Pada pukul 1.00 tengah malam di kantor polisi sudah nampak kelihatan hening. Namun dalam keheningan ada beberapa orang polisi berjaga-jaga. Di ruang tempat pak lnspektur polisi, tampak Exprie duduk di sana berbicara dengan pak lnspektur.
"Ini pasti penculikan gadis-gadis untuk diperjualkan.” Terdengar suara pak Inspektur, "Dulu aku pernah membongkar kasus seperti itu?”
"Apakah pak Inspektur sudah berhasil menangkap pemimpin penculik dalam kasus dahulu ??” Tanya Exprie.
"Tentu saja, Exprie ""
"Maaf pak Inspektúr, maksud saya begini, apakah mungkin pemimpin dahulu yang sekarang sudah bebas, telah mendirikan komplotan baru kembali?" Tanya Exprie, mem- benarkan pertanyaan yang salah tadi. Pak Inspektur mengerti, ia tersenyum kecil Menggelengkan kepala.
"Ketahuilah Exprie, orang yang dahulu itu sekarang sudah menjadi orang baik-baik. Malah sekarang ia jadi sahabat saya.”
"Kalau begitu dalam kasus ini adalah komplotan baru, kita harus menyelidikinya." Kata Exprie.
"Tapi kamu Exprie, lebih pandai menyelidiki kasus ini."
"Insya Allah, pak Inspektur." Kata Exprie, kemudian ia menengok ke belakang. Dan, "Maaf pak Inspektur, saya permisi..." Pak Inspektur mengangguk.
Exprie keluar dan terbang ke angkasa.
Setelah lima menit Exprie berlalu, pak Inspektur yang sedang menguap karena tak tahan menahan kantuknya menjadi terkejut, ketika di luar terdengar jeritan tertahan disusul jatuh benda. “Gedebuk!” Segera pak Inspektur bangkit dari tempat duduk, seraya mencabut pistol.
"Siapa di luar? Saya harap jangan bergerak! Saya memegang pistol.” Teriak pak Inspektur, pistolnya diacungkan ke pintu. Terbeliak mata pak Inspektur, ketika muncul makhluk yang amat mengerikan, lidahnya menjulur keluar bercabang dua. Rupanya benda yang berjatuhan itu adalah anak buah yang berjaga-jaga di luar. Kini ia harus waspada.
“Siapa Kamu? Saya harap jangan bergerak, dan buka topengmu, dikira saya takut!” Tetapi Lidah berjulur dua tetap melangkah, tertawa meremangkan bulu roma. Pak Inspektur menarik pelatuk senjatanya. “Dor!” Lidah berjulur dua tetap berdiri. Lemaslah lutut pak Inspektur, ia menyadari ternyata makhluk itu bukan manusia biasa. Wajahnya memang asli bukan topeng. Baru kali inilah pak Inspektur melihat makhluk mengerikan itu. Ia pun jatuh terduduk, pingsan.
***
Diskusi
0 Komentar