Para tetangga yang mendengar kabar anak ibu Sarmi diculik segera datang ke sana. Mereka semua ingin tahu kenapa Melina diculik? Macam-macam dugaan mereka. Melina tentu diculik Jin Kaliblabak, yang di sana terkenal, menurut penduduk desa Angan yang masih percaya dengan tahayul. Jin Kaliblabak diyakini punya kekuatan gaib yang hitam, menggunakan media perempuan yang masih perawan. Tetapi kebanyakan kaum pemuda menduga Melina diculik sekelompok pemuda berandalan yang kemudian untuk diperkosa beramai-ramai, setelah diperkosa mungkin dibuang ke sungai. Atau ada lagi yang menduga Melina diculik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.

          Mendengar dugaan yang tidak-tidak dari para tetangga, Bu Sarmi dan Madri jadi bingung. Bu Sarmi dalam kebingungannya menangis, sedang Madri cuma menghela nafas panjang. Ia berpikir, pendapat orang yang mana yang benar? Apakah mungkin diculik Jin Kaliblabak yang terkenal doyan makan perawan? Ah, Madri menggeleng, dia kurang percaya terhadap kegilaan itu, mustahil.

        Lalu dugaan Melina diculik kaum pemuda berandalan, Madri menimbang-nimbang. Tidak mungkin! Bisa saja Melina berteriak. Tapi... Ah. Madri menarik nafas panjang. Ditenangkannya ibunya yang sedang menangis itu. Dan beberapa tetangga menghibur ibunya. Setelah itu Ia beranjak dari kursinya menuju ke belakang. Ketika hendak melangkah keluar lewat belakang, seseorang menegurnya, “Kak Madri!” serentak Madri menengok. Pabila dilihatnya seorang gadis manis, Madri tersenyum. Gadis manis yang cantik bernama Emi Mirani, itu adalah kawan akrab Melina. Emi Mirani sangat sedih, karena kawan akrabnya diculik; matanya merah.

          “Ada apa Emi?” Tanya Madri.

          “Kak Madri hendak ke mana?” Emi balik bertanya. Madri tersenyum menepuk lengan Emi.

          “Katakan pada ibuku, Emi. Aku ingin keluar sebentar. Mencari kabar berita Melina.”

Emi Mirani, yang sejak dulu secara diam-diam jatuh cinta kepada Madri , hanya dapat mengangguk. Ia tak berdaya untuk mencegah Madri agar jangan keluar rumah.

Di gang kecil Madri menghentikan langkah -- ia berpikir, apakah mesti menjadi Exprie? Ya, ini harus, maka dirogohnya saku celananya untuk mengambil tali kalungnya. Namun seseorang dari belakang memanggil namanya.

          “Madri!” Suara itu, suara Bonny.

          “Ooh kau Bonny,” sahut Madri.

          “Kau mau ke mana, Madri?” Tanya Bonny.

          “Aku... aku ingin mencari berita.”

          “Maksudmu?”

          “Begini Bonny, apakah tetanggamu ada anak yang diculik?” Tanya Madri.

       “Yah memang ada Madri. Tapi yang diculik bukan anak-anak melainkan adalah seorang gadis. Ini aneh Madri. Oh ya, kenapa kamu bertanya begitu?”

          “Justru itu Bon, adikku pun diculik.”

          “Apa?!” Bonny kernyitkan alis.

          “Melina, adikmu diculik!”

          “Yah.” Geram suara Madri. Hatinya benar-benar sedih.

         “Oh kasihan... kasihan sekali. Aku sama sekali tidak tahu siapa penculiknya.” Kesal suara Bonny.

       “Bon, mungkin penculikan anak gadis kemarin ada hubungannya dengan penculikan adikku. Hmm... setidak-tidaknya penculik-penculik itu berkelompok. Yang tentunya punya ketua.” Kata Madri menduga.

          “Bisa jadi Madri, mungkin saja mereka menculik gadis-gadis untuk diperdagangkan di luar negeri.”

          “Yah memang begitu. Mungkin juga mereka tidak jauh dari desa kita.”

      “Kalau memang begitu, aku akan mencoba membantumu. Akan kucoba menyelidiki di markas mereka.” Sumpah Bonny.

      “Terima kasih, kamu memang kawan yang baik.” Dijabatnya tangan Bonny. Bonny tersenyum setelah itu mereka berpisah.

        Ketika Bonny sudah jauh, segera Madri mengenakan tali kalungnya, berubahlah ia menjadi manusia super Exprie.

        Exprie segera melesat ke atas, terbang bagaikan burung di angkasa. Exprie melihat-lihat ke bawah, matanya yang tajam itu mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan di bawah sana sama sekali tidak ada sesuatu yang menurut Exprie mencurigakan. Paling yang dilihat cuma deretan pohon-pohon, deretan rumah-rumah orang berlalu-lalang, dan kendaraan bermotor berlari-larian.

       Setelah bosan di angkasa ia turun kembali ke bumi. Dibukalah tali kalungnya. Ia melangkah gontai pulang ke rumahnya.

                                                                    ***