Usia kandungan nyonya Prof. Mubarack sudah genap Sembilan bulan. Kini bayi dalam kandungannya sudah meronta-ronta ingin keluar untuk melihat dunia yang luas. Bibi Darsih yang berada didekat Sherly agak panik dibuatnya. Pembantu yang setengah tua itu ingin membantu apa saja, agar majikannya yang merintih di atas ranjang dapat ia tolong. Tapi apa yang harus dilakukannya?

“Bi.. Tolong telpon Pak Prof, rasanya akuu…” Terdengar rintihan Sherly menahan sakit. Sepertinya bayi yang ada dalam kandungan sudah berontak dan ingin segera keluar.

“Baik, Nyonya..” Bibi Darsih yang panik segera berlari ke ruang tamu. Dan dengan agak gemetar menekan angka di pesawat telepon. Rupanya ia sudah hapal dengan angka majikannya.

“Hallo.” Kata Bi Darsih saat mendengar suara di dalam teleponnya. “Ya, apakah Bapak Profesor ada? Saya Bi Darsih, Nyonya Sherly akan melahirkan.” Suara Bi Darsih terbata-bata, yang sebentar-sebentar matanya melirik ke kamar Sherly. Ia sungguh tak tahan mendengar rintihan Sherly.

“Iya.” Sahut Bi Darsih saat mendapat jawaban, lalu ia menutup teleponnya. Dengan cepat Bi Darsih ke dapur, menyiapkan air hangat untuk keperluan Sherly. Tak lama ia sudah kembali dengan membawa sebaskom air hangat.

“Bi, aku sudah nggak tahan.” Sherly berkata disela rintihannya.

“Tenang Nya, sebentar lagi Bapak Profesor datang.” Bi Darsih berusaha menenangkan diri. Lalu ia menyeka perut Sherly yang terbuka dengan baluran air hangat, dengan harapan sakit yang diderita Sherly berkurang. Ajaib, setelah kehangatan meresap dalam perutnya, Sherly agak merasa nyaman. Sepertinya rasa sakitnya hilang.

“Bi, rupanya anakku merasa senang dibalur dengan air hangat, ia tidak menendang-nendang lagi.” Kata Sherly penuh kegembiraan. Pada saat itu terdengar suara klakson mobil di luar rumah. Rupanya sang Profesor telah tiba.

“Bagaimana, Bi?” Tanya Profesor saat berada di pintu kamar.

“Air ketubannya sudah pecah, tuan.” Sahut Bi Darsih dengan wajahnya yang berkeringat. Ia kini agak tenang melihat Sherly tidak merintih lagi.

“Mam.” Profesor mendekati istrinya, “Bagaimana keadaanmu?”

“Anak kita pengen segera keluar, Pap.” Kata Sherly yang masih bisa tersenyum. Ia pun merasa keanehan, perut yang tadinya sakit luar biasa kini tidak lagi.

“Oh, tampaknya kau biasa saja.” Profesor agak heran melihat istrinya tidak merasa kesakitan saat hendak melahirkan. Tapi itu tak dipikirkan, ia segera memapah Sherly, Menuju mobil dan mengajaknya ke rumah sakit.

“Cepat Pak Amat, kita ke RSUD!” Perintah Profesor kepad sopirnya.

“Siap, Tuan.” Dengan sigap Pak Amat menekan pedal gas. Mobil pun menghilang menjauhi halaman rumah. Bibi Darsih termangu di pintu rumah, kemudian sambil menarik napas dengan lega, ia menutup pintu.

Di RSUD, tepatnya di ruang tunggu pesalinan tampak suasana hening. Keheningan itu dironai dengan para laki-laki yang mondar-mandir gelisah, karena menantikan kelahiran anak-anaknya. Ya, mereka sama telah menunggu kelauarga baru yang akan lahir, tidak terkecuali prof. Mubarack yang sangat gelisah. Sebentar berjalan ke kanan, sebentar berjalan ke kiri. Kadang ia duduk, kadang ia berdiri. Tampak kegelisahan yang luar biasa. Walaupun usia sudah agak tinggi, tapi baru pertama kali ini ia akan mempunyai seorang anak, dengan istri yang dipilihnya masih muda.

Pada saat pintu kamar bersalin terbuka, beberapa laki-laki bangkit memburunya, termasuk Prof. Mubarack.

“Suster, bagaimana dengan istri saya?” Ia mendahului bertanya sebelum laki-laki lain sempat bertanya.

“Sabar, Pak.. hm,” Suster itu berkeliling memandang beberapa laki-laki di sana, tentu saja suami-suami yang gelisah. Usianya beragam dari yang masih muda sampai yang sudah tua. “Bapak Hendarto.” Sebut suster itu dengen jelas. Laki-laki yag berdiri dekat Prof. Mubarack, mengacungkan tangannya. “Saya Suster.”

“Silakan.” Kata suster menyilakan Hendarto untuk masuk.

“Terima kasih.” Dengan cepat Hendarto masuk, pintu ditutup kembali.

Dengan lunglai Prof. Mubarack kembali ke tempat duduknya dimana di sebelahnya telah duduk seorang laki-laki bertubuh kurus, dengan kumis tipis, serta posisi duduk yang gelisah. Prof. Mubarack melirik orang itu sebentar, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Ya banyak para suami yang gelisah menanti kelahiran anaknya.

“Anak yang ke berapa, Pak?” Prof. Mubarack membuka suara dengan lelaki kurus di sampingnya. Yang ditanya agak terkejut, lalu dengan cepat mengumbar senyum. “Anak ketiga, Pak.” Jawab lelaki itu agak kecut. Mungkin ada kegelisahan yang dalam dan tersimpan kekelaman di hatinya.

“Bapak anak ke berapa?” Lelaki itu membalikkan pertanyaan kepada Profesor.

“Aku menantikan kelahiran anak pertama.” Jawab Peofesor gugup. Lelaki kurus mengernyitkan alisnya, ia tak menyangka orang yang duduk dan seusia dengannya baru menantikan anak yang pertama. Prof. Mubarack paham atas perubahan wajah lawan bicaranya. “Saya nikah telat, Pak.”

“Oh.. ya ya..” Lelaki kurus itu mengangguk-angguk.

“Maaf, Pak. Bapak sudah mengalami beberapa kelahiran, tetapi kenapa kelihatan sangat gelisah melebihi saya?” Tanya Prof. Mubarack yang merasa heran dengan kegelisahan laki-laki kurus itu.

“Saya.. kuatir hal yang sama terulang lagi, Pak.” Wajah orang kurus itu gugup.

“Oh ya? Apa yang telah terjadi?” Prof. Mubarack bertanya dengan heran.

“Anak pertama saya meninggal dunia kena kecelakaan, waktu itu usianya baru dua tahun.” Tampak kesedihan wajah orang kurus berkumis itu, “Dan anak kedua meninggal dunia saat dilahirkan. Sekarang saya kuatir sekali.” Orang itu hampir menangis. Prof. Mubarack dengan refleks menepuk-nepuk orang yang baru dikenalnya itu. “Yang sabar, Pak. Saya yakin anak Bapak yang akan lahir sekarang ini tentu lebih sehat dan hidup.”

“Terima kasih, Pak.” Orang kurus itu mencoba senyum, meskipun matanya tampak basah karena menahan air mata. Dan pada saat pintu kamar bersalin terbuka kembali, semua mata terarah ke pintu.

“Bapak Hamid.” Terdengar suara suster menyebutkan satu nama.

“Saya.” Orang kurus itu tampak gembira bercampur was-was. Ia segera berdiri menghampiri suster. “Anak saya bagaimana, Suster?”

“Baik, Pak..masuk saja.” Orang kurus yang bernama Hamid itu dengan cepat masuk. Prof. Mubarack makhlum saat Hamid berlalu begitu saja saat namanya dipanggil. Tiba-tiba perasaan was-was muncul pada dirinya. Mungkinkah kejadian yang dialami Hamid akan menimpa dirinya? Tidak. Ia yakin saat membawa Sherly ke sini, dalam keadaan sehat, dan kelihatan bayi dalam perutnya bergerak-gerak lembut. Tampak Prof. Mubarack komat-kamit berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.

“Tuhanku, selamatkan Sherly dan anakku yang bakal lahir.” Berdoa dalam hati, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Perasaannya tak karuan, ketika satu-persatu laki-laki yang menunggu telah dipanggil. Ia merasa bingung dan gelisah, sudah satu jam berlalu belum ada kata yang menyebut nama dirinya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Sherly? Apakah ia kesulitan melahirkan? Atau anakku.. oh… Tuhan.” Keringat yang membanjiri wajahnya ia seka dengan sapu tangan.

Saat pintu terbuka ia langsung berdiri, tapi bukan panggilan hanya Hamid yang muncul dengan wajah cerah ceria. Prof. Hamid langsung menyalaminya.

“Selamat.” Ucap Prof. Mubarack dengan takjim.

“Terima kasih, anak saya lahir sehat dan selamat.” Hamid tampak gembira sekali.

“Syukurlah.” Prof. Mubarack pun tersenyum bahagia, itu artinya anaknya pun lahir akan selamat.

“Bapak Profesor Mubarack.” Terdengar suara menyebut namanya. Seketika Prof. Mubarack terlonjak. Ia segera menghampiri pintu yang terbuka dan suster yang tersenyum. “Anak Bapak sehat, silakan masuk.” Sebelum Prof. Mubarack bertanya suster itu langsung menerangkan keadaan anaknya dan menyilakan masuk. Dengan terburu-buru ia menghampiri istrinya yang terbaring lemah di ruang pesalinan.

“Mam, kau tidak apa-apa kan?” Tanyanya khawatir. Sherly mengangguk tersenyum, Aku baik-baik saja kok, Pap.”

“Bagaimana dengan anak kita?” Prof. Mubarack masih deg-deg hatinya. Sherly tersenyum dan memberi isyarat kepada suster yang berdiri di belakang suaminya.

“Sebentar, anak Bapak akan saya bawa kemari.” Dengan cepat suster itu meninggalkan ruangan itu. Tak lama kemudian ia kembali dengan menggendong bayi cantik, sehat, lagi gemuk.

“Oh, anakku..” Ia menatap suster.

“Dia perempuan, Pak.” Suster mengerti.

“Oh, baru lahir tapi kelihatan sudah gemuk.” Prof. Mubarack tampak bahagia melihat anaknya yang sehat, layak sudah usia 3 minggu.

“Ya, anak Bapak agak berbeda dengan yang lain. Kalau bisa yang biasa kulitnya masih tipis dan belum terlihat gemuk, tapi anak Bapak luar biasa. Jadi proses kelahirannya agak lama, tapi akhirnya dapat lahir dengan mudah.” Kata suster perawat menerangkan dengan ramah. Lalu dibaringkannya bayi mungil yang gemuk itu di sisi ibunya.

“Mam betapa bahagianya aku, anak kita cantik seperti ibunya.” Kata Prof. Mubarack tak lepas memandang bayi cantik di sisi ibunya..

“Siapa nama yang akan kau berikan pada anak kita, Pap?” Tanya Sherly di tengah kebahagiaannya. Prof. Mubarack tengadah sebentar, Ya, sudah ada nama untuknya.”

“Siapa, Pap?”

“Liana Sherlita Mubarack.”

“Oh, indahnya.” Sherly tersenyum bahagia.

“Aku bahagia, Mas.”

“Aku juga.”

Di ruangan itu tampak suami istri yang tengah berbahagia. Meskipun berbeda usia tapi mereka sangat berbahagia, dan serasi dilihatnya. Sherly 25 tahun, dan Prof. Mubarack 42 tahun, usia yang yang jauh dan sudah matang. Mereka berdua sangat berbahagia.

                                

                                                           ***