Esok harinya Manda dan Sinta sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah, Sinta mendekati ibunya. “Bu, uangnya udah ada belum?” Tanya Sinta. Saat itu Nur bingung harus menjawab apa? Bagaimana bisa ia mendapatkan uang kalau langganan jahitnya belum datang menebusnya? Memang usaha yang dijalankan Nur adalah menjahit pakaian, alat yang digunakannya pun adalah mesin jahit yang sudah tua peninggalan almarhum orang tuanya.
“Sinta jangan kuatir, sekarang sekolah dulu. Insya Allah besok Ibu akan usahakan agar uang itu ada.”
“Aku takut, Bu.” Kata Sinta.
“Jangan takut.” Kata Nur yang dari wajahnya sudah tersirat kesedihan. Matanya seperti basah, Sinta merasa bersalah saat melihat ibunya tampak ingin menangis.
“Maafkan Sinta Bu… Baiklah Sinta akan sekolah sekarang.” Seraya ia meraih lengan ibunya. “Sinta berangkat, Bu… “ Sinta pamit seraya terlebih dulu mencium tangan ibunya.
Sinta berjalan sendirian, karena kakaknya sudah berangkat lebih dahulu. Sinta mempercepat langkahnya karena takut terlambat, tetapi seseorang memanggilnya, “Sinta…!” Sinta pun menoleh, ternyata Tilman, seorang pemuda yang selalu datang ke rumahnya.
“Ada apa Om?” Tanya Sinta dan melangkah mendekati Tilman. Tilman tersenyum dan merogoh saku celananya. “Ambil uang ini.” Tilman menyorongkan selembar uang kertas kepada Sinta.
“Maaf Om, Sinta nggak bisa menerimanya.” Sinta menolak dengan sopan. Tilman tersenyum, “Jangan nolak rezeki, Sinta. Om kan teman ibumu, apa salahnya kamu menerima uang Om?”
“Nggak Om, terima kasih…” Sinta hendak melangkahkan kakinya.
“Sinta tunggu dulu.” Cegah Tilman, “Om sudah janji sama ibumu, bahwa kau dan kakakmu perlu uang untuk melunasi uang SPP, nah inilah uang itu. Terimalah Sinta.”
Sinta diam ragu-ragu. “Tapi….”
“Tidak apa-apa Sinta, ibumu tak akan marah, percayalah.” Mendengar kata-kata itu akhirnya Sinta menerima juga. “Terima kasih Om.” Lalu pergi dengan hati yang berkecamuk, antara senang dan gundah.
Sementara itu di rumah, Nur sedang sibuk dengan mesin jahitnya. Air matanya yang tadi mengalir kini sudah tiada lagi. Ketabahan hatinya itulah yang membuat ia harus tegar menghadapi kehidupan yang pahit ini. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk orang, memberi salam. Nur sudah menduga siapa yang datang. Ia membukakan pintu setelah menjawab salam
.“Tilman, ada keperluan apa?” Tanya Nur terhenyak, karena ia sebenarnya saat ini tidak mau diganggu oleh laki-laki.
“Aku datang ingin menepati janjiku.” Kata Tilman sambil tersenyum.
“Janji apa? Rasanya kita tidak pernah ada janji.” Suara Nur terdengar getir, dan ia melangkah ke beranda. Ia malu dilihat tetangga jika ada laki-laki datang, berdua di dalam rumah. Maka dari itu ia memilih ke beranda luar. Sedikit pun ia tidak mempersilakan Tilman duduk.
“Itu Nur… Manda dan Sinta kan belum bayar uang sekolah, ini aku ada uang, terimalah…”
“Tidak Tilman, simpan saja uang itu untuk keperluanmu.” Tolak Nur.
“Nur, kita kan bersahabat sudah lama, percayalah aku ikhlas.”
“Tapi status kita lain, Man. Aku seorang janda dengan dua orang anak, sedangkan kau seorang bujangan. Ingatlah… apa kata orang nanti…?”
“Tapi, Nur.. sekali ini saja… terimalah pemberianku…” Suara Tilman memohon.
“Tilman, ada baiknya kau segera tinggalkan rumah ini, sebelum para tetangga ngomongin kita. Aku mohon Tilman, pergilah…”
“Baik… baik Nur, tapi terimalah uang ini.” Tilman meletakkan uang itu di atas meja. Nur tidak tahu, karena ia berdiri membelakangi Tilman.
“Aku permisi..” Tilman pamit dan meninggalkan rumah. Nur mengangguk sambil menghela napas panjang. Perlahan ia berbalik, dan alisnya mengernyit tatkala melihat lembaran uang tergeletak di atas meja.
“Tilman.” Bisiknya lirih, “Betapa kerasnya hatimu.”
***
Pukul 12.30 kelas III SD menjelang pulang Sinta berjalan agak cepat dari sekolahnya. Dia berjalan menuju pohon yang rindang di pinggir jalan, di sana ia duduk sambil menunggu kakaknya.
“Sinta jangan diam di situ, lihat tuh rombongan Hendri anak kelas V yang terkenal dengan kenakalannya, mereka sering jahil sama anak perempuan, jangan di situ deh nanti kamu diganggu.” Terdengar suara temannya memberitahu. Tapi Sinta sedikit pun tak mengindahkan himbauan temannya tadi. Ternyata Hendri dan kedua temannya menghampiri Sinta, tapi Sinta pura-pura tenang meskipun sebenarnya hatinya merasa sebal. Hendri yang nakal langsung saja mencolek Sinta.
“Hai manis, ngapain duduk di sini sendiri? Nggak takut kalo ada yang ganggu?” Celetuk Hendri dengan lagak orang dewasa. Sinta serentak menepis tangan Hendri. “Apaan pake manis-manis segala. Emangnya aku gula?” Kata Sinta memberanikan diri padahal hatinya dag dig dug.
“Wah.. ha.. ha. .ha… si manis bisa marah juga.” Hendri tertawa, diikuti oleh kedua temannya, yaitu Tono dan Miko. Tak berapa lama Manda datang dan langsung memasang muka kesal.
“Hendri, jangan ganggu adikku. Dia kan nggak punya masalah denganmu.” Tegur Manda dengan wajah tidak senang.
“Hmm… Manda? Aku tidak mengganggunya kok.” Kata Hendri dengan nada pelan.
“Terus kenapa adikku tadi kau tarik-tarik tangannya?!” Wajah Manda memerah, bertanda marah.
“Aku nggak narik-narik, cuma ngajak salaman…” Hendri cengar-cengir.
“Sudah Hen, jangan dikasih hati, sikat aja langsung!” Tono mulai memanas-manasi Hendri. Tentu saja anak itu ingin dianggap pemberani, maka dengan cepat ia melayangkan tinjunya ke wajah Manda. Tetapi Manda sudah waspada, dengan spontan ia menghindar, bahkan ia membalas dengan layangan tinju yang tepat bersarang di dagu Hendri.
“Augh!” Jerit Hendri lalu terhuyung ke belakang. Dan sebelum Hendri bersigap, sebuah tendangan bersarang di perutnya. Membuat anak itu mundur ke belakang.
“Ton… Ayo kita bantu Hendri!” Ajak Tono kepada Miko. Keduanya pun menyerang Manda. Tono dengan bogem mentahnya, dan Miko dengan layangan kakinya. Serangan Tono dapat dielakkan, tetapi tendangan Miko bersarang di pinggang Manda. Sinta menjerit melihat kakaknya kesakitan, ia maju ingin menolong, tetapi Manda mencegahnya.
“Ha ha ha, bagus Miko.” Hendri tampak senang. Namun itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba Manda menyerang. Akibatnya Hendri tersungkur ke belakang. Selanjutya kepalan tangannya menghajar wajah Tono dan mendarat tepat di hidungnya. Tono menjerit mundur. Miko pun dapat bagian pipi kirinya terpukul, menyusul ke perutnya. Miko merintih kesakitan. Dan gebrakan selanjutnya Tono dan Miko terjatuh. Melihat kedua temannya jatuh, nyali Hendri jadi ciut, matanya melirik ke kiri dan kanan.
“Kenapa? Mau coba-coba lari Ya?” Manda menghampiri Hendri dan menarik kerahnya.
“Aku… aku.. beb… nggak kok…” Terdengar suara Hendri terbata-bata.
“Mau lagi?” Manda mengepalkan tinjunya di depan wajah Hendri.
“Nggak kok…. ampun deh.. Manda.” Akhirnya Hendri minta ampun. Manda pun melepaskan cengkeramannya. “Baiklah untuk kali ini kalian kuampuni, tetapi jika terulang lagi, jangan harap.”
“Iya.. iya Manda…” Kata Hendri.
“Kalau begitu, cepat ajak teman-temanmu pergi dari sini!”
“Baik! Baik!” Kata Hendri terbata-bata. Tono dan Miko pun bangun dengan mengusap-usap bagian yang sakit. Lalu dengan terburu-buru mereka pergi meninggalkan Manda dan Sinta. Melihat anak-anak itu pergi Sinta tertawa kegirangan.
“Hore… kakakku hebat…” Puji Sinta dengan riang.
“Udah ah, yuk kita pulang.”
“Ayo.”
Tempat itu pun menjadi sepi.
***
Diskusi
0 Komentar