Madri telah duduk santai di ruang depan. Di hadapannya, di atas meja telah tersedia secangkir kopi susu. Ibunyalah yang membuatkan kopi susu itu. Ibu Sarmi kali ini bersabar atas hilangnya Melina, cuma berdoa semoga Tuhan melindungi anak gadisnya itu. Bukan itu saja Madri, anaknya sering menghiburnya.

               “Sudahlah bu, jangan ibu tangisi lagi — sekarang polisi telah turun tangan bu, mereka berusaha untuk mencari markas penculik itu.” Begitulah kata-kata Madri waktu itu.

               Madri menghirup kopi susu yang masih panas itu. Terdengar siaran berita dari radio RRI tepat pukul 7.00 WIB. Madri tak mendengarkan berita-berita itu, yang penting sekarang matanya berbinar melihat kebalikan. Seorang tukang koran langganannya telah datang. Memang sudah sejak tadi kehadiran koran hari ini ditunggunya.

              Setelah koran “Pelita Media” berada di tangannya, segera dibacanya deretan tulisan di atas yang nampak besar-besar. Di situ tertulis: “Kantor polisi desa Angan kecurian dokumen rahasia dan intan berlian.” Terbelalak mata Madri seketika.

             “Ha... apakah ini mungkin, bukankah waktu malam aku berada di sana?” pikir Madri heran.  Memang waktu malam Madri berada di sana, sebagai seorang Eksprie.

             Kemudian dibacanya isi bacaan itu. ‘Semalam kira-kira pukul 1.30 WIB telah datang makhluk misterius, tinggi besar menyeramkan ke kantor polisi. Polisi-polisi di sana tak berkutik dibuatnya... diketahui dokumen rahasia dan intan berlian telah lenyap.’ Diduga makhluk misterius itu datang mencuri atas perintah seseorang. Ciri makhluk misterius itu adalah wajahnya mengerikan, dua pasang lidahnya menjulur keluar.

             Sampai di sini, Madri menarik napas. "Ini tentu terjadinya setelah aku keluar dari kantor polisi itu. Kalau aku tahu bakal terjadi hal seperti itu tentu aku tidak akan pulang," kata hatinya, menyesali. "Tapi... ah mungkin harus begitu, bukankah semua ini adalah kehendak Tuhan." Dihirupnya kopi susunya sampai tuntas. Dia keluar dari rumahnya.

                  Sengaja Madri datang ke rumah Boni.

             "Ada apa nih, Dri. Tumben datang pagi-pagi?" tanya Boni, nampaknya dia belum mandi. Madri tersenyum. "Apakah kamu tidak tahu maksudku kalau aku datang ke sini?"

             "Hehehe... Tapi hmm..” Boni tampak berfikir. “Apa ya? Tapi ini sangat kebetulan kalau kamu datang sepagi ini. Pasti ada berita yang menghebohkan."

             “Nah, itu tahu.”

             Bonny tertawa, "tapi tunggu dulu tunggu dulu ya ceritanya, aku ini baru bangun tidur, belum mandi, belum kencing, dan juga belum moo-dol."

             "Ya... yah aku tunggu di sini." Madri ketawa geli.

             Setengah jam berlalu Boni sudah nampak rapi, rambutnya sudah disisir, giginya sudah digosok, kulitnya sudah disabun — pokoknya Boni sekarang sudah ganteng.

            "Madri apakah kamu sudah dapat berita tentang penculikan adikmu?"

            "Sama sekali belum, aku sudah melapor kejadian ini kepada polisi. Polisi pun belum tahu kepastiannya, malah semalam kantor polisi telah kebobolan." kata Madri.

            "Apa?” Boni terkejut, “Maksudnya ada sesuatu yang dicuri?" tanya Bonny heran. Kok kantor polisi bisa tidak aman.

            "Dokumen negara yang ditiipkan sementara telah lenyap, begitu pula dengan intan berliannya."

           "Eh tunggu dulu," Bonny memikirkan sesuatu. "Oh ya!... Rasanya semalam aku keluar rumah, kira-kira jam setengah dua kurang."

           "Jadi tadi malam kamu melihat pencuri itu?"

           "Yah katakanlah seperti melihat. Soalnya begini. Ketika aku lewat di persimpangan jalan yang angker, yang di pinggirnya masih banyak semak belukar. Bulu kudukku berdiri di sana. Apalagi saat itu muncul dari semak belukar suatu makhluk hitam yang tinggi besar. Saat itu lututku lemas, tidak kuat buat melangkah. Kukira makhluk itu akan mendekatiku, nyatanya tidak. Malah makhluk itu melesat ke jalan raya, lari cepat sekali! Pokoknya benar-benar kayak iblis!"

             "Lalu?" potong Madri merasa tertarik atas cerita Boni.

             "Lalu, sepuluh menit kemudian makhluk itu kembali. Tetapi kali ini seperti membawa sesuatu. Ah, mungkinkah itu dokumen yang dicuri dari kantor polisi?"

             "Bisa jadi memang!" Madri berkata, dalam hatinya kagum kepada Boni. Sebebnya misteri ini harus ia kuak. "Nah, setelah melihat kejadian itu, bagaimana tindak-tandukmu?"

             "Ya, setelah makhluk itu masuk ke semak belukar kembali, aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa, sebab tubuhku gemetar, lalu dengan langkah yang berat aku bisa pulang. Makanya pagi ini aku senang kau datang ke sini."

             Madri tersenyum menatap Bonny, "Kalau begitu, Bagaimana kalau kita melihat-lihat semak belukar tempat makhluk itu keluar-masuk."

            “ Tapi, aku masih takut…” Boni ragu.

            “Kan sekarang udah siang, kenapa harus takut.” Madri tertawa.

            “Oh.. iya.. ya..” Boni tertawa pula sambil memegangi perutnya.

            “Lho, kenapa memegangi perut? Tanya Madri heran.

            “Aku lapar nih, belum sarapan."

            “Oh, ya udah sarapan dulu sana, kalau aku sudah kenyang.”

            “Kalau gitu tungguin yah, sebentar aja.”

            “Iya.” Madri tersenyum dan geli juga melihat tingkah sahabatnya.

                                                                              ***