LIDAH BERJULUR DUA

Ruang besar di dalam rumah antik bergema karena pantulan dari suara tawa yang mengakak.
"Hua ha ha. kau hebat sekali Lidah berjulur dua, Hu.a ha ha ha, kerjamu memang baik.. benda berharga yang kuimpikan sudah berada di tanganku.” Gembira sekali hati prof Quiz, ditimang-timangnya koper yang berisi barang berharga itu. Lalu ditepuknya bahu Lidah berjulur dua, “Sekarang kau terima hadiahku kembali - Dara perawan."
Lidah berjulur dua menyeringai "Cuma satu Prof? "Tanya Lidah Berjulur Dua.
"Ya, cuma satu - toh menghemat, nah nanti kalau semuanya sudah habis satu-persatu, akan kucarikan lagi. Nah, selamat menikmati.” Prop Quiz tersenyum.
Lidah berjulur dua melangkah masuk ke kamar yang terdapat dara perawan-dara perawan, segera dikuncinya pintu. Dilihatnya perawan-perawan itu meronta-ronta dan menjeri-jerit. Melina berdo'a dalam hatinya, "Oh Tuhan lindungilah saya, dari keganasan mahkluk buas itu." Air matanya menitik, tangan yang terikat sudah nampak membiru. Terdengar suara dengus napas Lidah berjulur dua di sebelah sana, dan erangan gadis yang menahan derita menyakitkan, disusul dengan pekikan tertahan yang kemudian sepi. Sedangkan di kamarnya, prof. Quiz tersenyum berseri Menyimpan koper besar berisikan benda berharga di lemarinya. "Sekarang lah saatnya." Katanya dalam hati, so pasti. Yang kemudian menyalin pakaiannya. Kali ini memakai dasi. “Sekarang aku pergi ke kantor polisi."
Daftar Isi
Dukung LiharAksara
Jika Anda menikmati tulisan ini, Anda dapat memberikan dukungan agar kami bisa terus menyajikan konten yang berkualitas.
Beri DukunganTerima kasih atas apresiasi Anda
Diskusi
0 Komentar