Ketika tiba di rumah, Sinta ditegur ibunya. “Sinta kok pulang terlambat, kenapa? Dimarahi guru lagi ya?” Yang ditanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Nggak, Bu.” Sahut Sinta sambil menyimpan tas sekolahnya. Sedangkan Manda sudah nampak duduk di bangku meja makan dan siap menyendok nasi. Nur merasa heran melihat sikap kedua anaknya yang tidak biasanya. Namun sebelum ia bertanya ke perihal selanjutnya, ia membiarkan Manda dan Sinta makan dengan tenang. Maka setelah keduanya selesai makan Nur langsung menghampiri Sinta.
“Sinta, ada apa sebenarnya? Kok seperti ada sesuatu yang lain….?” Kata Nur sambil membereskan piring yang belum sempat dirapikan Sinta.
“Ibu… nggak ada apa-apa kok.” Jawab Sinta bingung.
“Tapi, kenapa pulangnya terlambat?” Tanya Nur.
“Oh itu…” Kata Sinta lalu tersenyum.
“Kok, senyum?”
“Iya, Bu…” Kata Sinta tersirat kebanggaan, “Sinta bangga deh sama kak Manda. Tadi waktu pulang sekolah Sinta diganggu anak-anak lelaki kelas lima. Wah, mereka nakal-nakal deh.”
“O ya?” Nur tertarik untuk mendengarkan cerita putrinya. “Terus…”
“Terus kak Manda datang belain Sinta, eh mereka malah marah dan mengeroyok kak Manda. Tapi rupanya kakak pandai berkelahi, dalam beberapa gebrakan saja mereka dibuatnya minta ampun.”
“Jadi tadi kakakmu berkelahi?”
“Iya, Bu.” Sinta mengangguk, “Tapi Ibu jangan marah ya, soalnya itu terpaksa dilakukan untuk membela Sinta.”
“Ibu nggak marah…” Nur menggelengkan kepala, ia pun jadi mengerti kenapa Manda tadi diam saja. Oh, rupanya dia habis berkelahi dan takut aku marahi, begitu kata hatinya.
“Kakakmu benar, tapi sebetulnya berkelahi tidak baik.”
“Kalau untuk membela diri, Bu…” Sela Sinta.
“Nggak apa-apa sih.” Mendengar kata-kata ibunya, Sinta langsung memeluk ibunya dan mencium pipinya. “Terima kasih, Bu.”
“Lho, sekarang ke mana kakakmu?” Nur melihat ke sekeliling ruangan.
“Biasanya kan habis makan langsung keluar.” Kata Sinta.
“Iya, tapi kan biasanya bilang dulu sama Ibu.”
“Mungkin takut Ibu marah.” Mendengar kata-kata Sinta, Nur tertawa, “Ah, ada-ada saja… kakakmu itu…”
“O ya, Sinta, hari ini Ibu sudah mendapatkan uang, jadi besok Sinta dan kakakmu sudah bisa membayar SPP.” Kata Nur dengan wajah berbinar.
“Tapi, Bu…” Sinta ragu-ragu mengatakan sesuatu.
“Lho ? Ada apa Sinta ?” Tanya Nur merasa heran.
“Sinta dan kak Manda sudah melunasinya tadi.”
“Apa? Dari mana kalian dapat uang?” Nur terkejut.
“Maafkan Sinta, Bu. Uang itu Sinta dapat dari Om Tilman, habisnya ia ngasihnya maksa banget.” Kata Sinta sambil menundukkan wajahnya. Ia khawatir ibunya tidak menerima, dan memarahinya. Nur bertambah terkejut mendengarnya, ia langsung tercenung. Sinta tengadah dan melihat perubahan di wajah ibunya.
“Kenapa Bu?”
“Nggak, nggak apa-apa.” Nur menggeleng. “Sudahlah, bawalah piring-piring kotor itu ke belakang.” Dan tanpa berkata-kata lagi Sinta langsung menuruti perintah ibunya.
Sementara itu Nur masih di ruang makan jadi berpikir heran. Kok, bisa-bisanya Tilman berbuat seperti itu.
“Tak kusangka…” Gumamnya dalam hati.
Beberapa waktu kemudian. “Tadi Ibu bilang, bahwa Ibu sudah dapat uang, bagaimana kalau Sinta minta dibelikan buku, soalnya buku Sinta sudah banyak yang habis?” Kata Sinta meminta sesuatu.
“Baik Sinta, besok Ibu ke pasar sekalian membeli buku.”
“Terima kasih, Bu” Sinta melonjak kegirangan.
Sore hari Manda pulang, dan mendekati ibunya yang sedang merapikan ruang tengah.
“Bu hari ini Manda dapat uang.” Kata Manda sembari menyodorkan sejumlah uang.
“Kamu bekerja Manda?” Tanya ibunya. Manda menjawab dengan senyuman dan wajah berseri.
“Kerja apa?”
“Menyemir sepatu Bu, dengan temanku Didin, aku dapat modal dan hari ini aku mendapat keuntungan yang memuaskan.”
“Baiklah Manda, uangmu Ibu terima.” Nur menerimanya dengan maksud menyenangkan hati anaknya. Dalam hatinya ia bangga mempunyai seorang anak seperti Manda. Gigih dalam usaha dan tidak manja. Sementara itu Manda sangat senang karena ibunya mau menerima uang hasil jerih payahnya. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju kamar mandi.
***
Diskusi
0 Komentar