Langit cerah, awan putih terlihat tipis sehingga warna biru tampaknya mendominasi langit yang jauh di cakrawala. Sementara daun-daun pada pepohonan berpendar hijau kecoklat-coklatan akibat kena sinar matahari yang terik siang itu. Sinarnya menembus dan menyengat dua orang anak kecil yang masih duduk sekolah SD, yang kini berjalan di bawahnya. Mereka berdua saudara, laki-laki dan perempuan dengan seragam atas putih, bawah merah hati. Wajah mereka yang memang mirip satu sama lain, tampak bersedih.
Namun sebersit kesedihan tampak di wajah mereka bukan karena cuaca panas saat itu, melainkan masalah yang terjadi di sekolahnya. Oleh karena itu sesampainya di rumah, Sinta langsung menghampiri ibunya. “Bu, tadi kami dimarahi ibu guru.” Sementara kakaknya yang bernama Manda hanya bergumam duduk di pojok membuka tali sepatu. Ibunya yang sedang sibuk dengan mesin jahitnya, segera menghentikan pekerjaannya. “Lho memangnya kenapa?” Tanyanya.
“Soalnya aa…anu Bu.” Sinta merasa ragu lalu menoleh kepada Manda.
“Anu apa Sinta ?” Tanya ibunya kembali.
“Karena saya dan kak Manda belum bayar SPP. Tadi kata Ibu guru, kalau kami belum juga bayar SPP, maka kami tidak boleh masuk sekolah.” Jawab Sinta sambil menundukkan kepalanya. Nurhaeni, ibu dari kedua anak itu hanya menarik napas panjang tanpa berkata apa-apa, karena sebelumnya ia sudah menduganya.
“Sudahlah Sinta jangan dipikirkan, berdoalah pada Tuhan, mudah-mudahan besok Ibu dapat rejeki ya.” Katanya menghibur, “sekarang makanlah dulu!”.Sinta mengangguk, lalu mengajak kakaknya menuju meja makan. Di sana sudah tersedia hidangan sederhana.
Manda yang sejak tadi diam mendekati ibunya. “Bu bagaimana kalau Manda kerja?”.Nur menggelengkan kepala, “Manda… apa-apaan sih kamu?! Ibu kan masih mampu. Sudahlah, cepat makan temani adikmu.” Manda hanya diam mendengar kata-kata itu. Kemudian Nur memasuki kamarnya, tak terasa air matanya bergulir membasahi pipinya. Dia duduk dekat foto mendiang suaminya.
“Jika Akang masih ada tentu anak-anak kita tidak menderita,” Gumamnya lirih, foto itu dipeluknya erat-erat. Kemudian ia terkenang pada lalu Bersama Barna.
Dulu Barna adalah lelaki yang cukup tampan, berkepribadian baik, sehingga banyak gadis yang tergila-gila kepadanya. Namun Barna mengacuhkannya kecuali Nurhaeni, gadis manis, pemalu, dan sopan. Ya, ketika pertama kali berkenalan Barna memang langsung terpikat pada Nurhaeni, yang baginya sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang dianggapnya genit-genit. Akhirnya mereka menikah setelah beberapa bulan pacaran dan hidup berbahagia. Apalagi saat anak pertama mereka lahir, laki-laki. Barna bertambah sayang kepada istrinya Bayi laki-laki itu diberi nama Manda Ihsan. Baru satu tahun usia Manda Ihsan, Nurhaeni sudah hamil lagi.
“Akang bahagia sekali, berarti tak lama lagi Manda akan punya adik.” Begitu kata Barna saat Nurhaeni memberi tahu. Suasana kebahagiaan menaungi hati mereka, apalagi saat mereka berada di tepi pantai.
“Hi hi hi…lucu ya… kita seperti orang jaman dulu aja. Punya anak jaraknya dekat-dekat.” Kata Nur sambil tertawa.
“Biarin, Akang sengaja pingin bikin keluarga kelinci. Banyak anak banyak rejeki!”
“Akang…!” Nurhaeni mencubit lengan suaminya.
“Adaoow… lagi!” Barna menjerit dengan menggoda.
Ketika genap sembilan bulan, akhirnya Nurhaeni melahirkan seorang bayi perempuan yang manis. Manda Ihsan yang saat itu belum genap dua tahun menyambut gembira kehadiran adiknya. Apalagi Barna sangat bersuka-cita saat menerima kehadiran bayi perempuan yang cantik dan gemuk.
“Nur, kini kita sudah punya anak selang-sekar, nanti berikutnya akan kubikin selalu selang-sekar sampai dua belas jumlahnya.” Mendengar kata-kata suaminya itu membuat Nur tertawa geli. Kok masih ada sih orang jaman sekarang punya anak banyak. Tapi harapan tak sesuai kenyataan, tiba-tiba saja Barna pergi meninggalkannya saat Manda duduk di kelas II, dan Sinta baru saja didaftarkan di kelas I. Kepergian Barna akibat sakit keras yang tak kunjung sembuh. Padahal ia sudah berobat ke sana-sini dan menghabiskan harta benda. Manusia memang berusaha tapi Tuhan yang menentukan, pada waktunya Barna tetap dipanggil-Nya.
Nur sangat sedih menerima kenyataan itu, meskipun dia senantiasa dihibur dengan kehadiran Tilman, laki-laki yang sejak dulu diam-diam menyukainya. Tetapi kehadiran Tilman tidak berarti apa-apa buatnya, karena laki-laki-laki itu tetap dianggap teman biasa. Lagi rasanya tak pantas seorang perjaka keseringan mendekati seorang janda. Apa kata tetangga nanti, pikir Nur. Kini di dalam kamar Nur cuma dapat menangis sambil memandangi foto mendiang suaminya.
***
Diskusi
0 Komentar