Kembali malam mulai merayap. Di sekitar rumah antik berbentuk candi itu nampak gelap. Sedangkan apabila melihat ruangan di dalam ternyata berbeda dengan yang di luar. Kalau di dalam sangat terang sekali, hampir seperti siang. Terang lampu di dalamnya menyamai terangnya sinar matahari.

Terdengar pada salah satu ruangan ada suara manusia berbicara.

"Lidah berjulur dua, malam ini kamu dapat tugas dariku. Tapi karena aku tahu seleramu. Sebelum kutugaskan kamu akan kuberi hadiah." Kata orang tua berkacamata putih bening kepada mahkluk yang nampak sangat mengerikan. Mahluk itu tinggi besar. Bulu tangan dan bulu kakinya tumbuh lebat. Matanya menyeramkan, merah nyalang. Daun telinganya mencuat ke atas, lancip. Yang lebih mengerikan bila melihat mulutnya, tampak giginya berderet tajam-tajam. Dua buah lidah yang menjijikkan menjulur keluar, berwarna merah darah. Makhluk inilah yang disebut Lidah berjulur dua.

"Hadiah apa gerangan, Prof Quiz ? Agaknya aku sudah menduga-duga."Suara Lidah Berjulur Dua sangat serak; mendirikan bulu roma. Prop Quiz tertawa lebar.

"Bagus kalau kamu sudah menduga, Lihat ke kamar khusus." Ditunjuknya pintu kamar khusus. Lidah Berjulur Dua tersenyum senang, menyeramkan. Segera ia menuju kamar khusus, membukanya perlahan. Dilihatnya empat wanita cantik tergolek di masing-masing ranjang. Keempatnya terikat tangannya.

"Ha ha ha, wanita cantik." Tawanya dalam hati, birahinya bangkit melihat gadis yang mulus-mulus itu. Terdengar dari luar kamar suara prof. Quiz, Lidah Berjulur Dua, malam ini yang boleh kau kerjakan hanya satu!"

"Cuma satu? He bebe... biarlah!" Dibukanya pakaiannya Cepat-cepat. Didekatinya ranjang yang sebelah pinggir. Bila terlihat wajah Lidah berjulur dua, seketika gadis yang dituju menjerit keras. Keempatnya menjerit. Lidah berjulur dua tidak perduli gadis yang sebelah pinggir dirobek pakaiannya. Gadis itu pun pingsan. Segera Lidah berjulur dua bekerja dengan penuh nafsu. Dengus nafasnya terdengar keras. Gadis yang dikerjai sadar dari pingsannya. Mulutnya merintih merasakan sakit dan keanehan di tubuhnya. Lalu gadis itu menjerit keras, tubuhnya merasa disetrum dari ujung kaki, sampai ujung kepalanya, lalu menggeloso menarik napas yang terakhir. Gadis itu mati dengan sangat menyedihkan.

Tentu gadis-gadis yang lain nanti akan mendapat giliran, termasuk Melina, adik Madri; yang terletak di ranjang sebelah pojok.

Kini Lidah berjulur dua sudah menghadap prof Quiz, tubuhnya sudah lebih kuat dari pada tadi. Prof Quiz tersenyum, "He he he... kamu tentu sudah puas, tubuhmu sudah tidak loyo lagi. Nah laksanakan perintahku sekarang. Pergilah ke kantor polisi di selatan sana. Di sana terdapat brangkas besar yang isinya benda-benda emas, intan berlian yang termahal. Nah semua kamu ambil."

“Baik, perintahmu akan aku laksanakan segera." Kemudian dengan cepat Lidah berjulur dua melompat keluar, ringan sekali.

Prop Quiz tertawa gelak-gelak, hua ha ha sebentar lagi pulau Jawa ini akan kubeli hua ha  ha!" Kemudian tawanya diredakan

"Bintun-bintun!" Teriak prof Quiz. Bintun Bintun adalah manusia Ciptaanya sendiri, yang mana pernah ditugaskan menculik gadis-gadis. Sekarang keempat Bintun sudah menghadap kepadanya.

“Nah bagus! Cepat buang perempuan yang sudah mati, Perempuan yang sudah dihisap zat-zat tertentu, zat yang membuat tubuh Lidah berjulur dua menjadi kuat!"

“Baik Prof. akan kami laksanakan!" Bintun Bintun itu pun dengan cepat mengerjakan perintahnya.

                                                             ***