalam hati Sherly bingung, tapi dia menjawab, “Mungkin Kakak sudah terbiasa menggendong Liana, jadi nggak terasa berat.”
“Iya ya.” Tini Dan Rusti manggut-manggut.
Kali ini Liana sengaja dilepas bermain mengelilingi ruangan itu. Sherly tak khawatir melihat kelakuan anaknya. Yang dimainkan adalah mainan anak-anak belaka. Ia tak mencoba meraih benda-benda yang membahayakan dirinya. Misalnya barang pecah belah, atau apa saja yang tergapai tangannya.
Tini dan Rusti sangat gembira menghadapi Liana, maka dengan asyiknya mereka mengajak bermain-main di seputar ruangan tersebut. Sore hari mereka pamit pulang.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 5.00 WIB, Sherly Nampak sudah rapi berbenah. Meskipun ada Bi Darsih tetapi ia tidak mengandalkan semua pekerjaan dikerjakan oleh pembantunya. Sementara Liana tertidur setelah minum ASI, Liana memperhatikan sejenak bayinya yang tumbuh kembang dengan pesat. Ia pun sudah menyiapkan pakaian bayi yang lebih besar, agar Liana tidak merasa kesempitan saat memakainya.
Tiba-tiba di luar terdengar suara klakson mobil. Aha, rupanya suaminya telah pulang. Kebetulan hari itu telah hadir pembantu laki-laki di halaman rumahnya, sehingga bi Darsih tak perlu repot-repot membuka pintu pagar, dan mobil itu masuk garasi.
Prof. Mubarack dengan hanya sumringah berwajah berseri ketika istrinya menyambut.
“Mam, istriku, eksperimenku yang kemarin berhasil. Beberapa kolega, ilmuwan, dan pemerintah menyambut antusias penemuanku itu.” Sekonyong-konyong Prof. bercerita lalu duduk sambil minum teh yang sudah disediakan Sherly.
“Oh, ya syukurlah,” Sherly tersenyum bahagia.
“Penemuanku yang kuberi nama Freak Y.29. Sangat menarik banyak peminat.Tapi tak sembarangan orang kuberikan, bisa bahaya kalau dipegang oleh orang jahat.”
“Kalau gitu Mas harus hati-hati, dan jangan sembarangan percaya kepada orang.”
“Ya, tentu saja, Sherly.”
“Oh ya, Mas, kenapa penemuanmu kau beri nama Freak Y.29?” Sherly tiba-tiba bertanya tentang nama aneh yang ia dengar.
“Nama itu diberikan karena teoriku, sesuatu yang tidak normal namun menghasilkan sedotan yang luar biasa.” Prof. Mubarack menjelaskan.
“Maksudnya?” Sherly makin tidak mengerti.
“Hal yang tidak lumrah, jika benda yang terhalang dinding bisa diambilnya, semacam logam mulia, emas, berlian, dan intan permata.”
“Lalu apa perbedaannya dengan XY Ray Iron?” Tanya Sherly saat ingat nama senjata yang pertama.
“Oh, sebetulnya.. XY Ray Iron bisa mengubah partikel berubah menjadi emas murni, sedangkan Freak Y 29, alat pendeteksi di mana emas-emas murni dapat ditemukan, dan langsung bisa otomatis masuk ke dalam tabung senjata. Pokoknya jika digabungkan ada hal dahsyat yang terjadi. Maka dari itu, rumus ini akan aku rahasiakan. Ada formula yang saya buat untuk membuat senjata itu jadi pelumpuh manusia. Maka formula yang aku buat itu aku sembunyikan.”
“Betul, Mas, jika itu jadi berbahaya, ada baiknya jangan dipublikasikan, cukup orang yang berwenang dan terpercaya saja, yang harus menyimpannya.”
“Seratus.. Sher.. memang begitu maksudku.” Prof mengacungkan jempolnya.
“Tentunya suamiku yang hebat.” Puji Sherly bangga.
“Ah, bisa aja, Sherly.” Prof tertawa, tetapi tampak tubuhnya letih.
“Tampaknya kau capek, Mas.” Sherly memijit-mijit bahu suaminya. “Lebih baik kau istirahat, Mas.”
“He he he, tahu aja..” Prof. Mubarack tertawa ringan. “Oke, kalau begitu aku mandi ya.. badan rasanya lengket sekali.” Prof. Mubarack beranjak dari tempatnya, dan Sherly mengikutinya dengan menyiapkan keperluan mandi suaminya.
***
Ketika hari beranjak malam, suami istri masih bercengkerama di ruang tengah sambil menonton televisi. Banyak berita yang mereka lihat seputar kejahatan, terutama perampokan dan kejahatan yang lain.
“Kalau melihat kondisi di luar, senjata yang Mas ciptakan sangat berbahaya kalau diketahui oleh para penjahat, terutama perampok.” Sherly berkomentyar saat melihat acara TV yang penuh dengan berita kriminal.
Sebelumnya Prof. Mubarack telah menjelaskan semua tentang penemuannya. Juga diceritakan tentang pertemuan rahasia dengan para ahli, dan yang hadir ada yang dari perwakilan pemerintah. Tentu saja bagian intelejen. Menyaksikan kehebatan senjata tersebut. Para ahli tekhnologi yang berkumpul itu telah sepakat menamakannya Freak Y.29. Disamping kehebatannya yang luar biasa. Mereka mencoba di alam liar, hutan, sungai, dan gunung-gunung. Senjata Freak Y.29 itu diuji coba dengan menjatuhkan benda batu mulia di tempat yang tersulit. Ajaib semua dapat ditemukan, dan sudah berada di dalam senjata tersebut dengan diberi ruang tabung yang cukup untuk menampung beberapa benda mulia di dalamnya.
Ajaib. Bukan hanya Benda mulia yang ia dapat, mereka pun menemukan barang berharga yang lain seperti jamrud, berlian permata manik-manik, dan lain sebagainya. Kehebatan benda tersebut hanya pada benda yang berharap, semacam besi, logam biasa, tembaga, dan seng tak akan ikut tersedot dalam tabung senjatanya.
Kini dalam ruangan rahasia mereka seolah-olah telah mendapatkan harta karun yang berharga. Seperti peninggalan kerajaan kuno, uang emas yang tertulis tahunnya. Apalagi saat mencari di permukaan sungai, penemuan-penemuannya bisa dipergunakan bagi ahli sejarah. Mereka sepakat akan merahasiakan penemuan Prof. Mubarack ke dunia luar.
“Hebat sekali, Mas.” Sherly dengan kagum memuji suaminya.
“Bagiku itu belum seberapa, Sher?” Kata Prof. Mubarack sambil tersenyum.
“Maksudmu, Mas?”
“Ciptaanku yang sudah selesai Freak Y 29, sebetulnya belum sempurna. Yang sudah kami lakukan hanya menemukan barang yang berada di alam liar, dengan radius 10 meter. Dan ciptaanku sudah kususun dalam buku rumusan, yang kusimpan dalam formula yang kuceritakan tadi. Formula berbentuk dokumen itu kusimpan dalam tasku, para ahli yang tadi hadir belum aku beritahu tentang itu. Sebab walau bagaimana pun aku harus memakai system jangan mudah percaya dengan seseorang.”
“Oh ya.. memang seberapa hebat senjata yang sudah kau ciptakan dalam formula itu?” Sherly bertanya dengan heran.
“Sangat hebat, senjata itu adalah perpaduan sinar Y dan sinar X, aku sudah mencobanya di ruang eksperimen. Benda mulia yang terhalang dinding setebal 20 cm bisa diterobosnya tanpa merusak dinding tersebut, karena daya sinar X tadi.” Prof. Mubarack bercerita dengan saksama. Dan tanpa diketahui mereka ada seseorang menguping pembicaraan mereka dari luar. Setelah mendengar pembicaraan suami istri itu, pencuri dengar itu bergegas keluar rumah, menaiki pagar halaman belakang dan berlalu.
“Nah, formula ini jika digabungkan dengan XY Ray Iron, kedahsyatan akan luar biasa. Aku sudah mencobanya dengan hewan tikus.” Prof meneruskan keterangannya, namun pencuri dengar sudah tak tahu, karena sudah berlalu.
“Lalu apa yang terjadi dengan tikus-tikus tersebut?”
“Hanya dengan radiasi kedua senjata itu, tikus-tikus itu lumpuh. Aku juga tak menyangka, jika senjata khusus logam mulia itu bisa menjadi senjata ampuh. Makanya formula ini yang harus kurahasiakan.”
“Iya.. iya.. Mas.” Sherly tersenyum dan bangga pada suaminya yang jenius.
“Jadi kita harus menjaga kerahasiaan dokumen itu istriku, nanti hanya orang yang kupercaya saja yang kuberi tahu, termasuk kau, istriku sayang.” Prof. Mubarack tertawa ceria. Mereka dengan bahagia berpelukan. Namun untuk meneruskan kemesraan tak diteruskan, karena terdengar suara bayi dari dalam kamar.
“Oh, rupanya Liana terbangun.” Kata Sherly yang langsung berdiri.
“Ya, anak kita bangun karena kita terlampau berisik.” Prof. Mubarack tersenyum dan berdiri pula. Lalu keduanya bergandengan tangan menuju kamar dimana suara anaknya terdengar tadi.
****
Diskusi
0 Komentar